Pelatihku

Pelatihku
Episode 123


__ADS_3

Risda sama sekali tidak menyahuti ucapan dari Afrenzo, dirinya hanya dia membisu tanpa ada kata kata yang keluar dari mulutnya. Dirinya bahkan tidak mau menatap wajah lelaki itu, sementara Afrenzo sendiri pun hanya diam menatap ke arah Risda.


"Kalau lo marah sama gue, pukul gue saja, Da. Gue minta maaf,"


Perkataan tersebut langsung membuat Risda menatap ke arah wajah lelaki itu, Afrenzo tidak pernah berkata seperti itu kepada Risda. Risda sendiri pun langsung menghapus air matanya yang nggak jatuh, dirinya sebenarnya tidak terlalu marah dengan lelaki itu akan tetapi Entah mengapa moodnya berubah.


"Pukul aja diri lo sendiri, gue nggak peduli sama lo, Renzo. Lo jahat," Ucap Risda.


"Baiklah."


Bhukkk...


Dengan sangat kerasnya Afrenzo pun memukul dadanya sendiri, suara itu pun langsung seketika membuat Risda sangat terkejut. Lelaki itu benar benar memukul dirinya sendiri, Risda pun tidak menyangka bahwa lelaki yang ada di depannya itu melakukan apa yang dirinya katakan, dan Risda pun langsung menangkap tangannya tersebut.


"Lo apa apa'an sih, kenapa lo nyakitin diri lo sendiri?"


Risda pun melepas tangan Afrenzo dengan kasar. Risda tidak suka jika cowok itu menyakiti dirinya sendiri, apalagi dirinya melakukan itu tepat di hadapan di Risda sendiri. Seberapa keras pukulan itu tidak akan berpengaruh pada lelaki itu, karena sebuah pukulan tidak akan begitu menyakitkan baginya.


"Gue minta maaf," Ucap Afrenzo.


"Sudah lupakan soal itu. Jangan pernah nyakiti diri lo sendiri hanya karena gue, gue nggak suka itu,"


"Dimaafin ngak?"


"Gue masih marah sama lo, dan lo nggak akan bisa mendapatkan maaf gue dengan mudah. Ingat itu, gue ngak akan maafin lo dengan mudah,"


"Dimaafin atau gue mukul lagi?"


"Renzo!"


"Satu,"


"Lo pemaksaan banget sih jadi orang, bisa diem ngak? Gue ngak mau lo mukul diri lo sendiri, jangan lakuin itu. GUE NGAK SUKA!"


"Dua,"


"PUKUL AJA TERSERAH LO GUE NGGAK PEDULI!"


"Ti..,"


Plakkk...


Siapa sangka Risda justru menampar pipinya sendiri dengan keras, hingga tamparan itu terdengar sangat sakit. Afrenzo langsung melotot melihat itu, dirinya pun langsung memegang Risda yang habis memukul dirinya sendiri.


"Kenapa lo lakuin itu?" Tanya Afrenzo panik.


"Puas lo! Jika lo bisa nyakitin diri lo sendiri, gue juga bisa ngelakuin itu, Renzo. Jangan beranggapan bahwa lo saja yang bisa melakukan itu, asal lo tau ya gue juga bisa ngelakuin hal yang sama,"


"Da,"


Pipi Risda terlihat sedikit merah, akibat dari tamparannya sendiri. Afrenzo pun menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi Risda dengan pelan, bekas tamparan itu terlihat sangat jelas meskipun samar.


"Gimana rasanya kalo lihat gue nampar pipi gue sendiri? Itu sama apa yang gue rasain ketika lo mukul diri lo sendiri,"


"Maafin gue lagi,"


"Mudah sekali lo bilang maaf,"


"Maaf kedua kalinya,"


Tatapan Afrenzo tidak lagi dingin seperti biasanya, kini tatapan itu terlihat sangat polos dan bahkan ingin sekali Risda menampar lelaki itu saat ini. Terlalu gemes untuk dilihat, akan tetapi juga terlalu sayang jika dipukul.

__ADS_1


"Ya ya gue maafin, lo lebih nyeremin tau kalau seperti ini. Gue jadi merinding,"


"Makasih."


Ucapan makasih dari sosok pria sedingin kulkas membuat Risda melongo melihatnya. Risda pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal setelah mendengar ucapan Afrenzo, karena merasa heran dengan lelaki itu.


