Pelatihku

Pelatihku
Episode 153


__ADS_3

Risda mengepalkan tangannya karena ucapan para gadis yang menginginkan Afrenzo itu, tapi dirinya juga sadar siapa dirinya bagi Afrenzo sendiri. Risda tidak berhak untuk melarang siapapun yang ingin dekat dengan Afrenzo, dan dirinya juga tidak bisa melarang siapapun yang ingin Afrenzo dekati.


Dengan kesalnya, Risda pun hanya bisa mendengus saja tanpa berbuat apa apa. Anna yang berada didekat Risda pun hanya melirik temannya itu sekilas, dan dirinya pun langsung kembali menundukkan kepala untuk berdzikir.


Suara Afrenzo disaat berdzikir terdengar merdu, bahkan membuat kekesal Risda pun berubah menjadi kelega'an. Risda tidak mempedulikan lagi para gadis yang ada didekatnya itu, dirinya pun fokus dengan suara Afrenzo yang memimpin untuk berdzikir.


Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo pun selesai dan satu persatu jama'ah yang ada disana mulai meninggalkan tempatnya. Afrenzo masih khusyuk ditempatnya sambil menundukkan kepalanya dalam, sementara Risda segera melepas mukenanya dan melipatnya.


"Da, habis ini acaranya ngapain?" Tanya Anna.


"Ngapain lagi kalo bukan makan? Lo sih kagak pernah dengerin kalo diberi arahan," Ucap Risda.


"Ya kan lo bisa tanya ke Renzo soal acara selanjutnya, Da. Pasti Renzo tau,"


"Telinga lo yang budeg. Renzo disini tuh juga peserta, mana mungkin dia tau acara selanjutnya itu gimana."


"Iya juga sih."


Risda pun mendengus kesal kepada Anna, dirinya pun langsung bangkit dari duduknya dan langsung diikuti oleh Anna setelahnya. Kedua gadis itu pun langsung meninggalkan tempat tersebut dengan berjalan sejajar, dan keduanya langsung menuju ke ruangan yang telah disediakan disana.


Risda langsung membuka sebuah bungkusan nasi yang dirinya beli sebelumnya, sebelum berangkat ke tempat latihan, dirinya membeli nasi terlebih dahulu untuk bekalnya. Mereka semua telah diizinkan untuk mengisi perutnya, dan beristirahat sejenak sampai adzan isya' berkumandang.


Seluruhnya pun bercanda gurau dengan teman temannya setelah selesai makan, sementara Risda masih berkutik dengan ponselnya. Risda terlihat sedang berbalasan pesan dengan seseorang, dan nampaklah sebuah nama 'Bunda Sayang' dilayar ponselnya itu.


Risda terlihat seperti tengah menahan air matanya, entah apa yang terjadi saat ini sehingga dirinya terlihat bersedih. Vina yang sedari tadi mengobrol dengan Anna pun langsung menoleh kearah Risda, dan gadis itu pun mendekat kepada Risda.


"Lo kenapa, Da?" Tanya Vina.


"Nggak papa." Risda langsung buru buru menutup ponselnya itu dan langsung menghapus air mata yang belum sempat menetes itu.


"Lo yakin, Da?"


"Gue mau ke kamar mandi dulu."


Risda langsung bangkit dari duduknya, dirinya pun langsung bergegas untuk pergi dari ruangan itu. Risda menuju ke arah kamar mandi yang telah diberitahukan oleh Afrenzo sebelumnya, sesampainya disana dirinya pun langsung masuk dan menangis sesenggukan didalamnya.


Sejak tadi dirinya menahan air matanya agar tidak jatuh, karena dirinya tidak ingin dilihat orang orang bahwa dirinya sedang menangis. Lama kelamaan bendungan itu tidak mampu ditahannya, dan akhirnya menangislah dirinya dengan sejadi jadinya.


"Kapan gue akan mati? Gue udah nggak sanggup jika seperti ini terus terusan. Gue pengen mati!"


Risda pun memukulkan tangannya dengan keras kearah tembok yang ada disebelahnya, sangking kerasnya hal itu sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Tok tok tok


Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi yang dipakai oleh Risda itu, Risda dengan segera langsung menghentikan tangisnya meskipun masih terdengar isakkan lirih dari mulutnya itu.


Tok tok tok


"Da, lo kenapa?"


