Pelatihku

Pelatihku
Episode 171


__ADS_3

Risda berangkat ke lokasi bersama dengan Ana, sementara Charlie memilih tidak ikut karena ingin membantu Risda mencari Ibunya. Risda tidak mengetahui tujuan Charlie, sehingga dirinya hanya bisa pasrah ketika disuruh untuk tetap mengikuti acara tersebut.


Sesampainya di lokasi itu, Risda bertemu dengan begitu banyak orang yang tidak dirinya kenali. Akan tetapi dengan seragam beladirinya, dirinya diperlakukan layaknya seperti saudara sendiri walaupun mereka terasa asing. Mungkin acara seperti ini yang membuatnya bahagia, dimana tidak ada yang mengenalinya akan tetapi diperlakukan dengan baik oleh semuanya.


Risda dan yang lainnya menyambut kedatangan para tamu dengan serempak, setiap orang yang datang langsung disalami oleh mereka dan mempersilakan mereka untuk duduk di tempat yang telah disiapkan. Tak henti hentinya Risda menampakan sebuah senyuman, padahal pikirannya melayang kemana mana.


Risda berusaha menikmati acara itu tanpa memikirkan hal yang lainnya, hal itu pun tidak mampu membuat pikirannya merasa lebih tenang. ketika acara sudah berlalu cukup lama, sama sekali tidak ada kabar dari Charlie maupun Ibunya.


Nomor Ibunya masih saja tidak bisa dihubungi untuk saat ini, meskipun beberapa kali dirinya mencoba agar tetapi tidak bisa. Pikirannya entah melayang ke mana untuk saat ini, bahkan dirinya kurang fokus dalam acara tersebut.


Para senior dari cabang lain mulai mencoba menampilkan tampilan terbaik mereka di panggung, aksi mereka yang memukau pun tidak mampu membuat Risda teralihkan dari pikirannya. Risda terus menggenggam ponselnya menantikan kabar dari Ibunya, tapi tak kunjung ada kabar dari Ibunya maupun Charlie.


Tiba tiba sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, dan Risda pun langsung melihat kearah ponselnya dengan segera. Dirinya pikir bahwa ada kabar mengenai Ibunya, akan tetapi justru terlihat nama pelatihku dilayar ponselnya itu, dan dia langsung membuka pesan dari Afrenzo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Pelatihku...


Lo dimana?


Kemari sekarang.


^^^^^^Duduk ditempat paling belakang^^^^^^


^^^Kenapa?^^^


Gue ada dibelakang panggung, cepat.


^^^Nggak berani, tempatnya rame^^^


^^^Gue kan pemalu orangnya^^^


Nggak usah banyak ngomong


Gue tunggu!


^^^Iya ya, berisik amat^^^


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Risda pun memasukkan ponselnya kedalam bajunya, karena memang tidak ada kantong buat menaruh ponselnya itu. Entah mengapa Afrenzo tiba tiba menyuruhnya menemuinya, apalagi menemuinya dibelakang panggung.


Risda dengan kapas pun harus melewati sekumpulan orang orang, sebenarnya Risda merasa risih jika harus melewati orang orang itu. Akan tetapi, dirinya tidak bisa membantah ucapan dari Afrenzo, dan dia harus melaksanakan perintahnya bagaimanapun juga.


Risda pun sampai dibelakang panggung, dirinya pun melihat Afrenzo tengah sibuk dengan kotak makan. Ketika Risda datang ketempat itu, Afrenzo hanya menolehnya sekilas dan kembali melanjutkan apa yang tengah dirinya lakukan.


"Ada apa manggil gue?" Tanya Risda dengan malasnya.


"Nih bawain, bagi sama yang lain juga," Ucap Afrenzo sambil memberikan beberapa kotak makanan yang dimasukkan kedalam satu kantong plastik besar.


"Lo nggak bisa bawa sendiri?"


Afrenzo pun menunjuk kearah berlawanan dari Risda berdiri, dan Risda pun mengikuti arah dimana Afrenzo menunjuk itu. Terlihat begitu banyak kotak makanan yang telah tersusun rapi disana, begitu banyaknya hingga tidak akan mampu diangkat oleh 4 orang sekaligus.


"Ini bagian cabang kita," Ucap Afrenzo.


"Jadi ini untuk cabang kita doang? Kayaknya kurang deh,"


"Gue udah hitung."


