
Risda memang tidak pernah bertemu Ayahnya secara langsung, akan tetapi Neneknya selalu bilang kalau Ayahnya berada didalam rumah kosong yang ada didepan rumahnya itu. Risda pun ragu untuk mencarinya, karena dia sendiri tidak pernah melihat Ayahnya keluar dari dalam rumah itu.
Kini Risda tengah berdiri didepan rumah yang dimaksud tersebut sambil memegangi kertas dan pulpen yang ada dimasing masing tangannya. Ia menatap cukup lama kearah rumah itu, nampak seperti tidak ada tanda tanda kehidupan didalamnya.
"Ada dia sudah pergi ya dari situ? Sepi banget," Guman Risda sambil celingukan.
Rumah yang terlihat tak terawat itu pun kelihatannya sangat suram dan menakutkan jika ditinggali, Risda merasa tidak yakin bahwa Ayahnya berada didalam sana. Cukup lama Risda berdiri didepan rumah tersebut, akan tetapi tidak ada tanda tanda seseorang tengah beraktivitas didalamnya.
"Ngapain, Nak?" Tanya wanita paruh baya yang tak sengaja melihat Risda mematung didepan rumah itu, wanita itu tidak lain adalah Neneknya.
"Ayah sudah pergi?" Tanya Risda kepada Neneknya itu.
"Ayahmu ada didalam, ada apa?"
"Didalam? Kenapa sepi banget, Nek? Kayak ngak ada penghuninya,"
"Masuklah, dia ada didalam."
Risda perlahan lahan melangkah masuk ke teras rumah tersebut, terlihat rumah yang cukup kumuh karena jarangnya dibersihkan. Dengan pelannya dirinya pun membuka pintu rumah tersebut, sosok pria kurus dengan pakaian kumuhnya tengah terbaring diatas kursi yang ada diruang tamu tersebut.
Melihat sosok tersebut langsung membuat perasaan Risda tercabik cabik, kenapa jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi kepada pria itu? Terlihat berbeda dari terkahir kali Risda bertemu dengannya. Risda pun memegangi dadanya yang terasa sakit, rasanya dirinya seperti sedang terhantam sesuatu yang sangat keras.
"Kenapa semua ini harus terjadi? Apa yang terjadi dengan Ayahku? Apa yang telah wanita itu lakukan kepadanya?" Batin Risda menjerit, ada perasaan yang tidak tela didalam hatinya ketika melihat sosok tersebut terlihat seperti itu.
Risda pun perlahan lahan mendekat kearah lelaki yang tengah tertidur itu, nampak wajah sangat kelelahan tengah terpampang jelas diwajah Ayahnya itu. Risda sama sekali tidak tega untuk melihatnya, ia bahkan tidak nampu untuk mengendalikan perasaannya sendiri.
"Yah," Panggil Risda lirih.
Mendengar panggilan tersebut langsung membuat lelaki itu perlahan lahan mulai membuka kedua matanya, ia pun bangkit untuk duduk dikursi yang terlihat cukup tua itu. Dirinya pun memandang kearah anaknya yang tengah menatap kearahnya itu, tatapan Risda seakan akan tengah berkaca kaca melihat itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Risda dengan lirihnya seakan akan nada bicaranya tersebut mengandung sebuah kesedihan yang mendalam.
Jika bukan karena Afrenzo yang menghukum dirinya untuk meminta tanda tangan dari orang tuanya, Risda tidak akan masuk kedalam rumah itu dan tidak akan mengetahui kondisi dari Ayahnya saat ini. Entah ini sebuah kebetulan atau bagaimana, sehingga Risda masuk kedalam rumah itu.
"Ini sudah takdir," Ucap Sandi dengan meneteskan air mata ketika melihat kedua mata Risda berkaca kaca.
"Apa karena wanita itu?" Tanya Risda yang sedikit sesenggukan.
Ayahnya pun mengangguk pelan kepada Risda sebagai jawabannya, Risda pun memejamkan matanya ketika melihat anggukan tersebut. Perasaan kecewa sekaligus terluka itu pun menjadi satu, hingga membuat kedua tangannya mengepal dengan eratnya.
"Dimana dia sekarang? Ngak akan pernah aku biarkan dia hidup!" Teriak Risda dengan kedua tangan yang terkepal sangat eratnya hingga memutih.
