
Afrenzo seakan akan tidak memiliki rasa lelah, meskipun berdiri cukup lama dirinya pun tidak pernah menyerah. Risda saja yang sejak tadi berdiri saja sudah sangat capek, tapi Afrenzo yang terus berkeliling itu sama sekali tidak merasa capek.
Sebenarnya manusia juga memiliki rasa lelah, akan tetapi tanggung jawab dari seorang Afrenzo itu begitu berat. Hal itulah yang membuat Afrenzo tidak mampu untuk mengeluh sedikitpun itu, karena hanya dengan mengeluh semuanya tidak akan pernah selesai.
Mengeluh bukanlah solusi untuk setiap masalah, akan tetapi bangkit dan berusaha untuk menyelesaikannya adalah mengeluarkan diri dari masalah. Mengeluh sama sekali tidak akan mendapatkan hasil, akan tetapi berusaha akan mendapatkan hasil yang luar biasa.
"Silahkan kembali ke kelas, dan jangan pernah diulangi lagi soal ini. Atau hukuman kalian akan ditambah," Ucap Afrenzo kepada semuanya.
Mendengar itu langsung membuat semua yang ada disana segera membubarkan diri masing masing, begitupun juga dengan Risda yang langsung mendatangi sepedah motornya dan mendorongnya menuju ketempat parkir.
Risda benar benar merasa lelah dan capek karena habis dijemur oleh Afrenzo, setelah dari parkiran dirinya langsung menuju ke koperasi siswa untuk membeli minuman dingin. Diperjalan menuju kekelasnya dirinya pun sambil minum minuman itu, tiba tiba Afrenzo menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Risda penasaran.
"Kalo minum jangan sambil jalan, ngak bagus buat jantung lo. Kalo minum sambil duduk," Jawab Afrenzo dengan dinginnya.
"Iya ya, maaf. Lain kali ngak akan gue ulangi lagi kok, gue bakalan minum sambil duduk,"
"Hem.."
Setelah berdehem, Afrenzo langsung bergegas pergi dari sana. Melihat itu langsung membuat Risda menghirup nafas dalam dalam, untuk menahan kekesalannya keadaan lelaki itu, bagaimana tidak kesal? Dia tiba tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
"Da!" Panggil Mira senang.
"Makk!! Selamatin gue!" Teriak Risda ketika melihat Mira berlarian kearahnya.
Bhukk... Bhukk... Bhukk...
Tubuh Mira pun langsung menubruk tubuh Risda, hingga keduanya langsung terjatuh bersama hingga terbentur dengan lantai yang keduanya pijaki itu.
"Auhhh sakit..."
"Emang lo aja yang sakit? Gue juga kali!"
"Tubuh lo letoy banget sih, Da. Masak digituin aja langsung ambruk,"
"Matamu letoy. Kira kira dong kalo mau nabrak, gue habis dihukum tau mangkanya lemes,"
"Ya elah, gue pikir lo kagak masuk sekolah, Da. Mangkanya gue seneng banget lihat lo masuk,"
"Dih najis. Masak iya sih cewek sama cewek saling suka? Amit amit banget, Ra. Jangan sampe itu terjadi,"
Mira pun langsung bangkit berdiri, dirinya pun langsung membantu Risda untuk berdiri juga. Sudah kedua kalinya, keduanya jatuh dilantai secara bersamaan, dan itu terjadi karena hal yang sama yakni ditubruk oleh Mira.
"Da, gue ada cerita penting tau."
"Cerita penting apa'an? Penting buat gue atau buat lo?"
"Ini soal kemarin, yang dirumahnya Wulan tau. Hari ini dia ngak masuk lagi, katanya sih besok mau masuk,"
Mendengar itu langsung membuat Risda begitu sangat antusias untuk mendengarkan cerita penting yang dimaksud oleh Mira itu. Mira pun langsung mengajak Risda untuk masuk ke dalam kelas, Mira ingin bercerita di dalam kelas saja agar tidak ada yang mendengarnya.
Keduanya langsung bergegas menuju ke dalam kelas, keduanya langsung disambut oleh Rania dan Septia. Tangan Risda pun langsung ditarik oleh Rania, agar Risda duduk disebelahnya saat ini tanpa meminta izin kepada Risda terlebih dulu.
"Auhh.. Bisa pelan dikit ngak sih? ****** gue sakit tau, lo ngak tau apa? Gue habis jatuh didepan, noh gara gara si Mira," Keluh Risda karena apa yang dilakukan oleh Rania.
