
Risda terbangun dari tidurnya akan tetapi sudah tidak mendapatkan sosok Ibunya disebelahnya, ia pun merasa ada yang hilang dan hampir meneteskan air matanya. Ia segera bangkit dari tidurnya untuk mencari keberadaan dari Ibunya, dan dia merasa lega ketika mendapati Ibunya yang sedang sholat subuh tidak jauh darinya.
"Aku pikir sudah balik tanpa pamit sama Riada," Gumannya pelan.
Risda pun kembali membaringkan tubuhnya tanpa ikut sholat subuh, hal itu telah menjadi kebiasaannya yang selalu meninggalkan sholat tubuh. Dia mengeluh tentang hari harinya akan tetapi dia lupa tentang penciptanya, dari tidurnya Risda tengah menatap kearah Ibunya yang tengah sholat.
Melihat orang sholat membuat perasaan Risda merasa damai, tapi entah kenapa jiwanya masih tidak mampu untuk diajak bekerja sama. Setelah selesai sholat, Ibunya pun bangkit kearah keranjang pakaian milik Risda, Risda yang memang pemalas itu pun jarang sekali cuci baju.
"Ya ampun, Ris. Sejak kapan ini tidak dicuci? Sampek menumpuk begini,"
Risda yang masih mendengar ucapan tersebut pun langsung menyengir seraya tidak memiliki dosa, Risda pun bangkit dari kasurnya dan duduk ditepi ranjang kamarnya itu.
Risda menoleh kearah keranjang pakaian kotornya yang menemupuk bagaikan gunung berpindah, Risda cuci baju pun setiap minggu, kalau dia kecapean mungkin hanya mencuci seragam sekolahnya saja sementara baju yang lainnya akan dibiarkan menumpuk begitu saja.
"Mungkin 2 tahun yang lalu, Bun. Habisnya kesel nyuci pake tangan," Jawab Risda.
"Harga mesim cuci kan mahal, Ris. Kalo Bunda ada uang nanti Bunda belikan, untuk sementara pake tangan dulu. Lagian biaya spp mu juga tidak murah, belum uang sangu sama bengsinnya,"
"Iya Bun, Risda paham kok."
"Terus kenapa ini ngak dicuci? Habis mandi itu dicuci biar ngak numpuk kayak gini, kalo numpuk terus menjadi sarang serangga gimana? Emang Risda mau tidur bareng serangga?"
"Risda ngak sempet, Bun. Risda berangkat aja jam 6 pagi itu pun kadang kesiangan, terus pulangnya jam 6 sore, gimana mau nyuci baju? Nantinya malah ngak kering karena ngak kebagian sinar matahari, kalo dijemur diluar nanti ngak baik karena bisa dibuat tempat hantu bersandar jadi harus dicuci ulang,"
"Siapa yang bilang begitu?"
"Bapak Ibu Guru yang ada disekolah," Jawab Risda dengan polosnya.
Mendengar jawaban dari Risda membuat Ibunya menghela nafas. Sebenarnya dalam islam tak ada larangan menjemur pakaian pada waktu malam. Bahkan itu sah-sah saja, gak ada istilah baju yang dijemur akan dipakai selimut oleh setan dan semacamnya. Karena itu hanyalah mitos orang-orang zaman dulu.
Alasannya pun berbeda-beda, ada yang percaya kalau menjemur pakaian dimalam hari maka akan dipakai selimut oleh setan, dan ada juga yang takut jika menjemur di malam hari akan kecolongan dan dipakai sebagai alat para dukun.
Kita perlu hati hati untuk soalan yang kedua, biasa jadi pakaian kita akan dibawa ke dukun untuk mengirim guna guna atau yang lainnya, dan hal itu sering terjadi tanpa kita sadari bahwa ada tetangga yang iri dengki sehingga mereka diam diam akan mengambil pakaian kita dan dibawa kedukun.
"Itu hanya mitos saja, Risda. Ngak ada larangan larangan yang kayak seperti itu, dipake setan lah diginiin setan lah, ngak ada,"
"Ada, bilangnya gitu, Bun. Nanti kita harus cuci ulang pakaiannya, kan kerja dua kali,"
"Terus kalo gitu, ngak cuci baju? Yang ada malah dibuat sarang dedemit dirumah. Emang Risda mau tidur bareng demit?"
Mendengar ucapan tersebut langsung membuat Risda berdiam diri, mungkin dirinya yang salah tangkap dengan perkataan para Guru yang ada disekolahnya, mendengar ucapan itu langsung membuat Risda merinding jika sampai pakaiannya dibuat sarang dirumah.
"Ngak mau, Bun. Tapi Risda capek,"
"Mangkanya kalo nyuci jangan banyak banyak, kalo banyak kan jadi gini, capek mulu."