"Risda! Ngak usah,"
"Tapi dia sudah membuat hidup Ayah seperti ini! Risda ngak bisa tinggal diam begitu saja, dia harus merasakan apa yang Risda rasakan."
"Jangan pernah sakiti mereka,"
"Kenapa Ayah masih membela dia sih? Dia sudah tega kepada Ayah sampai seperti ini. Tapi kenapa masih membela dia!"
"Sudah Risda, sudah! Jangan dibahas lagi soal ini, ada apa kemari?"
"Lupakan saja, mood Risda ngak baik sekarang."
Risda pun langsung bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut, dirinya sebenarnya tidak terima jika Ayahnya diperlakukan seperti itu oleh istri barunya itu. Akan tetapi, Ayahnya justru masih membela wanita itu, dan hal itu membuat Risda sangat muak.
Dengan perasaan bercampur aduk, Risda masuk kedalam rumahnya, ia pun melemparkan benda yang ia bawa sebelumnya itu ke sembarang arah. Ia lalu membaringkan tubuhnya dengan kencangnya diatas kasur yang ada didalam kamarnya itu.
Risda pun membenamkan wajahnya ke bantal yang dirinya gunakan untuk tidur itu. Dirinya pun terisak lirih dibalik bantal yang ia gunakan itu, sungguh sakit apa yang tengah dirinya rasakan saat ini.
Bahkan disaat seperti ini pun, Ayahnya masih membela wanita yang telah merusak keluarganya itu. Bahkan wanita itu kini telah pergi entah kemana, Ayahnya sendiri saja tidak tau kemana perginya wanita itu sekarang.
"Gue ngak akan pernah memaafkan lo sampai kapanpun itu, dasar wanita pelakor! Gue benci sama lo!" Teriak Risda dibalik bantalnya hingga suara teriakannya itu tidak terdengar jelas dari luar.
*****
"Da, kenapa mata lo bengkak kayak gitu? Lo habis nangis semalam?" Tanya Mira keesokan harinya disekolahan.
__ADS_1
"Gue ngak papa," Jawab Risda seakan akan tengah menahan tangisnya itu.
"Lo ada masalah lagi sama keluarga lo?" Tanya Septia dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Risda.
"Ceritalah, Da. Kali aja setelah lo cerita sama kita, lo bakalan ngerasa lega dan tidak sedih lagi," Ucap Rania sambil mengusap pelan punggung Risda.
"Gue ngak papa kok,"
Risda pun menoleh kearah kelas Afrenzo, dirinya tadi tidak menemukan lelaki itu diparkiran sepeda motor, dan motornya pun tidak terlihat disana. Sekilas ia melihat sosok Afrenzo tengah berjalan dilorong sekoalah itu dan hendak masuk kedalam kelasnya.
"Gue pergi dulu," Ucap Risda dan langsung buru buru untuk keluar dari kelasnya.
"Da!" Panggil ketiganya secara bersamaan akan tetapi diabaikan oleh Risda.
Risda lalu pergi untuk menghampiri sosok Afrenzo yang hendak masuk kedalam kelasnya itu, melihat kedatangan Risda langsung membuat Afrenzo menghentikan langkahnya dan langsung menoleh kearah Risda.
"Lo kenapa?" Tanya Afrenzo ketika melihat kedua mata Risda tengah berkaca kaca.
"Gue minta maaf soal tanda tangan itu, Renzo. Gue belum minta tanda tangan kepada orang tua gue," Ucap Risda.
"Karena itu lo nangis?" Tanya Afrenzo dengan penuh tanda tanya didalam kepalanya.
"Iya, gue ngak bisa minta tanda tangan itu ke mereka, Renzo. Gue terima kok hukuman apapun dari lo sekarang, asal jangan minta hal itu,"
"Gue tau, lo pasti udah lihat kondisi Bokap lo kan?"
Pertanyaan yang terlontarkan oleh Afrenzo itu pun langsung membuat kedua mata Risda membulat, ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Afrenzo. Apakah hukuman tersebut ada sangkut pautnya dengan kondisi Ayah dari Risda itu, tapi kenapa Afrenzo mengatakan itu kepadanya.
"Maksud lo apa'an? Gue ngak ngerti sama sekali, Renzo. Lo sengaja nyuruh gue seperti itu?"
"Gue tau tanpa lo cerita, Da. Apapun itu, dia tetaplah Ayahmu sampai kapanpun, lo boleh marah kedia, tapi lo ngak boleh benci kedia."
