Pelatihku

Pelatihku
Episode 19


__ADS_3

Risda kembali kekelasnya dengan wajah yang ditekuk, ia langsung duduk disebelah Mira karena memang Wulan sudah tidak ingin duduk disebelah Risda lagi. Risda meletakkan sebuah buku tulis yang baru saja ia beli diatas mejanya dengan malas, ia lalu mengeluarkan pulpennya dari dalam tas.


"Lo diapaain diruang BK tadi?" Tanya Mira yang melihat wajah ditekuk milik Risda.


"Dihukum suruh nulis dibuku ini 'Saya tidak akan mengulanginya lagi' sampai habis," Jawab Risda dan langsung ditertawakan oleh Mira.


"Sialan lo, Ra. Temennya sudah malah diketawain gitu," Umpat Risda yang kesal.


"Maaf maaf, lanjutkan hukuman lo, gue kagak mau ikut ikutan."


"Bantuin napa sih, tebel lagi bukunya,"


"Ogah, mending gue ngerjain PR aja daripada ikutan lo,"


Mira pun langsung mengeluarkan bukunya untuk mengerjakan PR yang memang dirinya belum mengerjakannya semalam, sudah biasa siswa dikelas tersebut malas untuk mengerjakan PR. Risda hanya mendengus kesal karena ulah Mira yang sama sekali tidak memedulikan dirinya itu.


"Gue nyontek nanti," Ucapnya.


"Ogah, mending lo selesaikan dulu hukuman lo, habis itu baru ngerjakan PR nya, bagus kan ide gue?"


"Ide macam apaan? Lo kira nulis ini bakalan selesai 1 jam?"


"Ya usaha dong, Ra. Masak gitu aja nyerah,"


"Bukan nyerah pe'ak, matamu nyerah!"


"Lo ngak bisa kalem dikit apa ha? Lo tau agama tapi bicara lo kek setaan"


"Lo baru tau atau gimana ha? Bahkan iblis pun lebih paham agama daripada ulama' sekalipun, iblis diciptakan sebelum manusia diciptakan. Sehingga, jika lo tanya proses penciptaan manusia pada iblis, dia akan menjelaskannya dengan detail. Iblis juga tau bagaimana proses penurunan Al Qur'an, jika lo tanya soal hadist kepadanya, maka dia akan menjelaskannya semuanya dengan lengkap! Sampai sini paham?"


"Ngegas! Emang lo satu satunya manusia yang sesad disekolah ini, Da. Lo tau agama seharusnya bicara lo itu sedikit melembut gitu lo"


"Bodoamat!" Itulah password milik Risda untuk menjatuhkan musuhnya.


*****


Pelajaran pun dimulai, Risda mengangkat tangannya karena hanya dirinya yang belum mengerjakan tugas saat ini. Risda diminta untuk maju kedepan kelas untuk diberi hukuman, seharian ini dirinya mendapat hukuman dari Guru Guru.


"Kenapa belom mengerjakan?" Tanya Guru itu dengan tegas.


"Lupa, Pak. Kalo saya ingat ya sudah saya kerjakan dari kemarin," Jawab Risda santai.


"Bisa bisanya ada PR sesantai ini, kamu dihukum!"


Risda disuruh berdiri didepan meja Guru sambil memegangi kedua telinganya dan mengangkat satu kakinya disepanjang Guru tersebut menerangkan materi. Risda melihat teman temannya yang sibuk mencatat apa yang diterangkan, sementara dirinya malah dihukum.


"Pak, boleh saya duduk ya? Hukuman saya masih banyak," Keluh Risda.

__ADS_1


"Ngak! Kamu ini masih dihukum,"


"Tapi, Pak. Hukuman saya masih banyak, dan harus selesai besok pagi,"


"Baikah, kerjakan hukumanmu sambil berdiri ditempat."


"Baik Pak"


Risda langsung mengambil buku yang harus ia tulis sebelumnya, ia langsung menulis sambil beralaskan tembok sehingga dirinya menulis dengan cara berdiri. Sementara, Novita pun sedang menulis hukumannya, keduanya dihukum bersamaan dan disuruh menulis sebanyak 1 buku penuh.


Awas aja dirimu, Gue akan balas lebih dari ini nanti. Karena lo gue dihukum seperti ini, lihat saja nanti.


Risda pun terbatuk batuk, "Ada yang sedang bicarain gue," Ucapnya lirih.


Risda kembali menulis hukumannya itu dengan tertib, ia hanya diberi waktu sampai esok hari untuk menyelesaikannya. Sehingga, mau tidak mau dirinya harus menyelesaikannya dengan cara mencicilnya sampai esok hari ini.


*****


Dibangku kantin sekolah, Risda pun meminum es pesanannya sambil menulis dibuku. Melihat Risda yang tengah fokus kepada bukunya membuat Afrenzo yang tak sengaja lewat itu pun tersenyum tipis, Risda sama sekali tidak memperhatikan sekitarnya.


"Masih banyak lagi, kapan ini selesai," Gerutunya sambil berulang ulang kali menghela nafas.


