
Risda kembali melakukan gerakan yang diminta oleh Afrenzo, ia memerhatikan setiap gerakan tangan Afrenzo agar dirinya mampu menguasai gerakan tangkisan. Latihan pun selesai dilaksanakan, dan Risda langsung bergegas menuju keaula untuk mengambil bukunya.
Sesampainya ia pun buru buru mengambil bukunya, tanpa sengaja ia melihat Afrenzo hendak kelantai atas aula tersebut. Afrenzo pun menaiki tangga yang ada diruangan tersebut dan membantu Risda menatapnya.
"Lo ngak pulang, Renzo?" Tanya Risda.
"Belom waktunya pulang," Jawab Afrenzo.
"Sebentar lagi kan adzan magrib, emang orang tua lo ngak nyariin?"
"Gue udah terbiasa."
"Oh, kalo seperti itu, gue duluan ya. Gue takut kalo Kakak gue bakalan marah lagi,"
"Iya,"
Risda langsung bergegas keluar dari aula tersebut, ia pun mendatangi tempat dimana dirinya memarkirkan sepeda motornya. Risda langsung bergegas pergi dari halaman tersebut menuju kerumahnya, seperti biasa ketika sampai dirinya langsung mendapat omelan dari Indah karena telat untuk pulang.
*****
Risda berangkat bersekolah dengan menundukkan kepalanya dalam, terlihat bekas air mata dipelupuk matanya saat ini. Tanpa sengaja dirinya berpapasan dengan Afrenzo yang hendak masuk kedalam kelasnya itu, Afrenzo memerhatikan sosok Risda yang sejak tadi menundukkan kepalanya.
"Lo habis nangis?" Tanya Afrenzo.
Pertanyaan itu langsung membuat Risda mendongakkan kepalanya untuk menatap seseorang yang sedang bertanya kepadanya, ia mendapati sosok Afrenzo sudah berdiri dihadapannya itu. Melihat itu membuat Risda kembali menundukkan kepalanya dalam.
"Ngak, gue bangun tidurnya kesiangan jadi mata gue terus berair," Jawab Risda.
"Cengeng," Ucapnya dan langsung berlalu pergi.
Risda langsung mengepalkan tangannya setelah mendengar ucapan Afrenzo itu, ia pikir bahwa dirinya bisa memahami Afrenzo tapi nyatanya sikap Afrenzo sama sekali tidak bisa ditebak olehnya. Risda nampak marah kepada Afrenzo yang berlalu pergi, dan dirinya pun bergegas masuk kedalam kelasnya.
Risda langsung duduk di bangkunya dan membenamkan wajahnya diantara kedua lengannya diatas bangku kelasnya itu, ia masih teringat dengan jelas tentang kejadian kemarin malam yang membuatnya sangat terluka.
Bagaimana tidak terluka? Akibat ucapan Indah kepada Bundanya hal itu membuat Bundanya terus mengomelinya dan meminta dirinya untuk keluar dari perguruan beladiri. Mengikuti beladiri seolah olah adalah kesalahan yang fatal untuk Risda, dan dirinya tidak mau dipaksa seperti itu.
"Lo kenapa, Da?" Tanya Mira yang baru saja tiba.
__ADS_1
"Gue lelah," Jawab Risda.
"Lo berantem lagi sama Mak lampir itu? Gue emang ngak tau wajahnya seperti apa, tapi dari cerita lo aja gue udah tau seberapa nyebelinnya orang itu. Sorry, gue udah ngatain Kakak lo,"
"Emang Mak lampir pun, gue ngak marah kok kalo lo bilang dia kek mak lampir. Emang kenyataannya seperti itu, Ra"
"Hahaha, lo emang beda dari yang lain, Da. Kakak sendiri malah dibilang Mak lampir, tapi gue salut sama lo. Bisa bisanya lo bertahan dirumah itu sampe detik ini, kalo gue mah ogah,"
"Gila lo, kalo gue ngak tinggal disana, lalu gue mau tinggal dimana lagi anjiirrr. Kolong jembatan?"
"Boleh juga sih, Da. Lo kan emang sukanya dijalanan daripada dirumah lo sendiri,"
"Ide lo bagus sih, gue acungin dua jempol untuk lo. Rasanya gue ingin mukul kepala lo sampe bonyok, Ra. Ngak ada saran yang lebih bagus apa woi? Dasar temen ngak ada akhlak,"
"Ngak ada deh, Da. Emang lo mau tinggal dirumah gue? Tapi kagak ada kamar lagi sih,"
"Setaan lo, lalu untuk apa lo nawarin itu ke gue?"
"Keknya gue sudah terbiasa deh mendengar umpatan lo itu, emang mulut lo terlalu pedas, Risda."
Risda hanya mendengus kesal mendengar ucapan dari Mira, memang teman rasa sahabatnya itu pun selalu membuatnya marah. Akan tetapi, hanya Mira dan Septia yang bisa diajak gila gilaan bersama, kalo yang lainnya mungkin tidak akan mau apalagi mengingat usia mereka yang sudah 16 tahun.
