
Sudah 5 menit mereka menunggu, akan tetapi Putri belum juga menelponnya. Entah jadi atau tidak untuk telpon ke ponsel Risda, mereka masih setia menunggu Putri menelpon dan penasaran dengan hal penting apakah yang ingin diobrolkan.
"Kok lama ya? Jadi telpon ngak sih, keburu masuk jam pelajaran nih," Keluh Mira yang mulai merasa bosan untuk menunggu telpon.
"Ngak tau, bilang aja kagak punya paketan terus minta ditelpon biar hemat biaya," Seru Septia yang juga merasa bosan.
"Bagaimana mungkin kagak punya paketan? Orang dia aja anak orang kaya kok, jelas punya lah. Kalo kita nih, bokek," Ucap Risda
"Kaya tapi sok."
"Orang kaya mah bebas! Apapun masalahnya sogok uang solusinya,"
Memang benar, mereka hanya mengandalkan uang untuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, tanpa mempedulikan orang lain. Bahkan jika mereka melakukan kesalahan yang besar, hanya tinggal membayar denda maka semuanya akan beres terkendali.
Miris banget. Bahkan saudara pun akan dianggap orang lain jika tidak memiliki uang, sementara orang lain akan dianggap sebagai saudara jika memiliki banyak uang. Seakan akan uang adalah segalanya, hingga mereka lupa mengenai indahnya kebersamaan tanpa membedakan status sosial.
"Keknya ngak jadi telpon deh," Ucap Risda.
Mereka semua langsung melotot kearah Risda, mereka menatap dengan penuh kebingungan kepada Risda. Entah mengapa gadis itu mengatakan hal itu, padahal sejak tadi mereka menunggu telpon dari Putri.
"Katanya dia ada matkul pagi, dan dia cuma suruh fotokan absensi kelas," Jelas Risda kepada mereka.
"Dih php. Lalu untuk apa kita tungguin sejak tadi kalo begini? Buang buang waktu aja," Protes Mira.
"Emang lo saja yang kesal? Kita juga kesal," Ucap Risda.
Risda langsung bergegas untuk mengambil buku absensi yang ada dibangku guru, dirinya lalu memotret buku tersebut dan mengirimkannya kepada Putri. Putri hanya ingin mengetahui, apakah benar bahwa Wulan jarang masuk kelas, ataukah hanya kebohongan mereka.
Risda lalu mengirim file tersebut kepada Putri, dan dirinya langsung mematikan ponselnya setelah itu. Risda lalu bergabung dengan teman teman yang lainnya, sangat sangat membuang waktu mereka yang sibuk bermain.
*****
"Gerakkannya samakan dengan yang lainnya, besok kita akan ikut karnaval. Jangan membuat malu perguruan ini," Ucap Carline yang tengah mengitari para siswa yang berlatih beladiri.
Latihan kali ini dipimpin oleh Carline, karena Afrenzo sedang melakukan rapat koordinasi dengan pelatih yang lainnya. Gerakan yang diberikan lumayan mudah, akan tetapi untuk menyamakan dengan yang lainnya lah yang sangat sulit.
Sudah 20 kali mereka mengulang ulang gerakkan yang sama, akan tetapi mereka belum bisa untuk bergerak secara serempak. Masih banyak kekurangan yang harus mereka lengkapi, atau tidak gerakkan mereka tidak akan pernah serempak.
Sangat sulit untuk berlatih seni beladiri, akan tetapi lebih sulit untuk berlatih seni beregu, karena gerakkan mereka harus sama tanpa ada yang berbeda. Itulah yang dialami oleh Risda dan yang lainnya sekarang, mereka sangat kelahan karena terus mengulang ulang gerakkan yang sama.
Keringat mulai bercucuran, bahkan keringat itu telah menetes ketanah tanpa disadari. Untuk mengompakkan banyak orang akan semakin sulit, daripada berlatih seni beladiri tunggal.
"Kalian besok akan dilihat banyak orang, kalau seperti ini gerakkan kalian, apa yang harus dibanggakan setelahnya?" Tanya Carline kepada mereka semua.
Mereka lalu berusaha semampu dan sebisanya untuk membuat gerakkan mereka menjadi kompak. Meskipun hal itu sangat sulit, bukan berarti mereka tidak bisa untuk melakukan itu.
