Pelatihku

Pelatihku
Episode 125


__ADS_3

Setelah berjalan cukup lama, Risda pun merasa kelelahan saat ini. Sudah lebih dari satu jam mereka berjalan, akan tetapi belum juga bertemu dengan garis finish. Selama di perjalanan gadis itu terus menatap ke arah para penduduk yang sedang menyaksikan acara karnaval, sementara tatapan dari Afrenzo terus terarah kepada Risda karena Risda ada di depannya.


Baru kali ini Riska mengikuti acara karnaval, biasanya dirinya hanya melihat di tepi jalan tanpa ikut berpartisipasi dalam acara karnaval. Sehingga dirinya merasa begitu senang apalagi bisa dilihat oleh banyak orang, meskipun awalnya dirinya merasa grogi karena ditatap oleh banyak orang akan tetapi lama kelamaan dirinya terasa seperti sudah biasa.


"Renzo, haus," Ucap Risda sambil menoleh ke belakang untuk menghadap ke arah laki laki itu.


"Bentar lagi sampai finish, tahan sebentar," Ucap Afrenzo.


"Lo sejak tadi ngomong gitu mulu kapan sih sampainya? Udah 10 kali lo bilang begitu tau, kaki gue sudah pegal pegal nih. Capek, haus panas, andai tadi pakai sepatu mungkin nggak terlalu panas," Keluh Risda.


Selama acara karnaval seluruh anggota bela diri diminta untuk melepas alas kakinya, sehingga mereka semua berjalan tanpa memakai alas kaki apapun. Begitulah ciri khas dari seorang ahli bela diri, yang berjalan di aspal panas tanpa memakai alas kaki.


Risda yang sudah terbiasa sejak kecil berjalan tanpa alas kaki itu pun tidak terlalu terasa sakit, akan tetapi panasnya matahari di siang itu membuatnya sangat merasa kepanasan. Bukannya Afrenzo tidak mau memberinya minum, akan tetapi tidak baik jika minum sambil berjalan.


Mendengar keluhan dari Risda itu langsung membuatnya memberi panduan kepada seluruhnya untuk berhenti, seketika itu juga mereka berhenti di tengah jalan. Mereka semua langsung duduk sambil meluruskan kedua kakinya ke depan, meskipun jalanan tersebut terasa panas akan tetapi cukup melegakan jika digunakan untuk duduk.


"Fandi bagikan minuman gelasan kepada semuanya, biar Mereka minum dulu Setelah itu kita lanjut jalan," Ucap Afrenzo memberi arahan.


"Baik pelatih," Jawab Fandi.


Fandi pun langsung mendekat ke arah sebuah sepeda motor, salah satu pelatih yang naik sepeda motor tersebut pun memberikan satu kardus minuman kepada Fandi. Fandi pun langsung membagikan minuman tersebut kepada seluruh siswa yang ikut dalam acara karnaval, tanpa terkecuali sedikitpun.


"Pelatih minumlah dulu," ucapkan di sambil memberikan segelas minuman kemasan kepada Afrenzo.


"Terima kasih," Jawab Afrenzo sambil menerimanya.


Risda yang menerima minuman tersebut langsung segera meminumnya begitu saja, karena saking hausnya dirinya langsung menghabiskan minuman tersebut. Akan tetapi rasa hausnya tak kunjung hilang, karena suasana panas yang ada di jalanan itu.


"Renzo, gue masih haus lagi," Keluh Risda.


"Nih punya gue, minum saja," Afrenzo lalu menyodorkan minumannya itu kepada Risda.


"Tapi kan itu punya lo, kalau gue ambil lalu lo minum apa?"


"Sebentar lagi sampai finish jadi lo nggak perlu khawatir soal gue,".


"Ih pengertian banget sih jadi cowok, lo memang the best, Renzo. Thanks ya atas minumannya,"


Tanpa sungkan sungkan lagi Risda langsung mengambil minuman tersebut dari tangan cowok itu begitu saja, Risda lalu membuka kemasannya dan meminumnya begitu saja, rasanya memang tidak terlalu dingin karena minuman itu bukanlah es akan tetapi minuman itu sudah cukup untuk menghilangkan rasa hausnya.


