
Risda pun menyandarkan kepalanya diatas meja bangkunya itu dengan malas, dirinya merasa bosan saat ini karena tidak ada yang bisa diganggunya. Semua orang kini tengah fokus kepada buku mereka masing masing, dan sama sekali tidak ada pembicaraan diantara mereka.
Ia pun memainkan pulpennya untuk menuliskan sesuatu bahkan menggambar sesuatu dibuku, bukan buku miliknya akan tetapi buku milik temannya itu. Ia tidak mau mengotori bukunya sendiri, dan justru dirinya menyoret nyoret buku milik Mira.
"Eh Da! Lo apa'in buku gue anjiiing!" Umpat Mira ketika menyadari bahwa bukunya tengah dicoret coret oleh Risda.
"Gue gabut, jadi lo diem aja," Jawab Risda seakan akan tidak memiliki salah dengan Mira.
"Sialan lo, Da. Coret noh buku lo sendiri, ngapain lo nyoret buku gue!" Mira pun nampak begitu geram kepada Risda.
Mira pun langsung merampas bukunya dari hadapan Risda, lalu dirinya pun memasukkan buku itu kedalam tasnya. Risda hanya mendengus kesal karenanya itu, ia pun melempar pulpennya kedalam tasnya karena jengkelnya dengan Mira.
"Gabut lo parah, Da. Nyusahin orang aja," Seru Septia ketika melihat apa yang dilakukan oleh Risda.
"Bukan gue namanya kalo kagak gabut begini,"
Risda pun mendengus dengan malasnya, karena malasnya dirinya pun bangkit dari duduknya untuk keluar kelasnya. Karena dikelasnya kini tengah ada jamkos sehingga dirinya bisa keluar kelas dengan bebasnya.
"Lo mau kemana, Da?" Tanya Mira.
"Ke masjid, lo mau ikut?" Tanya Risda balik.
"Ke masjid? Tumen lo kesana? Ngapain jam segini kesana?"
"Sholat dhuha lah, emang mau ngapain lagi?"
"Kesambet apa'an lo, Da? Tumben banget," Tanya Rania.
"Kalian kok malah gitu sih? Bukannya Alhamdulillah temannya tobat eh malah tanya kesambet apa'an. Ngak ada akhlak emang kalian," Gerutu Risda.
Rania pun bangkit dari duduknya, ia pun menghampiri Risda dan meletakkan punggung tangannya dikening Risda untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu. Suhu tubuh Risda memang terasa sedikit panas saat ini, Rania pun mengibas ngibaskan tangannya.
"Lo memang sedang demam, Da. Pantesan aneh," Ucap Rania.
"Matamu! Orang gue sehat sehat aja," Umpat Risda.
"Lo kayak bukan Risda yang gue kenal sumpah, lo beda banget, Da."
"Beda gimana maksud lo?"
"Ya beda aja,"
"Ngak jadi ke masjid ah, lo semua rempong!" Risda pun langsung kembali duduk dibangkunya dengan malasnya.
Melihat Risda yang seperti itu, langsung membuat semuanya pun tertawa dengan kerasnya. Mendengar tawa mereka langsung membuat kedua pipi Risda pun memerah, dan mulutnya pun langsung cemberut.
*****
"Da, gue suka sama lo," Ucap Satria tiba tiba ketika Risda tengah berkutik dengan bukunya, kini mereka tengah berada diaula beladiri.
"Ha?" Risda pun langsung mendongakkan kepalanya ketika mendengar ucapan Satria.
Sepulang sekolah hari ini, seperti biasa Risda akan bergegas masuk kedalam aula beladiri untuk menunggu jam latihan tiba, karena begitu banyak pr sehingga dirinya mengerjakannya lebih awal didalam aula tersebut.
Akan tetapi, kali ini dirinya tidak menemukan keberadaan dari Afrenzo disana, entah kemana perginya lelaki itu. Risda tidak mempercayai apa yang dirinya dengar saat ini, ia tidak terlalu jelas mendengar ucapan dari Satria.
"Gue serius, gue suka sama lo," Ucap Satria lagi.
"Mending lo lupakan perasaan lo ke gue itu, Sat. Daripada lo sakit hati nantinya sama gue, gue ngak bisa buka hati untuk orang lain," Ucap Risda.
"Apa lo sudah punya seseorang yang lo suka, Da? Sampai sampai lo ngak bisa buka hati untuk gue?"
