
Risda pun menjalankan motornya masuk kedalam sekolahnya kali ini, dirinya tidak melihat sosok Afrenzo digerbang tersebut untuk memeriksa kelengkapan para siswa. Seperti biasa dirinya turun dari motornya untuk menuntunnya ke parkiran demi menghormati para guru yang ada disana, ia pun menghentikan motornya disalah satu siswa perempuan yang berjaga.
"Renzo kemana?" Tanya Risda kepada gadis itu.
"Udah berangkat kok, Da. Mungkin sekarang ada diparkiran," Jawabnya.
"Oke..."
Risda pun menuntun sepedahnya kearah parkiran motor yang ada disekolahan itu, dirinya pun melihat sosok Afrenzo tengah duduk diatas motornya. Risda lalu bergegas memarkirkan motornya disebelah kiri Afrenzo, setelahnya dirinya pun menatap kearah Afrenzo.
"Buka masker lo," Ucap Risda ketika melihat Afrenzo yang tengah memakai masker.
Afrenzo pun hanya berdiam diri, dan sama sekali tidak mempedulikan ucapan Risda. Risda tau kalau Afrenzo tiba tiba memakai masker itu artinya telah terjadi sesuatu dengan cowok itu, Risda hendak membuka maskernya itu tiba tiba tangannya dipegangi oleh Afrenzo untuk menahan gadis itu membuka maskernya.
"Lo kenapa, Renzo?" Tanya Risda.
"Ngak papa," Jawab Afrenzo singkat.
"Pasti lo dihajar lagi sama Bokap lo kan?"
"Buruan masuk ke kelas, gue mau kedepan gabung dengan anggota OSIS lainnya,"
Afrenzo pun turun dari motornya dan akan meninggalkan Risda ditempat itu, akan tetapi Risda langsung ikut turun dari motornya untuk mengejar Afrenzo. Baru beberapa langkah saja akan tetapi dirinya langsung memekik kesakitan, dan hal itu langsung membuat Afrenzo menghentikan langkahnya.
"Risda," Ucap Afrenzo dan langsung menghampiri sosok Risda.
Afrenzo pun membantu Risda untuk berdiri dengan benar kembali, ia pun mengalungkan tangan Risda ke lehernya. Setelah itu, Afrenzo langsung menuntunnya untuk mendekat kearah sebuah kursi dan meminta Risda untuk duduk disana.
"Kaki lo kenapa?" Tanya Afrenzo yang sebelumnya merasakan bahwa kaki Risda seperti pincang dan tidak bisa berjalan dengan benarnya.
"Nyeri doang, mungkin udah jompo kali," Ucap Risda sambil cengengesan.
Afrenzo langsung melontarkan sebuah tatapan tajam kearah Risda, dirinya pun langsung berlutut didepan Risda dan melangkip rok milik Risda untuk melihat lutut cewek itu. Nampak luka memar yang membiru disana, melihat itu hanya membuat Risda menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Siapa yang ngelakuin ini?" Tanya Afrenzo dengan tegasnya hingga membuat wajah Risda yang semula sedikit tersenyum itu pun langsung menundukkan kepalanya.
"Kakak gue," Cicit Risda lirih karena takut ketika melihat Afrenzo menatapnya seperti itu.
Afrenzo pun meluruskan kaki Risda yang terlihat bengkak itu, dengan perlahan lahan dirinya mulai mengurutnya pelan. Risda pun meringis kesakitan sambil mencengkeram erat ujung bajunya, rasa sakitnya tidak mampu untuk dijelaskan saat ini.
"Sakit Renzo!" Ucap Risda.
"Tahan sebentar," Ucap Afrenzo yang terus memijat lutut Risda.
Risda berusaha untuk mencoba menahan sakitnya itu, akan tetapi semakin lama rasanya semakin sakit dan ngilu. Kakinya sampai gemetaran karenanya, dan kedua mata Risda mulai berair akibat rasa sakit yang tengah dirinya rasakan itu.
Afrenzo pun menoleh kearah Risda, melihat wajah Risda yang seperti itu lalu membuatnya lebih memelankan lagi pijatannya. Dirinya yang kebiasaan membenarkan persendian murid laki lakinya dengan sedikit keras itu pun memperlakukan Risda sama seperti mereka.
Dirinya baru menyadari bahwa wanita tidak bisa menahan rasa sakitnya seperti seorang pria, hal itu langsung membuatnya lebih memelankan pijatannya dikaki Risda. Risda merasa jauh lebih mendingan daripada sebelumnya, pijatan Afrenzo membuatnya merasa lebih baik.