"Emang lo tau berapa orang yang ikut?"


"Emang gue siapa?"


Risda pun menyengir kearah Afrenzo, bagaimana bisa dirinya lupa bahwa dia sedang berbicara dengan pelatihnya. Sudah sewajarnya Afrenzo tau jumlah siswanya yang ikut, bisa bisanya Risda mempertanyakan hal itu kepadanya.


Afrenzo hanya menghela nafasnya, dan Risda pun langsung bergegas pergi dari tempat itu karena malunya kepada Afrenzo. Risda berjalan dengan perlahan sambil membawa kotak makanan itu, karena banyak jadi lumayan berat juga baginya.


"Kenapa harus gue sih yang bawa? Berat tau," Gerutu Risda sambil terus berjalan.


"Nggak ikhlas kalo pelatih lo minta bantuan?" Tanya seseorang dibelakang Risda.


Risda mengenali suara itu, dirinya pun langsung menoleh ke belakang sambil menyengir kearah Afrenzo yang sudah ada dibelakangnya. Afrenzo membawa kotak makanan dengan jumlah dua kali lipat daripada yang dibawa oleh Risda, sehingga Risda merasa malu dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ikhlas banget kok, Pelatih yang terhormat. Ini mah nggak ada apa apanya," Jawab Risda dengan terkekeh pelan.


"Kalo begitu, bawa ini sekalian.“


"Nggak!! Nanti tangan dan sendi gue putus gimana? Terus nggak bisa latihan lagi, gimana? Terus kalo makan dan minum, gimana? Terus..."


"Berisik," Ucap Afrenzo yang memotong pertanyaan Risda begitu saja.


Afrenzo langsung melewati Risda begitu saja, dirinya berjalan mendahului Risda dan meninggalkan gadis itu ditempatnya. Melihat itu, Risda langsung bergegas untuk mengejarnya, karena dirinya tidak mau ditinggal oleh Afrenzo begitu saja.


Sesampainya ditempat yang mereka tuju, Afrenzo langsung membagikan makanan itu kepada murid muridnya. Risda pun langsung mensejajarkan dirinya berdiri disamping Afrenzo, dirinya juga ikut serta untuk membagikan makanan itu kepada teman temannya.


"Habis ini kalian jangan pulang dulu," Ucap Afrenzo kepada seluruhnya setelah selesai membagikan makanan kepada muridnya.


"Kenapa?" Tanya Risda penasaran.


"Makan bersama."


"Aku nggak ikut, boleh? Soalnya ada kepentingan pribadi,"


"Nggak, harus ikut."


"Tapi...."


"Hanya sebentar."


Risda pun terdiam membisu tanpa mampu menyahuti ucapan Afrenzo, bagaimanapun juga Risda tidak dapat membantah ucapan dari pelatihnya. Mau tidak mau dirinya harus ikut dalam acara tersebut, padahal dirinya ingin segera pulang dan segera mencari ibunya yang sejak kemarin belum pulang.


"Gue ke kamar mandi dulu," Ucap Risda pelan berisik kepada Afrenzo, yang tidak bisa menolak perintah Afrenzo.


"Emang tau tempatnya?" Tanya Afrenzo.


"Nggak tau," Jawab Risda polos.


Afrenzo pun menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya, sementara Risda hanya bisa menghela nafasnya dengan malas. Mood gadis itu benar benar tidak baik untuk saat ini, Afrenzo pun juga merasa ada yang salah dengan gadis yang ada didepannya itu.


Ketika keduanya tidak menjadi pusat perhatian orang orang, Afrenzo segera menggandeng tangan Risda dan membawa gadis itu pergi dari tempat itu. Afrenzo berhenti tidak jauh dari acara, karena dirinya mencari tempat yang sepi sekaligus tidak terganggu oleh suara gemuruh dari acara tersebut.


"Kenapa nggak mau ngangkat telepon gue tadi pagi?" Tanya Afrenzo.


"Gue nggak tau," Jawab Risda sambil membuang muka dari hadapan Afrenzo.


"Terus kenapa tengah malam lo telepon gue?"


"Nggak papa."


"Apa yang lo sembunyi'in dari gue?"


"Astaga, apa mata gue masih bengkak ya? Kok Renzo tatapannya menakutkan seperti itu sih, apa jangan jangan Kak Charlie mengatakan sesuatu kepadanya? Padahal kan udah gue larang," Batin Risda menjerit.


