Pelatihku

Pelatihku
Episode 112


__ADS_3

Risda dan yang lainnya kini tengah menghafalkan materi jurus yang diajarkan oleh Carline, Risda sebenarnya agak hafal dengan materi itu karena pernah diajarkan oleh Afrenzo secara private. Dirinya dan yang lainnya memilih tempat masing masing untuk menghafalkannya, sehingga mereka terlihat sangat sibuk untuk menghafalkan sebuah materi.


"Da, lo sudah hafal beneran materinya?" Tanya Vina kepada Risda.


"Lumayan hafal sih gue, tapi jangan ngikut gue nanti lo sesat sendiri. Soalnya gue juga tidak terlalu hafal," Jawab Risda.


"Ya elah, kalau soal itu mah ditanggung belakangan aja kali, Da. Ayo kita hafalin bareng bareng aja kalau sendiri sendiri gue kagak hafal hafal,"


"Baiklah, lo yang hitung yak,"


"Oke.."


Keduanya pun menghafalkan jurus tersebut secara bareng bareng, melihat itu Anna langsung ikut bergabung bersama mereka. Jika menghafalkan seorang diri akan terlihat sangat sulit, oleh karena itu Anna ingin bergabung bersama mereka.


"Da, gue gabung ya?" Tanya Anna dan langsung berdiri disamping Risda.


"Kagak, ini hanya muat dua orang," Jawab Risda.


"Pelit lo,"


"Bercanda doang, An. Gitu aja sudah merajuk kek bayi," Goda Risda.


"Dasar ******' lo, Da."


Vina dan Risda langsung tertawa mendengar ucapan dari Anna. Risda memang suka melihat Anna marah seperti itu, akan tetapi meski begitu hubungan pertemanan mereka sangat erat.


Ketiganya pun langsung melakukan gerakan jurus untuk menghafalkannya, melihat ketiganya yang sangat kompak itu langsung menarik perhatian yang lainnya. Mereka semua langsung berbaris di belakang ketiganya untuk mengikuti gerakan mereka, seketika itu juga Risda langsung memimpin mereka semua.


"Busyet gue ngak nyangka kalo serame itu," Guman Risda sambil menoleh ke belakangnya.


Mereka diperintahkan untuk menghafalkannya sendiri sendiri, tapi mereka justru menghafalkannya secara bersama sama dan dipimpin oleh Risda. Risda sendiri juga tidak terlalu hafal, akan tetapi dirinya berusaha keras untuk mengingat materi yang telah diberikan oleh Afrenzo sebelumnya.


"Sepertinya kamu sudah mulai mengingat materinya," Ucap Carline kepada Risda.


"Lumayan mengingat juga sih, Kak. soalnya materi ini sudah lama diajarkan oleh pelatih, sehingga aku sedikit lupa soal ini. kalau diulang-ulang terus aku jadi ingat," Ucap Risda.


"Bagus lanjutkan, kalau ada yang bingung langsung tanyakan."


"Baik Kak."


Risda pun melanjutkan gerakan tersebut hingga selesai, sekarang giliran mereka satu persatu untuk menghafalkannya. Karena Risda sudah hafal, sehingga Carline menyuruhnya untuk membenarkan gerakan dari teman temannya satu persatu.


Latihan sore itu benar benar menguras tenaga Risda, biasanya dirinya dipimpin akan tetapi kali ini dirinya yang memimpin. Ternyata menjadi pemimpin itu tidak mudah, apalagi ini memimpin sebuah gerakan yang harus disamakan dengan kuda kuda.


Risda pun termasuk siswa dasar, karena dirinya baru beberapa bulan ini ikut latihan. Bahkan yang dipimpinnya itu ada yang beberapa bulan yang lalu ikut lebih dulu daripada Risda, akan tetapi di sini Risda lah yang hafal lebih dulu karena dia dilatih secara private oleh Afrenzo.


Materi tersebut termasuk materi dasar dalam sebuah latihan beladiri, sehingga mereka semua wajib hafal sebelum ujian kenaikan sabuk dimulai. Ujian kenaikan sabuk tersebut akan diadakan 6 bulan dari sekarang, sehingga dalam waktu seperti itu mereka harus menghafalkan banyak materi untuk ujian.


Mereka harus menghafalkan begitu banyak materi untuk bisa naik tingkat, sebelum hal itu terjadi Risda harus hafal terlebih dulu semua materi. Afrenzo bukan hanya materi fisik yang diajarkan, akan tetapi juga materi seni. Belajar secara private, membuat Risda jauh lebih paham dengan apa yang disampaikan oleh Afrenzo.


