
Dewi mencoba untuk bersabar dengan Abie yang ada dihadapannya itu, karena dirinya tidak tau harus berbuat apa untuk saat ini. Apalagi, dimalam itu sama sekali tidak ada orang yang bisa membantu dirinya, jikalau pun Abie berbuat lagi maka dirinya bisa saja kehilangan nyawanya dengan mudah.
Dewi mencoba untuk mengajak Abie pergi dari tempat itu, Dewi ingin memasuki pemukiman warga sekitar agar dirinya bisa mendapatkan bantuan sekaligus perlindungan. Untung saja Abie tidak menolak akan hal itu, sehingga keduanya pergi dari tempat itu.
Dewi memutuskan untuk dibonceng oleh Abie, karena dirinya masih takut untuk memboncengnya seperti sebelumnya. Tak beberapa lama kemudian, akhinya mereka berdua telah tiba disebuah rumah yang pertama kali mereka jumpai, dan Dewi mengajak berhenti dirumah itu.
Tok tok tok
"Assalamualaikum..."
Dewi mencoba untuk mengetuk pintu rumah besar yang dirinya temui, tak beberapa lama kemudian ada yang membukakan pintu tersebut. Itu adalah rumah seorang Kyai yang memang beliau sudah bangun sejak tadi karena melaksanakan sholat tahajud, sehingga sangat cepat untuk membukakan pintu bagi Dewi.
"Waalaikumussalam, ada apa ya, Mbak?" Tanya Kyai tersebut bingung.
"Izinkan saya menginap sampai matahari terbit, Pak." Ucap Dewi dengan linangan air mata.
Kyai itu paham dengan maksud dari Dewi walaupun tanpa dijelaskan oleh Dewi, apalagi ketika melihat wajah Dewi yang penuh luka memar dan melihat wajah Abie yang terlihat santai. Kyai itu langsung mempersilahkan Dewi dan Abie masuk kerumahnya, dirinya juga langsung membangunkan istrinya untuk menemani Dewi.
Saat itu juga Dewi mengirimkan pesan kepada Risda dengan diam diam tanpa sepengetahuan dari Abie, karena dia takut jika Abie berbuat macam macam. Istri dari Kyai itu sangat baik, dan mengajak Dewi untuk mengobrol agar mencairkan suasana yang tegang ditempat itu.
Dewi juga dibuatkan minuman hangat, dan tidak lupa dirinya juga menyuruh Dewi untuk berganti pakaian karena pakaian Dewi kotor penuh lumpur. Dewi pun membersihkan pakaiannya dan mengeringkannya di mesin cuci, tak lupa juga dirinya menyetrika pakaian itu agar cepat kering.
Abie sendiri pun tertidur diruang tamu rumah itu, sementara Dewi dan wanita itu berada diruang keluarga yang ada dirumah tersebut. Bukan hanya Dewi dan wanita itu saja berada disana, akan tetapi juga sanak saudara perempuan dari Kyai itu juga ikut menemani Dewi.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepada kalian?" Pertanyaan itu terlontarkan oleh Istri Kyai itu karena sangking penasarannya sejak tadi.
Dewi sangat ragu untuk berbicara kepada wanita yang ada dihadapnnya.
"Jangan takut, dia sudah tidur saat ini. Kami akan melindungimu jika kamu dalam bahaya," Kyai tersebut juga mencoba untuk meyakinkan Dewi.
Kyai itu mengatakan bahwa Dewi akan baik baik saja di tempat itu, jika pun lelaki itu sampai berbuat macam macam di tempat tersebut dia tidak akan segan segan untuk melaporkannya kepada pihak berwajib. Tidak ada salahnya jika mereka ingin mengetahui kejadian yang dialami oleh Dewi sebelumnya, sehingga diri sendiri pun langsung menceritakan apa yang terjadi padanya kepada mereka.
Mereka semua langsung terkejut dengan apa yang dialami oleh Dewi sebelumnya, tidak menyangka bahwa lelaki yang ada di samping Dewi ingin mencelakakan wanita tersebut. Untung saja Dewi mampu selamat dari kejadian tersebut, sehingga tidak terjadi pembunuhan yang dialami oleh Dewi.
