
Risda baru sampai diaula beladiri ketika aula tersebut sangat sepi, Risda berpikir bahwa mereka semua belum sampai sehingga tempat itu terlihat sangat sepi. Risda lalu memarkirkan motornya diparkiran yang ada disana, setelahnya dirinya pun duduk didepan pintu aula tersebut karena aula itu sedang dikunci dengan rapat.
"Apa mereka belom sampe ya? Kok sepi banget," Ucap Risda.
"Ngak mungkin kalo mereka belom sampe, Kak. Kita kan tadi nyasar dulu," Ucap Mei.
"Lah kok sepi? Ruangannya juga dikunci rapat tinggal gerbang doang yang terbuka lebar,"
"Entahlah."
Risda dan Mei pun duduk didepan berdua saja, tak beberapa lama kemudian Afrenzo pun tiba ditempat itu. Dirinya lalu melepaskan helm yang sejak tadi dirinya pakai, Afrenzo pun menaiki sebelah alisnya ketika melihat Risda dan Mei duduk didepan aula.
"Kenapa kalian masih di sini? Kalian nggak pulang?" Tanya Afrenzo yang mendekat kearah keduanya.
"Emang sudah dibolehin untuk pulang? Kan yang lainnya belum kumpul semua di sini," Tanya Risda.
"Semuanya sudah pulang sejak tadi, gue udah nyuruh mereka pulang dari tadi ketika lo masih muter muter di jalan,"
"Kok lo nggak ngomong lagi sih sama gue, seharusnya lu tadi ngasih tahu gue kalau mereka sudah pulang. Kan gue nggak perlu nunggu lama di sini,"
"Emang tadi lo tanya? Ini kedua kalinya lo pergi gitu saja tanpa bertanya,"
"Maafin lagi. Terus ngapain juga lo nggak pulang justru mampir di sini? emang mau ngapain?"
"Lo punya janji sama gue,"
Risda pun teringat kata kata sebelum mereka berangkat menuju ke lokasi karnaval, dirinya pernah bilang bahwa akan menceritakan kisahnya ketika mereka selesai melakukan acara. Oleh karena itu, Afrenzo datang ke sekolahan tersebut ketika melihat motor Risda yang sudah terparkir di sana dari kejauhan, sehingga dia mau menagih ucapan itu.
"Ya udah, Kak. Aku pulang dulu ya soalnya sudah dijemput sama Ayah," Ucap Mei yang tidak mau menganggu keduanya, sekaligus dirinya melihat kedatangan Ayahnya ditempat itu.
"Ya udah iya hati hati ya, jangan lupa besok latihan lagi. Awas aja kalau sampai nggak latihan," Ucap Risda.
"Tenang kak besok latihan kok, jangan kebanyakan marah nanti bikin semuanya takut. Mending banyakin senyum,"
"Emang diriku nggak pernah senyum apa? Gue kan suka senyum daripada orang yang ada di sebelah gue, udah dingin nanti bicara bahkan tatapannya udah kayak singa. Entah dia beli ekspresi seperti itu di mana," Sindir Risda kepada Afrenzo yang duduk disebelahnya.
"He,em..." Dehem Afrenzo yang mendengarnya.
Mendengar delman itu langsung membuat Mei segera pamit undur diri, dirinya tidak mau berlama lama di tempat itu apalagi bersama dengan dua orang tersebut. Mei lalu bersalaman dengan Afrenzo sebagai siswa dan gurunya, ketika hendak mencium tangan lelaki itu, dirinya tiba tiba melepaskan pegangan tangan Mei.
"Jangan melakukan itu, diriku bukan ulama'," Ucap Afrenzo.
"Iya. Jangan melakukan itu, tangannya bau sambel tau. Nanti tanganmu ikut ikutan bau," Seru Risda dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Afrenzo.
Risda yang mendapatkan tatapan seperti itu langsung diam seketika, jika cowok itu sudah menatapnya seperti itu artinya gadis itu tidak akan baik baik saja. Lebih baik diam daripada kena tatapan tajam seperti itu, itu jauh lebih menakutkan daripada singa betina.
"Kak Risda ngak boleh gitu sama pelatih," Ucap Mei sok bijak.
"Diem lo bocil," Ucap Risda geram.
