Pelatihku

Pelatihku
Episode 26


__ADS_3

Risda dan teman temannya telah sampai disebuah lapangan yang cukup luas, dimana acara itu sudah dimulai. Risda dan yang lainnya memilih untuk duduk dibawah pohon sambil menikmati acara itu dari kejauhan, terlihat banyak anak punk yang sedang menari nari untuk melepaskan beban mereka.


"Lo mau gabung?" Tanya Deva kepada Risda yang kini telah duduk disebelahnya.


"Gas yok," Ucap Risda sambil meninju angin dengan semangat.


"Yok lah, kita nikmati malam ini,"


Ke sebelas anak tersebut langsung bergabung dengan anak anak punk yang berjoget joget itu. Risda nampak menikmatinya tapi siapa sangka bahwa lapangan tempatnya berada itu dekat dengan rumah Afrenzo, rumah Afrenzo memang didekat lapangan.


Sementara Afrenzo, kini dirinya tengah duduk didepan televisi yang ada dikamarnya. Dirinya yang tidak terlalu suka dengan keramaian itu lebih memilih untuk tetap dirumah tanpa ingin keluar rumah untuk menyaksikan acara itu.


"Nak, tolong belikan gorengan dong dilapangan," Ucap Mamanya yang tiba tiba masuk kedalam kamarnya.


Afrenzo yang tengah fokus kepada televisinya itu pun langsung mendongak untuk menatap kearah Mamanya, "Sekarang, Ma?"


"Ngak, tahun depan." Pungkas Mamanya.


"Oh. Masih lama,"


"Sekarang lah, Mama pengen nih,"


"Iya Ma,"


Afrenzo langsung bangkit dari duduknya itu, ia pun menyambar sebuah masker kain yang ia letakkan di atas meja kamarnya. Ia pun memakainya dengan segera setelahnya dirinya keluar dari kamarnya itu.


"Mau gorengan apa, Ma?"


"Kalo ada bakwan, tahu, atau apa gitu terserah,"


"Iya Ma, Renzo pergi dulu."


Afrenzo langsung bergegas keluar dari rumahnya itu. Ketika hendak sampai diarea lapangan dirinya menghela nafasnya dengan kasar karena melihat banyaknya pemuda pemudi yang tengah berjoget bersama. Afrenzo memang paling tidak suka ketika melihat hal yang begituan karena menurutnya itu sama sekali tidak bermanfaat.


"Pak, beli gorengan," Ucapnya kepada penjual gorengan yang ia datangi.


"Bentar ya, Mas. Nunggu mateng dulu," Ucap sang penjual.


"Iya Pak,"


Disatu sisi, Risda dan kawan kawannya tengah bersenang senang. Tanpa dirinya sadari bahwa jaraknya dan Afrenzo kini hanya berjarak sekitar 5 meteran, akan tetapi keduanya pun saling tidak mengetahui satu sama lain.


"Da, lo cobain deh. Ini enak banget loh," Ucap Angga yang tengah memegang segelas minuman beralkohol.


"Kalo gue beneran mabuk gimana?" Tanya Risda.


"Halah, paling besok juga kembali baikan lagi, ya kali mabuk terus terusan setelah meminumnya. Paling ngak ya lo bakalan kecanduan,"


"Coba sini, gue pengen,"


Angga pun menyodorkan segelas minuman beralkohol tersebut kepada Risda. Akan tetapi, sebelum Risda menerimanya seseorang tiba tiba merebutnya begitu saja, orang itu langsung membuangnya kesembarangan arah.


"Lo," Ucap Risda.


Awalnya Afrenzo tidak menyadari bahwa adanya Risda ditempat seperti itu. Akan tetapi, setelah dirinya mendengar suara yang ia kenali itu, ia lalu menoleh kearah Risda dan memang benar adanya Risda disana dengan pakaian yang feminim sekali.


"Ngapain lo disini?" Tanya Afrenzo.


"Lo yang ngapain disini? Apa jangan jangan lo juga suka main ditempat seperti ini,"


"Rumah gue deket sini," Jawab Afrenzo singkat.


"Oh, gue ngak tau kalo rumah lo disini, kenapa coba gue bisa ketemu lo disini,"


"Ikut gue sekarang!"


Afrenzo lalu melepas jaketnya dan memasangkannya kepada tubuh Risda. Setelahnya, Afrenzo langsung menarik tangan Risda untuk menjauh dari tempat seperti itu, Risda tidak bisa membantahnya meskipun dia melakukan itu akan tetapi Afrenzo sama sekali tidak mau mendengarkannya.


Afrenzo lalu mendorong tubuh Risda hingga terjatuh disebuah sofa yang berada dirumah Afrenzo. Rumah itu lumayan besar bagi Risda, ia memandangi sekelilingnya yang penuh dengan foto foto keluarga.