"Udah mendingan?" Tanya Afrenzo sambil menatap kearah wajah Risda.
"Sudah jauh lebih baik, Renzo. Lo pandai mijat juga ya," Ucap Risda kagum dengan cowok itu.
"Disini adalah titik uratnya, dan persendianmu sedikit berpindah sehingga terasa sakit, ....." Afrenzo pun menjelaskan bagaimana caranya memijat persendian kepada Risda, Risda yang mendengarnya itu pun agak bingung dengan apa yang dimaksud oleh Afrenzo.
Entah kenapa lelaki itu sangat pandai dalam membenarkan persendian, Risda sendiri yang mendengarnya itu pun sangat kagum dengan dirinya. Akan tetapi, Risda sama sekali tidak paham dengan penjelasan yang diucapkan oleh Afrenzo.
"Akh..." Pekik Risda ketika Afrenzo sedikit menekan persendiannya.
"Ternyata lo ngak tahan sakit ya," Ucap Afrenzo sambil memincingkan sebelah matanya.
"Lo sendiri menekan luka gue seperti itu, Renzo. Udah tau sakit masih saja lo gituin," Protes Risda.
"Hem," Jawabnya yang hanya berdehem.
Jawaban tersebut langsung membuat Risda merasa jengkel dengan lelaki yang ada didepannya saat ini itu, tangannya yang jail itu pun langsung menarik masker milik Afrenzo begitu saja hingga membuat Afrenzo terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Risda.
"Da!" Sentak Afrenzo karena terkejut.
"Lo.... Kenapa bibir bisa sobek seperti ini, Renzo? Apa yang terjadi sama lo?"
Risda pun menyentuh luka yang ada diujung bibir Afrenzo itu, hingga membuat Afrenzo mengernyitkan keningnya. Afrenzo lalu membuang pandangannya dari wajah Risda, dengan luka seperti itu dirinya tidak mau Risda kelihatnya.
"Renzo, katakan apa yang sebenarnya terjadi!" Perintah Risda dengan wajah khawatirnya.
__ADS_1
"Bukan urusan lo," Jawab Afrenzo dengan ketusnya.
Afrenzo pun merampas masker miliknya yang ada ditangan Risda saat ini, Risda tidak membiarkan hal itu begitu saja dan langsung mengarahkan tangannya kebelakang tubuhnya. Hal itu langsung terlihat seperti Afrenzo sedang memeluknya demi mendapatkan kembali masker miliknya itu, tatapan keduanya pun bertemu begitu dekatnya.
"RENZO!" Bentak seseorang dan langsung menarik tubuh Afrenzo untuk menjauh dari Risda, melihat itu langsung membuat Risda bangkit dari duduknya.
"Lo apa apa'an sih, Sat!" Sentak Risda.
Afrenzo yang kehilangan keseimbangan itu pun langsung terjatuh duduk dihadapan Risda, Risda pun langsung bergegas untuk membantu cowok tersebut berdiri kembali. Kakinya terasa sudah mendingan saat ini, sehingga dirinya mampu untuk berdiri kembali.
"Lo ngak papa kan, Renzo?" Tanya Risda kepada Afrenzo.
"Gue ngak papa, thanks."
Risda pun berdiri dihadapan Afrenzo sambil menatap tidak suka kearah Satria, sama sekali tidak ada sopan santunnya hingga membuat Afrenzo terjatuh seperti itu.
"Maksud lo apa'an?" Tanya Risda dengan tegasnya kepada Satria.
"Da, gue hanya mau ngelindungin lo saja dari dia. Berani sekali dia hampir meluk lo begitu, dia bukan siapa siapa lo saja sudah berani seperti itu, Da. Apalagi dia jadi pacar lo, bisa bisa rusak masa depan lo nantinya, bajing*n seperti dia itu lo bela, Da? Pikiran lo dimana sih?"
"CUKUP!" Bentak Risda, "Renzo tidak seperti itu, Sat! Kalo dia memang seperti itu, gue udah rusak sejak awal bertemu dengan dia, Sat."
Risda pun langsung menarik tangan Afrenzo untuk pergi dari hadapan Satria, entah mengapa dirinya tiba tiba merasa tidak suka dengan sosok Satria yang selalu menjelek jelekkan Afrenzo didepannya. Melihat kepergian dari keduanya itu pun langsung membuat Satria mengepal tangannya dengan eratnya, dirinya tidak terima jika Afrenzo terus dibela oleh Risda.