"Gue masih trauma dengan masalah keluarga gue, bukan berarti gue sudah suka sama orang lain. Gue masih belum pulih dari luka gue, sebaiknya lo lupakan itu atau lo sendiri yang bakalan terluka nantinya."
"Da, gue akan bantu lo untuk keluar dari rasa trauma yang lo alami itu, tapi beri gue waktu untuk itu, Da. Gue janji akan menghilangkan trauma yang lo rasakan,"
"Thanks, tapi gue ngak butuh orang lain untuk itu. Sorry gue ngak bisa balas perasaan lo,"
__ADS_1
"Da, beri gue kesempatan untuk itu. Gue ngak mau lo lebih deket dengan Renzo, dia bukan orang baik,"
"Baik buruknya seseorang itu bukan urusan lo, Sat. Lo ada masalah apa'an sama dia?"
Satria pun terdiam mendengarkan pertanyaan dari Risda, dirinya pun merasakan langkah kaki seseorang yang akan masuk kedalam ruangan tersebut dan dirinya pun langsung berlutut dihadapan Risda.
"Gue cinta sama lo, Da. Lo mau kan jadi pacar gue?"
Risda pun terkejut disaat apa yang dilakukan oleh Satria saat ini, ia pun lebih terkejut lagi ketika melihat kedatangan Afrenzo didalam aula beladiri itu. Benar benar gila! Bagaimana Satria bisa melakukan hal tersebut tanpa rasa malunya.
"Didalam perguruan dilarang pacaran sesama anggota! Mending kalian keluar dari perguruan ini, daripada harus pacaran didalam perguruan," Ucap Afrenzo dengan dinginnya ketika melihat Satria mengungkapkan perasaannya kepada Risda.
"Renzo, ini tidak seperti apa yang lo lihat. Gue ngak pacaran kok, tolong jangan keluarkan gue dari perguruan ini," Ucap Risda dengan paniknya.
Risda pun lalu bergegas untuk menghampiri Afrenzo, ia tidak mau Afrenzo salah paham dengan kejadian ini dan berakhir dengan dirinya yang dikeluarkan dari perguruan tersebut. Kedua mata Risda pun berkaca kaca ketika mendengar ancaman dari Afrenzo.
"Renzo, jangan keluarkan gue dari sini. Gue janji ngak akan pacaran," Risda pun terus memohon kepada Afrenzo untuk tidak mengeluarkannya dari dalam perguruan beladiri tersebut.
"Itu berlaku untuk sesama anggota kan? Oke, gue keluar dari perguruan ini! Dan lo ngak ada hak untuk ngelarang gue pacaran dengan Risda," Ucap Satria dengan tegasnya.
"Silahkan, jangan pernah kembali." Afrenzo dengan santainya menanggapi ucapan dari Satria.
Satria memutuskan untuk keluar dari dalam perguruan itu demi menjadi pacar dari Risda, ia harus mengorbankan perjuangannya selama ini karena dirinya tidak ingin Risda menjadi milik Afrenzo nantinya.
Sejak masuk sekolah itu, Satria sudah menaruh perasaan kepada Risda. Melihat Risda lebih dekat dengan Afrenzo membuatnya merasa tidak nyaman, dirinya pun berambisi untuk mendapatkan Risda agar menjadi pacarnya.
Satria pun melangkah untuk mendatangi Risda, dan dirinya pun langsung memegangi tangan Risda dan hendak menariknya untuk keluar dari dalam aula beladiri itu.
"Ikut gue!" Ucap Satria dengan tegasnya kepada Risda.
"Gue ngak mau! Lepasin tangan gue, Sat!" Sentak Risda sambil mengibaskan tangannya untuk melepaskan pegangan tangan Satria dari pergelangan tangannya itu.
"Ikut gue sekarang, Da!"
"Lo ngak berhak maksa gue, Sat! Lepastin tangan gue!"
"Ngak! Lo harus ikut gue,"
Risda terus memberontak untuk meminta dilepaskan oleh Satria. Melihat itu langsung membuat Afrenzo mencengkeram erat tangan Satria yang memegangi erat tangan Risda itu, tatapan dingin pun terpancarkan diwajah Afrenzo.
"LEPASKAN DIA!" Bentak Afrenzo kepada Satria.
"Ngak akan!" Sentak Satria.
"Akh... Tangan gue sakit, Sat! Lepaskan!" Risda pun memekik kesakitan akibat cengkeraman erat dari Satria dipergelangan tangannya itu.
Bhukk...
