Pelatihku

Pelatihku
Episode 77


__ADS_3

Risda merasa bahwa barisannya itu lebih banyak daripada biasanya, seingatnya siswa yang ikut dilatihan malam itu memang tidak terlalu banyak. Akan tetapi, Risda merasa bahwa yang ikut latihan tersebut memang sangat banyak.


Upacara pembukaan latihan malam pun dimulai, ditengah tengah upacara, Risda melihat seekor burung hantu yang sangat besar seakan akan tengah mengawasi acara latihan malam itu. Burung itu bertengger pada genting sekolahan tersebut, dan seakan akan tengah menatap tajam kearah mereka.


Selesai upacara, mereka semua melanjutkan untuk pemanasan sebelum latihan. Mereka pun menghafalkan jurus jurus yang telah diajarkan oleh pelatih disana, Risda dan yang lainnya hanya mengikuti saja.


"Da, gue ngerasa merinding nih," Ucap Anna dengan berbisik kepada Risda.


"Apanya yang merinding?" Tanya seseorang yang tiba tiba muncul diantara Anna dan Risda.


Orang itu tidak lain adalah Afrenzo sendiri, sementara yang memimpin untuk latihan jurus adalah Fandi dan para senior lainnya. Afrenzo hanya mengawasi sekitar tempat itu, agar tidak ada kejadian kejadian yang tidak diinginkan terjadi ditempat itu.


Sekolahan itu berada diantara lahan kosong yang tidak digunakan oleh pemiliknya sehingga semak semaknya begitu rimbun. Ada tiga sekolahan yang saling berjejer disana yakni, SMA Bakti Negara, SMA Negeri 30, dan juga SMP Darma bakti.


Sekolahan yang dipakai oleh Risda berada diujung kanan, lebih tepat bersebelahan dengan lahan kosong yang ada disana. Oleh karena itu, sekolahan tersebut terlihat begitu gelap dan sunyi, apalagi sekolahan yang cukup besar itu sehingga terlihat menyeramkan.


Ditempat tersebut sering ada kasus kecelakaan yang disebabkan oleh jalan berlubang, dan korbannya selalu meninggal ditempat. Bahkan tubuh mereka tidak segan segan untuk hancur karena kelindas sebuah truk yang besar, oleh sebab itu tempat itu terlihat menyeramkan.


Dimalam hari, biasanya sering ada kejadian kejadian yang aneh ada disana. Kadang kala ada suara suara seperti orang yang sedang berteriak teriak, pintu kelas yang digedor gedor, bahkan seperti yang dilihat oleh Risda bahwa sekolah itu begitu ramai.


Dari sinilah, Risda Vanatasya Almaira belajar mengenai dunia gaib, mereka benar benar ada didunia ini, dan hanya orang orang tertentu yang mampu untuk melihat mereka. Sejak malam itu, Risda mampu merasakan kehadiran sosok gaib yang ada disekitarnya, dan bahkan kadang kala dirinya merasakan energi gaib yang ada disuatu lokasi.


"Maaf pelatih, saya hanya takut," Ucap Anna dengan gelagapan dihadapan Afrenzo.


"Kenapa jumlah pesertanya lebih banyak daripada yang dijadwalkan?" Tanya Risda kepada Afrenzo dengan penasarannya.


"Tetap fokus latihan, jangan banyak bicara." Pungkas Afrenzo tanpa menjawab pertanyaan dari Risda itu.


Perasaan Risda semakin was was melihat banyaknya peserta yang ikut itu, dirinya pun kembali melihat bayangan bayangan seseorang dari balik kelas kelas yang ada disana. Dirinya sama sekali tidak fokus dengan gerakannya, akan tetapi dirinya tetap fokus kepada sekitarnya.


Perkemahan teater waktu itu tidak semenyeramkan seperti ini, karena waktu perkemahan itu masih dipasang beberapa lampu yang terang benerang, dan juga begitu ramai tidak seperti saat ini. Risda merasa seperti tengah sendirian disebuah tempat yang sangat sunyi karena seluruh peserta tidak ada yang tengah berbicara saat ini.


"Tengkurap grak!" Teriak Afrenzo.


Seluruhnya pun langsung bergegas untuk tengkurap ditempat itu, bunyi benturan antara anggota tubuh dengan tanah yang ada disana pun terdengar gemuruh. Mereka dengan serempak langsung melakukan gerakan yang diperintahkan oleh Afrenzo tanpa ada bantahan sedikitpun.


