Pelatihku

Pelatihku
Episode 143


__ADS_3

Risda dan guru olahraganya itu telah sampai didepan rumah Lasmi, Risda lalu turun dari sepeda motor gurunya, dan langsung bergegas untuk masuk kedalam rumah itu. Dirinya pun mengucapkan terima kasih kepada gurunya, setelahnya gurunya tersebut langsung pergi dari halaman rumah itu tanpa mampir terlebih dulu.


"Udah pulang, Da?" Tanya Lasmi dengan basa basinya.


"Udah kok, Bude. Tadi diantar sama guruku," Jawab Risda dan langsung bergegas masuk kedalam kamarnya karena tidak ingin berlama lama lagi disana bersama dengan Lasmi.


Risda lalu merebahkan tubuhnya dikasurnya yang agak keras itu, dirinya merasa sangat kelelahan sekaligus merasa sangat kedinginan setelah berenang, apalagi dirinya yang baru sembuh dari sakitnya itu. Risda pun tertidur setelahnya, karena sangking kelelahannya dirinya itu.


Sebelum tidur, Risda lupa tidak menutup pintu kamarnya itu, sehingga pintu itu terbiarkan terbuka. Risda terlelap dalam tidurnya setelah kelelahan berenang, hal itu membuat tidurnya terlihat sangat pulas karena baru sekejap kepalanya diletakkan diatas bantal, nyatanya dirinya sudah tertidur.


"Masuk saja, Pak. Tolong digantikan sekalian tabung gasnya,"


"Baiklah, ini dapurnya dibelakang?"


"Iya."


Sekilas Risda mendengar percakapan tersebut, terdengar seorang lelaki yang tengah bekerja untuk mengganti tabung gas dirumah itu. Risda pun merasa seseorang tengah menggerakkan tangannya, akan tetapi ketika dirinya melirik tidak ada seorangpun yang ada disebelahnya.


Ketika dirinya melirik juga, dia melihat sosok Lasmi yang tengah menutup pintu kamarnya. Risda berpikir bahwa pintu itu sengaja ditutup agar ketika orang yang bertugas mengganti tabung tersebut tidak melihat kedalam kamar Risda.


Pada saat itu memang kamarnya tengah berantakan, karena dirinya belum sempat untuk membersihkannya. Risda mengabaikan hal itu, dan dirinya pun kembali memejamkan matanya dengan tertidur sangat pulasnya lagi.


Ketika waktu menunjukkan pukul 5 sore, Risda baru terbangun dari tidurnya. Risda pun mengambil ponselnya yang memang saat itu tidak memiliki pulsa, Risda memakai ponsel tersebut hanya untuk game ketika dirinya gabut saja. Dilayar ponsel itu terlihat bahwa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Risda membelalakkan matanya karena dirinya tertidur sangat lama.


Risda tidak menyadari bahwa sangking nyenyaknya dirinya tidur sekarang sudah hampir adzan magrib. Risda menatap kearah pintu kamarnya itu yang masih tertutup dengan rapinya, dirinya ingat betul bahwa tadinya pintu itu dirinya buka.


Karena dirinya yang masih malas itu, hal itu membuat Risda masih tetap membaringkan tubuhnya sambil bermain ponselnya itu. Dirinya pun dengan serius untuk bermain ponselnya, Risda tidak terlalu memperhatikan suasana sekitarnya untuk sudah menggelap.


Dirinya tiba tiba merasa haus, dan dia lalu bangkit dari tidurnya untuk membuka pintu kamarnya itu. Risda begitu sangat terkejut ketika pintu itu tidak bisa dibuka, dirinya terus berusaha untuk membukanya akan tetapi dirinya terus gagal untuk melakukan itu.


"Kenapa pintunya terkunci dari luar? Terus aku keluarnya gimana?"


Tok tok tok


"Tolong! Bude bukain pintunya!"


Tok tok tok


"Mbak Erin! Bude! Tolong!"


Risda terus mengetuk pintu kamarnya dengan keras, dirinya juga berteriak untuk meminta bantuan. Akan tetapi, sama sekali tidak ada orang yang membantunya, bahkan teriakannya itu diabaikan oleh mereka semua.