Tanpa menunggu lama lagi, Afrenzo langsung menyambar serembong yang dibawa oleh Risda saat ini. Risda begitu sangat terkejut ketika lelaki itu mengambil serembongnya tiba tiba, hingga membuat Risda termundur beberapa langkah ke belakang.


"Lo mau ngapain?" Tanya Risda setelahnya.


"Balik badan, biar gue pasangin,"


Afrenzo pun meminta Risda membalikkan badannya, sehingga posisi Risda saat ini sedang membelakanginya. Detak jantung Risda seakan akan tidak aman saat ini, detak jantungnya itu berdebar dengan sangat kerasnya.


Risda pun menautkan kedua tangannya menjadi satu, sementara Afrenzo menggerakkan tangannya untuk melingkarkan serembong tersebut di pinggang Risda. Tanpa diketahui oleh Risda bahwa laki laki itu kini tengah tersenyum tipis, entah apa yang membuat lelaki itu tersenyum saat ini.


Risda hanya berdiam diri, ketika tangan lelaki itu memainkan perannya untuk memasangkan srembong di pinggang Risda. Detak jantungnya seakan akan tidak normal, bahkan tubuhnya sedikit gemetaran ketika Afrenzo memasangkan serempeng tersebut.


"Sudah," Ucap Afrenzo ketika selesai memasangkan srembong tersebut kepada Risda.


"Makasih. Make up gue luntur nggak?"


"Enggak kok. Hanya perlu ditambahin bedak sedikit di bagian yang lo tampar tadi, nanti gue akan minta Carline untuk memperbaiki,"


"Apakah gue kelihatan menyeramkan?"


"Jangan lakukan itu lagi,"


"Lo juga jangan lakuin itu lagi, jika lo bisa berbuat nekat gue juga bisa. Gue sudah terbiasa dengan luka, jadi lo jangan macam macam sama gue,"


"Lo belum sepenuhnya cerita tentang lo ke gue, cerita yang lo berikan dulu belum lengkap,"


"Pulang nanti, temui gue diaula."


"Harus nanti?"


"Iya."


Afrenzo langsung bergegas untuk kembali menuju aula beladiri, melihat itu langsung membuat Risda ikut bergegas untuk masuk kedalam aula demi menemui Carline. Dirinya tidak mau kalau make upnya beda dari sebelah kiri ke kanan, sehingga dirinya menemui Carline untuk menambah bedaknya.


"Kok sepi?" Tanya Risda ketika masuk kedalam aula.


"Semuanya dilantai atas sedang makan, kamu ngak makan dulu?" Tanya Carline kepada Risda.


"Tadi sudah makan, Kak. Jadi masih kenyang,"


Usia Carline memang lebih tua daripada Risda dan Afrenzo, akan tetapi dirinya tidak pernah berkata lo ataupun gue. Karena hal itulah yang membuat Risda mengikuti perkataannya, sebagai hormatnya kepada senior beladiri diorganisasi itu.


"Oh iya, kenapa nangis? Apa pelatih melakukan sesuatu denganmu?"


"Nangis? Ngak ada yang nangis kok, Kak. Kata siapa aku nangis?"


"Kata pelatih, jadi make upmu sedikit hilang. Sini biar aku perbaiki lagi,"


Carline pun mengajak Risda untuk duduk disebelahnya, Risda hanya menurut saja tanpa membantah. Carline pun mulai membenarkan make up milik Risda, Risda yang tidak pernah menggunakan make up pun merasa takut kalau make upnya hilang begitu saja.


"Tadi kenapa lari keluar?" Tanya Carline.


"Mau pulang, Kak. Takut ngerepotin Renzo, tadi ekspresinya menyeramkan,"


"Terus jadi pulang?"

__ADS_1


"Ngak jadi, dia ngak ngebolehin. Jadi balik kesini lagi,"


"Boleh aku ngomong sesuatu ngak?"


"Ngomong aja, Kak. Ngak perlu tanya,"


"Pelatih tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya, Da. Mungkin dia jatuh cinta denganmu,"


"Nggak mungkin itu terjadi, Kak. Kedudukanku dan dia aja beda jauh, bagaikan langit dan bumi,"


"Sejauh jauhnya tapi keduanya adalah elemen penting dialam semesta,"


Risda pun berdiam diri sambil memikirkan perkataan dari Carline, memang benar sih. Tapi hatinya berkata bahwa dia dan Afrenzo tidak mungkin saling mencintai, apalagi Afrenzo masih saja bersikap dingin kepadanya.