"Ma, aku pulang," Ucap Afrenzo.


Tiba tiba seorang wanita berjilbab keluar dari dalam rumah tersebut, melihat itu membuat Risda langsung terkejut dan menutupi pahanya yang terbuka karena celana pendek miliknya itu.


"Eh ada tamu, kenapa ngak bilang sih, Nak?" Tanya Mama dari Afrenzo.


"Eh Tante," Ucap Risda lirih dan langsung bangkit dari duduknya untuk menyalimi serta mencium tangan Ibu dari Afrenzo itu.


"Cantik, anak mana ya?" Tanyanya.


"Saya anak desa sebelah, Tan. Ngak sengaja ketemu kulkas dijalan, eh maksud saya Afrenzo, Tan" Ucap Risda sambil menunjuk kearah Afrenzo.


"Ini gorengannya, Ma." Afrenzo langsung menyerahkan sekantung gorengan yang ia beli sebelumnya itu kepada Mamanya dan langsung diterima olehnya.

__ADS_1


"Renzo mau ngomong sebentar sama dia, Ma. Mama masuk dulu," Ucap Afrenzo lagi.


"Baiklah,"


Mamanya itu langsung masuk kedalam rumahnya, kini Afrenzo telah duduk berhadapan dengan Risda. Tatapan Afrenzo sangat mengintimidasi Risda hingga membuat Nadhira tidak mampu untuk menggerakkan anggota tubuhnya itu.


"Jelaskan!" Sentak Afrenzo.


Risda pun terkejut mendengar suara Afrenzo yang sedikit meninggi itu, Risda hanya bisa menundukkan kepalanya dalam tanpa mampu untuk menatap kearah Afrenzo yang terlihat sangat marah itu.


"Gue harus jelaskan apa lagi? Gue ngak tau masalah lo apaan sama gue, Renzo. Gue hanya bersenang senang sama temen temen gue, tiba tiba lo datang narik narik tangan gue," Cicit Risda pelan karena dirinya sedang ketakutan ketika melihat Afrenzo sudah marah seperti ini.


"Sejak kapan minum minuman seperti itu?" Tanya Afrenzo dengan nada yang sama.


"Gue ngak pernah minum minuman seperti itu, Renzo. Tadi baru pertama kali temen gue ngajak seperti itu tapi lo langsung membuangnya gitu saja,"


"Kalo gue ngak datang, lo bakal minum?"


"Iya,"


Jawaban itu langsung membuat Risda menerima tatapan yang sangat tidak menyenangkan dari seorang Afrenzo. Risda tidak tau kenapa Afrenzo seperti itu kepadanya, dan bahkan dirinya marah hanya dengan mendengar jawaban dari Risda.


"Murah sekali harga dirimu," Ucap Afrenzo dan langsung membuat Risda menoleh kearah wajahnya dengan marahnya.


"Maksud lo apaan? Lo ngak berhak ngomong kayak gitu ke gue! Lo jahat Renzo. Gue pikir bahwa lo beda dari yang lainnya, tapi nyatanya lo juga mengatakan hal seperti kepada gue," Nada bicara Risda nampak sedikit meninggi kepada Afrenzo.


"Gue ngak suka, cewek pemabuk kayak lo. Gue ngak mau, nama perguruan gue rusak gara gara lo yang pemabuk,"


"Lo boleh ngak suka sama gue! Benci gue sekalian, lo ngak bakalan tau apa yang gue rasakan saat ini. Semuanya benci sama gue, lantas untuk apa gue hidup! Gue pengen mati, Renzo. Mungkin dengan cara seperti ini gue bisa bahagia, gue pengen bebas. Lo ngak pingin kan nama perguruan lo rusak, maka bunuh gue saja Renzo!" Sentak Risda kasar sambil mengutarakan isi hatinya, Risda pun menangis sesenggukan didepan Afrenzo.


Tangis yang sejak tadi ia tahan akhinya kini terlepas juga, Afrenzo hanya berdiam diri sambil menyaksikan gadis yang ada didepannya menangis sesenggukan karenanya. Afrenzo tidak tau apa yang dirasakan oleh gadis itu, akan tetapi melalui tangisannya ia dapat mengetahui bahwa apa yang dilewatinya itu tidak mudah.


"Emang lo sudah siap mati?" Tanya Afrenzo.


"Bunuh gue sekarang, Renzo. Gue lelah jika harus hidup terus terusan seperti ini hiks.. hiks.. hiks.. Gue capek banget, gue pengen mati aja. Ngak ada lagi yang bisa gue harapin didunia ini, mereka hanya bisa menyalahkan tanpa melihat kesalahan mereka sendiri. Apa gue salah marah sama bokap gue sendiri?"