Mereka yang ada di tempat itu pun ikut menangis ketika melihat Dewi menangis dengan sambil bercerita, ini adalah kejadian yang memilukan bagi Dewi, dan pertama kali Dewi mengalami kejadian seperti saat ini.
"Ini alasanku menerimamu dirumah ini, Mbak. Aku tau betul bahwa dia bukanlah orang baik. Dia seorang buronan yang sedang dikejar kejar oleh polisi, dan dia juga sudah berkeluarga."
Pernyataan itu seketika keluar dari mulut Kyai yang ada di hadapan Dewi, Dewi sendiri pun langsung merasa terkejut mendengarkan penjelasan tersebut. Dewi tidak menyangka bahwa Abie masih memiliki keluarga yang lengkap, bukan hanya itu saja, dirinya pun sangat terkejut karena mengetahui bahwa identitas asli dari dia adalah seorang begal.
Jadi cerita yang selama ini diceritakan oleh Abie itu bukan orang lain melainkan dirinya sendiri, yang tidak akan segan segan untuk membunuh korbannya ketika barang yang dirinya inginkan tidak dapat dia ambil. Dewi merasa bahwa ucapan Risda benar, Dewi ingin meminta maaf kepada anaknya karena tidak mempercayai dirinya sebelumnya.
Kecurigaan Risda memang benar apa adanya, selama ini Risda lah yang melindungi dirinya dekat dari siapapun. Pilihan Risda selalu tepat, jika Risda mengatakan bahwa dia bukanlah orang baik maka dia memang bukan orang baik, sehingga dia akan menolak apapun dan siapapun yang berhubungan dengan Ibunya.
Dewi tidak pernah mendengarkan ucapan Risda untuk dekat kepada siapapun, karena saat itu Dewi merasa sangat jatuh cinta kepada Abie meskipun sudah memperingatkan hal itu sebelumnya. Sudah lama Risda mengingatkan dirinya kepada Abie, terlebih lagi Risda tidak menyukai Abie karena sering datang larut malam ke rumahnya.
Allah masih menginginkan Dewi untuk hidup sehingga masih menyelamatkan wanita itu dari bahaya, dan Allah sendiri yang membukakan jalan kepada Dewi untuk mengetahui siapa sebenarnya jati diri dari lelaki yang bersamanya itu. Betapa terkejutnya Dewi setelah mengetahui hal yang sesungguhnya dirahasiakan oleh Abie, bahkan dirinya tidak menyangka sama sekali akan hal itu.
Matahari pun mulai terbit di pagi hari itu, kegelapan di tempat itu perlahan sirna karena terkena pancaran dari cahaya matahari. Dewi beserta yang lainnya kini tengah duduk disebuah teras masjid yang ada disebelah rumah besar milik Kyai itu, sesekali mereka saling mengobrol mengenai hal hal yang random.
Ketika langit sudah mulai berubah warna, Abie tiba tiba datang mendekat kearah Dewi dan yang lainnya. Dewi masih terlihat ketakutan melihat adanya Abie bersama dengan mereka, bahkan suasana ditempat itu menjadi tidak enak bagi Dewi.
__ADS_1
"Apa yakin kalian akan pulang habis ini?" Tanya Istri Kyai yang duduk disebelah Dewi sejak awal.
"Maaf telah merepotkan kalian," Ucap Abie.
"Mbak Dewi biar saya yang antar pulang," Ucap anak lelaki dari pasangan itu.
"Nggak perlu repot repot kok, Mas." Sela Dewi karena tidak ingin merepotkan orang orang itu.
"Kami tidak merasa di repotkan kok, Mbak. Justru kami senang jika bisa membantu, kami takut terjadi sesuatu dijalan nanti."
"Nggak papa, anakku juga berada didekat sini kok, Mbak. Siapa tau nanti bisa bertemu dengan dia, saya masih bisa menjaga diri," Jelas Dewi.
Dewi teringat dengan ucapan Risda sebelumnya, bahwa dia ada sebuah acara yang tidak jauh dari tempat itu, karena Dewi sendiri sebelum ketempat itu, dirinya telah menghafalkan beberapa jalanan yang ada disana agar tidak tersasar dikemudian.