Tak beberapa lama kemudian, seluruh siswa yang mengikuti beladiri pun turun dari lantai atas. Mereka pun berkumpul dilantai bawah setelah selesai makan, begitupun dengan Afrenzo yang juga turun dari lantai atas.


"Kalo semua sudah selesai, kita segera berangkat," Ucap Afrenzo.


"Pelatih, untuk yang tidak bawa sepedah motor gimana? Banyak yang tidak bawa juga," Tanya salah satu siswa, panggil saja namanya Mei.


Mei adalah siswa SMP yang baru mengikuti latihan beladiri bareng Risda. Mei sudah dianggap sebagai adik sendiri oleh Risda, akan tetapi baru kali ini gadis itu disebut dalam kisah ini karena selama ini perannya tidak begitu diperhatikan oleh Risda.


"Sama gue aja, Mei. Nanti kita boncengan berdua," Ucap Risda.


"Terus gue sama siapa dong, Da?" Tanya Anna.


"Ah gini aja, kita boncengan bertiga."


Saran dari Risda begitu sangat baik, tapi dengan cara boncengan bertiga bukanlah etika yang baik ketika berkendara apalagi mengendarai motor. Jawaban itu langsung membuat Afrenzo menghela nafas kasar, hingga Risda langsung menoleh kearahnya begitu saja.


"Bercanda saja kok, Pelatih. Jangan dibawa pikiran ya?" Ucap Risda bergidik ngeri.


Risda pun tersenyum penuh dengan ketakutan, karena lelaki itu yang menatapnya dengan tajam. Perasaan nggak ada yang salah dalam ucapannya, tapi mengapa lelaki itu masih saja menatapnya seperti itu hingga membuat Risda menjadi salah tingkah didepannya.


"Yang ngak kebagian teman untuk boncengan, kalian bisa bareng sama Kakak kakak pelatih," Ucap Afrenzo dengan tegasnya.


"Baik pelatih," Jawab mereka serempak.


Mereka semua langsung bergegas untuk menuju kearah parkiran dan segera menuju kearah motor mereka masing masing. Afrenzo pun menaiki motornya dengan salah satu senior lelaki yang sedang ia bonceng saat ini, sementara Risda langsung naik keatas motornya dengan Mei.


Anna naik motor dengan Vina, kalau Carline naik bersama teman seangkatannya yang ikut serta dalam festival tersebut. Mereka semua juga sudah kebagian motor masing masing, dan Afrenzo menganggukkan kepalanya pelan yang artinya semuanya sudah siap.


"Kak," Panggil Mei.


"Apa?" Tanya Risda sambil memakai helmnya.


"Nanti pulang acara tungguin Kakakku jemput ya? Soalnya nanti dijemputnya lama," Ucap Mei kepada Risda.


"Tenang saja, nanti gue tungguin sampe dijemput kok. Kalo ada Risda, semuanya akan selesai," Jawab Risda bangga.


Keduanya pun tertawa bersama sama. Mereka semua pun langsung bergegas untuk menyalakan motor mereka masing masing, dan Afrenzo bagian paling depan untuk memimpin mereka menuju ke lokasi tujuan.


Risda menambah kecepatannya untuk mensejajarkan motornya dengan motor Afrenzo, dirinya pun menyalip beberapa seniornya yang ada didepannya hingga posisinya tepat berada dibelakang Afrenzo.


"Renzo!" Teriak Risda.


Afrenzo yang mendengar teriakkan itu langsung menoleh kearah spionnya dan mendapati bahwa Risda berada dibelakang motornya saat ini. Risda pun melambaikan tangannya ketika mengetahui bahwa Afrenzo tengah melihatnya menggunakan kaca spion yang ada dimotornya itu.


"Aneh," Ucap Afrenzo pelan.


Afrenzo kembali fokus kepada jalanan yang akan dirinya lalui itu, sementara Risda terus menyeimbangkan laju motornya dengan motor milik Afrenzo. Risda benar benar merasa senang saat ini, sehingga membuatnya terus tersenyum disepanjang jalan yang mereka lalui itu.

__ADS_1


__ADS_2