Risda dengan kasar langsung menghapus air matanya, disaat suara seseorang terdengar dibarengi dengan ketukan pintu tersebut. Risda dengan segera langsung membuka pintu tersebut, setelah yakin bahwa tiada air mata yang tersisa diwajahnya.


"Lo kenapa, Da?" Tanya orang itu panik sambil memegangi kedua pundak Risda dengan eratnya.


"Gue nggak papa," Jawab Risda lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Angkat kepala lo, Da. Tatap mata gue! Kalo ngobrol tatap orang yang ngajak lo ngobrol,"


"Renzo..." Ucap Risda lirih sambil menatap wajah orang yang ada dihadapannya itu, seketika itu juga kedua mata Risda langsung kembali berkaca kaca dihadapan lelaki itu.


"Gue disini, jangan sedih." Afrenzo pun menghapus air mata Risda yang hendak menetes itu.


Afrenzo pun mengajak Risda untuk duduk disebuah gazebo yang berada tidak jauh dari tempat itu, karena situasi sudah malam sehingga tempat itu terlihat remang remang dan sepi. Seluruh peserta masih berada diruangannya, dan sebagian masih bermain dan jalan jalan dengan teman temannya.


"Kalo ada masalah cerita, Da. Jangan kayak tadi, jangan nyakitin diri lo sendiri,"


"Bagaimana bisa lo tau kalo gue dikamar mandi?"


"Temen lo yang ngasih tau. Anna dan Vina datang nemuin gue dan ngasih tau gue,"


"Ngapain sih tu orang," Ucap Risda dengan kesalnya.

__ADS_1


"Ada masalah apa?"


"Nggak papa."


"Kalo nggak mau cerita nggak masalah, ayo kedepan habis ini masuk latihannya. Jangan disini sendirian, nanti kalo kesurupan gimana?"


"Lo kok nakut nakutin gue sih!"


"Bukan nakutin, gue hanya ngomong jujur. Disini banyak yang pernah kesurupan,"


"Gue takut..."


"Yaudah ayo kedepan."


Afrenzo pun menarik pergelangan tangan Risda, dan membawa gadis itu untuk pergi dari tempat tersebut. Risda hanya menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Afrenzo, lagi pula tempat itu juga terlihat sangat menakutkan apalagi dengan cahaya yang sangat redup.


Sambil berjalan, Risda pun menatap sekitarnya yang hanya ada kegelapan, dirinya pun merasa ngeri sendiri akan tetapi untung saja ada Afrenzo yang menemaninya saat ini. Afrenzo terus menggandeng tangan Risda, dan keduanya bergegas menuju kearah ruangan yang telah disiapkan oleh panitia untuk mereka.


*****


Mereka semua pun berkumpul disebuah lapangan, karena peserta yang mengikutinya sangat banyak sehingga banyak orang yang berkumpul dilapangan itu. Mereka pun diberi arahan yang melakukan gerakan yang telah diajarkan secara serempak, dan gerakan mereka terlihat begitu sangat kompak meskipun belumlah sempurna, dan harus disempurnakan.


Mereka berlatih hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam, dan tibalah disaat waktunya untuk pembagian kelompok dalam melakukan jurit malam. Waktu seperti inilah yang tidak disukai oleh Afrenzo, karena dirinya yang mampu melihat alam gaib pun akan melihat begitu banyak hal gaib yang tidak diketahui oleh semua orang.


Seluruh panitia pun membagikan kelompok mereka dengan acak, sehingga Vina, Risda, Anna, dan lainnya pun terpisah pisah. Risda langsung cemberut ketika mengetahui bahwa Afrenzo tidak ada didalam kelompoknya, akan tetapi lelaki itu berada didalam kelompok sebelahnya.


"Yah kenapa kagak satu kelompok sih, menyebalkan!" Gerutu Risda lirih.


Mereka pun menghitung anggota mereka masing masing, dan harusnya setiap anggota berjumlah 10 orang. Akan tetapi dikelompok Afrenzo lebih dari kapasitas yakni 12 orang, sehingga satu orang harus pindah dari kelompok tersebut.


Hanya kelompok Afrenzo saja yang berjumlah 12 orang, karena hanya ada sisa 2 orang saja yang tidak memiliki kelompok. Oleh karena itu, salah satu dari mereka harus pindah dari kelompok tersebut, sehingga akan seimbang meskipun ada dua kelompok yang berjumlah 11 orang.