Risda hanya bisa membisu dihadapan Afrenzo, bukan tanpa sebab Afrenzo mengajaknya ke tempat sepi untuk saat ini. Afrenzo ingin Risda mampu bercerita tentang keluh kesahnya yang dirinya alami, karena yang dengan seperti itu, Afrenzo mampu membaca karakter dari muridnya itu.


Ketika Afrenzo bangun di pagi hari, dirinya begitu terkejut ketika mendapati Risda yang berulang ulang kali menghubunginya. Justru dirinya tidak tau soal itu, apalagi tadi pagi dirinya yang mencoba untuk menghubungi Risda tapi diabaikan olehnya.


Ketika Risda mencoba dihubungi tapi tidak bisa, laki laki itu langsung panik sehingga menyuruh Ana untuk menjemputnya. Ana juga tidak tau apa yang terjadi dengan Risda, dirinya hanya bercerita bahwa ketika ia menjemput Risda, ia mendapati Risda yang tengah menangis dan kedua matanya bengkak.


Afrenzo pun menatap wajah Risda dengan lekat lekat, ia menduga bahwa apa yang dikatakan oleh Ana tidak benar karena kedua mata Risda sudah tidak bengkak. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, begitu banyak kesedihan yang sangat disembunyikan oleh Risda saat ini.


"Kenapa hanya diam?" Tanya Afrenzo yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.


"Gue nggak papa," Risda pun mengucapkan kata tersebut berulang ulang kali sampai akhirnya air mata pun meluruh dari pelupuk matanya.


Air matanya semakin deras seiring berjalannya waktu, hingga akhirnya dirinya pun menjatuhkan tubuhnya untuk berjongkok diatas tanah. Afrenzo kebingungan dengan sikap gadis itu, dirinya pun langsung ikut berjongkok didepan Risda.


Afrenzo membiarkan gadis itu menangis untuk mencurahkan perasaannya, dan dirinya hanya berdiam diri sampai melihat Risda sedikit lebih tenang daripada sebelumnya. Afrenzo pun mencoba untuk menghapus air mata Risda, dan Risda pun langsung menoleh kearahnya.


"Maafin gue, Renzo. Gue kembali rapuh," Ucap Risda dengan sedikit sesenggukan.


"Nggak papa, nangis aja jika itu bisa bikin lo lebih tenang, Da. Asal lo tidak nyerah untuk bangkit lagi,"


Risda pun menganggukkan kepalanya pelan kepada Afrenzo, dirinya pun mencoba untuk menghapus air matanya kembali dengan kasar. Dia pernah berjanji kepada Afrenzo bahwa dia akan selalu kuat, tapi pertanyaan Afrenzo kembali membuatnya lemah.


Paling tidak suka jika kita memiliki masalah yang berat, tiba tiba seseorang bertanya kenapa kepada kita. Entah mengapa, pertanyaan itu seolah olah mendatangkan sebuah kesedihan dihati, padahal kita sudah berjuang mati matian untuk bisa menahan air mata, akan tetapi dengan pertahanan itu dengan mudah roboh hanya dengan kata kenapa.

__ADS_1


Meskipun sebesar apapun usaha Risda untuk menghapus air matanya, akan tetapi air matanya itu tetap akan keluar dengan sendirinya dan jauh lebih deras daripada sebelumnya. Afrenzo mengusap puncak kepala Risda dengan pelan, Afrenzo ingin menenangkan gadis itu walaupun dengan hal sepele yang dapat dia lakukan.


"Renzo, gue mau pulang," Rengek Risda kepada Afrenzo.


"Biar diantar Ana, ya? Lo kan nggak bawa motor sendiri, gue nggak bisa nganterin soalnya masih ada acara,"


"Iya."


"Tapi sebelumnya lo makan dulu, kalo nggak makan gue nggak izinin lo pulang. Lo tunggu sini, biar gue ambilin,"


"Gue nggak laper."


"Nggak laper tapi perutnya bunyi," Guman Afrenzo pelan seraya sambil berdiri, akan tetapi masih bisa didengar oleh Risda.


Risda pun langsung memegangi perutnya, terakhir kali dirinya makan pada waktu kemarin siang. Sehingga, dari kemarin sore dirinya belum makan apapun sampai siang hari ini. Risda memang betah untuk tidak makan selama 2 hari sekaligus, dan hal itu menyebabkan dirinya memiliki penyakit asam lambung.