"Da, nyesel gue kerumah Wulan kemaren. Kalo disuruh kesana lagi gue kagak bakal mau," Ucap Rania dan langsung to the point kepada Risda.
Mendengar itu langsung membuat Risda tertawa sangat kerasnya, tawa tersebut hingga membuat perutnya terasa sakit akibat kerasnya dirinya tertawa. Melihat Risda yang tertawa terbahak bahak, membuat ketiganya hanya mematung tanpa mengetahui mengapa Risda tertawa.
Plakk..
Mira mendadak memukul kepala Risda, agar gadis itu berhenti untuk tertawa. Risda pun begitu sangat terkejut dibuatnya, hingga dirinya tersedak oleh ludahnya sendiri, dan berakhir dirinya batuk batuk dengan kerasnya.
"KDK lo?" Tanya Risda sambil mengusap kepalanya yang terasa nyeri.
"Apa itu KDK? Gue baru denger istilah itu," Tanya Mira yang tidak mengerti bahasa Risda.
"Kekerasan Dalam Kelas. Emang lo mau gue laporin ke kepala sekolah?"
__ADS_1
"Ya jangan lah, Da. Cukup dirimu saja yang selalu mendapat hukuman, jangan kita kita,"
"Bangsaat lo, Ra!"
Kini giliran Mira yang tertawa sangat keras, melihat Riska yang sebal membuatnya merasa sangat senang dan merasakan kemenangan. Risda pun mengangkat tangannya untuk melakukan hal yang sama seperti Mira sebelumnya, akan tetapi sebelum melakukan itu dirinya langsung dicegah oleh Mira sendiri.
"Eitss... Jangan gitu dong, Da. Tangan lo itu keras kalau mukul kepala gue, kepala gue bisa bisa melayang tuh ke Australia."
Mira pun menggerakkan tangannya untuk memegang tangan Risda, dan menurunkan tangan tersebut setelah hampir melayang kearah kepalanya. Risda pun langsung menyingkirkan tangannya dari tangan Mira, dan langsung melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Enak itu, Ra. Lo bisa liburan tanpa mengeluarkan biaya yang mahal," Sela Septia.
"Matamu! Gue is dead yang ada, belom liburan kesana, masih di Indonesia saja gue udah mati kalo kena tuh tangan."
"Kan itu sangat bagus, Ra. Lo bisa jalan jalan kejembatan Shiratal Mustaqim,"
"Lo aja yang duluan, Tia. Gue mah terakhir aja, nanti kalo sampe sana lo ceritain ke gue yak?"
"Iya lo nanti setelah Juhainan,"
"BANGSAAATTTT!!" Umpat Mira dengan mengotot.
Juhainan, dia adalah makhluk yang paling akhir masuk surga. Pada saat itu seluruh penduduk neraka seketika menangis, karena si Juhainan sudah dipanggil untuk masuk kedalam surga. Sehingga ketika hal demikian terjadi maka tidak ada harapan lagi untuk mereka semua masuk ke surga.
"Emang tuh mulut kagak bisa dikondisikan," Ucap Rania.
Risda dan Mira itu sama saja, karena keduanya mudah sekali mengumpat bahkan mudah sekali marah tiba tiba. Jadi tidak heran ketika keduanya mengumpat didepan mereka, karena memang mulutnya sangat boros.
"Ngak usah heran, emang begitu rupanya," Ucap Risda.
"Lo juga, Da. Nyadar diri kali," Ucap Mira ketus.
"Gue emang sadar tau, kalo gue pingsan mana bisa ngomong sama lo lo semua,"
"Nye nye nye..."
Risda pun tertawa melihat ekspresi Mira yang kesal itu, pembalasan dendam pun terjadi dan kali ini Risda yang tertawa. Saat ini sedang jamkosong, karena para guru tengah sibuk untuk menyiapkan acara milad yang akan diadakan besok.
"Soal Wulan," Ucap Septia.
"Gue ceritain ya?" Tanya Rania.
"Silahkan."
"Kemarin kan kita kita datang ke rumahnya tuh, pas nyampe tuh dia ada di rumah. Kita nggak disuruh masuk ke rumahnya malah disuruh masuk ke rumah tetangganya, udah gak dibuatkan minuman, disuruh berdiri lagi bahkan Nyokapnya saja sama sekali tidak nemuin kita. Ketika kita tanya kenapa dia nggak masuk sekolah, lo tahu jawabannya apa?"