Setelah selesai minum mereka semua pun langsung melanjutkan perjalanan mereka, Afrenzo kembali menyuruh mereka untuk berdiri dan jalan lagi. Jika mereka terus duduk tanpa melanjutkan perjalanan mungkin akan sampai di garis finish sangat lama, apalagi regu di belakang mereka adalah regu senam dari ibu ibu.


Setelah jalan beberapa langkah hingga membuat Risda kembali lelah, akhirnya mereka sampai di garis finish. ketika sampai di garis finish Afrenzo pun langsung memberi arahan kepada mereka untuk baris, dan melakukan gerakan di garis finish tersebut.


Setelahnya mereka pun membubarkan diri masing masing menuju ke kelas yang telah disediakan, Risda dan yang lainnya langsung bergegas membubarkan diri masing masing ke arah yang telah ditentukan.


"Untuk cabang SMA Bakti Negara, minuman kalian sudah disiapkan di dalam kalian ambil sendiri sendiri," Ucap salah satu pelatih dari cabang lainnya kepada Risda dan teman teman.


"Baik, Pak pelatih," Jawab mereka secara serempak.


Risda dan yang lainnya langsung berkas menuju ke arah yang dimaksud tersebut, Mereka pun bingung harus mengambil minuman yang mana karena di sana terdapat beberapa kardus besar. Oleh karena itu mereka tak kunjung untuk mengambilnya, karena mereka takut salah dalam mengambil minuman tersebut.


"Eh minuman apa yang dimaksud?" Tanya Vina.


"Katanya minuman cabang kita sudah disediakan di sini, ambil saja yang ini mungkin ini yang disediakan di sini untuk kita," Ucap Risda sambil memegangi sebuah kardus yang berisikan botol air mineral.


"Okelah."


Mereka pun langsung mengambil satu satu minuman tersebut, dan langsung membuka minuman tersebut untuk diminum. Risda sendiri sudah habis setengah botol, tiba tiba seorang pelatih dari cabang lain pun datang.


"Eh minumannya bukan yang itu, minuman yang itu untuk tamu undangan. Kalian diberi minuman gelas bukan botol, kalau yang botol itu digunakan untuk tamu undangan atau pelatih," Ucap pelatih tersebut karena saking terkejutnya.


"Sudah terlanjur Pak, punyaku saja sudah habis. Kami tadi bingung mau ngambil yang mana soalnya di dalam itu banyak sekali, jadi kami ambil yang ini," Ucap Risda.


"Ya sudah nggak apa apa lagian sudah terlanjur juga, anggap saja ini sebagai rezeki untuk cabang kalian," Ucap pelatih tersebut dan langsung membuat mereka merasa tenang.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak."


Kalau bukan karena Risda lalu karena siapa lagi, Afrenzo yang melihatnya dari kejauhan itu pun hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya saja sambil tersenyum tipis. Bagaimana bisa tiba tiba datang yang dirinya pimpin mendapatkan minuman botolan, sementara cabang cabang yang lainnya hanya mendapatkan minuman gelasan.


Rasanya sangat lelah habis jalan jauh, oleh karena itu mereka semua bersantai terlebih dulu sebelum melanjutkan untuk perjalanan pulang. Tempat tersebut memang cukup jauh dari sekolahan mereka sehingga mereka harus kembali ke sekolahan tersebut secara bersama sama agar tidak tersesat di jalan.


Risda yang mudah kebingungan itu pun tidak tahu arah jalan pulang, bahkan sampai sekarang dirinya tidak mengetahui lokasi di mana sekolahan tersebut berada. Jika dirinya dibiarkan berangkat dan pulang sendiri, mungkin dirinya tidak akan bisa sampai ditempat tujuannya.


Bahkan jalanan yang dirinya lewati sebelumnya itu pun sama sekali belum pernah dirinya lewati, sehingga dirinya terus bertanya kapan sampai finishnya kepada Afrenzo.


"Renzo! Eh maksudnya pelatih," Panggil Risda kepada Afrenzo ketika cowok itu melintas didepannya, dan dirinya baru menyadari bahwa adanya pelatih dari cabang lainnya.


"Ada apa?" Tanya Afrenzo.


Afrenzo pun melotot kearah Risda ketika menatap wajah gadis itu,


"Kapan pulangnya? Capek,"


Sejak tadi dirinya terus mengeluh dan mengeluh, seakan akan ini adalah hari capek sedunia baginya. Padahal dirinya baru saja ikut festival karnaval tersebut, akan tetapi keluhannya tiada habisnya.