*****


Ana yang tengah fokus dengan penampilan kakak seniornya, sehingga dirinya tidak menyadari bahwa Afrenzo sudah ada disampingnya dan membuatnya begitu sangat terkejut dengan kedatangannya. Ana pun langsung menundukkan kepalanya dihadapan Afrenzo, tidak biasanya Afrenzo melakukan itu kepadanya dengan tiba tiba muncul dihadapannya dan menatapnya.


"Pe... Pelatih... Ada apa?" Tanya Ana dengan terbata bata.


"Risda kenapa?" Tanya Afrenzo.


"Nggak tau kalo soal itu, Pelatih. Waktu aku datang menjemput dia, dia sudah nangis dan kedua matanya bengkak. Waktu aku bertanya kepadanya, dia justru diam saja." Jujur Ana yang memang tidak mengetahui permasalahan dari Risda itu.


"Habis ini antarkan dia pulang,"


"Pulang? Kan acaranya belum selesai. Gimana bisa pulang?"


"Sudah aku izinin. Jika sudah lelah, kau juga boleh pulang tanpa harus kembali ke acara ini, tapi jika kau ingin kembali, maka kembalilah."


"Terus Risda dimana sekarang?"


"Nanti dia akan kesini."


"Baik Pelatih."


Afrenzo pun langsung berjalan meninggalkan Ana, dirinya langsung menghampiri sebuah meja makan yang telah di sediakan disana. Ana memperhatikan hal itu dengan seksama, dirinya belum pernah melihat Afrenzo mengambil makanan ditempat umum, meskipun sudah disediakan oleh penyelenggara acara.


*****


Risda tengah memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan Afrenzo, sama sekali tidak ada jawaban dari Charlie maupun Dewi. Entah kenapa keduanya belum juga menghubunginya sampai saat ini, perasaannya semakin tidak karuan dan dirinya ingin sekali segera pulang.


Dirinya tidak tau harus menghubungi siapa saat ini, bahkan dirinya bingung harus berbuat apa. Jika dirinya sudah sampai dirumahnya, lantas bagaimana bisa dirinya mencari ibunya karena dirumah tidak ada sepedah motor yang bisa dirinya gunakan.


Jika dirinya tetap berada didalam acara itu pun akan sis sia, dia bahkan sama sekali tidak menikmati acara itu dan dia hanya bisa menahan diri agar tidak menangis didepan banyak orang. Risda mencoba untuk menghubungi Charlie, akan tetapi hanya memanggil saja tanpa adanya tulisan berdering.


"Charlie," Ucap seseorang dan langsung membuat Risda menoleh.


Sosok Afrenzo telah tiba dengan membawa semangkuk nasi dan segelas minuman ditangannya, setelahnya dirinya pun langsung duduk disamping Risda. Risda langsung memasukkan ponselnya kedalam sakunya, percuma juga dirinya menghubungi nomor yang tidak aktif itu.


"Makan dulu," Ucap Afrenzo lagi sambil memberikan makanan itu kepada Risda.


"Gue nggak lapar," Jawab Risda yang menatap hambar kearah nasi yang dibawa Afrenzo.


"Soto kan kesukaan lo, lo nggak suka?" Tanya Afrenzo heran.


"Lo tau banyak tentang gue,"


"Makan."


Risda pun menerima semangkuk nasi itu, mau tidak mau dirinya harus memakannya agar Afrenzo tidak marah kepadanya. Afrenzo sudah berbaik hati mengizinkan dirinya pulang lebih awal, sehingga Risda harus menuruti ucapannya untuk saat ini.


Sesuap demi sesuap dirinya masukkan kedalam mulutnya, dia merasa gerogi karena Afrenzo terus memperhatikannya tanpa mengalihkan pandangan dari dirinya. Hingga sesuap nasi terakhir pun dirinya masukkan, dan habislah makanan yang dirinya makan.


Setelah selesai makan, Afrenzo langsung mengambil mangkuk itu dari tangan Risda dan memberikan minuman kepadanya. Benar benar rasanya seperti tengah diperhatikan, bahkan keluarganya tidak pernah bersikap seperti itu kepadanya selama ini.


"Ana sudah gue beritahu, lo pulang sama Ana, nggak papa kan?"


"Thanks ya, Renzo. Maaf ngerepotin lo,"


"Nggak masalah."

__ADS_1


__ADS_2