"Renzo, pilih kelompokmu," Ucap salah satu pelatih yang ada disana.


"Saya yang harus pindah, Pak?" Tanya Afrenzo.


Risda merasa senang karena satu orang dari kelompok itu harus pergi, dirinya berharap bahwa Afrenzo yang akan pindah menuju ke kelompoknya. Akan tetapi, setelah mendengar pertanyaan dari Afrenzo, hal itu justru langsung membuat Risda merasa kesal, karena seolah olah lelaki itu tidak mau pindah kelompok.


"Iya, kamu yang akan jadi ketua regu nanti."


Afrenzo pun berjalan menuju ke kelompok satu, letaknya sangat jauh dari kelompok Risda hingga membuat Risda semakin kesal. Akan tetapi, Afrenzo sendiri sedang berjalan jalan untuk memeriksa satu persatu peserta yang ada disana, ketika dirinya melewati Risda, gadis itu langsung menariknya begitu saja.


"Ngapain lo?" Tanya Afrenzo.


"Udah. Lo diem aja di kelompok gue," Ucap Risda.


"Kelompok lo udah besar besar orangnya,"


"Lo nyebelin banget sih, Renzo. Awas aja kalo lo kagak masuk dalam kelompok gue," Ancam Risda kepada Afrenzo.


"Emang kenapa?"


"Kita musuhan 1 bulan."


Afrenzo hanya mengangguk anggukan kepalanya begitu saja, hal itu langsung membuat Risda mencubit lengannya sangat keras hingga membuat lelaki itu meringis saja.


"KDRT lo, Da."


"Kita belom nikah!"


"Ya ya, gue milih kelompok ini."


Afrenzo pun langsung memberi laporan kepada pelatih yang ada disana, bahwa dirinya memilih kelompok tersebut setelah berkeliling. Akhirnya Afrenzo satu kelompok dengan Risda, dan Afrenzo menjadi ketua kelompok dalam kelompok tersebut.


Apalagi kelompok mereka hanya ada tiga orang lelaki saja, dan yang lainnya adalah perempuan. Risda memilih berdiri dibelakang Afrenzo, sementara kedua lelaki lainnya pun langsung baris dibagian paling belakang.


"Renzo," Panggil Risda lirih.


"Hem.." Jawabnya hanya berdehem tanpa menoleh kearah Risda.


"Habis ini acaranya ngapain?"

__ADS_1


"Lo bakalan tau nanti."


"Nggak asik ah,"


"Yaudah gue pindah kelompok lain,"


Cubitan sangat keras pun mendarat dipinggang Afrenzo, pelakunya tidak lain adalah Risda sendiri hingga membuat Afrenzo meringis. Jawaban Afrenzo sangat membuatnya kesal, sehingga dirinya tega melontarkan sebuah cubitan dipinggang Afrenzo.


"Udah berani ya sekarang?" Tanya Afrenzo dengan nada dingin.


"Eh.. Eh.. Maaf, diriku terlalu kurang ajar ya?"


"Hemm.."


Risda pun hanya bisa memainkan jarinya karena merasa bersalah dengan Afrenzo, apalagi Afrenzo hanya membalasnya dengan deheman saja tanpa kata kata. Wajah Risda terlihat seperti bayi yang sedang merajuk karena tidak dibelikan mainan, dan terlihat sangat lucu.


Tak beberapa lama kemudian suasana disana terlihat sangat sunyi, karena tak seorang pun yang mengeluarkan suaranya setelah diberi komando oleh pemimpin acara tersebut. Risda sendiri pun hanya bisa diam sambil mendengarkan arahan dari mereka, dirinya mendengarkannya dengan sangat cermat karena tidak mau ada satu informasi apapun yang terlewatkan.


"Baiklah, habis ini kalian jalan beregu dan jangan sampai terpisah dari regu kalian. Setiap anggota harus mendengarkan arahan dari ketua kelompoknya, tanpa ada yang boleh membantah. Untuk para ketua kelompok, kalian maju kedepan dan akan saya beritahu arah yang harus kalian tuju,"


Afrenzo pun maju kedepan sebagai perwakilan dari regu Risda, hal itu pun langsung diikuti oleh ketua kelompok yang lainnya. Ketua kelompok diwajibkan seorang lelaki, karena lelaki adalah seorang pemimpin.