Latihan fisik yang selama ini dibimbing oleh Afrenzo, baginya berbeda jauh ketika sedang acara. Biasanya setiap orang akan merasa lelah ketika latihan dan kagum ketika acara berjalan dengan lancar, justru berbeda jauh dari Risda yang seru ketika latihan dan bosan ketika sedang acara.


"Habis ini pulang," Jawab Afrenzo.


Afenzo pun mengobrol sebentar dengan pelatih tersebut, entah apa yang keduanya bicarakan saat ini karena Risda tidak mampu untuk mendengarnya. Pembicaraan itu terlihat sangat seru dan penting, Risda dapat mengetahui itu ketika melihat ekspresi keduanya.


Cukup lama keduanya mengobrol, akhinya Afrenzo mengajak mereka untuk balik kembali ke aula beladiri yang ada didekat SMA Bakti Negara. Mendengar itu langsung membuat Risda merasa sangat senang, dan bahkan bersemangat untuk kembali kesekolah.


"Kak nanti tungguin sampe dijemput ya," Ucap Mei kepada Risda.


"Tenang saja, kalo kagak dijemput nanti tak antarkan pulang," Jawab Risda.


"Emang Kakak ngak keberatan apa? Soalnya kan rumahku jauh dari aula beladiri,"


"It's oke, ngak masalah."


Jarak antara Risda dan seluruh siswa lainnya pun sangat jauh, Afrenzo yang memimpin perjalanan itu langsung menyerahkan kepada Fandi untuk memimpin yang lainnya. Sementara Afrenzo, dirinya langsung mengikuti kemana Risda pergi, bahkan Risda sampai salah jalan akan tetapi masih saja lurus.


Risda terlalu percaya diri bahwa dirinya akan sampai disekolahan lebih dulu daripada yang lainnya, dengan kepercayaan diri yang cukup besar dirinya pun terus melaju dengan kecepatan 50 km/jam.


"Kak, tadi ngak lewat disini deh," Ucap Mei yang baru menyadari bahwa ada yang salah dengan jalanan yang dipilih oleh Risda.


"Perasaan tadi cuma lurus doang," Ucap Risda sambil mengingat ingat.


"Yakin?"


"Sangat yakin."


Sebenarnya sebelum lurus ada sebuah belokkan terlebih dulu, dan seharusnya dirinya berbelok akan tetapi Risda terus saja lurus tanpa berbelok. Risda merasa ragu dengan jalanan itu, akan tetapi ketika melihat sepionnya ada sosok Afrenzo yang ada dibelakang motornya hal itu membuatnya merasa tenang.


"Ternyata jalan gue bener," Guman Risda senang.


Risda lalu menambah kecepatan laju motornya, Afrenzo masih saja mengejarnya dari belakang. Hingga dirinya sampai disebuah pertigaan, hal itu langsung membuatnya berhenti karena pertigaan itu sama sekali tidak ia lewat sebelumnya.


"Mau kemana, Mbak?" Tanya Afrenzo yang mendekat kearah motor milik Risda.


"Renzo, jalannya kok beda? Ini belok kemana?"


"Belok kekanan untuk keluar kota, dan..."


"Oh jadi belok kekiri ya?"


"Hah..."


Belum selesai Afrenzo mengatakannya, Risda lalu memotongnya begitu saja. Tanpa menunggu jawaban dari Afrenzo, Risda kembali melajukan motornya itu untuk belok kekiri yang menurutnya adalah jalan untuk kembali kesekolahan.

__ADS_1


"Gue belom selesai ngomong, kekiri itu jalan buntu. Terserah lo saja Da," Guman Afrenzo lirih sambil melihat Risda yang melaju tanpa mengejarnya.


Risda dengan percaya dirinya pun langsung melaju meninggalkan Afrenzo begitu saja, dirinya tidak merasa aneh karena Afrenzo tidak mengejarnya saat ini. Risda terus berkas untuk melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang lebih cepat daripada sebelumnya, tanpa memperdulikan bahwa dia akan berhadapan dengan jalan buntu.


"Kak, pelatih kok ngak ada dibelakang?" Tanya Mei ketika menoleh kebelakang.


"Ngak tau, biarkan saja."