__ADS_1
Ada sekitar 100 orang yang ikut, sehingga untuk menyamakan gerakkan mereka terasa sangat sulit. Apalagi yang memandu hanya 1 dan baris dibagian paling depan, sehingga yang belakangan tidak akan terdengar panduan itu.
Mereka diminta untuk baris dua dua, hingga memanjang ke belakang. Risda kebagian tempat dibelakang sendiri, lebih tepatnya bergabung dengan barisan para lelaki yang ada disana. Risda sama sekali tidak protes soal itu, karena memang dirinya lebih menyukai dibelakang daripada ditempat paling depan.
Setelah mengulang ulang gerakkan cukup lama, akhirnya mereka mampu untuk menggompakkan gerakan tersebut. Setelah semuanya mampu untuk kompak, Carline langsung mengizinkan mereka untuk istirahat dan minum minum.
"Kak, besok langsung pake seragamnya dari rumah?" Tanya Vina kepada Carline.
"Iya, nanti soal serembong dan udeng sudah disediakan oleh pelatih. Kalian harus datang ke aula beladiri jam 5 pagi, karena akan dimake up," Jawab Carline.
"Kek pengantin aja, Kak. Emang harus dimake up?" Tanya Risda.
"Iya, biar kelihatan gagah nanti. Kalian nurut saja dan jangan banyak protes,"
Mereka pun menganggukkan kepala serempak, paham. Sementara Risda, entah memikirkan apa gadis itu setelahnya, besok adalah hari spesial yang mengharuskan mereka untuk tampil pertama kali didepan banyak orang.
Selama ini Risda tidak pernah tampil didepan banyak orang, karena dirinya yang selalu mengurung diri didalam kamarnya dan jarang bertemu dengan orang baru. Risda memang tidak pandai bercakap cakap, sehingga hal itu membuatnya merasa tidak nyaman jika bergabung dengan orang orang.
Ini adalah kali pertamanya untuk tampil didepan banyak orang, apalagi membawa nama baik sebuah perguruan beladiri. Risda hanya takut kalau waktu tampil dirinya tiba tiba lupa gerakkan karena tremor yang dia dapatkan, tubuhnya akan gemetaran jika dilihat oleh banyak orang, hal itu bisa saja membuat fokusnya teralihkan.
"Kak, apakah pelatih juga ikut jalan?" Tanya Risda kepada Carline setelah kesadarannya kembali dari lamunan.
"Tentu saja, dia baris ditengah tengah sambil memperagakan jurus tunggal,"
"Kak, boleh pindah barisan ngak? Dibelakang pelatih aja ngak papa kok,"
"Kenapa pindah?" Tanya Carline.
"Pengen lihat jurus dari pelatih, Kak. Mungkin saja aku bisa menirunya nanti," Jawab Risda.
"Ngak perlu pindah. Dia baris dibelakangmu, dan dibelakangnya lagi adalah barisan siswa dari cabang lain,"
"Benarkah? Tapi ngak seru kalo lihatnya harus noleh kebelakang dulu,"
"Sudah jangan banyak protes, atau mau dipindah dibarisan paling depan?"
"Eh ngak deh, Kak. Jangan lah begitu,"
"Setalah selesai minum, baris lagi!"
Mendengar itu langsung membuat seluruhnya bergegas untuk melanjutkan minum mereka, sebagian dari mereka langsung bergegas untuk baris kembali, dan mereka pun melanjutkan latihan disore hari itu.
*****
Risda terbangun dari tidurnya ketika waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi, semalaman dirinya tidak bisa tidur karena memikirkan tentang hari ini. Hari dimana dirinya pertama kali untuk tampil didepan semua orang, apalagi kali ini siapapun berhak untuk menyaksikannya.
__ADS_1
"Masih jam 3 pagi aja, kenapa waktunya sangat lama sih. Nanti kalo gue tidur lagi, bisa bisa kebablasan sampe ke Singapura,"
Risda pun bangkit dari tidurnya, dirinya pun berjalan menuju kearah meja riasnya yang ada didalam kamarnya. Dirinya melihat kearah wajahnya yang nampak mengantuk itu, akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa tidur saat ini.
Risda pun merasa gabut dipagi pagi seperti ini, tidak ada yang bisa dirinya kerjakan dipagi buta seperti ini. Risda lalu berjalan menuju kearah almarinya untuk mengambil pakaian beladirinya, dan juga mengambil kerudung segi empat yang berwarna hitam.
