
"Lo apaan sih?" Tanya Risda seraya melepaskan pegangan tangannya dari tangan Satria.
"Gue ngak suka lo dekat dekat dengan Renzo, dia bukan orang yang baik," Ungkap Satria.
"Gue mau deket dengan siapapun itu, bukan urusan lo. Lagian Renzo juga bukan orang yang jahat bagi gue."
"Lo emang belom tau dia sepenuhnya, Da. Dan gue ngak ingin lo nyesel nantinya karena dia,"
"Apaan sih? Orang jelas jelas Renzo adalah orang yang baik, justru disini lo yang jahat!"
"Gue nasehatin lo, agar lo ngak nyesel nantinya, Da. Sikap diamnya aja sudah menunjukkan sikap aslinya, dia emang jahat,"
"Baik jahatnya seseorang, bukan urusan lo."
Risda langsung melangkah pergi dari tempat tersebut untuk menuju kekelasnya. Risda melihat teman temannya yang sedang berkumpul dimeja mereka, Risda langsung menghampiri teman temannya itu.
"Woi, ngibah mulu, emang kagak capek apa?" Tanya Risda.
"Eh, lo ngak jadi dihukum, Da?" Tanya Rania.
"Udah gue bilang, kan. Siapa sih yang mau menghukum diriku? Ngak mungkin ada yang bisa lah." Risda merasa bangga kerena tidak dapat hukuman dari Guru.
"Sialan lo, Da. Emang lo tadi diselametin siapa?" Umpat Mira yang mendengarnya.
"Ya pelatih gue lah, tapi gue nya pengen nyokap gue yang datang," Risda nampak terlihat kecewa diwajahnya.
"Nah, kalo gitu. Lo harus lebih bikin para Guru marah, Da. Kali aja langsung dipanggilkan orang tua lo,"
"Emang ide lo apaan?"
__ADS_1
"Gue akan ajarin lo sesad, Da."
*****
Risda kini tengah berada dibarisan terdepan disaat berlatih beladiri, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Afrenzo kali ini. Risda menoleh kearah Satria yang berada didepannya sebagai pemimpin latihan kali ini.
"Dimana Renzo, Sat?" Tanya Risda kepada Satria.
"Renzo ada urusan, dia harus berlatih di daerah dengan Guru besar kali ini," Jawab Satria.
"Lalu kenapa lo kagak ikut?"
"Gue ngak ada hak latihan disana, belom saatnya,"
"Emang didalam beladiri ada aturannya?"
"Santai aja kali, lo seperti itu bukannya bikin gue takut, malah bikin gue pengen ngakak anjiiiirrrr..."
Satria tidak menjawab ucapan Risda lagi, dirinya pun langsung memulai latihan beladiri dengan pemanasan dan diikuti oleh seluruh siswa. Kini saatnya latihan fisik bagi mereka, sehingga satria menyuruh mereka untuk melakukan push up, **** up, lari, dan lain lain.
"Push up, 50 kali!" Perintah Satria.
Tanpa berpikir panjang, mereka pun langsung melakukan push up. Mereka nampak kelelahan saat ini karena bagi mereka itu sangat berat, Risda pun hanya bisa menarik nafas dalam dalam dengan keringat yang membasahi tubuhnya denhan deras itu.
"**** up, 50 kali!"
"Back up, 50 kali"
"Squad jump, 50 kali"
__ADS_1
"Lari keliling lapangan, 25 kali"
Satria terus memberi arahan kepada mereka, jumlah segitu masihlah wajar disaat mereka belajar beladiri. Meskipun begitu Risda sama sekali tidak mengeluh dan tidak seperti teman temannya yang terus mengeluh karena tidak sanggup untuk melakukan latihan fisik dari Satria.
Sampai akhirnya mereka semua pun terbaring ditengah tengah lapangan yang panas akan terik matahari disore hari itu. Setelah berlari memutari lapangan, Risda pun membaringkan tubuhnya diatas lapangan yang panas itu karena lelah.
"Huftt... Panas banget," Risda menghela nafasnya dengan kasar karena merasa kepanasan.
"Lo bener, kali ini latihannya ngak main main," Seru seorang gadis yang ada disebelah Risda, dan panggil saja namanya Anna.
"Entahlah, mungkin ini hanya permulaan," Jawab Risda.
"Kalo begini ceritanya, gue mau ngunduruin diri aja dah," Ucap Vina yang berada tidak jauh darinya.
"Ngak bisa! Sekali masuk, tidak boleh keluar," Ucap Satria dengan tegasnya.
Ucapan itu langsung membuat mereka duduk ditempatnya masing masing sambil memandang kearah Satria. Tatapan mereka sangat sulit untuk diartikan, dan dari ucapan tersebut sudah menandakan bahwa mereka tidak bisa keluar dari perguruan tersebut.
"Maksudnya, kita ngak boleh berhenti latihan?" Tanya Vina.
"Ngak boleh, atau semua para pendekar akan murka kepada kalian," Jawab Satria.
"Apa!" Anna reflek berteriak setelahnya.
"Cepat bangun! Lari lagi!" Perintah Satria dengan nada kerasnya.
Mereka pun langsung buru buru untuk bangkit berdiri dari duduknya, dengan segera mereka langsung bergegas lari kembali. Risda pun merasakan bahwa kakinya terasa perih karena telapak kakinya yang memerah karena panas.
"Gue ngak boleh nyerah!" Ucap Risda pelan seraya menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1