"Untuk pembelajaran kali ini selesai, baris masing masing ayo segera penutupan,"


Mendengar itu langsung membuat mereka nampak begitu bersemangat, bahkan dari awal latihan sampai pulang Afrenzo tidak datang ke tempat latihan itu. Entah apa yang terjadi kepadanya, hal yang penting apakah itu yang membuatnya tidak hadir dalam latihan itu, Risda tidak mengetahui soal itu.


Risda dan yang lainnya, segera bergegas menuju ke sepeda mereka masing masing. mereka pun harus membubarkan diri untuk menuju rumah mereka masing masing, biasanya Risda akan pulang paling lambat daripada yang lainnya akan tetapi kali ini dirinya pulang lebih cepat daripada yang lainnya.


Karena tidak adanya Afrenzo dalam latihan, membuatnya ingin cepat cepat segera pulang. Seandainya jika ada Afrenzo di sana, dirinya akan merasa lebih betah di dalam aula bela diri daripada rumahnya.


Bagi Risda aula bela diri sudah menjadi rumah kedua baginya, dia pulang ke rumahnya sendiri hanya untuk beristirahat setelah itu kembali bersekolah lagi. Waktunya dia habiskan dalam sekolah dan aula bela diri, sehingga ketika pulang ke rumah dirinya hanya mengistirahatkan tubuhnya saja tanpa mengobrol dengan orang rumah.


Risda lebih sibuk dalam dunianya sendiri, apapun itu yang membuatnya bahagia dia tidak peduli dengan yang lainnya. Dari pagi sampai menjelang magrib dirinya berada di sekolah, setelahnya dia akan pulang ke rumah dan langsung tidur dengan lelapnya.


Di rumah dirinya hanya menumpang untuk tidur, sementara waktunya habis untuk kegiatan di luar rumah. Risda sama sekali tidak menyesali bahwa waktunya akan habis untuk kegiatan di luar rumah, bahkan sangat jarang menemui Risda di rumahnya karena dia tidak pernah di rumah.

__ADS_1


Meskipun hari libur telah tiba, Risda pun memilih latihan secara private dengan Afrenzo. Sehingga para tetangganya tidak pernah melihat Risda di rumah, begitupun dengan Risda yang tidak terlalu kenal dengan tetangganya sendiri.


Meskipun rumah mereka bersebelahan sekalipun, Risda tidak mengenalinya dengan jelas. Karena jarangnya dia keluar rumah dan mengobrol dengan para tetangga, hal itulah yang membuat Risda tidak mengenal tetangganya sendiri.


"Eh itu bukannya tabung gas ya?" Guman Risda di atas motornya ketika melihat Bagas tengah berdiri di tepi jalan.


Bagas sepertinya tengah menyeberang jalan, akan tetapi menunggu jalan itu terlihat lebih dahulu. Rumah Bagas memang tidak terlalu jauh dari rumah Afrenzo, dan jalanan rumah tersebut sejalan dengan rumah Risda, sehingga ketika Riska pulang ke rumah dia akan melewati sebuah gang di mana rumah Afrenzo berada.


"Woi tabung gas!" Teriak Risda sambil menghentikan motornya.


"Ngapain lo!" Sentak Bagas ketika melihat adanya Risda.


"Idih Bang, galak amat sih lo. Seharusnya lo bersyukur disapa oleh cewek cantik seperti gue, daripada kagak ada yang nyapa."


"Dih cantik dari apa'an, melihat lo aja gue ngerasa jijik,"


"Gue ngak nanya," Jawab Risda dengan sombongnya.


Risda pun langsung kembali menyalakan motornya untuk melaju pergi dari sana, meladeni Bagas seakan akan tidak ada habisnya, dan dirinya sangat malas dengan lelaki itu. Sebelum pergi dari tempat itu, Risda tak lupa juga menarik pakaian Bagas hingga sobek.


Karena pakaian Bagas seperti sebuah kemeja yang terdapat beberapa kancing, hal itu membuat Risda mampu menyobeknya. Beberapa kancing milik Bagas pun sampai terlepas, dan Risda langsung kabur begitu saja.


"Woi sialan! Awas saja lo!" Teriak Bagas karena marahnya.


Cewek itu benar benar menguji kesabarannya, ingin sekali dirinya memukul cewek itu. Risda sama sekali tidak takut dengan siapapun, bahkan dirinya suka sekali mencari gara gara dengan orang lain.


