
"Anak anak, hari ini Bapak dan Ibu guru sedang rapat. Kalian diperbolehkan untuk pulang lebih awal." Seru salah satu guru.
"Asikkkk!!!" Seluruh siswa nampak begitu gembira mendengarnya.
Karena akan diadakan sebuah rapat antar sekolahan membuat mereka dipulangkan lebih awal, seluruh siswa berteriak kegirangan mendengarnya karena pulang pagi. Tapi terkecuali Risda yang nampak berdiam diri tanpa ekspresi, Risda hanya bisa menatap sekelilingnya yang di mana anak anak seluruhnya berteriak kegirangan.
"Da, lo kok kayaknya nggak suka sih? Kan enak pulang lebih awal," Terdengar suara Mira yang sambil menyenggol lengan Risda.
"Gue males dirumah, kalo pulang pagi otomatis gue akan lebih lama dirumahnya," Jawab Risda sambil menghela nafas dengan kasarnya.
"Tenang aja, Da. Mending lo ikut kita kita deh, nanti pulang pulang sore hari kan enak. Lo bisa seneng seneng, daripada dirumah yang makin buat lo pusing."
"Emang mau kemana? Jangan bilang lo mau ngajak gue ke hal hal yang buruk." Seloroh Risda menuduh Mira.
"Ya elah lo itu, Da. Seudzon mulu sama gue, gue tuh ngajak lo kerumah Abdul, kita mau wifi an disana, mayan hemat kuota."
Risda pun berpikir sebentar mendengar ucapan Mira yang mengajaknya pergi ke rumah Abdul, Abdul dan Rania telah resmi berpacaran sehingga Rania yang mengajak mereka untuk pergi ke rumah Abdul. Sebelum Risda menjawab, tangannya langsung ditarik oleh Septia dan Mira untuk pergi dari tempat itu.
Keduanya langsung mengajak Risda untuk kearah parkiran sepedah motor, sesampainya disana Risda langsung melepaskan tangan keduanya dengan sekali ayunan yang keras saja. Dan kedua orang itu langsung berhenti ketika merasakan bahwa tangan Risda sudah terlepas, dan keduanya langsung menoleh kearah Risda berada.
"Motor lo mana, Da?" Tanya Septia yang menyadari bahwa motor milik Risda tidak terparkir disebelahnya, biasanya motor miliknya akan berada disana.
"Nggak ada." Jawab Risda singkat tanpa banyak bicara.
"Lo tadi nggak bawa motor?" Tanya Mira dengan penasarannya.
"Gue nggak bisa ikut kalian. Sorry ya, lain waktu saja,"
"Lagian lo juga belom dijemput, mending sama gue aja berangkatnya, nanti gue antarin lo pulang sekalian." Saran yang bagus dari Septia.
"Maksud lo kita boncengan bertiga gitu? Gila lo ya!" Teriak Risda.
Risda tidak habis pikir dengan temannya itu, bagaimana bisa mereka naik motor bertiga dijalan raya yang ramai? Jika terjadi sesuatu pasti ketiganya akan dalam bahaya, lagian naik motor bertiga tidak akan terasa nyaman.
"Nggak papa, Da. Sekali kali kita naik motor bertiga, kalo nggak sekarang terus kapan lagi?" Tanya Mira.
"Lo enak bilangnya. Belajar sono naik motor, masak lo kemana mana harus ngerepotin orang lain mulu, Ra. Mandiri lah,"
"Ya elah, Da Da. Lo kok gitu sih sama temen sendiri, nggak asik lo! Gue masih takut tau naik motor dijalanan, gasnya diputer sedikit aja udah mau kabur aja tuh motor."
"Alay."
Ditengah tengah keributan ketiganya, sosok Rania pun muncul diantara Risda dan Mira. Risda pun mengeluh karena tubuhnya ditabrak begitu saja oleh Rania yang memiliki postur tubuh dua kali lebih besar daripada dirinya. Memang tidak kira kira tuh cewek kalo muncul, bahkan tidak peduli dengan temannya yang kurus kering itu.
Risda bisa dikatakan kurang daging, karena tubuhnya yang kecil nan tinggi membuatnya terlihat seperti tidak memiliki beban. Akan tetapi jika ditimbang, beratnya akan lebih banyak daripada Mira maupun Septia karena tertolong oleh tinggi badannya.
"Kalian ngeributin apa sih?" Tanya Rania kepada ketiga temannya itu.
"Nih si Risda, dia kagak bawa motor segala lagi. Terus gimana dong?" Tanya Mira dengan nada yang tidak mengenakkan.
"Lain kali aja gue ikut. Gue nggak bisa ikut kali ini," Ucap Risda dengan nada yang sama seperti Mira.
"Nggak asik lo, Da. Naik motor sama gue aja deh, nanti gue antarin lo pulang sekalian," Saran dari Rania.