Tak beberapa lama kemudian Risda pun menghentikan motornya, ketika dirinya menyadari bahwa motor tersebut membawanya menuju ke sebuah ladang pertanian yang cukup luas, dan jalanan aspal yang dirinya lewati berhenti begitu saja. Tidak ada jalur lain yang bisa dia pilih, itu artinya jalan yang dirinya lewati adalah sebuah jalan buntu.


Afrenzo pun duduk diatas motornya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya, dirinya memarkirkan motornya ditepi jalan dan dibawa pohon yang rindang. Dirinya pun mulai menghitung waktu, dan menunggu kedatangan Risda kembali.


Tepat pada hitungan yang ke 10, dirinya melihat Risda yang menaiki motornya menuju kearahnya. Dirinya pun tersenyum tipis ketika melihat Risda kembali, dia tidak mengejarnya karena tau bahwa Risda akan putar balik setelah mencapai ujungnya.


"Ngapain balik, Mbak?" Tanya Afrenzo ketika melihat Risda menghentikan motornya didepannya.


"Lo kok ngak bilang sih kalo jalanannya buntu? Seharusnya lo bilang kek dari tadi sebelum gue kesana, lo malah berdiam diri saja disini mulu. Udah tau jalanannya buntu, kenapa lo biarin gitu aja sih," Omel Risda kepada Afrenzo.


"Emang mau dengerin ucapan gue?" Tanya Afrenzo balik.


"Maaf, gue ngak tau kalo jalan itu buntu. Gue nggak hafal jalanan sini," Ucap Risda yang baru menyadari bahwa sebelumnya dirinya yang sok tau soal jalanan, dan meninggalkan Afrenzo sebelum dirinya menyelesaikan perkataannya.


"Kalo nggak hafal, kenapa duluan?"


"Biar semuanya kagum sama gue, soalnya gue bisa sampe aula beladiri lebih dulu,"


"Terus yang didapat?"


"Salah jalan," Cicit Risda pelan sambil menyengir bagaikan kuda.


"Mangkanya kalo ada orang ngomong itu dengerin dulu, jangan asal aja,"


"Iya iya, lain kali nggak akan diulangi lagi kok."


"Ya sudah. Ikuti gue sekarang,"


Afrenzo pun langsung menyalakan motornya, dirinya pun langsung putar balik segelahnya. Risda sendiri pun mulai mengikutinya dari belakang, cukup lama mereka berada disana akan tetapi mereka masih tetap berada dijalur yang tidak dikenalnya itu.


"Renzo, lo tau jalan kan?" Tanya Risda.


"Nggak," Jawab Afrenzo singkat.


"Terus gimana dong? Nyasar lagi?"


Risda pun langsung panik begitu saja, sebenarnya Afrenzo sangat hafal dengan jalanan itu. Karena Risda yang salah jalur begitu jauh sehingga butuh waktu lama untuk bisa kembali ke jalur yang benar, waktu yang lama itu langsung membuatnya nampak begitu panik.


"Renzo, kita sebenarnya ada dimana sih? Kenapa kembalinya jauh banget,"


"Luar negeri," Jawab Afrenzo singkat.


"Jadi ini di Malaysia?"


Setahu Risda, perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia ada yang tidak melewati sebuah lautan. Mendengar jawaban dari Risda, hanya membuat Afrenzo menghelakan nafasnya dengan kasarnya.


"Ini Jakarta, bukan kalimantan."


"Jadi ini dimana? Lo juga sih ngak jelasin ke gue,"


"Diem. Nurut saja,"


"Jadi lo tau kan jalannya? Kita tidak akan tersesat lagi kan?"


"Lo saja yang tersesat."


Mendengar jawaban itu langsung membuat Risda tertawa terbahak bahak diatas motornya, dan memang dirinya saja yang tersesat bukan Afrenzo. Afrenzo mengetahui arah jalanan itu, akan tetapi Risda sama sekali tidak hafal soal itu dan sok sok an hafal mengenai jalanan yang penuh belokkan itu.

__ADS_1


Cukup lama didalam perjalanan dan beberapa kali mereka berbelok, akhinya Risda mengetahui jalanan yang mereka lewati untuk menuju kearah sekolahan ketika bersama Anna sebelumnya. Melihat itu langsung membuat Risda menyalip motor Afrenzo dan melaju menuju kearah sekolahan.


"Gadis aneh. Sudah kesasar masih aja belom jerah," Guman Afrenzo.


__ADS_2