Pelatihku

Pelatihku
Episode 100


__ADS_3

Riska pun diberi sebuah alat pel oleh kepala sekolah itu, dirinya langsung diminta untuk masuk ke dalam kamar mandi perempuan. dengan malasnya Risda lalu menerima alat pel tersebut, di rumahnya sendiri saja dirinya tidak pernah memegang alat itu akan tetapi di sekolahan ini justru dirinya memegang.


"Pokoknya kamar mandi ini harus bersih kinclong," Ucap kepala sekolah itu kepada Risda.


"Pak ini gimana cara makainya? Aku tidak pernah memakai alat alat seperti ini sebelumnya," tanya Risda yang kebingungan dengan bagaimana cara menggunakan sebuah alat pel itu.


"Ya tinggal kamu gosok gosok saja lah, masa gitu aja nggak bisa. Kamu kan cewek seharusnya sudah bisa memakai alat alat seperti ini,"


"Lah kan di rumah saya tidak pernah pakai alat seperti ini Pak, saya juga belum pernah pegang hal gini gini seperti ini. Terus ini diapain Pak saya kan tanya?"


Kepala sekolah itu pun menggeleng gelengkan kepala mendengar jawaban dari Risda. Bagaimana mungkin seorang cewek tidak bisa memakai alat pel? Bahkan dirinya saja yang cowok bisa memakai alat itu.


"Dasar cewek kok nggak tahu pakai inian, kamu nanti gimana kalau sudah berumah tangga?"


"Ya tinggal pakai pembantu rumah tangga lah, kan nanti saya jadi orang kaya, ucapan adalah doa maka berucaplah dengan baik."


"Kamu ini bener bener aneh," kuman kepala sekolah itu karena tidak bisa berkata kata lagi untuk menjauhi ucapan Risda.


"Contohin dong Pak gimana sih, bukan yang ngasih tahu caranya malah bilang saya aneh. Saya kan nggak pernah pegang ginian, seharusnya Bapak pengertian dong sama murid sendiri."


"Ya udah mana sini alat pelnya," Kepala sekolah itu langsung merampas sebuah alat pel dari tangan Risda.


dengan senang hati Risda pun memberikannya kepada kepala sekolah itu, dan langsung diterima oleh Kepala sekolah itu meskipun dengan wajah yang cemberut.


"Gini loh, caranya gini, kamu lihat perhatikan dengan baik baik,"


"Baik Bapak kepala sekolah yang terhormat,"


kepala sekolah tersebut langsung mengayunkan alat bel tersebut di lantai yang dirinya pijaki saat ini. Risda pun terlihat berpura pura merasa kagum, dirinya pun berteriak kegirangan melihat kepala sekolah itu mulai membersihkan lantai tersebut.


"Wih wih... Bapak keren sekali, lagi pak lagi pak yang sebelah sana belum bersih, tolong sekalian dong,"


"Enak saja, cepat bersihkan sekarang juga!" kepala sekolah itu langsung menyodorkan alat pel tersebut kepada Risda, dengan segera gadis itu langsung menerimanya dengan wajah yang cemberut.


Risda pun mengayunkan alat pel tersebut di lantai yang sedang dirinya pijaki, Risda mulai membersihkan lantai tersebut meskipun dengan wajah yang tidak bersahabat. Kepala sekolah itu berdiri dengan tegak sambil melipat tangannya di depan dadanya, dirinya terus mengawasi Risda tanpa membiarkan gadis itu berhenti melakukannya.


Risda terus membersihkannya sampai dirinya merasa kelelahan, kepala sekolah itu pun langsung meninggalkan kamar mandi tersebut untuk kembali ke dalam ruangannya. Melihat hal itu langsung membuat Risda merasa lega, dirinya merasa jengkel karena disuruh untuk membersihkan kamar mandi tersebut seorang diri.


"Huftt... Akhirnya pergi juga tuh orang," Guman Risda sambil menghela nafas lega setelahnya.


"He,em..." Tiba-tiba terdengar seseorang yang berdehem di dekat Risda.