"Iya iya, Risda akan usahain. Lain kali ngak numpuk kayak gini lagi deh,"
"Ya sudah buruan mandi, setelah itu makan dan berangkat sekolah."
"Risda ngak pernah mandi pagi, udaranya dingin banget, Bun. Risda ngak tahan dingin,"
"Astaga Ya Allah, jadi selama ini kalau mau berangkat sekolah jarang mandi? Terus mandinya kapan?"
"Mandinya waktu pulang sekolah,"
Risda yang memang tidak pernah dibimbing oleh orang tuanya pun membuat aturan sendiri untuk dirinya, dan hal itu telah menjadi kebiasaannya yang tidak mudah untuk dirubah. Selama 8 tahun, dirinya membiasakan hal hal yang membuatnya nyaman, ia tidak mau mendengarkan saran dari siapapun mengenai dirinya.
Kebiasaan tersebut membuatnya merasa bebas, kebiasaan itu tidak akan mampu dirubah dengan mudahnya, apapun hal yang telah menjadi kebiasaan tidak akan mampu untuk dirubah. Oleh karena itu, merubah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan itu tidak akan mampu dengan cepat, akan tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat merubah kebiasaan.
Lagi lagi jawaban itu langsung membuat Dewi menggeleng gelengkan kepalanya, entah anak gadisnya itu seperti apa saat ini. Risda benar benar jauh berbeda dari yang lainnya, anak gadisnya itu sangat sulit untuk mengatur dirinya sendiri.
Tumbuh dewasa tanpa bimbingan dari orang orang terdekatnya, membuat seorang anak akan kesulitan untuk melakukan hal tersebut. Tanpa bimbingan akan membuat seorang anak menjadi sangat sulit untuk dibilangi atau dinasehati karena kebiasaannya yang selalu hidup dengan bebasnya tanpa ada yang melarang.
__ADS_1
Risda menunjukkan kepalanya, ia pun bergegas masuk kekamar mandi untuk mencuci muka agar lebih segar. Setelahnya dirinya langsung kembali kekamarnya untuk mengganti pakaiannya, Risda tidak mendapati Ibunya didalam kamar tersebut sehingga dirinya segera mencarinya.
"Bun! Bunda!" Teriak Risda mencari Ibunya.
Ia pun merasa lega ketika melihat Ibunya yang tengah menjemur pakaian miliknya, tak beberapa lama kemudian Ibunya langsung menyuruhnya untuk makan dirumah. Biasanya Risda akan makan dirumah neneknya akan tetapi kali ini dirinya makan dirumah, dan yang memasak adalah Ibunya.
"Gimana? Rasanya enak?"
"Enak banget, seperti yang Risda bayangkan. Bunda memang hebat kalo masak,"
"Kamu juga harus belajar masak, suatu saat nanti kamu bakalan jadi seorang istri orang lain. Kalo ngak belajar masak mulai sekarang, nanti makannya gimana?"
"Kan ada delivery, Bun. Risda kan memang ngak bisa masak, jangankan masak, masuk kedapur aja kalo mau buat mie doang."
"Risda suka makan mie instant? Jangan banyak banyak, ngak baik buat kesehatan. Mending makan nasi, jangan makan mie instant mulu,"
"Iya Bun," Jawab Risda sambil menikmati makanannya. "Gimana mau fokus makan nasi? Nasi aja jarang ada buat Risda, ya dengan terpaksa Risda makan mie instant," Batin Tiada menjerit.
Selesai makan, Risda pun langsung menaruhnya begitu saja didapur rumahnya, ia memang tidak pernah mencuci piringnya sendiri selama ini. Kalau dinasehati dirinya pasti langsung insecure dan takut untuk bertemu dengan orang yang menasehatinya, entah wataknya memang seperti itu ataukah karena kondisi keluarganya.
Dulu Risda orang yang sangat ceria, terbuka dengan keluarganya dan bahkan anak yang tidak mau berdiam diri. Akan tetapi, sekarang Risda sangat pendiam didalam keluarganya sendiri, dia akan menunjukkan sikap aslinya jika bertemu dengan seseorang yang mampu membuatnya nyaman.
Risda seakan akan tidak mengenali orang orang yang ada disekitarnya itu, bahkan dirinya jarang berinteraksi sosial dengan saudaranya sendiri. Dia bahkan tidak mengetahui ataupun mengenal tetangganya sendiri, karena jarangnya berinteraksi dengan Risda.
Tetangganya meninggal, kecelakaan ataupun yang lainnya saja dirinya tidak mengetahui. Risda benar benar tertutup dengan siapapun, akan tetapi sikap kasarnya hanya ketika disekolahan dan diluar desa saja.
"Risda berangkat sekolah dulu ya, Bun." Ucap Risda lirih.