"Terus Abdul gimana? Dia kan kagak pernah bawa motor juga paling ya nebeng temennya,"
"Gampang soal itu, Da. Kan ada Farhan yang bisa ngantar dia pulang,"
__ADS_1
"Yaudah deh gue pasrah aja. Gue pamit dulu sama Renzo, nanti takut dia nyariin gue,"
"Halah kelamaan, lagian dia juga keluar tadi tuh sama seseorang. Lo takut nggak bisa pulang? Kayak sama siapa aja lo, Da."
"Masalahnya, gue punya urusan penting sama tuh orang. Gue tau kalian bisa ngantarin gue pulang, tapi kalian nggak tau apa yang gue alamin,"
"Mangkanya cerita, Da. Lo sih terlalu tertutup dengan kita kita, jadi kita kagak mungkin tau urusan lo apa'an." Sela Septia.
"Kelamaan lo, Da. Ayo berangkat!" Rania pun langsung menyalakan motornya, dengan paksaan dari ketiganya Risda dengan terpaksa langsung naik keatas motor itu.
Mereka pun langsung bergegas meninggalkan tempat itu dengan suasana hati Risda yang tidak mampu diceritakan kepada siapapun, Risda masih memikirkan Afrenzo tapi dirinya tidak sempat untuk membuka ponselnya itu. Risda dan yang lainnya langsung bergegas pergi dari tempat tersebutlah, Risda menatap lekat lekat sekolahannya hingga tempat itu tak lagi mampu dipandang olehnya.
Sesampainya dirumah Abdul, ponselnya mendadak mati karena dirinya salah pencet sesuatu hingga membuat ponselnya harus me-restart ulang pengaturan ponsel tersebut. Dirinya kebingungan karena tidak bisa menghubungi Afrenzo, apalagi teman temannya tidak ada yang memiliki nomor ponsel lelaki itu.
Risda semakin dibuat tidak tenang oleh pikiran pikirannya yang terus memikirkan Afrenzo itu, bahkan dirinya sama sekali tidak menikmati waktu bersama dengan teman temannya dirumah Abdul.
*****
"Guys... Udah sore nih, antarin gue pulang yak," Ucap Risda yang sudah merasa bosan ditempat itu, apalagi pikirannya yang terus memikirkan Afrenzo.
"Iya sebentar lagi," Jawab Rania.
"Baru juga adzan ashar, Da. Biasanya lo kalo pulang selalu magrib aja, masak jam segini sudah buru buru pulang sih," Sindir Abdul kepada Risda.
"Bac*t lo, Dul. Ngomong aja kalo lo masih ingin berduaan sama Rania, antarin gue ke sekolahan sebentar saja nanti lo berduaan lagi deh, nggak masalah kok."
"Mau ngapain lo ke sekolahan?" Tanya Rania.
"Kepo aja jadi orang, buruan ah gue ada urusan penting nih!"
"Ganggu aja lo jadi orang, Da. Yaudah gue aja yang antarin," Ucap Septia yang merasa terganggu dengan suara dari Risda yang terus meminta untuk diantarkan ke sekolahan.
Septia langsung bangkit dari duduknya dengan malasnya, dan hal itu langsung diikuti oleh Risda setelahnya. Keduanya langsung bergegas untuk berpamitan kepada Abdul, dan langsung menuju kearah sepedah motor milik Septia terparkir disana.
"Lo aja yang nyetir, gue capek," Ucap Septia sambil menyerahkan konci sepedah motor itu.
"Males kali."
"Yaudah, gue nggak mau nganterin lo."
"Iya ya bawel! Gitu aja merajuk."
Risda dengan segera langsung mengambil konci sepedah motor tersebut dan langsung menyalakan motor milik Septia itu. Keduanya langsung menuju ke sekolahan, dan Risda menghentikan motornya didepan gerbang sekolahan yang tertutup rapat.
"Nggak ada orang tuh, Da. Emang lo mau nungguin keluarga lo jemput disini?" Tanya Septia yang celingukan didepan gerbang itu.
"Apa dia sudah pulang lebih dulu?" Guman Risda pelan dan didengar samar samar oleh Septia.
"Lo ngomong apa'an?"
"Bukan apa apa. Lo disini saja dulu, gue mau lihat kedalam sebentar,"
"Jangan lama lama."
"Jangan lo tinggal juga kali."
"Mana mungkin gue ninggalin temen gue disini gitu aja,"
__ADS_1
"Bagus deh kalo begitu."
Risda pun membuka pintu gerbang itu, yang memang belum dikunci oleh siapapun. Risda langsung masuk kedalam sekolahannya dan bergegas menuju ke aula beladiri, disana dirinya melihat sepedah motor milik Afrenzo yang masih terparkir sendirian.