Risda pun ketakutan didalam kamar itu, dirinya takut jika tidak bisa keluar dari dalam kamar itu. Apalagi cendela yang ada didalam kamarnya tersebut dipasang pagar besi sehingga dirinya tidak akan mampu untuk keluar dari dalam kamarnya melalui cendela.


Tok tok tok

__ADS_1


"Bude, bukain pintunya! Aku mau keluar! Bude!"


Brak brak brak


Risda yang tidak sabaran itu pun langsung memukul pintu itu dengan kerasnya, dirinya tidak peduli jika nantinya tangannya akan terluka. Tapi pintu yang terbuat dari kayu jati itu, tidak mudah roboh karena hanya dengan tenaga anak kecil seperti Risda.


"Bude buka pintunya! Kenapa aku dikurung disini! Bude!"


Risda terus berteriak untuk meminta dibukakan oleh seluruh orang yang ada didalam rumah itu, akan tetapi tak seorang pun yang mau membukakan pintu tersebut. Hampir 1 jam dirinya berteriak dan mengetuk pintu itu dengan keras, akan tetapi tak seorangpun yang membukakan pintu itu.


Tubuhnya mendadak kembali lemas, dan kepalanya terasa sangat pusing. Risda langsung terjatuh dilantai setelahnya, apalagi posisinya Risda belum makan sejak dirinya pulang dari kolam renang. Meskipun telah terjauh dilantai, akan tetapi salah satu tangannya masih berusaha untuk mengetuk pintu tersebut.


"Bude, bukain pintunya," Ucap Risda dengan lemasnya.


Tubuh Risda pun mengigil seketika, dinginnya lantai tempat dirinya terjatuh membuatnya kedinginan. Risda tidak mampu untuk bangkit dari jatuhnya itu, sehingga dirinya membiarkan tubuhnya terbaring lemas dilantai yang ada didalam kamar itu.


"Bude sakit, tolong bukain pintunya."


Tiba tiba dadanya terasa sangat nyeri, wajahnya seketika berubah menjadi pucat, bahkan bibir bibirnya itu sangat kering karena haus. Risda sangat haus saat ini, bahkan didalam kamarnya sama sekali tidak ada makanan atau minuman yang bisa dia gunakan untuk mengisi perutnya.


Sepertinya asam lambungnya itu akan naik, bahkan perutnya pun merasa sakit dan juga dadanya terasa seperti terbakar. Tubuhnya mengigil saat ini, bahkan suhu tubuhnya pun semakin meningkat sehingga Risda merasa sangat kedinginan.


"Bude, bukain pintunya, aku mohon. Bude bukain,"


*****


Risda terbangun dari pingsannya cukup lama, dirinya bahkan tidak menyadari bahwa hari telah berganti karena diluar cendelanya sudah malam hari. Risda baru menyadari ketika tangannya meraih ponselnya, dan mendapati bahwa tanggalnya telah berubah.


Ponsel itu sama sekali tidak berguna, bahkan tidak bisa menghubungi orang lain menggunakan ponsel tersebut. Ponselnya itu hanya bisa digunakan untuk bermain game, karena ponselnya yang jadul itu sehingga tidak bisa digunakan untuk sambungan internet.


"Bude, sampai kapan akan mengurungku seperti ini? Kenapa tidak sekalian dibunuh saja? Kenapa harus menyiksaku seperti ini?"


Risda terlihat sangat lemas saat ini, baru juga dirinya sembuh dari sakitnya akan tetapi sekarang malah ditambah sakitnya itu. Hari ini adalah hari minggu, dan sebelumnya Ayahnya telah bilang bahwa tidak bisa datang untuk menjenguknya. Sehingga tidak ada harapan untuk dirinya bisa bebas, entah sampai kapan dirinya akan terus hidup didunia ini.


*Aku tidak menyesal jika nyawaku tidak selamat kali ini, yang aku sesalkan hanyalah diriku yang belum bisa untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Kematian seseorang memang telah ditentukan, mungkinkah saat ini aku akan mengakhiri kisah hidupku?