"Jika kalian benar benar cinta tanah air, maka cium tanah itu," Ucapnya lagi lagi dan membuat seluruhnya pun membenamkan wajahnya ditanah tanpa mempedulikan tanah seperti apa yang mereka benami itu.


Nadhira dan yang lainnya hanya melihat adanya kegelapan, kesunyian, bahkan seakan akan tidak ada seorang pun disana. Mereka pun mampu merasakan angin semilir yang terjadi dimalam hari, bahkan angin itu seakan akan menyerang mereka.


Saat ini masih menunjukkan pukul 9 malam, akan tetapi rasanya seperti tengah berada ditengah malam. Terdengar beberapa langkah kaki yang seakan akan tengah mengitari mereka semua, itu adalah langkah dari Afrenzo dan para senior lainnya yang memeriksa mereka satu persatu.


"Jangan ada suara, saya bisa mendengar suara kalian dengan jelas disini. Jangan ada yang gerak, saya bisa melihat pergerakan kalian dengan jelas walaupun gelap," Ucap Afrenzo.


Risda pun dapat mendengar beberapa orang tengah berbisik saat ini, bukan dari arah para peserta yang tengkurap melainkan dari beberapa senior dan juga Afrenzo. Memang benar, pendengaran dimalam hari apalagi ditempat yang sunyi akan terasa begitu jelas bahkan hanya berbisik saja mampu untuk didengar.


"Kalian bisa tidur,"


Setelah seseorang mengatakan itu, langsung terasa seperti para senior dan juga Afrenzo bergegas untuk meninggalkan mereka semua disana. Tanpa mereka sadari pun, lampu lampu yang ada disekolahan itu sudah dimatikan sehingga hanya ada kegelapan tanpa ujung disana.


Ini adalah bagian dari uji nyali yang akan mereka lakukan setelah ini, mungkin hanya seorang pesilat yang pernah mengalaminya. Bukan hanya disekolahan saja akan tetapi biasanya dilakukan dipemakaman yang gelap, area perkemahan, sawah atau ladang, bahkan hutan.


Rasanya tubuh Risda seperti tertimpa oleh beban yang sangat berat, karena terlalu lama tengkurap membuatnya seperti merasa sangat lelah. Bukan hanya Risda, melainkan seluruhnya akan tetapi tidak ada yang bisa bergerak karena mereka juga takut dengan sosok Afrenzo.


Jarak antara peserta dengan peserta lainnya sekitar 1 meteran, sehingga mereka tidak bisa saling mengobrol dengan yang lainnya walau dalam keadaan tengah membenamkan wajahnya tanah. Risda merasakan jidatnya terasa kebas karena dirinya bersangga dengan jidatnya dan ada beberapa batu krikil yang menghalangi jidatnya menyentuh tanah.


"Da.. Da.." Panggil Anna dengan berbisik.


"Ada apa?" Tanya Risda yang juga ikut berbisik.


"Coba lo lihat, dimana pelatih dan yang lainnya? Kok sepi banget,"


"Bentar,"


Risda pun sedikit mendongak untuk memeriksa sekitar tempat tersebut, disaat dirinya sedikit mendongakkan kepalanya dirinya pun melihat sepasang kaki yang seperti tengah berdiri dihadapannya. Melihat itu langsung membuat Risda membelalakkan matanya, dirinya yakin bahwa itu adalah kaki milik Afrenzo.

__ADS_1


Sebenarnya Afrenzo mendengar keduanya tengah berbisik, karena Afrenzo sejak tadi berdiri dihadapan Risda untuk mengawasi siswanya yang ada disekitaran tempat dirinya berdiri. Melihat itu langsung membuat Risda kembali membenamkan wajahnya disana karena ketakitan, bukan karena kaki Afrenzo melainkan karena sekitar tempatnya terasa gelap gulita.


Sudah 1 jam mereka dalam posisi seperti itu, kini akhinya mereka disuruh untuk berdiri kembali dan banyak diantara mereka yang sudah ketiduran dengan nyenyaknya. Risda pun merasa sangat pusing saat ini, setelah tengkurap seperti itu dan langsung berdiri membuatnya terasa seperti sempoyongan.


"Karena terdapat begitu banyak siswa, aku akan membagi menjadi beberapa regu. Dan regu itu dipilih secara acak sesuai nomor yang didapatkan,"


"Maksudnya bagaimana pelatih?" Tanya seorang siswa yang berbaris ditempat paling depan sendiri.