"Lo marah kenapa?"


"Selama 8 tahun, dia ngak pernah pulang, ngak pernah ngasih gue kabar, ngak pernah nafkahin gue, bahkan ngak peduli sama sekali dengan gue. Dan tadi ketika pulang latihan, tiba tiba dia datang sama istri barunya, wanita yang telah menghancurkan masa kecilku. Gue juga pengen seperti yang lainnya, hidup bahagia bersama keluarga gue, dia datang kerumah dan mengatakan bahwa dia Ibu tiri gue. Gue ngak mau ngakuin dia sebagai Ibu, apa gue salah?".


"Lo ngak salah, mereka yang salah."


"Hanya lo saja yang mengatakan itu kepada gue, Renzo. Gue ngak akan pernah ngakuin wanita itu sebagai Ibu tiri gue, sampai kapanpun ngak akan pernah, lalu mereka semua nyalahin gue," Tangis Risda semakin terisak.


"Lo boleh teriak sesukamu disini," Ucap Afrenzo.


"GUE BENCI HIDUP GUE! Semua orang jahat, ngak ada yang ngerti sama perasaan gue! Gue benci bokap gue! 8 tahun bukan waktu yang singkat, mereka jahat! Mereka ngak punya perasaan!" Risda benar benar berteriak dihadapan Afrenzo.


Afrenzo hanya mendengarkan omelan dari Risda yang entah untuk siapa itu, mendengar teriakan dari Risda membuat Mama Afrenzo langsung bergegas menuju ke ruang tamu. Ia takut kalo Afrenzo menyakiti gadis tersebut, sehingga gadis itu berteriak seperti itu kepada Afrenzo.


"Ada apa ini? Kenapa nangis? Renzo, kamu apakan dia?" Tanya Mamanya sambil mendekat kearah Risda.


"Renzo jahat, Tan." Ucap Risda mengadu.


"Kamu diapakan sama dia? Biar Tante yang ngehajar dia nanti," Tanya Mamanya.


"Dia menggertakku, Tan. Aku takut,"


"Ya Allah, Renzo!" Seru Mamanya.


"Renzo ambilkan minum dulu," Ucap Afrenzo dan langsung bangkit dari duduknya.


Afrenzo langsung bergegas masuk kedalam rumahnya untuk meninggalkan kedua wanita itu. Afrenzo kembali dengan membawa segelas air putih dan memberikannya kepada Risda, Risda lalu menerimanya karena perintah dari Mamanya Afrenzo.


"Minumlah!" Perintah Afrenzo.


Risda pun takut untuk menolak ucapan Afrenzo, meskipun saat ini ada Mamanya Afrenzo disebelahnya. Entah karena haus atau bagaimana, Risda pun menghabiskan segelas minuman itu dengan segera.


"Renzo, jangan pernah menggertak seorang wanita. Kalo dia salah ajarin mana yang benar, dan mana yang salah."


"Iya Ma, Renzo minta maaf,"


"Ya sudah, ini sudah malam. Anterin dia pulang sekarang,"


"Iya Ma."


Afrenzo langsung bangkit menuju kearah bagasi rumahnya untuk mengambil sepedah motor miliknya itu. Risda pun berjalan mendekat kearah Afrenzo yang sudah berada diatas sepedah itu, dirinya masih merasa takut dengan sosok Afrenzo sehingga membuatnya berjalan dengan ragu.


"Rumah lo dimana?" Tanya Afrenzo.


"Ngak punya rumah," Jawab Risda menundukkan kepalanya.


Afrenzo pun menghela nafasnya, "Lo pulang kemana?".

__ADS_1


"Ngak tau. Gue ngak pengen pulang,"


"Naik,"


Risda pun menaiki boncengan motor milik Afrenzo itu, Afrenzo pun menyalakan motornya tersebut untuk melaju meninggalkan halaman rumahnya. Entah kemana dirinya akan membawa Risda saat ini, Risda rasanya memang tidak ingin pulang untuk saat ini karena dirinya sangat kecewa dengan orang rumah.


"Renzo, gue minta maaf," Ucap Risda pelan.


"Lo laper kan? Gue cari dulu warung yang masih buka,"


"Bagaimana lo bisa tau?"


"Gue ngak budek, perut lo bunyi dari tadi,"


Risda pun menerbitkan sebuah senyuman, bersama dengan Afrenzo tengah malam itu membuatnya lebih mendingan apalagi setelah berteriak sebelumnya. Afrenzo menghentikan sepedahnya ketika melihat sebuah warung nasi goreng yang masih buka.


"Lo doyan nasi goreng kan?" Tanya Afrenzo.