"Iya, nanti siang Bunda langsung balik kerja ya, jangan nyariin dirumah. Jadi anak yang pintar ya, sekolah yang bener,"
Mendengar ucapan itu langsung membuat kedua mata Risda berkaca kaca, padahal keduanya baru saja ketemu akan tetapi harus dipisahkan secepat ini. Ada rasa ketidak nyamanan dihati Risda dengan kata kata itu, ia pun menjatuhkan pelukannya didalam pelukan sang Ibu.
Risda pun langsung menangis disana dengan tangisan tanpa suara, ia tidak mau berpisah dengan cepatnya. Ibunya juga tidak ingin melakukan itu, tapi dirinya memiliki tanggungan untuk balik kerja demi anak terakhirnya itu, kalau dia tidak kembali bekerja lantas darimana uang untuk menghidupi dan membesarkan Risda.
"Risda ngak mau Bunda balik, Risda pengen bersama dengan Bunda," Ucap Risda lirih dan dapat terasa memilukan.
Ada sebuah rasa yang tidak mampu untuk diceritakan, Dewi sama sekali tidak mengetahui tentang anaknya itu, meskipun anaknya begitu tegar selama ini akan tetapi dirinya menyimpan luka begitu banyak seorang diri. Dari pelukannya saja dapat mengetahui seberapa besar beban yang ia pikul selama ini, akan tetapi mulutnya tertutup rapat agar tidak menceritakan apapun kepada Ibunya itu.
Bukan karena ancaman dari siapapun yang membuat Risda terdiam, akan tetapi Risda tidak ingin membuat Ibunya khawatir dengan apa yang dilalui oleh Risda selama ini yang akan membuat Ibunya semakin sedih.
"Risda..." Ucapan Dewi berhenti ketika Risda melanjutkan perkataannya.
"Risda tau ini semua demi Risda, Bunda kerja buat uang saku sekolah Risda dan untuk biaya sekolah Risda. Risda hanya pengen waktu sehari bersama dengan Bunda, apakah itu terlalu sulit? Sudah berbulan bulan Risda tidak bertemu dengan Bunda, sekali bertemu pun cuma beberapa jam saja. Risda tau keinginan Risda ini sangat sulit untuk Bunda, jadi biarkan Risda memeluk Bunda untuk sesaat."
Ucapan itu terlihat sangat memilukan, entah berapa besar rasa rindu yang dimiliki oleh Risda kepada Ibunya itu, Risda sangat ingin bersama dengan Ibunya seperti teman teman yang lainnya. Akan tetapi, hal tersebut sangat sulit untuk terwujudkan bagi Risda, keinginannya hanya sederhana akan tetapi tidak akan mungkin bisa terwujud.
Sesederhana itulah keinginan Risda selama ini, akan tetapi untuk mewujudkannya bagaikan pergi keangkasa naik kupu kupu, dan itu tidak akan pernah menjadi nyata. Mungkin saja itu adalah kisah legenda yang tidak pernah diketahui kebenarannya, dan kisah itu tidaklah nyata.
"Risda, Maafin Bunda ya, karena tidak pernah ada waktu untuk Risda selama ini. Ketika Risda sukses nanti, Bunda akan menemani Risda dan berhenti bekerja, tapi sekarang tanggung jawab Bunda cukup besar. Kalo ngak bekerja, lalu gimana nantinya?"
"Risda tau itu, Bunda sudah mengatakannya beberapa kali, dan bahkan Risda sampai hafal betul soal perkataan itu. Risda ngak berniat untuk membuat Bunda berhenti bekerja karena Risda, Risda hanya minta waktu sehari agar Risda bisa merasakan apa yang teman teman Risda rasakan. Risda ingin diperhatikan oleh Bunda seperti yang lainnya, Risda ingin disuapi oleh Bunda, Risda juga ingin dibuatkan bekal seperti yang lainnya."
Risda mengutarakan isi hatinya kepada sang Ibu, Ibunya yang paham akan hal itu pun langsung bergegas kedapur untuk menyiapkan bekal khusus Risda. Melihat itu membuat Risda menangis haru, ia belum pernah merasakan hal itu, akan tetapi kali ini Ibunya benar benar telah membuatkannya bekal dengan tangannya sendiri.
"Bunda ngapain?" Tanya Indah yang baru saja pulang dari belanja.
"Buatin Adekmu bekal," Jawab Dewi yang masih berkutik dengan bekal Risda.
"Mau Indah bantuin?" Tanya Indah lagi.
"Ngak usah."
Setelah itu, Dewi pun menyerahkan sebuah kotak bekal yang ada dirumah itu kepada Risda, dengan senang hati Risda pun menerimanya. Risda benar benar merasa senang ketika dibuatkan bekal seperti itu oleh Ibunya sendiri.
__ADS_1
"Nah sudah selesai, cepetan gih berangkat sekolah. Nanti kamu malah telat lagi," Ucap Ibunya.