"Hitung sampai 10, dimulai dari baris pertama kiri depan, dan perlu diingat masing masing angka yang didapatkan itu, paham semua!"


"Siap paham!"


"Berhitung dimulai!"


"1" Ucap seseorang yang baris dibarisan pertama dan berada didepan paling kiri.


"2" Ucap sebelah yang berada dikanannya orang pertama itu.


"3" Ucapnya yang ada disebelahnya lagi.


"4"


Mereka pun menghitungnya dengan kerasnya, hingga angka ke 10 dan kembali lagi dimulai dari angka 1 begitupun dengan seterusnya. Setelah dirasa seluruh peserta sudah mendapatkan nomor tersebut, mereka pun diminta untuk berkumpul sesuai dengan nomor yang mereka dapatkan.


Risda mendapatkan nomor pertama, sehingga dirinya baris ditempat yang paling kanan daripada barisan yang lainnya itu.. Sementara Anna kebagian ditempat baris kedua, letaknya bersebelahan dengan baris pertama dan ke tiga, begitupun dengan seterusnya.


"Sudah kumpul semua?"


"Sudah pelatih!"


"Baiklah, tugas kalian adalah mencari hewan yang ada disekitarnya sini, tapi tidak boleh mati. Kalau sampai mati, maka siap siap akan mendapatkan hukuman dariku."


"Hewan apa itu, pelatih?"


"Aku akan bagikan, hewan apa yang harus kalian cari. Regu pertama, kalian harus mencari semut akan tetapi tidak boleh mati dan membawanya kehadapan saya, kedua kalian cari hewan lalat, ketiga kalian cari hewan nyamuk, keempat kalian cari serangga, kelima kalian cari burung dara, keenam kalian cari belalang, ketujuh kalian cari kucing, kedelapan kalian cari kumbang, kesembilan kalian cari cacing, dan terakhir kalian cari capung. Ingat jangan sampai mati, paham semua!"


"Baiklah, laksanakan segera."


Mereka pun langsung membubarkan diri masing masing untuk mencari seekor hewan yang telah diperintahkan oleh Afrenzo. Mereka pun kebingungan untuk mencari hewan hewan itu kemana, padahal ditengah tengah kegelapan seperti itu akan sulit untuk menemukan hewan hewan yang dimaksudkan itu.


"Kita cari dipasir pasir, biasanya akan banyak semut yang berkumpul."


"Tapi ini gelap, bagaimana bisa tau keberadaan semut semut itu?"


"Sudahlah usaha dulu, siapa tau bisa melihat hewan itu dengan jelas nanti,"


"Tapi ingat kagak boleh mati tau,"


"Sudah tau, mangkanya jangan bunuh mereka."


"Lalu caranya bagaimana? Hewan itu kan sangat kecil, sekali digintes pun langsung hancur dan tak tersisa."


"Ya jangan digintes lah, orang disuruh jangan sampai mati kok malah digintes,"


"Iya ya, bawel."


Risda dan 5 anggota kelompoknya itu pun langsung bergegas untuk merayap diatas tanah sambil melihat tanah tersebut dengan jelasnya. Dengan cara itu mereka bisa melihat bentuk rerumputan yang ada disitu, dan mampu melihat pergerakan dari para semut yang ada disana.


"Ketemu," Ucap Risda.


Risda pun langsung menggambilnya, akan tetapi jari jarinya yang besar itu pun membuat semut tersebut langsung mati begitu saja ketika dihampir oleh jari jari milik Risda, diantara ibu jari dan telunjuknya.


"Yah kok mati sih,"


"Cari yang lain, jangan sampai pelatih tau, nanti kita yang akan dapat hukuman."

__ADS_1


"Baiklah,"


Risda pun kembali mencari semut yang lainnya tanpa diketahui oleh Afrenzo bahwa dirinya telah membunuh semut sebelumnya. Ditempat lain, diregu ke lima, kini salah satu dari mereka pun memanjat sebuah pohon demi mencari seekor burung dara yang memang ada diatas pohon dengan sangkarnya.


"Woi hati hati, pohonnya licin kalo malam hari,"


"Lo tenang saja, gue ahlinya untuk manjat beginian,"


Tak beberapa lama kemudian, seseorang yang memanjat itu pun terjatuh dari atas pohon tersebut, hal itu langsung membuat Afrenzo dan para senior lainnya bergegas untuk mendatanginya, dan memeriksa kondisi dari lelaki itu.