Jika itu terjadi, maafkan aku Bunda, jika aku harus pergi saat ini tanpa meminta maaf kepadamy terlebih dulu. Maafkan aku yang belum bisa menjadi anak yang baik untukmu, ku harap setelah ini Bunda bisa bahagia.


Bunda, ini sakit sekali. Bunda, apakah kematian itu sangat menyakitkan? Jika benar, maka aku tengah mengalaminya saat ini. Ini sangat menyakitkan bagiku, aku tidak sanggup lagi untuk bisa bertahan hidup lebih lama lagi.


Bunda, Ayah, maafkan anakmu ini ya. Anakmu pergi lebih dulu daripada kalian, jika benar aku akan mati saat ini, maka aku akan menunggu kalian di Syurga-Nya nanti. Aku sangat menyayangi kalian, maafkan aku ya.


Dadaku sakit sekali, Bunda. Untuk berbicara saja diriku tidak mampu melakukan itu, haus dan lapar sekali. Bunda pernah bilang kepadaku, mari bersama sama mencari kebahagiaan kita masing masing kan? Mungkin sekarang sudah saatnya telah tiba, diriku menunju kebahagiaan yang abadi.


Jaga diri baik baik ya, karena aku tidak bisa menjaga kalian lagi. Aku tidak menyangka bahwa kita akan berpisah sebentar lagi, dan aku juga tidak menyangka bahwa aku akan mati ditempat ini dan bukan dirumahku sendiri.

__ADS_1


Maafkan aku yang selalu merepotkan kalian semua, maafkan aku juga yang hanya beban bagi kalian ini. Sebentar lagi, beban kalian semua akan hilang, kalian tenang saja, doakan diriku pergi dengan cepat tanpa harus menunda nunda lagi*.


Risda tersenyum tipis dengan wajahnya yang pucat pasih itu, dirinya tidak bisa mengeluarkan kata katanya dan dirinya hanya bisa membatin saja. Entah dia harus bahagia atau sedih saat ini, bahagia karena sebentar lagi penderitaan akan segera berakhir, akan tetapi dirinya juga sedih harus meninggalkan Ibunya begitu saja.


Tubuhnya terasa sakit semua, bahkan jantungnya jauh lebih terasa nyeri daripada seluruh tubuhnya itu. Kepalanya terasa sangat pusing dan nyeri, seakan akan seperti tengah ditusuk tusuk oleh begitu banyak jarum yang sangat menyakitkan.


Risda merasa haus sekaligus lapar, akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa saat ini. Untuk berdiri saja dirinya tidak sanggup untuk melakukan itu, apalagi untuk pergi mengambil makanan yang harus membuka pintu kamarnya terlebih dulu.


Tok tok tok


"Bude. Kenapa aku dikurung disini?" Ucapnya dengan lemas bahkan hampir tidak terdengar.


Jika ingin menghabisi Risda, lebih baik bunuh saja dia daripada harus menyiksanya terlebih dulu. Semakin cepat kematian datang kepadanya, jutru akan membuat beban dalam hidupnya akan semakin berkurang, dan rasa sakit tidak akan begitu lama dirinya rasakan.


Kedua mata Risda tidak mampu lagi untuk dibuka, sehingga sejak tadi dirinya memejamkan matanya karena seperti tengah ada sebuah lem yang merekat sangat kuatnya. Risda hanya bisa menikmati setiap rasa sakit yang dirinya rasakan itu, selain menikmati tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.


Mengeluh pun tidak bisa mengurangi rasa sakitnya itu, mengeluh hanya akan menambah rasa sakitnya sehingga dirinya tidak mau mengeluh sedikitpun itu. Risda seakan akan tidak sadarkan diri saat ini, karena tidak ada pergerakan sama sekali yang dirinya lakukan, akan tetapi dirinya masih bernafas dan mampu merasakan pergerakan dilingkungan sekitarnya.


Risda mendengar suara langkah kaki dari luar kamar itu, itu artinya mereka memang masih ada didalam rumah tersebut dan tidak mau membukakan pintu untuk Risda. Meskipun Risda sekuat tenaga mengetuk pintu kamarnya itu, mereka tidak akan membukakan pintu tersebut.