"Da," Panggil Afrenzo ditengah tengah perjalanannya.
Risda pun menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap kearah Afrenzo, "Gue yakin lo bukan tipe cowok seperti itu, Renzo. Gue ngak akan percaya dengan ucapan dari Satria, kalo memang lo seperti itu, mungkin saat gue ngak sadar lo bisa merenggut kehormatan gue gitu saja. Tapi lo ngak ngelakuin itu,"
"Thanks karena sudah percaya ke gue, Da."
"Renzo, lo selalu percaya ke gue selama ini, dan gue yakin lo itu tidak sebrengsek apa yang dikatakan Satria. Lagian kejadian tadi cuma salah paham,"
"Iya Da,"
"Ikut gue ke UKS, gue obatin luka lo itu,"
"Ngak perlu, lagian udah kering juga,"
"Ngak, luka lo itu sobek lagi tau ngak sih, Renzo. Sini gue tunjukkin,"
"Nah kan, gue ngak bohong. Luka lo sobek lagi kan, ikut gue sekarang," Ucap Risda sambil menarik kembali tangan Afrenzo.
Afrenzo tidak bisa menolaknya, ia pun hanya pasrah ketika ditarik oleh Risda begitu saja. Keduanya lalu bergegas menuju ke ruang UKS untuk mengobati luka Afrenzo itu, agar tidak infeksi nantinya.
*****
"Oh my God! Risda!" Teriak Mira tiba tiba ketika masuk kedalam kelas.
"Ada apa'an lo?" Tanya Risda kebingungan dengan reaksi dari Mira.
"Lo harus lihat ini!"
Mira pun langsung menarik tangan Risda untuk pergi keluar dari kelasnya itu, kaki Risda yang tadinya cidera itu pun membuatnya tidak mampu berjalan lebih cepat lagi. Keduanya pun berhenti didepan sebuah mading yang ada dilorong dekat dengan koperasi itu.
Risda pun membelalakkan kedua matanya ketika melihat apa yang terpajang disana, siapa yang menyebarkan kabar seperti ini? Risda tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat saat ini.
"Ini hanya salah paham," Ucap Risda dan langsung membuka pintu mading itu dan langsung mengambil foto yang terpajang disana.
"Da, kejadian ini bakalan jadi topik hangat disekolahan ini nantinya, lo tau kan bahwa sekolahan ini sangat menjunjung tinggi nilai agama? Apalagi lo terlibat disini," Ucap Mira.
"Ra, kenapa lo ngak ngasih tau gue dari tadi sih?"
"Gue aja baru lihat, Da. Kalo bukan karena ucapan Dinda anak kelas sebelah, mungkin gue makin terlambat untuk ngasih tau lo."
"Gue harus gimana lagi setelah ini, Ra? Gue harus nemuin Renzo sekarang,"
"Tunggu, Da!"
"Ada apa lagi sih, Ra?"
"Kalo lo nemuin dia sekarang, masalahnya bakalan semakin sulit untuk dituntaskan. Disini lo dan dia terlibat,"
Foto tersebut adalah sebuah foto Afrenzo yang seperti sedang berusaha untuk memeluk Risda, apalagi dengan ucapan ucapan yang membuat foto tersebut semakin menjadi bahan bincangan seluruh siswa yang ada disana.
"Dasar cewek gatel," Ucap seorang gadis yang berada didekat Risda.
__ADS_1
"Maksud lo apa'an?" Tanya Risda yang menyolot karana terbawa emosi saat ini.
"Kurang jelas gue ngomong apa? Buka telinga lo lebar lebar, cewek gatel, murahan, lont*,"
"BANGSAAT LO!" Bentak Risda.
"Lo pasti pake pelet ya untuk mendekat Renzo? Murahan sekali lo, ngak punya harga diri banget jadi cewek,"
"Udah Da, mending pergi dari sini," Mira pun menarik tangan Risda untuk pergi dari tempat itu.
Rasa rasanya, seluruh siswa kini tengah membicarakan tentang dirinya dan juga Afrenzo. Entah siapa yang telah melakukan itu saat ini, kenapa foto itu bisa menyebar begitu saja. Siapa yang telah menyebarkannya itu, Risda benar benar merasa pusing saat ini.
"Gue ngak tau selanjutnya akan seperti apa, Da. Kenapa lo dan Renzo bisa seperti itu sih?" Tanya Mira tiba tiba.