"Ada berapa jumlah regunya? Dari kanan kalian mulai berhitung," Ucap pemimpin acara itu kepada pimpinan setiap regu.


"Satu," Ucap siswa yang paling kanan.


"Dua," Ucap siswa yang ada disebelah kiri orang yang paling kanan.


"Tiga," Ucap orang setelahnya.


"Empat,"


"Lima,"


"Enam......."


Seluruh ketua kelompok pun berhitung dan hasil akhirnya seluruhnya berjumlah 30 kelompok, Risda dan Afrenzo masuk kedalam kelompok nomor 5 dari kanan. Afrenzo pun diberi arahan oleh panitia, dan dirinya pun mendengarkannya dengan cermat tanpa ingin ada yang ketinggalan sedikit pun itu karena dirinya juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga peserta yang ada didalam regunya.


"Baiklah, kalian boleh kembali ke dalam barisan masing masing."


"Baik Pak pelatih!" Seru seluruhnya serempak.


Afrenzo dan yang lainnya pun langsung kembali kedalam barisan mereka masing masing, dan setelahnya mereka juga diberi arahan kemana mereka harus melangkah. Seluruh siswa pun merasa gemetaran karena ujian yang akan mereka lalui, kecuali Afrenzo yang tetap terlihat santai.


"Jangan sampai pisah, ujiannya jauh lebih berat daripada sebelumnya. Kalau ada apa apa segera ngomong ke aku," Ucap Afrenzo kepada seluruh anggotanya yang berjumlah 11 orang itu.


"Berat gimana, Renzo?" Tanya Risda.


"Disini tidak dibedakan dengan banyaknya jumlah strip yang ada disabuk, semuanya diuji dengan setara tanpa dibedakan. Bisa saja kalian akan melawan seseorang yang lebih kuat dari kalian, ataupun sebaliknya," Jelas Afrenzo.


Dari penjelasan yang Afrenzo berikan kepada seluruhnya, menandakan bahwa mereka diuji soal keberaniannya dan bukan hanya sekedar ilmu yang diberikan atau diajarkan oleh pelatih mereka. Serangan serangan yang akan diberikan pun tidaklah main main, sehingga mereka harus berusaha untuk bertahan sampai digaris finish.


Risda pun menjadi takut setelah mendengarkan penjelasan dari Afrenzo, dirinya ingin sekali agar ujian tersebut selesai dilakukan sehingga dirinya akan merasa lega dan tidak seperti saat ini yang tengah merasa gelisah. Risda pun mengenggam erat lengan sakral Afrenzo, karena dirinya merasa sangat takut saat ini, dan Afrenzo sendiri pun menyadari bahwa Risda tengah ketakutan.


"Renzo, kalo gue gagal untuk hal ini, artinya nanti kagak boleh ikut ujian kenaikan sabuk dong?" Guman Risda lirih.


"Usahakan jangan memalukan cabang," Jawab Afrenzo singkat.


"Kalo gue udah berusaha semaksimal mungkin tapi jika takdir mengatakan yang lain, lalu gue harus gimana?"


"Lo akan gue hukum."


"Tapi gue kan udah berusaha, kenapa harus mendapatkan hukuman lagi sih?"


"Setiap usaha pasti akan membuahkan hasil, jika lo sungguh sungguh dalam berjuang,"


"Takdir kan hanya Allah yang tau,"


"Lo lupa soal qodo' dan qodar? Jika kita berusaha dengan bersungguh sungguh pasti akan berhasil, ketentuan Allah bisa diubah atas seizin Allah. Kalau lapar ya makan, kalo haus ya minum, kalo bodoh ya belajar, "


"Iya sih, tapi kan..."

__ADS_1


"Shuutttt... Jangan banyak tanya, perhatikan saja apa yang akan diujikan nanti,"


Risda pun mengeratkan bibirnya agar berhenti berbicara, akan tetapi didalam kepalanya masih penuh dengan tanda tanya yang entah bagaimana jawabannya. Risda hanya bisa menduga duga ujian yang akan dirinya lakukan tanpa diberitahu ujian seperti apakah nantinya, bahkan siap atau tidak siapnya dirinya harus bisa, karena itulah resikonya menjadi seorang pesilat yang harus dididik dengan berani agar menjadi pemberani.


__ADS_2