"Bay bay kakak, saya pulang dulu," Ucap Mei.
"Loh nggak pamitan sama diriku?" Tanya Risda melotot.
__ADS_1
"Apa Kakak juga mau dicium?"
"Hihh.. Kalo gue lupa umurmu udah gue pites lu," Risda pun menggenggam erat tangannya karena sangking gemesnya.
"Pelatih tolong," Adu Mei kepada Afrenzo.
Mei memang paling tau soal kelemahan dari Risda, yakni tatapan tajam dari Afrenzo. Oleh karena itu, dirinya langsung mengadu kepada Afrenzo atas perbuatan apa yang dilakukan oleh Risda kepadanya itu. Risda pun menghela nafas kesal karena ulah Mei, Adik seperguruannya itu memang suka sekali membuatnya kesal.
"Da," Ucap Afrenzo lirih.
"Renzo, bukan gue yang mulai duluan, tapi bocil itu. Huftt... Jangan natap gue seperti itu lah, gue kan jadi takut," Risda pun menghela nafas kasar karena tatapan Afrenzo masih tajam.
Tatapan itu masih menajam, melihat itu langsung membuat Mei segera berlari menuju kearah Ayahnya berada karena dirinya tidak mau kena imbasnya. Melihat itu langsung membuat Risda nampak begitu geram kepada Mei, dirinya pun merasa sangat marah dengan gadis kecil itu.
"WOI BOCIL SIA*LAN!" Umpat Risda dengan nada tinggi.
"Jaga bicaramu," Ucap Afrenzo dan lalu berjalan kearah pintu aula beladiri.
Sejak pagi aula tersebut dikunci olehnya, sehingga tidak ada yang bisa masuk tanpa seizin darinya. Kunci aula beladiri itu dipegang oleh dua orang, yakni Afrenzo dan Hajirohman selaku pendekar utama yang telah melatih Afrenzo.
Hajirohman hanya melatih orang orang yang tingkatannya sudah tinggi, sementara yang belum tinggi itu sudah menjadi tanggung jawab dari Afrenzo. Untuk melatih siswa dasar, dan juga tingkatan dibawahnya adalah tugas dari Afrenzo sendiri.
Afrenzo pun membuka pintu aula tersebut dan langsung masuk kedalamnya. Risda pun langsung bangkit dari duduknya dan bergegas pergi untuk mengikuti langkah Afrenzo, kini didalam ruangan tersebut hanya ada Risda dan Afrenzo saja.
Risda lalu mendatangi tempat dimana Afrenzo duduk saat ini, dirinya pun langsung duduk didekat Afrenzo. Pandangan lelaki itu seakan akan lurus kedepan, bahkan Risda merasa bahwa lelaki itu sama sekali tidak melihatnya.
"Renzo," Panggil Risda lirih.
"Ceritakan," Ucap Afrenzo.
"Sampe lo dipindahin sekolah."
"Ah iya, jadi begini...."
*Flash back on*
"Huu dasar anak pembantu,"
"Kenapa ya dikelas kita ada anak seperti ini? Bikin ilfil aja,"
"Jangan berteman dengan Risda, dia hanya anak pembantu. Atau kita akan ketularan miskinnya,"
"Ternyata dirinya hanya anak pembantu, siapa juga yang mau berteman dengannya,"
"Ngak level sama kita kita dong. Untung saja sudah tau sejak saat ini,"
"Hei anak pembantu, bajuku kotor nih nanti cuciin ya. Ibumu kan pekerjaannya nyuciin baju orang, hahaha..."
Kelas itu begitu ramai dengan suara hujatan yang membuat sakit hati bagi seorang Risda, saat itu Risda masih berusia 11 tahun dan masih duduk dibangku kelas 5 SD. Mereka semua seakan akan tengah memojokkan Risda, ingin sekali Risda menangis saat ini akan tetapi dirinya tidak mau terlihat lemah dihadapan mereka semua.
Risda yang seorang anak baru itu tidak mampu untuk menyahuti mereka, apalagi tidak ada seorang pun yang membelanya disana karena mereka tidak mengenalinya begitu dalam. Bully an tersebut masih teringat dengan jelas didalam ingatan Risda sampai detik ini, bahkan dia yang notabene masih siswa baru langsung dibuat tidak nyaman disekolahan itu.