Lisda begitu sangat terkejut ketika melihat orang itu, sosok Afrenzo sudah berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan melipat di depan dadanya. Cowok itu benar benar sangat membuat terkejut, bahkan dirinya terlihat lebih sangat menyeramkan daripada sosok hantu sekalipun itu.


Risda lalu menjatuhkan alat pel tersebut karena saking terkejutnya atas kedatangan Afrenzo, benar benar seperti hantu yang muncul tiba tiba dan hilang pun secara tiba tiba.


"lo apa apaan sih, bisa nggak sih jangan bikin orang terkejut seperti ini," Omel Risda kepada Afrenzo yang ada di sana saat ini.


Cowok itu hanya berdiam diri di tempatnya, dirinya lalu mengambil alat pel tersebut dan menyerahkannya kepada Risda. Dengan kesalnya Risda lalu menerimanya, dirinya pun kembali melanjutkan tugasnya untuk membersihkan kamar mandi itu.


"Bersihkan yang benar," Ucap Afrenzo dengan nada dingin tanpa ekspresi.

__ADS_1


"iya iya, Renzo. Bisa diam gak sih lo itu? Lama lama gue usir juga lo dari sini," Risda bertambah kesal ketika mendengar suaranya itu.


Afrenzo hanya melihatnya dengan ekspresi datar, di saat Risda terlihat kesal saat itulah wajahnya terlihat sangat imut. Bahkan lelaki itu sepertinya suka ketika melihat Risda marah, hal itulah yang membuat dirinya terus membuat Risda seperti terlihat kesal.


"Oh." jawab Afrenzo dengan singkat, tanpa mempedulikan perasaan Risda saat ini.


Tiba tiba terdengar suara seorang gadis yang berteriak di salah satu ruang kecil yang ada di dalam kamar mandi itu, mendengar itu langsung membuat keduanya bergegas untuk mendatangi gadis tersebut.


"Kenapa lo teriak begini, emang ada apa'an?" Tanya Risda keheranan karena gadis itu sama sekali tidak kenapa napa.


"Ada kecoa besar banget, gue takut banget," Ucapnya dengan nada sangat ketakutan.


"Dimana?" Tanya Risda lagi sambil selingngukan ke sana kemari untuk mencari hewan kecil itu.


gadis itu langsung menuju ke arah sesuatu, dirinya menunjuk ke sudut ruangan yang ada di sana dan terdapat sebuah sikat WC yang berada di sana. Risda pun merasa kehilangan dan dirinya langsung bergegas mendekati ke arah yang ditunjuk itu, ketika dirinya mengambil sikat WC itu dirinya sangat terkejut ketika melihat kecoa yang super besar.


"Whatttt!! Hanya sebesar ini sajalah takut?" Risda benar benar tidak menyangka bahwa hewan itulah yang ditakuti oleh gadis tersebut.


Risda yang sudah biasa mandiri itu pun sama sekali tidak merasa takut dengan hewan itu, dirinya bahkan langsung menggerakkan sikat WC itu untuk mengusirnya dari tempat itu. hewan tersebut langsung masuk ke dalam selokan yang ada di dalam WC itu, melihat itu langsung membuat Afrenzo merasa bahwa gadis itu berbeda.


Risda yang sudah biasa mandiri, bahkan bisa melakukan semuanya dengan sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Bahkan hewan itu sama sekali tidak membuatnya merasa takut ataupun jijik, seperti perempuan pada umumnya yang takut dengan hewan itu akan tetapi Risda justru berani untuk mengusirnya.


"Hewan itu sudah pergi, kenapa lo masih aja naik di atas sana?" Tanya Risda kepada gadis itu yang masih tetap setia berdiri di atas bak kamar mandi.


"Lo yakin dia sudah pergi?" Tanya gadis itu dengan nada yang masih ketakutan.


"Kalau lo nggak percaya sama gue, mending lo turun lihat saja sendiri," Risda pun langsung meninggalkan gadis itu begitu saja, dirinya pun kembali melanjutkan hukumannya itu tanpa banyak berbicara lagi.


"Lo nggak capek dari tadi ngikutin gue mulu?" tanya Risda kepada lelaki itu.


"Sudah tugas gue buat ngawasin lo, mending lu segera selesaikan saja hukuman lo itu."