Dewi berbohong tentang Risda yang berada tidak jauh dari tempat itu, sebenarnya memang jalannya menuju kearah dimana Risda mengikuti sebuah acara, akan tetapi tempatnya sekarang berada lebih jauh sekitar 30 km dari tempat Risda, dan berada jauh di 80 km dari rumahnya.
Dewi tidak mau merepotkan lagi keluarga tersebut, dan dirinya juga yakin bahwa Abie akan mengantarkan dia pulang dengan selamat kali ini. Dewi mampu merasa demikian karena cuaca sudah mulai cerah, otomatis jalanan ditempat itu akan terlihat sangat ramai orang orang yang akan melakukan aktivitasnya apalagi hari ini adalah hari libur.
Jika suatu saat terjadi sesuatu kepadanya, dia mampu untuk berteriak meminta bantuan kepada warga sekitar. Oleh karena itu, Dewi dan Abie langsung berpamitan untuk pulang dari tempat tersebut.
*****
Sesampainya dirumah, Dewi langsung masuk kedalam rumahnya. Hal itu langsung membuat Indah dan suaminya langsung terlihat bingung. Lantaran karena banyaknya luka yang ada ditubuh Dewi saat ini, apalagi dengan adanya secercah air mata dipelupuk matanya.
"Loh kenapa ini?" Tanya Indah yang terkejut melihat kondisi dari Ibunya.
"Kami mengalami kecelakaan ditengah jalan, untung saja tidak terjadi apa apa," Bohong Abie yang tidak mau ada yang tau tentang kejadian sebelumnya.
Seketika keheningan pun terjadi ditempat itu, semuanya terasa sangat canggung tanpa ada perkataan yang keluar dari mulut mereka. Karena rasanya udara disana sangat mencengkeram, bahkan tidak ada yang merasa nyaman ditempat itu.
"Kalo begitu, aku keluar dulu untuk cari makan, soalnya dari kemarin belum makan," Ucap Abie tiba tiba karena keheningan ditempat itu.
Biasanya Dewi akan menyahuti ucapan Abie ketika hendak berpamitan, akan tetapi kali ini dirinya hanya diam saja tanpa sedikitpun menoleh kearah Abie. Melihat motornya hendak dibawa oleh Abie, Indah pun langsung menghentikannya.
"Biar suamiku antar saja, atau kau jalan kaki saja," Ucap Indah.
Indah merasa ada yang aneh diantara keduanya, apalagi sebelumnya dia telah membaca pesan dari Dewi di ponsel milik Risda. Indah merasa seperti telah terjadi sesuatu kepada Dewi sehingga mengirimkan pesan seperti itu kepada Risda, pesan yang seperti seakan akan dia berpamitan untuk pergi sangat jauh dan bahkan tidak akan lagi mampu untuk ditemui.
"Biarkan saja dia bawa motornya," Ucap Dewi yang menghentikan Indah yang tengah menghentikan Abie.
"Tapi Bun..."
"Nggak papa kok."
Indah pun langsung pasrah ketika Dewi melarangnya untuk menghentikan kepergian dari Abie. Abie sendiri langsung berpamitan untuk pergi dari rumah itu dengan menggunakan motor baru yang dihadiahkan untuk Risda, bahkan dirinya tidak akan tau kapan motor itu akan balik kepadanya.
Setelah kepergian dari Abie, Dewi pun menceritakan seluruhnya kepada Indah dan suaminya.
*Flash back Off*
"Maafin Bunda ya, Ris. Bunda salah telah memarahi Risda sebelumnya, dan Bunda minta maaf karena tidak sempat untuk mengambil bandul kesayangan Risda," Ucap Dewi di akhir ceritanya.
__ADS_1
Mendengar cerita itu, air mata Risda tidak lagi dapat dibendung, dan dirinya pun menangis dengan sejadi jadinya atas kejadian yang menimpa Ibunya itu. Bahkan Risda terlihat tengah mengepalkan tangannya dengan eratnya, hingga telapak tangannya berubah menjadi putih karena tidak ada darah yang mengalir disana.
"Aku tidak akan pernah melepaskan dia, Bun!" Risda terlihat sangat marah saat ini.