Risda langsung memasukkan sekotak bekal tersebut kedalam tasnya, ia mau membawa bekal itu kesekolah. Pasti kali ini teman temannya akan terkejut ketika melihat Risda yany membawa bekal, dan tidak seperti biasanya.
"Iya Bun. Yaudah, Risda berangkat dulu ya, assalamualaikum Bunda."
"Waalaikumussalam, hati hati dijalan, Ris. Kalo nyebrang hati hati, kendaraan besar sekarang pada kebut kebutan demi kejar target,"
"Syiap Tuan Putri!"
Dengan semangat Risda pun mencium tangan Ibunya, setelah itu dirinya bergegas pergi dari rumah itu dengan mengendarai sepedahnya itu. Risda merasa sangat bahagia karena dibuatkan bekal oleh Ibunya, hal itu nampak begitu biasa saja tapi mampu untuk membuat Risda bahagia.
*****
Risda memasuki halaman kelasnya dengan senangnya, ia pun melihat sosok Afrenzo yang melintas. Risda pun bergegas untuk menghampiri Afrenzo, ia melihat sebuah bekas biru diujung bibir dan pelipis kirinya.
"Lo kenapa, Renzo? Kenapa bisa bonyok seperti itu?" Tanya Risda terkejut ketika melihat Afrenzo yang seperti babak belur.
"Bukan urusan lo," Jawab Afrenzo dingin dan masih tetap dingin seperti biasanya.
"Gue obatin, ya? Lo kan temen gue, jadi gue harus perhatian ke lo."
"Ngak usah,"
"Renzo, ngak usah sungkan sungkan kali. Ini bukan kali pertama gue ngobatin lo, sebelumnya juga pernah kan?"
"Gue ngak butuh itu,"
"Sudah diamlah, jangan banyak menolak."
Risda pun bergegas menarik tangan Afrenzo untuk bergegas pergi dari tempat itu. Merasakan tangannya yang ditarik tiba tiba membuat Afrenzo harus menuruti kemana Risda akan membawanya pergi, tanpa penolakan.
Melihat keduanya yang saling bergandengan itu membuat semua orang terkejut. Afrenzo memang sangat sulit untuk ditebak, dikit dikit bonyok dan dikit dikit sembuh. Hanya Risda yang berani menggandeng tangan Afrenzo seperti itu, hal itu membuat semuanya memandang kearahnya dengan tatapan yang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Kini keduanya sudah berada diruang UKS untuk mengobati luka yang ada diwajah Afrenzo. Risda menyuruhnya untuk duduk disebuah bangkar yang ada didalam ruangan tersebut, sementara dirinya tengah sibuk untuk memilih obat yang sama sekali tidak ia ketahui.
"Lo aneh, Renzo. Sangat aneh," Ucap Risda sambil memilih obat untuk Afrenzo.
"Kenapa?" Tanya Afrenzo.
"Lo bisa beladiri, tapi kenapa lo bisa babak belur seperti itu coba? Lo bahkan pelatih beladiri loh, seharusnya lo ngelawan orang yang mukulin lo itu. Kenapa lo malah diam saja dan sampai bonyok seperti itu,"
"Gue ngak bisa ngelawan dia," Ucap Afrenzo singkat.
"Hah? Bagaimana bisa? Apa dia jago beladiri? Dan lebih jago daripada lo? Siapa dia?"
"Bokap gue,"
Mendengar jawaban itu langsung membuat Risda melotot kearah Afrenzo, bagaimana bisa Ayahnya justru melakukan hal seperti itu kepada Afrenzo. Risda benar benar tidak mempercayai apa yang tengah dikatakan oleh Afrenzo itu.
"Apa? Kenapa gitu?" Tanya Risda yang sedikit tidak terima jika seorang Ayah melakukan hal seperti itu kepada anaknya.
"Bukan urusan lo."
Afrenzo pun membuang muka dari hadapan Risda, Risda tidak menyadari bahwa kini tangan Afrenzo terkepalkan dengan kuat. Risda lalu menyentuh luka Afrenzo dengan kapas yang telah diberi obat secara perlahan lahan, ia takut kalo Afrenzo kesakitan.
"Akh... Pasti sakit ya?" Tanya Risda ketika dirinya menyentuh luka tersebut.
Risda yang mengobati akan tetapi dirinya sendiri yang memekik kesakitan setelahnya, melihat itu membuat Afrenzo langsung menjitak kepalanya pelan, dan tersenyum tipis kearah Risda.
"Sakit tau, Renzo. Tapi senyum lo bagus, begitu juga lebih baik daripada harus tanpa ekspresi seperti biasanya,"
Risda pun kembali mengobati wajah Afrenzo yang babak belur tersebut, setelahnya keduanya langsung bergegas keluar dari ruangan itu untuk kembali kekelasnya masing masing.
__ADS_1