"Lo gila? Sebenarnya tugas lo itu ngapain sih? kan yang dihukum 2 orang. Kenapa lo nggak awasin saja tuh si tabung gas elpiji?"


"Dia sudah diawasi oleh wakil ketua OSIS, jadi lo tenang saja soal itu,"


"Terserah lo dah, gue mah bodo amat."


Tanpa banyak bicara lagi Risda lalu kembali membersihkan tempat itu sampai bersih, cowok itu benar benar sudah banyak bicara saat ini daripada sebelumnya. mungkin karena dirinya sudah nyaman dengan Risda, hal itulah yang membuatnya merasa sedikit terbuka dengan gadis itu.


Afrenzo sendiri pun tidak paham dengan bagaimana perasaannya saat ini, yang dirinya tahu bahwa dirinya ingin terus bersama dengan Risda. Begitupun sebaliknya Risda juga merasa senang jika ada seseorang Afrenzo, yang bagaikan sosok seperti ayahnya sendiri.


Sudah hampir 3 jam Risda berada di dalam kamar mandi itu, dan akhirnya tempat tidur kini sudah bersih tanpa ada noda sedikitpun. Setelah melakukan hukuman yaitu Risda sudah diperbolehkan untuk kembali ke dalam kelasnya, sementara sosok Afrenzo langsung bergegas menuju ke halaman sekolahan itu untuk melihat hal yang dilakukan oleh Bagas.


Bagas merasa sangat kesal karena kedatangan dari cowok itu, dirinya masih tidak terima jika dihukum oleh Kepala sekolah saat ini. tubuhnya yang terasa lelah itu pun semakin menambah emosinya, melihat kedatangan Afrenzo langsung membuat kedua tangannya terkepal dengan sangat erat.


"Ngapain lo di sini!" sentak Bagas kepada Afrenzo.


Afrenzo hanya berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan dari Bagas. Percuma saja meladeni cowok itu yang ada hanya akan menambah kekesalannya, cowok itu seakan-akan ingin sekali menyingkirkan sosok Afrenzo dari dunia ini.


Afrenzo mengabaikannya begitu saja, dirinya pun langsung duduk di sebuah gazebo yang berada di taman sekolahan. meskipun demikian cowok itu masih tetap mengawasi Bagas, sesuai dengan tugasnya yang diberikan oleh Kepala sekolah kepadanya.

__ADS_1


*****


"Gue gabut banget nih, enaknya ngapain ya?" Tanya Risda kepada teman temannya itu.


kini dirinya berada di dalam kelas itu bersama dengan Rania, Septia, Mira, dan juga Nanda. Mereka berlima tengah duduk di depan papan tulis sambil berklesetan di lantai, karena saat ini adalah jam kosong di kelasnya sehingga mereka bisa melakukan hal kemauan mereka.


"Gue ada ide, Da. Gimana kalau kita ambil buah mangga yang ada di halaman belakang sekolah, gue lihat pohonnya sangat besar dan juga sedang berbuah." Mira pun memberi usul.


"Tapi gue nggak bisa manjat, Ra. Gue nggak bawa celana dan gue pakai rok sekarang," Ucap Risda.


"Tenang di sana udah ada galah untuk ngambil, gue yakin kalau kita bisa mengambilnya."


"Kalau begitu ayo sama-sama menuju ke halaman belakang," Ajak Risda dengan antusiasnya.


kelima anak itu langsung bergegas menuju ke halaman belakang sekolah, di sana mereka melihat ada satu mangga yang terlihat sudah matang. Mira pun bergegas mengambil sebuah galah yang dirinya tahu di mana letaknya, setelah mengambilnya dia pun memberikannya kepada Risda.


Risda dengan senang hati langsung menerimanya, dirinya pun langsung mengarahkan galak itu ke arah buah mangga yang dilihatnya itu. Tanpa dirinya sadari begitu banyak dedaunan yang jatuh hingga membuat kotor halaman itu, Riska pun teringat bahwa halaman itu telah dibersihkan oleh Bagas sebelumnya.