"Gue nggak tahu lah, orang gue nggak ikut sama kalian kemarin. Kenapa harus tanya gue? Ya gue ngak tau," Ucap Risda memotong pembicaraan dari Rania.
"Gue belum selesai ngomong tau, Da. Dengerin dulu cerita gue,"
"Ya ya ya silakan lanjut,"
"Dia tuh kayak ngampangin banget gitu loh, kan gue tanya baik baik eh jawabannya malah gini 'Iya ya besok gue masuk kalian kenapa sih datang ke sini orang gue cuma bolos 3 hari doang' siapa coba yang nggak kesal? Gue dan lainnya di sana cuma beberapa menit doang, Da. Setelah itu langsung pamitan pulang, males banget lama lama di sana. Kayak nggak ada harga dirinya,"
Seperti yang diceritakan oleh Rania, ketika mereka sampai di rumah Wulan, Wulan pun menyuruhnya untuk masuk ke rumah kakeknya yang ada di sebelahnya. Ketika di sana mereka sama sekali tidak ditemui oleh orang tua Wulan, dan hanya ditemui oleh Wulan seorang diri.
Bahkan di rumah tersebut sama sekali tidak disediakan tempat duduk sehingga mereka hanya berdiri, seakan akan mereka datang untuk menagih sesuatu. Oleh karena itu mengapa di saat Risda berangkat untuk latihan, rumah tersebut sudah sepi, karena mereka balik lebih awal sehingga tidak mengetahui bahwa Risda lewat.
Mereka sangat kecewa ketika bertamu di rumah Wulan kemarin, bahkan Richo dan Rizal pun ikut merasa kecewa hingga tidak bisa berkata kata.
Ucapan Risda sebelum mereka berangkat pun akhirnya terjadi, memang seperti itulah keluarga Wulan karena mereka hanya memandang uang.
Kalau mereka datang dengan membawa uang akan berbeda lagi ceritanya, jika hanya sekedar berkunjung ya seperti itulah yang dilakukan. Hal itulah yang membuat Risda sangat malas untuk ke rumah Wulan, meskipun dirinya sudah terbiasa sejak kecil akan tetapi dirinya malas untuk bertemu dengan keluarga Wulan.
"Iya Da, bahkan tuh ya kami semua pun langsung disuruh untuk pulang gitu aja. Gila banget ngak sih? Orang kita ke sana aja nggak minta apa apa kok, cuma kita kan disuruh sama Bu Ninik doang, masa iya sih kita nggak ngelakuin itu?" Sela Mira.
"Iya gue juga ngesel banget kesana, kalau saja kita dengerin ucapan lo kemarin kita nggak akan datang ke sana. Selama ini gue bertamu di rumah orang kagak seperti ini, baru kali ini gue nyesel bertemu di rumah orang," Tambah Septia.
Risda pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, yang dirinya tahu bahwa Ibu kandungnya tidak akan seperti itu kepada tamu dari anaknya. Apalagi tamu itu adalah teman teman baru dari Wulan, dirinya tidak akan melakukan itu karena jika sampai mereka benci Wulan justru akan membuat pelajaran Wulan terganggu.
__ADS_1
"Emang kalian sudah ketemu langsung sama Nyokapnya Wulan?" Tanya Risda.
"Kita emang belum bertemu sih, Da. Seharusnya dia keluar ketika kita datang, biasanya kan orang tua selalu senang kalau anaknya didatangi oleh teman temannya. Apalagi ini hanya berkunjung, karena kita juga ingin tahu keadaan Wulan," Ucap Rania emosi.
"Apa mungkin Nyokapnya keluar ya?"
"Gue nggak tahu soal itu,"
Tringg... Tringg...
Tiba tiba ponsel milik Risda pun berdering, dirinya lupa untuk mematikan datanya sehingga ada telepon yang masuk. Risda pun menghentikan percakapan mereka dan langsung menyambar ponsel yang ada di sakunya, nampak ada nomor yang tidak dikenal tengah menelponnya.
"Nomor milik siapa nih? Kalian kenal nggak?" Tanya Risda sambil menunjukkan layar ponselnya kepada teman temannya.
"Gue nggak kenal, Da. Angkat aja, mungkin saja itu penting," Ucap Rania.
"Iya angkat aja, mungkin itu penting," Ucap Mira.