"Sudah Ris sudah, Bunda nggak papa kok. Bunda tidak mau jika Risda dalam bahaya karena Bunda," Dewi pun bangkit dari tidurnya dan meneluk tubuh Risda dengan sangat eratnya.
"Tapi dia sudah berani untuk mencelakakan Bunda, aku tidak bisa terima itu, Bun. Dia harus dihukum!"
"Dia laki laki, Ris. Kau bisa kalah dengan dia kalo pake tenaga, tenagamu tidak ada apa apanya bagi dia,"
"Tapi aku bisa beladiri, Bun. Aku tidak peduli dengan diriku sendiri, bahkan mati pun aku tidak takut!"
Dewi pun memegangi kedua pipi anaknya dan menghadapkan wajah anaknya kearahnya. Dewi mencoba untuk menghapus air mata diwajah Risda saat ini, air mata yang bercucuran dengan derasnya tanpa penghalang apapun itu.
"Dengarkan Bunda saat ini, Ris. Kamu satu satunya harapan Bunda untuk bisa bertahan hidup, jika kamu kenapa kenapa, Bunda tidak sanggup untuk bisa hidup lebih lama,"
Deg...
Ucapan Dewi seketika membuat Risda membeku, dirinya tidak lagi memberontak seperti sebelumnya dan hanya berdiam diri sambil menatap wajah lebam milik Ibunya saat ini.
"Bunda tau kamu bisa beladiri, kamu anak Bunda yang paling hebat yang pernah Bunda miliki, Bunda percaya dengan kemampuan Risda. Tapi, dia bukanlah orang sembarangan Ris, dia adalah seorang begal yang tidak segan segan untuk menghabisi korbannya." Lanjut Dewi.
"Aku tidak akan pergi sendiri, Bunda. Pelatihku pasti bisa melindungi ku, aku harus mengambil hakku kembali,"
Risda masih tidak ikhlas dengan kehilangan bandul kesayangannya itu, apalagi dirinya kehilangan motornya untuk berangkat sekolah. Risda bingung harus berangkat bersama siapa nantinya, lagipula dirinya dan Wulan sendiri hubungan juga sedang tidak baik baik saja.
Risda tidak lagi pernah berhubungan dengan Wulan semenjak kejadian itu, apalagi Wulan yang selalu menjelekkan dirinya di depan keluarga dan teman temannya. Semuanya menyalahkan Risda karena Wulan yang pandai memutar balikkan faktanya, dan seolah olah disinilah Risda yang bersalah.
"Untuk beberapa minggu ini, jangan pergi bersekolah atau berlatih," Putus Dewi.
"Tapi Bunda... Bagaimana bisa seorang orang tua melarang anaknya sekolah? Bagaimana bisa aku berkembang jika tidak sekolah ataupun latihan? Apa Bunda tega denganku," Risda lebih terkejut lagi mendengar larangan dari Dewi.
"Bunda tidak mau Risda kenapa kenapa dijalan, dia kerjanya dijalanan bagaimana kalo Risda dihadang?"
"Nggak bisa, Bun. Aku nggak mau berhenti sekolah,"
"Bunda tidak menyuruh Risda berhenti sekolah, Bunda hanya menyuruh beberapa hari kedepan jangan pergi sekolah."
"Tapi Bunda..."
"Bunda akan pikirkan cara bagaimana bisa membeli motor baru untuk Risda, biarkan motor itu dibawa pergi olehnya, asalkan keluarga kita baik baik saja."
Risda tidak mau membantah Ibunya, dirinya hanya bisa berdiam diri tanpa ada kata kata lagi yang mampu keluar dari mulutnya itu. Seketika keheningan pun terjadi diruangan itu, hanya tersisa suara isakkan tangis lirih dari mulut Risda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai readers ku tercinta
Maafkan Author yang jarang update ya, karena Author harus benar benar siapkan mental untuk menulis ini. Jika diingat ingat, rasanya sangat sakit tapi Author harus kuat menjalaninya tanpa mengeluh. Pengen rasanya mengeluh, tapi tidak memiliki tempat untuk melakukan itu.
Peluh jauh teman, apapun masalahnya jangan pernah menyerah ya, begitupun dengan Author yang harus kuat menjalaninya.
__ADS_1
See you next time