Mendengar pekikan dari Risda, hal itu langsung membuat tangan Afrenzo terkepalkan dengan kuatnya, dan dirinya pun langsung melontarkan sebuah tinju yang cukup keras di pipi Satria hingga membuat cowok itu terpental beberapa langkah.
Afrenzo pun langsung menarik tangan Risda untuk berlindung dibelakang tubuhnya saat ini, dan Risda pun ketakutan ketika melihat sosok Afrenzo yang tengah marah seperti saat ini.
Terlihat secercah darah yang keluar dari mulut Satria akibat bibirnya yang tengah sobek itu karena pukulan yang diberikan oleh Afrenzo. Tatapan Afrenzo semakin tidak bersahabat saat ini, Satria lalu bangkit dari jatuhnya dan langsung melepaskan sakral kebanggaan perguruan tersebut, dan dirinya kini hanya memakai kaos pendek dan polos.
Ia pun membuang sakral tersebut ke sembarang arah, Risda merasakan bahwa akan terjadi pertarungan didalam aula beladiri itu. Ia sangat takut dalam posisi seperti ini, apalagi melihat kemarahan yang tercipta diwajah Afrenzo saat ini.
"Lo pikir gue takut sama lo, ha? Cih... Selama ini gue ngak mau ngelawan lo, bukan berarti gue takut sama lo, Renzo. Tapi gue masih ngehormatin lo sebagai pelatih, tidak dengan kali ini," Ucap Satria yang menggebu gebu.
"Tunjukkan kemampuan lo diharapan gue! Apa dengan seperti ini cara lo mbalas pengabdian pelatih lo sendiri?" Tanya Afrenzo dengan nada dinginnya yang bahkan jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
"Brengseekkkk lo!" Seru Satria.
"Mundur Da!" Perintah Afrenzo kepada Risda.
"Gue takut, Renzo." Risda pun memegangi sakral yang digunakan oleh Afrenzo dengan eratnya.
Belum sempat Afrenzo membalas ucapan dari Risda, tiba tiba Satria pun menyerang kearahnya sehingga dengan refleknya dirinya pun menghindar dari serangan tersebut tanpa meminta Risda untuk melepaskan pegangan tangannya itu.
__ADS_1
Afrenzo pun langsung membalikkan badannya seakan akan dirinya tengah berhadapan dengan Risda, akan tetapi satu kakinya pun melakukan tendangan kebelakang hingga membuat Satria langsung terkena oleh tendangan tersebut.
Bhukkk...
Karena kerasnya tendangan tersebut, hal itu langsung membuat Satria terkapar diatas lantai sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri saat ini. Gerakan yang dilakukan oleh Afrenzo begitu sangat cepat, sehingga Risda tidak jelas ketika melihatnya itu.
Afrenzo pun memegangi kedua pundak Risda dengan kedua tangannya, tatapan keduanya pun saling bertemu saat ini. Satria pun mencoba untuk menyerang kearah Afrenzo lagi, akan tetapi dengan lincahnya dirinya menghindari serangan tersebut dan langsung melontarkan serangan pukulan tepat diwajah Satria.
Karena tidak stabilnya dalam berdiri, hal itu langsung membuat Satria oleng dan menabrak sebuah tembok yang ada didekatnya dengan kerasnya. Wajah Satria pun kelihatan bonyok ketika berhadapan dengan Afrenzo, akan tetapi Afrenzo masih terlihat baik baik saja saat ini.
"Duduklah!" Perintah Afrenzo kepada Risda.
Risda pun dengan ragu langsung berjalan menuju kesebuah kursi kayu yang ada didalam ruangan itu, sementara Afrenzo masih berdiri ditempatnya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya itu.
"Apa ini balasan lo kepada pelatih lo sendiri?" Tanya Afrenzo kepada Satria, "Gue sangat kecewa sama lo, Sat. Bukan setahun dua tahun lo berada dibawah bimbingan gue selama ini, tapi empat tahun, Sat. Gue sangat percaya sama lo selama ini, dan menjadikan lo tangan kanan gue disini, tapi apa yang lo lakukan? Lo bener bener mengecewakan."
"Gue udah muak sama lo, Renzo. Gue akan ngelawan lo!"
"Teknik yang lo pakai itu semua dari gue, dan lo ngak akan bisa ngelawan gue dengan teknik teknik yang gue ajarkan itu."
"Lo ngerasa cukup hebat disini ha? Ingat, diatas langit masih ada langit, Renzo. Gue pasti bisa mengalahkan lo dengan mudahnya,"
"Kalo begitu, keluarkan semua teknik yang lo pelajari didalam perguruan ini," Tantang Afrenzo.