"Jangan dulu, kalo telponnya hanya sekali dua kali jangan diangkat dulu. Mungkin saja orang iseng kali, kalo telponnya banyak kali langsung angkat kali aja penting." Septia pun memberikan saran.
Jikalau ada orang yang telepon dengan menggunakan nomor baru jangan diangkat, bisa saja mereka akan berbuat kejahatan kepada kita. Akan tetapi jika penelpon itu berulang ulang kali telepon dan mengirim pesan itu artinya ada hal yang sangat penting untuk disampaikan kepada kita.
Awalnya Risda pun mengabaikan telepon tersebut, akan tetapi dari nomor yang sama orang itu mengirim sebuah pesan kepada Risda. Risda lalu membuka pesan tersebut, dan membacanya dengan bersama sama.
...----------------...
...081*****...
Risda, ini Putri. Kakak keponakannya Wulan, aku mau ngomong penting sama dirimu.
^^^Mbak Putri ya?^^^
^^^Maaf baru bisa bales^^^
Iya ngak papa, lagi sibuk ngak?
^^^Ngak kok, ini lagi jamkos^^^
Baiklah, Aku telpon ya
^^^Iya Mbak^^^
...----------------...
Risda memandangi teman temannya untuk mencari jawaban, teman temannya hanya mengangguk mengiyakan untuk mengangkat telepon tersebut. Risda merasa agak bingung, mengapa Kakak keponakan dari bulan tiba tiba ingin ngomong sesuatu kepadanya.
Risda tidak mau menambah masalah hidupnya, apalagi berurusan dengan orang orang dari keluarga Wulan lagi. Sudah cukup dirinya difitnah waktu itu, dia tidak mau lagi sampai hal itu membuat hubungannya dengan Ibunya renggang.
Masalah yang dihadapi oleh Risda sebelumnya sudah membuatnya sangat frustasi, dirinya tidak mampu lagi untuk menerima masalah lagi setelahnya. Entah apa yang ingin diobrolkan dengan Risda saat ini, sehingga Putri sendiri langsung menghubungi Risda.
Mungkinkah hal ini terjadi karena kejadian kemarin? Akan tetapi Risda merasa bahwa dirinya tidak ada hubungannya dengan hal ini. Kemarin saja dirinya tidak ikut berkunjung ke rumah Wulan, lantas mengapa kali ini Kakak keponakan Wulan langsung menghubunginya untuk membicarakan sesuatu dengannya.
Putri adalah anak angkat dari Asmi ( Tante Wulan ), karena selama 10 tahun pernikahannya dirinya tidak dikaruniai oleh seorang anak, sehingga dirinya mengangkat anak tetangganya menjadi anaknya sendiri. Setelah 5 tahun mengangkat Putri sebagai anaknya, akhirnya Asmi dikaruniai oleh seorang anak perempuan.
"Dia mau ngomongin apa ya sama gue?" Tanya Risda kepada teman temannya.
"Apa jangan jangan soal kemarin? berhubung dirinya tidak mempunyai nomor kita sehingga dia menghubungi lo," Ucap Rania.
"Terus apa hubungannya sama gue? Kenapa dia seolah olah ingin membicarakan sesuatu yang penting sama gue? Kenapa tidak langsung to the point aja minta nomor kalian?" Tanya Risda dengan beruntun.
"Kalau soal itu sih gue nggak tau, mending kita tunggu saja sampai dia telepon. Nanti nyalain pengeras suaranya biar kita semua juga denger, hal penting apakah yang ingin diobrolin sama lo,"
"Baiklah kita tunggu saja sampai dia telepon,"
Risda pun meletakkan ponselnya itu di bangkunya, keempat orang itu terus memandangi ponsel milik Risda. Keempatnya tengah menunggu Kakak dari Wulan menelpon, cukup lama ponsel itu tidak berdering dan akhirnya ponsel tersebut berdering juga.
Risda lalu mengangkat telepon tersebut, dan dirinya juga menyalahkan pengeras suara agar teman temannya bisa dengar. Entah hal penting apakah yang dimaksud oleh Putri sebelumnya, sehingga dirinya harus menghubungi Risda di saat jam sekolah seperti ini.
"Halo," Ucap Putri dari seberang sana melalui ponselnya.
__ADS_1
"Iya Mbak aku di sini, Mbak Mau ngomong apa sama diriku?" Tanya Risda sambil mendekatkan wajahnya kepada ponsel itu.
"Ini soal kemarin,..."