"Ibu, aku ingin pulang. Aku tidak mau sekolah disini lagi, mereka begitu jahat kepadaku. Apa salahku sebenarnya kepada mereka? Aku saja tidak mengenali mereka kenapa aku dikata katain disini. Seakan akan aku begitu hina, apakah diriku begitu buruk bagi mereka?" Batin Risda menjerit.
__ADS_1
Risda hanya mampu menahan air matanya, akan tetapi tidak mampu untuk menahan rasa sakit hatinya itu. Air matanya ingin sekali menetes, akan tetapi sebelum menetes dirinya langsung menghapus air matanya itu.
"Halah gitu aja nangis, cengeng banget sih jadi anak. Nanti ngadu sama Ibunya,"
"Dasar cengeng digituin aja nangis, lalu kalau ngaduin ke Ibumu apa Ibumu mau datang? Palingan dia yang minta maaf ke kita, secara kan dia hanya pembantu,"
Tanpa disadari oleh mereka, tangan Risda itu pun terkepalkan dengan eratnya dibawah meja tempatnya duduk. Waktu kecil saja dirinya sudah berani untuk mengangkat sebuah celurit untuk melukai saudaranya, apalagi ketika dewasa seperti ini.
Risda pun mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak jatuh begitu saja, sakit banget rasanya ketika dikatain seperti itu apalagi orang tua pun ikut dibawa bawa. Begitu banyak kata kata yang menyakitkan dirinya dengar saat ini, bahkan kata kata itu terasa begitu menusuk kehatinya.
Ingin sekali gadis itu marah ketika Ibunya dikata katain oleh mereka, akan tetapi dirinya tidak ingin membuat gara gara apalagi dirinya hanyalah siswa baru. Dirinya belum mengenali karakter masing masing siswa yang ada di sana, mungkin saja di antara mereka ada yang bermain secara licik.
Kebanyakan orang orang kaya akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan orang yang dirinya tidak suka, mereka tidak takut berurusan dengan hukum karena mereka sanggup untuk membayar pengacara termahal.
Kalau ada uang segala urusan akan berjalan dengan lancar, mereka mampu dengan leluasa untuk menindas orang orang lemah karena kedudukan. Asalkan ada uang segala urusan akan selesai, begitupun dengan medan hukum yang saat ini terlalu banyak orang yang menyuap hanya demi kebebasan.
Risda pun merem*as pakaiannya karena rasa sakit hati yang dirinya rasakan saat ini, bagaimana tidak sakit hati? Ketika seluruh siswa yang ada didalam kelas itu terus menghujatnya begitu parah. Risda memang anak seorang pembantu rumah tangga, akan tetapi itulah takdirnya yang tidak bisa disalahkan.
Risda ditakdirkan memang menjadi anak seorang pembantu, lahir dari rahim seorang wanita kaya atau tidak itu tidak mampu untuk dipilih. Seandainya setiap anak mampu memilih siapa orang tua mereka, mungkin dunia akan menjadi kacau karena seluruhnya berebut untuk menjadi anak orang kaya.
Tidak ada yang ingin dilahirkan sebagai orang yang susah ataupun cacat fisik dan mental, jika seandainya mereka bisa memilih untuk dilahirkan dimana maka mereka tidak akan memilih untuk dilahirkan dalam keadaan seperti itu. Mereka juga ingin dilahirkan dalam keadaan sempurna akan tetapi Allah memilih jalan tersendiri untuk mereka.
Terkadang anak yang lahir dalam keadaan tidak normal, biasanya memiliki kelebihan tersendiri yang tidak akan bisa dimiliki oleh anak yang lahir normal. Kamu merasa sudah sempurna karen menghina kekurangan orang? Jika Allah mengambilnya darimu, apa yang bisa kamu lakukan?
Kamu bangga karena memiliki tangan atau kaki yang bagus, jika Allah sudah berkehendak maka Allah bisa saja menghilangkannya dengan mudah. Kamu bangga dengan harta yang kamu miliki, Jika Allah mengubah takdirmu harta itu bisa sirna begitu saja. Lantas apa yang kita sombongkan? Bahkan tubuh kita sendiri bukanlah milik kita.