"Apaan, Ra?"
"Ikut gue yuk!"
Mira langsung menarik tangan Risda untuk keluar dari kelasnya, sementara Risda yang ditarik bergitu saja hanya bisa pasrah mengikuti kemana Mira yang akan membawanya pergi tersebut. Keduanya pun telah sampai disebuah lapangan yang penuh dengan siswa yang duduk ditepi lapangan untuk menunggu jam masuk sekolah berbunyi.
"Ah, gue paham maksud lo, Ra" Ucap Risda yang paham dengan ajakan Mira ketempat itu.
Disana banyak sekali siswa yang sedang bersama dengan pacar maupun kawannya, Risda melihat kearah dua sejoli yang sedang duduk membelakangi keduanya. Dengan perlahan lahan, Risda mulai mendekati mereka berdua dengan diam diam, sementara Mira mematung ditempatnya agak jauh dari keduanya.
Sikap jahilnya itu pun muncul kembali, kedua orang itu tidak lain adalah Kakak kelasnya yang pernah ia tabrak sebelumnya. Ceweknya tersebut bernama Sasa sementara cowoknya itu bernama Azam.
Risda pun tersenyum tipis dan perlahan lahan mendekati tempat keduanya duduk, ia pun berusaha membuka tali sepatu keduanya dan mengikatnya menjadi satu. Jail adalah hobi utama yang dimiliki oleh Risda, sepertinya kedua murid itu sama sekali tidak menyadari akan adanya Risda.
"PAK AGUS! DISINI ADA YANG PACARAN!" Teriakan dari seorang Risda didekat keduanya setelah dirinya selesai mengikat tali sepatu keduanya menjadi satu.
__ADS_1
Mendengar teriakan dari Risda, membuat keduanya langsung bangkit dari duduknya. Tapi siapa sangka bahwa tali sepatu mereka sudah terikat satu sama lain sehingga keduanya kehilangan keseimbangan.
"Aaaa...."
Bhukkk
Keduanya jatuh bersamaan diatas paving dengan sangat kerasnya, melihat itu membuat Risda tertawa terbahak bahak. Tawanya itu langsung menarik perhatian siswa siswa yang ada disekitar mereka, dan terciptalah wajah malu diantara keduanya.
"Kurang ajar!! Lo mau main main sama gue," Umpat Azam.
"Gue ngak takut wek wek wek," Risda pun menjulurkan lidahnya untuk mengejek Azam dan Sasa.
"Awas lo ya!" Ucap Azam dengan geramnya kepada Riada.
Azam pun langsung bangkit dari duduknya, sepersekian detik kemudian dirinya kembali terjatuh karena ikatan tali sepatunya yang masih stenbay disana. Jatuhnya itu lumayan keras hingga membuat Risda menutup kedua matanya, Risda membuka kedua matanya kembali dan tertawa semakin kerasnya.
"Kaburrrr!!!" Teriak Risda dan langsung bergegas lari dari tempat tersebut.
"Eh jangan kabur lo!" Teriak Sasa.
Risda tidak memedulikan ucapan keduanya yang saat ini sedang mengumpat kepadanya. Keduanya kini merasa malu karena terjatuh bersamaan, Azam pun kembali bangkit dari duduknya dan hendak mengejar Risda kembali, akan tetapi dirinya langsung dihentikan oleh Sasa.
"Woi, lepasin dulu ikatannya anjiiirrr" Teriak Sasa.
"Eh maaf, gue lupa bebeb," Jawab Azam dan langsung duduk kembali disebelah Sasa.
"Sialan tuh anak, berani beraninya cari masalah sama Kakak kelasnya sendiri,"
"Gue akan bikin perhitungan dengan tuh cewek, lo tenang saya beb,"
Azam berusaha untuk melepaskan ikatan tali sepatunya disepatu Sasa, ikatan Risda cukup kuat. Sehingga hal itu membuatnya sangat kesusahan untuk bisa melepaskannya, setelah ikatan itu terlepas, akhirnya Azam pun membantu Sasa untuk bangkit dari duduknya.
Keduanya langsung berjalan menuju kekelas Risda untuk menemui gadis itu, akan tetapi niatnya ia wurungkan ketika mengetahui seorang guru telah masuk kedalam kelas Risda. Risda yang tidak sengaja melihat keduanya berada didepan pintu kelasnya hanya bisa terkekeh geli menyaksikannya, untung saja bel masuk sudah berbunyi kalo tidak, mampus nasibnya itu.
"Hehehe.. mereka datang, Ra." Ucap Risda sambil memberi kode kepada Mira.
"Lo beruntung, Da. Untung saja sudah masuk kelasnya," Jawab Mira.
__ADS_1
"Gue kan anak sholeh, jadi gue beruntung."
Ucapan Risda tersebut langsung membuat Mira mual mendengarnya, melihat itu membuat Risda hanya mendengus kesal, memang Mira hobi sekali membuatnya kesal seperti ini.