Bukan karena dirinya ingin mencari musuh, tadi karena kurangnya kasih sayang yang diberikan oleh orang tuanya kepadanya. Hal itulah yang membuat Risda menjadi seperti itu, kurangnya kasih sayang dari ayahnya membuat Risda seakan akan begitu liar.


Dari kejauhan tempat itu, terlihat sosok Afrenzo yang sedang mengobrol dengan beberapa orang penting. Mengapa demikian? Karena Afrenzo terlihat sangat serius, begitupun dengan orang-orang yang sedang mengobrol bersamanya itu terlihat sangat penting dengan pakaiannya yang sangat rapi dan juga sopan.


"Gadis ini benar benar suka bikin masalah," Gumannya pelan sambil menyaksikan apa yang dilakukan oleh Risda.


"Kamu mengenalinya?" Tanya salah satu dari orang orang itu.


"Seperti yang dibicarakan sebelumnya, bahwa cabang cabang yang lainnya sudah setuju dengan acara itu. Kita tinggal mempersiapkan tempatnya saja, mungkin ada usulan kita taruh di mana acaranya itu?"


"Bagaimana kalau di SMP Santana? Di sana kan dekat dengan sebuah lapangan dan halamannya cukup luas, mungkin ada usulan dari pendekar lainnya gimana?"


"Saya kurang setuju kalau soal itu, bukan karena masalah tempatnya tapi di sini cabang yang aku pimpin berada jauh dari sana. Tempat itu juga melewati jalan raya yang dilalui banyak kendaraan besar," Afrenzo mulai berargumen.


"Lalu kita akan mengadakan acara di mana, mungkin ada usulan lain?"


"Bagaimana kalau di SMP Bitoro? Tempatnya lebih dekat dengan pedesaan, dan untuk menuju ke sana pun tidak membutuhkan waktu lama dari setiap cabang. Tempat itu berada di tengah tengah area daerah ini, dan juga tidak ada jalan raya yang besar yang bisa dilalui mobil truk. Kita juga bisa mengawasi para peserta lainnya disana, itu hanya pendapat saya, kalau ada yang kurang setuju boleh mengusulkan tempatnya," Ucap Afrenzo sambil menjelaskan situasi ditempat itu.


Mereka pun menganggukkan kepala setuju dengan perkataan dari Afrenzo, dengan penjelasan yang terperinci mereka pun paham dengan situasi yang ada di sana. Afrenzo telah memikirkan hal ini dengan baik baik, sehingga dirinya tahu kekurangan dan kelebihan dari tempat itu.


Afrenzo tidak hanya pintar dalam memilih sebuah tempat, akan tetapi sebelum bertindak dirinya sudah memikirkan sebab dan akibatnya. Hal itulah yang membuat Afrenzo terpilih menjadi pelatih termuda, dari beberapa orang yang ada di sana hanya Afrenzo saja yang masih sekolah.


Sebagian dari mereka sudah berumah tangga, dan sebagian yang lainnya masih bujang dan lebih fokus dalam bekerja. Afrenzo sudah lama berada di dalam dunia bela diri, sehingga dirinya sudah akrab dengan orang orang tersebut.


*****


Risda kini berada di dalam kamarnya, dirinya pun kelihatannya sedang kebingungan saat ini. Dia seakan akan mencari sesuatu yang hilang, entah apa yang dirinya cari saat ini hingga dirinya terlihat begitu sangat serius.


"Kok ngak ada sih, perasaan kemaren ada disini deh," Ucapnya.


Sepulang dari latihan bela diri, Risda langsung berkutik untuk mencari barang tersebut. entah barang apa yang hilang saat ini sehingga dirinya begitu panik. Beberapa kali dirinya membuka laci mejanya, akan tetapi barang yang dicarinya itu tak kunjung ditemukan juga.


"Kak, siapa yang masuk kekamarku tadi?" Tanya Risda dengan wajah kebingungan.


"Ngak ada, emang kenapa?" Tanya Indah balik.


"Uangku 50 ribu hilang, uang itu mau aku pakai buat beli buku,"

__ADS_1


"Ngak tau," Jawab Indah abai.


"Kak! Siapa yang masuk kekamarku sebelumnya?"


"Kamu nuduh aku gitu ha? Ngapain aku ngambil uangmu itu, lagian suamiku juga bisa memberikannya. Ngak terima aku jika dituduh seperti ini!" Sentak Indah.