"Lo sudah ketemu sama Bokap gue? Kapan?"
"Lo pernah bilang ke gue waktu itu, apa lo lupa?"
*Flash back on*
Risda dan Afrenzo tengah berada diaula beladiri, Afrenzo tengah sibuk untuk berlatih tendangannya disebuah samsak yang berada didalam ruangan itu. Sementara Risda tengah sibuk dengan ponselnya karena latihan belum dimulai.
"Bunda, Ayah pulang beberapa hari yang lalu. Dia diusir sama istri barunya itu, aku belum lihat kondisinya sih, tapi katanya dia ngak baik baik saja." Ucap Risda yang sedang terhubung dengan telpon dari Ibunya itu.
Afrenzo tengah mendengarkan ucapan Risda yang tengah mengadu kepada Ibunya itu. Jika dilihat lihat, Afrenzo seakan akan tetapi peduli dengannya, akan tetapi dirinya diam diam mulai mencerna pembicaraan itu.
Risda mengatakan bahwa sejak Ayahnya pulang kerumah itu, dirinya sama sekali belum menengoknya walaupun hanya sebentar saja. Hal itu membuatnya tidak mengetahui bagaimana kondisi dari Ayahnya itu, menurut ucapannya seakan akan tengah mengatakan bahwa Ayahnya sedang sakit.
Afrenzo pun mengira bahwa apa yang dilakukan oleh Risda itu hanya karena sakit hatinya waktu dirinya masih kecil, sehingga dirinya merasa acuh tak acuh kepada Ayahnya sendiri. Afrenzo pun mencari cara agar membuat Risda menemui orang tuanya, dan ide itu muncul ketika Risda tengah dihukum oleh guru.
"Gue akan hukum kalian, agar kalian jerah nantinya. Dan untuk lo, Da. Agar lo mau menengok Ayah lo sendiri walaupun hanya sesaat," Batin Afrenzo.
*Flash back off*
Risda pun terdiam mendengarkan ucapan dari Afrenzo, ternyata hukuman itu telah direncanakan oleh Afrenzo beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, baru kali ini dirinya memiliki kesempatan untuk menghukum Risda seperti itu.
"Lo jahat, Renzo. Lo rencanain ini semua sejak awal," Ucap Risda tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar saat ini.
"Da, seberapapun lo benci ke orang tua lo, lo tidak boleh membencinya seperti itu. Meskipun mereka telah melukai perasaan lo, maafkan mereka," Nasehat dari Afrenzo.
"Lalu bagaimana dengan Bokap lo, yang telah mukulin lo seperti itu? Apa lo bisa memaafkannya?"
Afrenzo sekilas terlihat terdiam ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Risda itu, melihat Afrenzo yang seakan akan membisu itu pun langsung membuat Risda menatap lekat lekat wajah lelaki itu.
"Kenapa lo diam saja, Renzo? Katakan ke gue, apa lo bisa memaafkan Bokap lo itu?" Ucap Risda yang cukup lama melihat Afrenzo yang hanya berdiam diri.
"Gue ngak pernah membencinya, Da. Lalu memaafkan untuk apa?" Tanya Afrenzo balik.
"Lo bener bener tidak membencinya?" Tanya Risda yang tidak percaya dengan jawaban dari Afrenzo.
__ADS_1
"Untuk apa gue benci? Biar bagaimanapun juga, mereka adalah orang tua gue. Gue hanya tidak suka caranya bersikap, bukan berarti membenci orangnya,"
"Gue ngak bisa seperti lo, Renzo. Gue ngak bisa memaafkan dia begitu saja, gue ngak bisa ngelakuin itu! Gue benci sama dia,"
"Lo ngak boleh benci seperti itu, Da. Kalo dia udah ngak ada, lo bakalan nyesel nantinya," Afrenzo pun mengusap pelan puncak kepala Risda.
"Gue ngak akan nyesel, Renzo. Selama ini gue hidup sendiri tanpa kehadiran dia, ada dan tidak adanya dia disamping gue, itu sama saja bagi gue."