Perutnya terus berbunyi untuk meminta diisi, akan tetapi Risda sama sekali tidak memedulikan itu karena memang dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini. Risda hanya bisa menunggu kematian segera datang menjemputnya, agar dirinya tidak terlalu lama untuk merasakan rasa sakit itu.


Waktu terus berjalan, dan pagi pun segera datang. Risda masih tetap terbaring dilantai kamarnya itu, dirinya sama sekali tidak berpindah posisi sedikitpun. Risda masih memejamkan matanya dengan rapat, nafasnya mulai terasa sangat pelan bahkan detak jantungnya itu pun melambat. Sudah tiga hari dua malam dirinya dikurung didalam kamarnya, tanpa adanya makan ataupun minum yang dirinya terima.


Haus, lapar, pusing, lemas, itulah yang dia rasakan saat ini. Air matanya pun menetes dengan bebasnya tanpa diberi arahan oleh Risda sebelumnya. Bahkan Risda tidak ingin meneteskan air mata, akan tetapi air matanya itu menetes dengan sendirinya tanpa perintah darinya.


Risda mencoba untuk menyandarkan tubuhnya ditembok, ini adalah hari senin sehingga ada kemungkinan bahwa Ayahnya akan datang mencarinya. Risda hanya tinggal menunggu beberapa jam saja sampai Ayahnya datang, akan tetapi dirinya tidak tau apakah nyawanya akan masih melekat ditubuhnya itu nantinya.


Waktu terasa sangat lambat untuk berjalan, hingga disetiap detiknya Risda terus menderita. Ingin sekali dirinya langsung menghabisi dirinya sendiri akan tetapi dirinya tidak mau melakukan itu. Wajahnya sangat pucat, seakan akan tidak ada darah yang mengalir disana, bahkan bibirnya pun pecah pecah karena kurangnya minum untuknya.


Risda pun memancarkan sebuah senyuman sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri, seharusnya kematian disambutnya dengan bahagia bukannya sedih. Biar bagaimanapun juga dia akan bertemu dengan penciptanya, kenapa harus sedih ataupun takut untuk menghadapinya.


Seberapapun jauh kita menghindari kematian, akan tetapi kematian itu begitu dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dariada nadi. Malaikat yang paling setia menemani kita adalah malaikat maut, karena hanya dirinya yang selalu menemani kita dan mengunjungi kita selama 70x dalam sehari.


"Hanya Allah yang tau kapan kematian akan datang, dan kita sebagai manusia hanya bisa mempersiapkannya saja. Jangan sampai kita kembali kepadanya dalam keadaan kotor dengan penuh dosa, mahluk yang terhina adalah mahluk yang menghadap kepada Tuhannya dengan keadaan kotor." Perkataan gurunya itu yang selalu diingat olehnya. Bahkan perkataan itu lalu terngiang ngiang didalam ingatannya itu.


"Kita adalah manusia, dan mahluk yang diciptakan oleh pencipta dengan sempurna daripada yang lainnya. Kita punya tangan, kita punya kaki, diberikan pikiran untuk memikir, diberi hati untuk bisa merasakan penderita satu sana lain hingga terciptanya hubungan yang erat. Lantas apakah kita sudah bersyukur?" Perkataan gurunya lagi yang dirinya ingat.


Dalam keadaan seperti ini, nasehat nasehat yang diberikan oleh orang lain terus terngiang didalam ingatannya. Kenapa disaat takdirnya hendak berakhir, justru perkataan itu terus bergema didalam ingatannya. Mungkinkah ini sebuah penyesalan? Karena dirinya belum sempat untuk berbuat baik, ataukah hanya sebuah peringatan jika dirinya hendak kembali.


"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, kematian tidak ada yang bisa untuk menghindarinya. Bahkan kematian tidak bisa ditolak, jika waktunya telah tiba maka kita semua akan kembali kepada-Nya. Hidup dan mati seseorang telah ditentukan, tidak ada yang bisa menghindarinya, ataupun lari dari kematian,"


Mengingat perkataan itu seketika langsung membuat Risda meneteskan air matanya, perkataan tersebut begitu menusuk kehatinya.


"Maaf," Ucapnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2