"Lo kenapa?"


"Ngak tau, kayak ada yang nendang gue tadi. Kan gue pegangan dengan erat, eh kayak ada yang ngelepasin pegangan gue, Rid. Gue juga bingung," Ucapnya sambil mengibas ngibaskan tangan dan bajunya.


"Kan gue udah bilang, pohonnya licin tau."


"Gue udah tau, tapi gue ditendang."


"Ada apa ini?" Tanya Afrenzo yang langsung berdiri diantara keduanya.


"Maaf pelatih telah buat keributan, Burhan habis jatuh dari pohon,"


"Sudah aku bilang kan? Jangan macam macam disini, apalagi pohon yang dirimu naiki memiliki penunggu."


"Maaf pelatih,"


Mereka pun mengucapkan permisi dahulu sebelum memanjat kembali, akan tetapi sangkar tersebut terlihat seperti tidak dihuni lagi oleh burung dara, dan hal itu langsung membuat mereka kebingungan harus mencari kemana lagi.


Dari sekian banyak orang, belum ada yang mendapatkan apa yang sudah diperintahkan itu. Waktu yang diberikan pun hanya tersisa sedikit, akan tetapi belum ada yang memenuhi syarat. Katika waktu habis, mereka pun kembali kebarisannya masing masing.


"Siapa yang sudah dapat?" Tanya Afrenzo.


"Regu pertama!" Teriak Risda seorang diri.


"Maju,"


"Baiklah,"


"Fan, ambilkan senter!"


Afrenzo lalu memerintahkan kepada Fandi untuk kembali keruang aula beladiri dan menggambil sebuah senter. Risda yang berteriak itu pun langsung bergegas untuk maju kedepan, dan menghadap kepada Afrenzo. Tak beberapa lama kemudian, Fandi pun datang sambil membawa senternya.


Fandi pun membuka tangan kirinya untuk melihat apa yang didapatkan oleh Risda saat ini. Risda pun langsung menaruh semut yang dirinya tangkap ditelapak tangan Fandi, semut tersebut langsung merayap dan itu artinya semut itu masih hidup.


"Bagus," Puji Afrenzo kepada Risda hingga membuat Risda menampakkan senyuman yang merekah.


Risda pun diperintahkan untuk mengambil semut itu kembali dan meletakkan dimana dirinya mencarinya sebelumnya. Setelahnya, dirinya pun kembali ke barisannya lagi setelah meletakkan semut tersebut.


"Regu pertama lolos, yang lainnya?"


"Kami tidak dapat!" Ucap mereka serempak.


"Yang tidak dapat, push up sebanyak 50 kali!"


Mereka pun langsung bergegas untuk mengambil posisi push up, dan melakukan sebuah push up dengan dihitung langsung oleh Fandi. Hanya barisan Risda saja yang tidak terkena hukuman, sebelum waktu berakhir Risda akhinya bisa menangkap sebuah semut yang cukup besar hingga tidak mudah untuk mati.


Tanpa teman temannya sadari bahwa Risda berhasil menangkap semut tersebut, Afrenzo kagum karena Risda bisa sefokus itu untuk menangkap semut yang sangat kecil daripada hewan yang dimaksudkan oleh lainnya itu.


Kedua mata Risda begitu jeli, meskipun ditengah tengah kegelapan dirinya masih mampu untuk menangkap semut itu, sementara yang lainnya gagal untuk melaksanakan perintah.


Risda dan regunya merasa kasihan dengan teman temannya yang terkena push up itu. Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa apa, karena itu juga salah mereka sendiri yang tidak bisa mendapatkan hewan yang diperintahkan itu.


"Untung lo dapat, Da. Kalo ngak mungkin nasib kita sama seperti mereka,"


"Yaya dong, siapa dulu? Risda gitu loh," Ucapnya dengan membanggakan diri.

__ADS_1


"Jangan senang dulu, waktu ujian masih lama." Salah satu senior memperingatkan kepada mereka berenam yang tidak mendapatkan hukuman.


Mendengar itu hanya membuat keenamnya langsung terdiam begitu saja, mereka tidak ingin mendapatkan hukuman hanya karena mereka berbicara. Mereka harus lebih kompak nantinya, dan jangan sampai ada yang gagal hingga membuat mereka harus dihukum.


__ADS_2