"Mau dibantuin?" Tanya seseorang kepada Risda.


Risda menoleh kearah sumber suara, ia mendapat sosok seorang pemuda yang tersenyum cerah kearahnya. Pemuda itu langsung duduk didepan Risda sambil menaruh minumannya yang ia beli itu.


Iya, pemuda itu adalah Satria yang tidak tega untuk melihat Risda yang dihukum. Kebetulan saat ini, Satria pergi kekantin seorang diri untuk menyusul Risda.


"Ngak papa, gue bisa kok niruin tulisan lo kok,"


"Ngak usah. Lagian Renzo juga ngak ngizinin gue dibantu orang lain, gue ngak mau hukuman gue ditambah."


Memang hukuman ini adalah ide dari Afrenzo yang selaku ketua OSIS disekolahan itu, ia tidak mengizinkan siapapun untuk membantu kedua gadis itu atau hukuman mereka bakalan ditambah berkali kali lipatnya nanti.


"Renzo lagi Renzo lagi. Udahlah, lagian dia juga ngak bakalan ngelihat kok,"


"Ngak mau, gue bisa sendiri."


Risda pun kembali fokus kepada bukunya sendiri, ia tidak memedulikan Satria yang berusaha untuk membujuk Risda. Lama kelamaan, Satria pun jengah dengan Risda, dan dirinya langsung merampas buku milik Riada itu.


"Lo apa apaan sih, Sat!" Sentak Risda dan langsung bangkit dari duduknya.


"Biar gue aja yang nulis," Ucap Satria.


"Gue bisa sendiri! Lagian disini gue yang dihukum. Kembaliin buku gue!"


"Tapi,"

__ADS_1


"Emang lo mau hukuman gue ditambah? Dengan lo seperti ini, sama aja lo mau gue dihukum lebih berat."


Dengan terpaksa, Satria langsung memberikan buku itu kepada Risda dan berlalu pergi dari tempat itu. Satria langsung mendatangi Afrenzo yang memang sudah berjalan menuju kekelasnya saat ini, dirinya pun menghentikan langkah Afrenzo.


"Gue mau ngomong sama lo," Ucap Satria.


"Ngak ada waktu," Jawab Afrenzo.


"Maksud lo apaan sih nyuruh Risda nulis sebanyak itu? Apa ngak bisa dikurangin dikit hukumannya, kasihan dia nulis sebanyak itu sendirian."


"Bukan urusan lo,"


"Setidaknya, biarin gue bantuin dia, Renzo. Gue ngak bisa lihat dia dihukum seperti itu,"


"Silahkan kalo dia mau,"


Setelah menjawab ucapan Satria, Afrenzo langsung berlalu pergi dari tempat itu. Kepergian Afrenzo langsung membuat kedua tangan Satria mengepal, memang Satria bisa dikatakan sebagai muridnya dan itu hanya didunia beladiri, sementara dilingkungan sekolah Afrenzo hanyalah seorang teman baginya.


Satria langsung kembali bergegas untuk menemui Risda yang ada dikantin. Sesampainya disana, Satria melihat Risda sudah tidak ada dibangku kantin sebelumnya.


"Kemana lagi sih, menghilangnya begitu cepat."


Dirinya pun bergegas kembali ke kelasnya untuk mencari keberadaan Risda, Risda juga tidak ada didalam kelasnya saat ini. Entah kemana perginya Risda kali ini, seakan akan diseluruh penjuru sekolahan keberadaannya sama sekali tidak ditemukan.


Bel masuk sekolah pun berbunyi, Satria mondar mandir didepan pintu kelasnya untuk menunggu kedatangan Risda. Tak beberapa lama kemudian, Risda datang bersama dengan Mira dan juga Septia.


"Lo dari mana saja, Da? Gue nyariin lo dari tadi," Ucap Satria.


"Ecieee...." Seru Mira dan Septia bersamaan.


"Ngapain lo nyariin gue? Tumben banget," Tanya Risda.


"Ya gue khawatir sama lo, Da. Gue pikir lo diculik,"


"Emang ada yang mau nyulik Risda?" Tanya Mira.


"Belom juga diculik, pasti penculiknya langsung kabur." Sela Septia.


"Lo benar, Tia. Langsung kena mental tuh si penculik,"


"Gue sudah izin ke Renzo untuk bantuin lo nulis, siniin buku lo," Ucap Satria tanpa mempedulikan kedua orang yang tengah heboh itu.


"Ngak usah. Gue bisa sendiri, lagian hobi gue nulis jadi nulis segini ngak ada apa apanya" Jawab Risda.


"Da,"


"Makasih atas tawarannya, gue permisi."

__ADS_1


Risda langsung bergegas masuk kedalam kelasnya dan meninggalkan Satria yang masih mematung didepan pintu kelas tersebut. Sangat sulit untuk bisa mendekati Risda dengan cara seperti ini, Risda yang memang tidak bisa jatuh cinta itu pun tidak bisa didekati dengan mudahnya.


__ADS_2