"Ini hanya salah paham saja, Ra. Dan apa yang ada didalam foto itu sama sekali ngak seperti yang mereka semua pikirkan, siapa sih yang nyebarin ini?" Risda nampak begitu kesal saat ini.
"Sepertinya ada yang sengaja ngejebak kalian deh, Da. Pas kejadian itu, lo lihat siapa saja yang ada didekat lo?"
Risda pun terdiam untuk mengingat kejadian pagi ini bersama Afrenzo, "Satria, hanya dia yang gue lihat tadi," Ucapnya sangat yakin.
"Kita datangi dia sekarang," Ajak Mira.
"Ayo,"
*****
Brakkk...
Risda pun menggebrak bangku dimana Satria kini tengah duduk, Satria pun langsung terkejut ketika Risda melakukan hal tersebut saat ini, dirinya pun langsung bangkit dari duduknya untuk berdiri mensejajarkan tingginya dengan Risda.
"Maksud lo apa apa'an, Sat!" Sentak Risda dengan kemarahannya itu.
"Gue ngak paham dengan ucapan lo, Da. Lo punya masalah apa'an sih sama gue?" Tanya Satria yang terlihat kebingungan saat ini.
"Jangan pura pura ngak tau lo, lo kan yang ada dibalik ini semua?"
"Dibalik apa'an maksud lo, Da? Gue ngak ngerti apa yang lo katakan,"
"Banyak bacoot lo, Sat! Lo yang berbuat ulah, tapi lo pura pura ngak tau,"
"Gue beneran ngak tau, Da. Lo datang datang langsung marah gitu aja, salah gue dimana coba?"
"Gue bener bener kecewa sama lo, Sat!" Teriak Risda dengan linangan air matanya.
Melihat itu langsung membuat Mira menarik tubuh Risda untuk bersandar kepada pundaknya, Risda pun menangis sesenggukan disana, dan sambil berpegangan erat dengan tangan Mira.
"Ini ada apa sih, Ra?" Tanya Satria kepada Mira.
"Jangan pura pura ngak tau lo, lo kan yang nyebarin soal Risda dan Renzo tadi pagi? Lo bener bener egois, Sat. Lo hanya mentingin perasaan lo sendiri daripada orang lain yang lo fitnah seperti itu," Ucap Mira.
"Gue ngak ngerti, Ra. Gue ngak memfitnah siapapun, firnah apa yang lo katakan?"
Mira pun langsung menyahut sebuah kertas yang ada ditangan Risda, dirinya lalu melemparkannya kertas tersebut kepada Satria dan langsung ditangkap oleh Satria. Dirinya pun langsung membuka gulungan kertas tersebut dan melihat sebuah foto sekaligus kata kata disana.
"Ini bukan ulah gue, Da. Gue bener bener ngak tau soal ini, tulisannya saja beda dengan tulisan gue. Gue berani sumpah kalo bukan gue yang ngelakuin ini," Ucap Satria setelah membacanya.
"Kalo bukan lo, lalu siapa lagi?" Tanya Risda dengan sesenggukan, "Hanya ada lo pagi tadi didekat gue dan Renzo, kalo bukan lo pelakunya lalu siapa?"
"Kenapa lo curiga sama gue, Da? Hp gue saja tadi didalam jok sepeda gue, gue ngak bawa tadi. Kenapa lo langsung nuduh ke gue?"
"Karena hanya lo yang ada disana, Sat. Lo yang tau soal itu," Air mata Risda pun bercucuran.
"Gue berani sumpah kalo bukan gue pelakunya, Da. Untuk apa gue nyebarin soal lo?"
"Lo ngak suka gue deket sama Renzo, lalu lo buat kasus ini seakan akan lo nyuruh gue jauhin Renzo. Bukanlah itu memang tujuan lo?"
"Gue emang nyuruh lo jauhin Renzo, tapi bukan berarti gue yang memfitnah kalian dengan cara seperti itu. Cara gue ngak semurahan itu Da, kenapa lo ngak bisa percaya ke gue,"
"Cowok seperti lo, tidak akan bisa dipercayai lagi, Sat."
"Terserah lo, Da. Gue bener bener ngak ngelakuin itu,"
"Gue benci sama lo, Sat. Lo tega ngehancurin hidup gue," Risda pun langsung bergegas meninggalkan tempat itu.
"Da!" Panggil Satria tanpa dipedulikan oleh Risda lagi.
__ADS_1