Apapun yang kita miliki didunia ini, itu hanyalah sementara bukan selamanya. Wajah cantik atau tampan pun akan berakhir didalam tanah, harta sebanyak gunung semeru pun bisa sirna perlahan lahan, fisik yang lengkap mampu diambil dengan mudah, dan bahkan kesehatan mental pun bisa menjadi gila jika Allah sudah berkehendak.
Harta kita sebenarnya bukanlah apa yang kita pegang saat ini, melainkan apa yang kita amalkan. Suatu saat kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa harta yang kita gunakan itu, semakin banyak harta yang dimiliki akan semakin berat diwaktu hisapnya.
Risda hanya diam membisu ketika seluruh teman dikelasnya terus memojokkan dirinya, bahkan tak seorang pun yang mau membelanya karena dirinya hanyalah anak dari seorang pembantu rumah tangga yang dianggap hina oleh orang orang kaya.
"Aku tidak malu memiliki seorang Ibu seperti Ibuku itu, hanya dia yang aku miliki didunia ini yang mampu untuk mengerti diriku. Mungkin sekarang diriku begitu hina didepan mereka, akan ku buktikan suatu saat nanti kalo diriku juga mampu untuk menjadi seperti mereka. Bunga butuh waktu untuk mekar, dan setiap bunga tidak akan mekar bersamaan. Aku memang anak pembantu, tapi bukan berarti diriku begitu hina," Batin Risda.
Risda yang sudah tidak mampu untuk menahan air matanya itu pun langsung bangkit dari duduknya, mereka berpikir bahwa gadis itu akan melawan mereka saat ini sehingga mereka bersiap siap untuk berjaga jaga. Akan tetapi dugaan mereka salah, Risda justu berjalan keluar dari kelas tersebut dan pergi entah kemana.
Risda menitihkan air matanya ketika pandangan mereka semua tak lagi terlihat, bahkan tak seorang pun yang melihat bahwa Risda kini tengah menangis. Dirinya bergegas untuk menuju kearah kamar mandi, untuk meluapkan seluruh amarahnya disana.
Sesampainya didalam kamar mandi, Risda lalu mengunci pintu kamar mandi tersebut dan menguncinya dari dalam. Dirinya pun menangis sesenggukan seorang diri disana, hinaan itu begitu sangat menyakitkan baginya.
Dirinya menangis begitu lama disana, dan langsung membasuh wajahnya agar tidak ada yang tau bahwa dirinya habis menangis. Risda lalu bercermin didepan kaca yang ada didepan pintu kamar mandi itu, wajahnya terlihat sembab dan agak kemerahan karena habis menangis.
"Risda kan kuat? Kenapa harus menangis hanya karena masalah seperti ini?" Ucap Risda kepada bayangannya yang terpantul akibat kaca yang dirinya berhadap sekarang.
Risda mencoba bersikap biasa sambil berusaha agar dirinya tidak terlihat habis menangis didepan banyak orang, karena sama saja dirinya menunjukkan kelemahannya sendiri. Cukup lama dirinya berada disana hanya untuk menetralkan kembali wajah sembabnya itu, akhinya wajahnya kembali terlihat biasa saja.
Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara bel waktu istirahat telah tiba. Risda lalu bergegas untuk menuju kekantin sekolah untuk mengisi perutnya yang terasa lapar itu, dirinya pun membeli sebungkus roti dan juga seplastik es teh..
Risda membawanya dengan hati hati menuju kearah kelasnya. Tiba tiba seseorang menyenggolnya hingga membuat es teh yang dirinya bawa sebelumnya pun terjatuh hingga ambyar tak tersisa sedikitpun.
Es teh yang ada didalam kantung plastik kecil itu langsung kocar kacir tanpa tersisa sedikitpun itu. Dirinya pun melihat siapa yang telah menjatuhkan minumannya itu, ternyata sosok teman sekelasnya yang melakukan itu.
"Ups maaf ngak sengaja, dirimu ngak akan kelihatan bagi kita kita," Ucapnya tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Bukan masalah, nanti bisa beli lagi." Setelah mengatakan itu, Risda langsung bergegas untuk pergi meninggalkan gadis tersebut begitu saja tanpa memedulikan perkataannya.
"Sok banget jadi orang!" Ucap gadis yang ditinggalkan oleh Risda begitu saja.