"Aku ngak nuduh, Kak. Aku hanya nanya siapa yang masuk kekamarku sebelumnya, itu saja kok,"


"Ngak tau! Cari yang bener! Tau taunya kau sendiri yang lupa,"


Brakkk...


Indah langsung menutup pintu kamarnya begitu saja, melihat itu langsung membuat Risda mengelus dadanya sendiri. Ia tidak mau berperasangka buruk kepada siapapun, akan tetapi itu uang yang akan dia gunakan untuk membeli buku.


"Siapa sih yang ngambil uang gue! Nggak tahu apa uang itu sangat berarti buat gue untuk beli buku," Ucap Risda dengan kesalnya.


Risda lalu bergegas Kembali menuju ke kamarnya, percuma saja dirinya berada di sana sementara Indah menguncinya dari dalam. Dirinya merasa sangat kebingungan, entah siapa yang telah mengambil uangnya itu.


Uang itu ingin sekali Risda gunakan untuk membeli buku, dan buku itu wajib dibeli di sekolahan. Dia kebingungan harus mencari uangnya itu ke mana, sementara uang itu dirinya minta kepada Ibunya. Tidak mungkin dirinya meminta dua kali kepada Ibunya, dan beralasan bahwa uang tersebut hilang.


"Terus gue harus gimana buat beli buku itu, gue sama sekali nggak punya uang saat ini. Masa sih gue harus ngambil uang yang akan digunakan buat bayar hutang Renzo sih, kalau seperti itu kapan terkumpulnya?"


Risda pun kebingungan harus berbuat apa saat ini, kalau dirinya mengambil uang yang digunakan untuk bayar hutang maka hutangnya tidak akan lunas lunas. uang miliknya itu sudah terkumpul tiga ratus, dan masih membutuhkan banyak untuk bisa membayar hutangnya pada Afrenzo.


Kalau dirinya ambil uang tersebut maka dia harus mengumpulkannya lagi sejak awal, entah sampai kapan hutangnya itu akan lunas. Risda merasa kebingungan dengan hal itu, dirinya juga tidak tahu siapa yang mengambil uangnya tersebut.


"Gue chat Renzo aja kali ya? Siapa tau dia bisa ngertiin posisi gue saat ini," Gumannya lagi.


Risda langsung mengambil ponselnya itu untuk mengirim pesan kepada Afrenzo, dirinya tidak punya pilihan lain selain menghubungi lelaki itu. Mungkin saja lelaki itu memiliki solusi nantinya, dan hal itu akan mempermudahkan urusannya


...----------------...


...Afrenzo...


^^^Renzo, maafin ya gue belum bisa bayar hutang gue, uang gue ada yang ngambil. Jadi uang yang akan gue bayarin hutang ke lo gue gunain dulu buat beli buku ya, tapi gue janji segera mungkin akan gue lunasi kok^^^


Ngak papa, hilang gimana?


^^^Gue juga ngak tau, kalo gue tau uangnya kagak bakalan hilang^^^


Makdud gue hilangnya dimana?"


^^^Dikamar gue^^^


Ada yang ngambil?


^^^Kayaknya sih, tapi ngak tau^^^


Yaudah, pake aja dulu


^^^Thanks ya^^^


...----------------...


Mendengar itu membuat Risda merasa lega, akan tetapi dirinya tidak merasa tenang karena dia belum bisa untuk membayar hutangnya. Dia tidak tahu siapa yang sebenarnya mengambil uangnya itu, tega sekali maling itu mengambil uang miliknya itu.


Apalagi kamarnya yang hanya tertutup dengan kelambu itu, membuat siapapun bisa masuk kedalamnya dengan bebas. Kalau seperti ini dirinya merasa sangat jengkel, bahkan ketika dirinya minta untuk dipasangkan pintu pun Indah mencegahnya.


Alasannya hanyalah, takut Risda ngambek dan mengunci pintu tanpa mau membukakannya. Alasan itu sama sekali tidak masuk akal, bukankah alasan seperti itu sama sekali tidak bisa dijelaskan.


Risda seakan akan tengah frustasi karena uangnya hilang, dirinya bahkan tidak bisa berpikir dengan jelasnya karena telah memikirkan uang tersebut. Risda memang masih memiliki uang cadangan lainnya, tapi uang itu akan dia gunakan untuk membayar hutangnya kepada Afrenzo.


Dirinya begitu kesal saat ini, meskipun Afrenzo terlihat santai saja. Afrenzo tidak terlalu memikirkan soal uangnya itu, Risda sendiri yang merasa tidak enak karenanya.

__ADS_1


__ADS_2