"Da, lo itu anak baik. Setiap manusia pasti memiliki salah, tidak ada manusia yang sempurna didunia ini, Da. Jangan hanya karena masalah yang telah berlalu, lo kehilangan kebahagiaan kedepannya,"
"Tapi gue belum bisa memaafkannya, Renzo. Hati gue sakit kalo mengingatnya,"
"Perlahan lahan, lo bakalan bisa kok, Da. Semua itu butuh proses,"
"Renzo..." Air mata Risda pun menetes dan langsung diusapi oleh Afrenzo menggunakan Ibu jari tangan kanannya.
"Cengeng!"
Bhukk...
"Akh..."
Risda pun lalu meninju dada Afrenzo dengan kerasnya, Afrenzo merasakan nyeri dibagian dadanya itu dan langsung memeganginya dengan kedua tangannya. Setelah memukul dada Afrenzo, Risda langsung berlari kearah kelasnya dengan kedua pipi yang tengah memerah saat ini.
"Lo ngak asik, Renzo!" Teriak Risda dengan kerasnya.
Afrenzo pun hanya menggeleng gelengkan kepalanya dengan senyuman tipis yang terpampang samar diwajahnya itu. Pukulan keras dari Risda tidak cukup untuk membuatnya terluka, gadis itu benar benar berani kepadanya saat ini, bahkan dia berani untuk memukulnya begitu saja.
Afrenzo lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke arah kelasnya saat ini, sementara Risda juga melakukan hal itu. Risda langsung duduk dibangkunya tersebut untuk bergabung dengan yang lainnya.
"Setelah ketemu sang pawang, kagak nangis lagi lo?" Tanya Rania yang melihat senyuman diwajah Risda mengembang tipis.
"Gue butuh samsak tinju," Ucap Risda.
"Sialan lo, Da. Mana ada yang mau jadi sasaran lo," Ucap Mira.
"Kan Renzo mau, buktinya gue sudah mukul dia dengan kerasnya tadi."
"APA!" Teriakan karena terkejut keluar dari mulut mereka setelah mendengar ucapan dari Risda.
"Serius lo, Da? Terus reaksinya bagaimana? Apa dia marah? Atau dia mukul balik?" Tanya Septia dengan hebohnya.
"Gila lo, Da? Lo ngak diapa apain kan setelah mukul tuh orang? Atau lo justru dibanting olehnya. Hanya lo yang berani ngelakuin itu, Da. Gue kagum sama keberanian lo," Mira pun bertepuk tangan mendengar ucapan dari Risda.
"Ngak tau, gue langsung lari gitu aja," Jawab Risda.
Teman temannya seakan akan tidak mempercayai apa yang mereka dengar saat ini, mungkin ada sesuatu yang membuat lelaki itu iklas begitu saja ketika dipukul oleh Risda.
Tak beberapa lama kemudian, seorang pemuda mendatangi bangku Risda. Pemuda itu tidak lain adalah Rizal yang ikut serta dihukum kemarin bersama dengan Risda dan yang lainnya.
"Mana kertas lo?" Tanya Rizal sambil menyodorkan tangannya dihadapan Risda.
"Kertas apa'an?" Tanya Risda yang tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Rizal.
"Kertas hukuman lo lah, dia sudah nagih!" Dia yang dimaksud adalah Afrenzo.
"Udah gue kasihkan lebih awal ke dia, jadi gue kagak bawa sekarang." Ucap Risda berbohong kepada temannya itu.
"Kenapa lo kagak bilang bilang sih pe'ak! Tau gitu gue juga nitip sama lo tadi, sialan lo, Da." Umpat Rizal dengan geramnya kepada Risda.
"Gue kagak tau kalo lo mau nitip ke gue, gue udah ditagih sejak tadi woi, jadi gue kagak sempet nungguin lo. Lo sih jam segini baru berangkat," Kini berbalik, justru Rizal yang dibuat salah oleh apa yang dilakukan Risda.
"Ya setiaknya lo nungguin kita kita kali,"
"Ya sorry, sudah kumpulin saja tuh ke dia. Sebelum dia nagih lagi ke kelas ini,"
Rizal pun mendengus kesal karena Risda, dirinya beserta teman yang dihukum lainnya itu pun bergegas keluar dari dalam kelas untuk menuju ke kelas si ketua OSIS itu, dan meninggalkan kelas Risda.
__ADS_1
Melihat kepergian mereka itu, langsung membuat Risda mengusap dadanya sambil bernafas lega, untung saja teman temannya itu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Risda, kalo tidak mungkin akan terjadi adu mulut diantara mereka.