Satria pun langsung memasang kuda kuda dihadapan Afrenzo, sementara Afrenzo hanya berdiri dengan tegapnya. Satria menggunakan teknik geseran kaki depan, dan diikuti dengan gerakan serangan pukulan dan tendangan.
Dengan mudahnya Afrenzo menangkis serangan pukulan itu dan menangkap serangan tendangan yang diberikan oleh Satria, sepersekian detik kemudian, Afrenzo pun melakukan serangan bantingan dengan kaki kanannya yang menjeregal kaki milik Satria.
Afrenzo pun mengangkat tinggi kaki Satria yang sebelumnya dirinya tangkap itu untuk mempermudah dirinya dalam proses membanting musuhnya itu. Melihat teknik bantingan yang begitu cepat dilakukan oleh Afrenzo itu pun langsung membuat Risda tercengang tanpa bisa berkedip.
"Keluarkan semua kemampuan yang lo bisa!" Perintah dari Afrenzo dan langsung membuat Satria berdiri kembali dan memasang kuda kuda.
Setelah membanting Satria, Afrenzo pun kembali berdiri dengan tegapnya tanpa melakukan kuda kuda seperti yang dilakukan oleh Satria saat ini. Satria pun lalu melakukan langkah memutar dan berakhir melontarkan sebuah tendangan kepada Afrenzo, akan tetapi Afrenzo langsung menghindarinya dan melontarkan tendangan yang sama diperut Satria.
"Ada apa ini pelatih!" Seru Fandi yang baru tiba ditempat itu.
Melihat kedatangan Fandi dan beberapa anggota beladiri lainnya, hal itu langsung membuat Satria bangkit dan bergegas keluar dari dalam ruangan itu dengan kemarahan karena tidak bisa mengalahkan sosok Afrenzo itu.
"Sat, lo mau kemana?" Tanya Fandi.
Ketika Fandi hendak mengejar Satria, tangan Afrenzo lalu mencekal lengannya untuk menghentikan apa yang hendak dilakukan oleh Fandi. Merasakan itu langsung membuat Fandi mewurungkan niatnya untuk mengejar Satria.
"Biarkan saja dia, jangan biarkan penghianat itu masuk lagi kedalam aula beladiri ini," Ucap Afrenzo dan langsung membuat Fandi kebingungan.
Kedudukan Fandi dan Satria hanya berbeda 2 tingkat saja, Fandi dipercayakan untuk melatih para seniornya sementara Satria dipercayakan untuk melatih juniornya. Kedudukan Fandi lebih tinggi daripada Satria, sehingga hal itu langsung menciptakan kebingungan diwajahnya ketika mendengar ucapan dari Afrenzo.
"Penghianat seperti apa pelatih?" Tanya Fandi.
"Dia bukan lagi bagian dari perguruan ini,"
Mendengar itu hanya membuat Fandi berdiam diri, Afrenzo pun lalu menatap kearah Risda. Risda yang mengerti arti dari tatapan tersebut pun langsung bangkit dari duduknya, Risda pun mengikuti langkah Afrenzo yang keluar dari aula beladiri untuk memulai latihannya.
"Renzo, maafin gue. Karena gue, Satria keluar dari perguruan ini," Ucap Risda pelan dengan penuh rasa bersalah.
"Bukan salah lo," Ucap Afrenzo singkat.
"Tapi ini tetap saja salah gue, Renzo. Dia ngak akan seperti ini kalo dia ngak punya rasa sama gue,"
"Apa lo suka sama dia?"
"Gue ngak ada rasa sama dia,"
"Gue tau watak Satria sejak dulu, dan gue sudah tau bahwa hal ini pasti akan terjadi. Jadi ini bukan salah lo,"
"Tapi Renzo...."
"Sudah jangan dibahas, latihan akan segera dimulai,"
__ADS_1
Risda pun hanya menganggukkan pelan mendengar ucapan dari Afrenzo, dirinya pun langsung masuk kedalam barisan yang dipimpin pemanasan oleh Afrenzo sendiri. Mereka pun langsung melakukan latihan disore hari ini, seperti biasa setelah pemanasan mereka akan bergegas untuk lari memutari lapangan.
Risda dan yang lainnya terus mengikuti perintah dari Afrenzo, tanpa mampu untuk membantahnya sedikitpun itu. Mereka tidak berani untuk mengeluh, karena dengan mengeluh, Afrenzo akan menambah latihan mereka untuk lebih berat daripada sebelumnya.