Halaman yang tadinya bersih kini telah kotor karena dedaunan yang jatuh itu, dengan segera mungkin harisda dan yang lainnya bergegas menuju kembali ke kelasnya sambil membawa buah itu. Mereka takut bahwa ketua OSIS akan melihat hal itu, jika dirinya sampai melihat mungkin mereka semua akan terkena hukuman darinya.


Mereka tidak mau jika nantinya akan terkena hukuman, sehingga mereka pun bergegas untuk pergi dari sana dengan segera mungkin. Di satu sisi terlihat Bagas yang bergegas menuju ke tempat itu untuk mengambil sebuah sapu lidi.


Dirinya begitu sangat terkejut ketika melihat halaman itu kembali kotor, padahal tadinya dirinya sudah membersihkannya hingga bersih. dirinya yang sejak tadi sudah merasa kesal itu pun bertambah sangat kesalnya, karena seseorang telah mengotori halaman itu kembali.


"SIAPA YANG BERANI MENGOTORI HALAMAN INI!" Bentaknya dengan sangat emosinya karena mengetahui halaman itu telah kotor kembali.


Bagas pun mengacak acak rambutnya dengan kasar, dirinya sangat merasa kelelahan akan tetapi hal itu semakin membuatnya marah. Dirinya pun menoleh ke sana kemari untuk mencari siapa pelakunya, akan tetapi Bagas tidak menemukan siapapun di sana.


Dirinya mengepalkan tangannya dengan erat, bagan telapak tangannya itu sampai memutih karena sangking eratnya kepalan tangan itu. Seandainya dia tahu siapa pelakunya, dia pasti langsung menghajarnya begitu saja tanpa mempedulikan entah itu laki-laki atau perempuan.


Beruntung sekali Risda dan yang lainnya segera bergegas pergi dari tempat itu, kalau tidak mungkin mereka semua akan ketahuan dan masalah itu akan semakin besar. Dengan nafas yang tersegal-segal Risda dan yang lainnya masuk ke dalam kelasnya, mereka pun langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai begitu saja.


"Untung saja kita sudah kembali ke kelas, kalau tidak mungkin kita akan kena marah," ucap Risda dengan menghela nafas lega setelahnya.


"Emang ada apa'an, Da? Kenapa lo nyuruh kita untuk berlari dari tempat itu? Emang apanya yang gawat?" Tanya Mira dengan beruntun karena dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Mereka semua pun menantikan jawaban dari Risda, karena mereka juga sama-sama bingungnya dengan Mira. Bagaimana tidak bingung jika dibuat seperti ini oleh Risda? Bahkan tidak saja tidak menjelaskannya sebelumnya.


"Mantan ketua OSIS itu sedang dihukum saat ini untuk membersihkan halaman sekolah, jadi gue nggak mau kita kena marah nantinya. Emang kalian mau dimarahi olehnya?" Tanya Risda balik setelah menjelaskan kepada mereka.


"Emang dihukum apa'an, Da? Kok kayaknya serius banget sih," Tanya Rania yang baru tahu bahwa Bagas telah dihukum.


"Pokoknya deh kalian mau tau banget apa tau banget?"


"Sialan lo emang, Da. Gue itu tanya bener bener, tapi kenapa jawaban lo kayak gitu?"


"Itu soal kejadian yang terjadi beberapa minggu lalu, kalian sendiri sudah mengetahuinya kok meskipun tanpa gue jelaskan. Sudahlah jangan dibahas mending kita makan saja nih buah,"


"Kalau seperti itu mending lo simpan saja tuh buah, Da. Kita kagak mood lagi untuk makan buah itu, kalau sampai mereka menemukan kulit buah itu, bisa bisa kita yang kena sasarannya."


teman-temannya itu pun tidak memiliki nafsu lagi untuk memakannya, bahkan mereka ingin sekali menyingkirkan buah itu agar jejaknya juga hilang. Mengetahui bahwa mantan ketua OSIS di SMA Bakti Negara sedang dihukum, hal itu langsung membuat mereka merasa ngeri.

__ADS_1


Risda pun langsung bergegas memasukkan mangga tersebut ke dalam loker mejanya, dirinya pun menutupinya dengan kantong kresek yang berwarna hitam agar tidak ada yang tahu adanya buah itu di sana.


__ADS_2