"Gue ngak pilih pilih soal makanan," Jawab Risda.


"Ya sudah, turun."


Risda langsung turun dari sepedah motor milik Afrenzo itu, keduanya pun masuk kedalam warung itu dan memesan dua piring nasi goreng dengan teh hangat. Waktu menunjukkan pukul 12 malam, akan tetapi keduanya masih berada diwarung nasi goreng yang hanya buka dimalam hari.


Sambil menunggu nasi goreng selesai dibuat, Afrenzo pun mengeluarkan ponselnya dan memeriksa jadwal pertandingan yang akan diadakan itu. Sementara Risda hanya memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Afrenzo yang ada didepannya itu.


"Renzo. Maafin gue, gue telah ngerepotin lo," Ucap Risda pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Jangan ulangi lagi," Jawab Afrenzo tanpa menoleh kearah Risda dan justru fokus kepada ponselnya.


"Iya, lo kenapa peduli banget sama gue? Gue kan hanya bisa nyusahin orang orang yang ada disekitar gue selama ini, dan gue juga sudah nyusahin lo tengah malam seperti ini,"


"Lo siswa gue,"


"Jadi karena lo guru pelatih gue, jadi lo peduli dengan gue? Seandainya gue ngak ikut beladiri waktu itu, lo juga ngak bakalan peduli sama gue kan?"


Afrenzo hanya berdiam diri, tak beberapa lama kemudian akhinya nasi goreng mereka telah selesai dibuat. Penjual tersebut langsung menyodorkannya didepan keduanya itu, beserta dengan teh hangat.


"Makanlah," Ucap Afrenzo.


Risda yang memang belum makan sepulang latihan tersebut langsung segera menyantap nasi goreng yang masih panas tersebut. Dimalam hari yang dingin seperti ini, sambil memakan makanan yang hangat memang terasa sangat nikmat.


Afrenzo pun memakan nasi gorengnya dengan perlahan lahan sambil menikmati cita rasa dari nasi goreng tersebut. Keduanya menikmati malam tersebut dengan memakan nasi goreng yang sangat lezat, setelahnya Afrenzo pun mengantarkan Risda kerumah yang ditunjukkan oleh Risda.


"Rumah lo sepi?" Tanya Afrenzo.


"Mau ngapain lo? Jangan bilang karena rumah gue sepi lalu lo mau berduaan didalam lagi, yang ada nanti malah digerebek warga sekitar," Ucap Risda.


Cletak


Afrenzo langsung menjitak kepala Risda begitu saja, Risda pun mengeluh atas apa yang dilakukan oleh Afrenzo kepadanya itu. Risda mengusap pelan kepalanya dengan wajah cemberut karena perbuatan dari Afrenzo tersebut.


"Pikiran lo aneh, minta dicuci," Ucap Afrenzo sambil menatap tajam kearah Risda.


"Pikiran gue bukan baju, main asal cuci aja. Lagian lo sih, pake nanya rumah gue sepi atau ngak,"


"Rumah lo gelap,"


Risda menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, ia menoleh kearah rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini. Rumah yang terbuat dari batu bata tersebut memang terlihat sangat sunyi apalagi tidak ada pancaran cahaya dari dalam melalui cela cela cendela.


Risda menatap kearah rumahnya dengan tatapan sedihnya, tempat itu bahkan tidak bisa disebut sebagai rumah olehnya. Rumah adalah dimana kita pulang untuk berkumpul bersama keluarga, mencurahkan kasih sayang sesama dan saling mendukung disaat terpuruk.


"Lo kenapa?" Tanya Afrenzo yang melihat Risda hanya berdiam diri saja.


"Gue ngak pengen pulang," Jawab Risda.


"Biar gue yang ngomong sama orang tua lo."


"Ngomong apa? Lagian kedua orang tua gue ngak ada dirumah, mereka udah cerai. Nyokap gue kerja, sementara bokap gue sudah punya keluarga baru,"


"Nyokap lo belom pulang?"


"Jangankan pulang, ketemu aja paling ngak 1 tahun sekali, itu pun saat hari raya idul Fitri,"


"Kerja apa?"


"Nyokap gue pembantu rumah tangga,"


"Lalu lo dirumah sama siapa?"


"Sama Kakak gue,"


Afrenzo hanya mengangguk paham, Risda pun menyuruhnya untuk segera pulang sebelum ada warga yang melihatnya. Afrenzo menyuruhnya untuk masuk kerumahnya terlebih dahulu, Afrenzo membelalakkan matanya ketika melihat Risda yang lompat melalui cendela yang ia duga adalah cendela kamarnya.

__ADS_1


"Benar benar cewek aneh," Guman Afrenzo pelan.


__ADS_2