Melihat adanya motor itu, Risda kembali bergegas untuk menemui Septia dan menyuruhnya untuk meninggalkan dirinya disekolah itu.
"Lo yakin nunggu disini, Da? Kalo terjadi sesuatu sama lo gimana?" Tanya Septia.
"Yakin. Didalam masih ada Renzo kok, lo nggak perlu khawatir sama gue," Jawab Risda.
"Yaudah gue balik dulu, lo hati hati soalnya kagak bisa ngehubungin gue, kan hp lo mati."
"Gue udah tau. Thanks ya Tia, lo udah mau nganterin gue kesini,"
"Oke..."
Septia kembali menyalakan motornya itu, dirinya pun bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut. Melihat kepergian dari Septia, hal itu membuat Risda hanya menghela nafasnya dengan panjang, dan langsung bergegas untuk masuk kembali kedalam sekolahan itu.
Risda langsung masuk kedalam aula beladiri yang ada disana, dirinya pun terkejut ketika melihat sosok yang dipikirkan sejak tadi terbaring diatas matras beladiri. Risda terkejut bukan main, apalagi dirinya melihat ada sebuah bekas bercak darah diujung bibir Afrenzo.
"Renzo!" Teriak Risda dan langsung berlari kearah tubuh yang terbaring tidak sadarkan diri itu.
Mendengar teriakannya itu, hal itu membuat kening Afrenzo berkerut dan dirinya perlahan lahan mulai membuka kedua matanya itu. Afrenzo langsung bangkit duduk dari tidurnya, dan Risda pun langsung duduk dihadapannya.
"Lo kemana aja dari tadi? Lo tau nggak kalo gue khawatir sama lo, Da! Apa lo nggak mikirin perasaan gue? Jika lo mau pergi sama temen lo, lo bilang dulu sama gue, Da! Apa itu susah bagi lo, hah!!!" Afrenzo nampak begitu marah kepada Risda.
"Renzo, gue minta maaf sebelumnya. Apa yang terjadi sama lo? Kenapa banyak memar diwajah lo?" Tanya Risda yang begitu panik.
"Emang lo peduli sama gue, Da? Kalo lo peduli sama gue, lo nggak bakalan kayak gini sama gue, Da!"
Sungguh sakit rasanya jika orang yang sangat berarti bagi kita justru marah kepada kita. Risda mampu menahan ribuan luka dari semua orang, tapi dirinya sama sekali tidak akan mampu menahan satu luka sekalipun dari orang terdekat baginya itu.
"Renzo maafin gue," Seketika itu linangan air mata Risda pun bercucuran.
Risda pun menangis tersedu sendu dihadapan Afrenzo, wajah Afrenzo sama sekali tidak bersahabat dengan situasi yang keduanya alami saat ini. Wajah yang biasanya dingin tanpa ekspresi itu, mendadak menjadi wajah penuh dengan kemarahan dan bahkan membuat Risda terlihat takut.
Afrenzo seakan akan hanya diam saja ketika melihat Risda menangis, karena tidak mendapatkan respon dari Afrenzo, Risda langsung menggapai tangan kanan Afrenzo dengan kedua tangannya.
"Renzo, gue bener bener minta maaf sama lo. Apa lo nggak mau maafin gue?" Tanya Risda sambil menggenggam erat tangan Afrenzo.
"Apa gue nggak penting bagi lo, Da? Apa lo nggak pernah nganggap gue ada selama ini? Lantas apa gunanya gue ada untuk lo?" Tanya Afrenzo yang masih dengan nada dingin karena marahnya.
"Bukan begitu, Renzo. Gue bisa jelasin semuanya sama lo,"
"Gue nggak butuh penjelasan lo, Da. Gue capek," Afrenzo mengatakan itu seraya kembali membaringkan tubuhnya diatas matras beladiri.
"Renzo maafin gue, gue salah. Seharusnya gue ngehubungin lo dulu tadi, tapi ponsel gue mati."
"Pulanglah, Da. Tinggalin gue disini,"
"Nggak mau."
"Gue ngusir lo dari sini!"
"Gue nggak mau pergi!"
"Pake motor gue dan ambil motor lo sekarang dirumah gue. Tinggalin gue disini, gue pengen sendiri."
__ADS_1
Mendengar suara Afrenzo yang memelan, hal itu membuat Risda kembali terisak tangisnya. Risda yakin bahwa ada hal yang tidak beres dengan lelaki tersebut, entah apa yang membuatnya bisa bersikap seperti itu kepada Risda.
Afrenzo kembali memejamkan matanya, dan terlihat sebuah kerutan didahinya seakan akan dirinya tengah menahan sebuah rasa sakit. Risda pun menatap kearah bekas memar yang ada diujung bibir Afrenzo, luka itu seperti masih baru karena darah yang ada disana masih terlihat merah nan segar.