"Apa gue mandi saja ya pagi ini? Tapi dingin banget,"
Risda tidak terbiasa untuk mandi dipagi hari seperti ini, biasanya dirinya hanya cuci muka saja sebelum berangkat sekolah. Inilah sisi buruk dari Risda yang tidak diketahui oleh banyak orang, yakni dirinya sangat malas untuk mandi apalagi mandi dipagi hari yang sangat dingin itu.
Udara dingin akan mudah sekali membuat tubuhnya kaku bahkan rasanya sangat bengkak, dan akan sangat sulit untuk mengembalikannya pada suhu normalnya. Risda memang sering begadang dimalam hari yang dingin, akan tetapi udara dingin disubuh hari akan jauh berbeda disaat udara malam yang dijam sekitar 3 an.
Mungkin banyak orang yang tidak menyadari akan hal itu, udara disaat jam 3 pagi dan jam 4 pagi itu sangat berbeda. Ada yang menyebutnya bahwa udara dipagi hari adalah udara yang masih murni karena belum tercampur dengan nafas orang orang munafik yang belum bangun untuk melakukan sholat subuh.
Yang terbiasa bangun pagi akan merasakan sensasi udara yang berbeda, sementara yang terbiasa bangun kesiangan tidak akan pernah tau perbedaan udara diwaktu subuh hari. Udara disubuh hari seperti tengah mengalir dengan alunan lembut, bahkan rasanya seperti masuk kedalam pori pori kulit.
Risda langsung bangkit untuk pergi kekamar mandi, karena kamar mandi Risda memang berada diluar sehingga membuatnya harus bergegas untuk keluar rumah. Risda lalu membersihkan wajahnya dan tubuhnya, setelahnya dirinya pun bergegas untuk melakukan sholat subuh.
Entah kesambet apa'an dirinya itu, sehingga ia melakukan sholat subuh dirumah meskipun tidak ikut jama'ah dimasjid. Tidak biasanya Risda akan melakukan itu, bangun saja kesiangan apalagi bangun untuk melakukan sholat subuh.
Ketika selesai melakukan sholat subuh, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 lagi, hal itu langsung membuat Risda bersiap siap untuk berangkat menuju ketempat latihan.
Disana dirinya sudah melihat Afrenzo yang sudah memakai pakaian beladirinya, dan dirinya terlihat seperti seorang pendekar yang gagah berani. Risda pun terpanah ketika melihat kelincahan Afrenzo yang tengah memainkan sebuah golok ditangannya.
Plokkk.... Plokkkk.... Plokkk....
Risda bertepuk tangan dengan senangnya, dirinya merasa begitu kagum dengan sosok Afrenzo saat ini. Apalagi dengan wajahnya yang sangat tampan itu, tidak mungkin tidak ada seorangpun yang tertarik kepadanya jika seperti itu.
Bahkan Risda sendiri saja yang menandai dirinya sendiri anti dengan lelaki, bahkan saat ini dirinya begitu sangat tertarik dengan lelaki seperti Afrenzo. Risda terus memperhatikan gerakan yang dilakukan oleh Afrenzo, bahkan gerakan tersebut terlihat sangat indah.
"Calon imam idaman itu mah," Guman Risda pelan sambil terus bertepuk tangan ketika menyaksikannya.
Afrenzo pun telah menyelesaikan jurusnya itu, dirinya pun menaruh golok yang ada ditangannya disebuah laci. Setelahnya dirinya pun langsung bergegas untuk menuju ketempat dimana Risda berada saat ini, dan dia langsung duduk begitu saja.
"Lo udah makan?" Tanya Afrenzo kepada Risda.
Tidak biasanya Risda akan datang lebih awal dariada para siswa lainnya, oleh karena itu Afrenzo menanyakan hal tersebut kepadanya.
"Belum sih, tapi gue kagak lapar sekarang,"
"Laper atau ngak. Lo harus tetep makan,"
"Terus gimana dong? Apa gue harus balik kerumah lagi?"
"Ngak perlu. Gue udah siapin semunya dilantai atas, ambil saja lalu bawa kemari,"
__ADS_1
"Baik pelatih yang terhormat.
Risda lalu bergegas untuk menuju kelantai atas sesuai apa uang dikatakan oleh Afrenzo. Ternyata Afrenzo sudah menyiapkannya begitu banyak, hingga akan cukup ketika dibagikan satu persatu kepada murid muridnya itu.