
"Lo diam disini," Ucap Afrenzo dan langsung mendorong Risda untuk duduk ditempatnya sebelumnya untuk menunggu yang lainnya selesai ujian.
Risda pun masih cemberut karena ulah Afrenzo sebelumnya, dirinya pun tidak mau menoleh kearah Afrenzo karena masih kesal dengan lelaki itu. Sementara Afrenzo masih berdiri dihadapan Risda dan membelakangi dirinya, Afrenzo bersedekap dada sambil menatap jalanan yang ada didepan mereka.
Afrenzo seakan akan tidak peduli tentang Risda yang tengah marah kepadanya itu, bahkan Risda merasa bahwa dia telah diabaikan oleh Afrenzo kali ini. Lelaki itu masih berdiri dengan tegapnya dihadapan Risda, seakan akan lelaki itu tidak memiliki rasa lelah sedikitpun untuk terus berdiri.
Risda dengan kesalnya pun langsung menghela nafas dengan kasarnya sambil mendengus lirih, akan tetapi hal itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Afrenzo. Baru kali ini lelaki itu seperti tengah mengabaikannya, dan hal itu membuat Risda merasa tidak nyaman karenanya.
"Lo bisa duduk nggak sih?" Dan akhirnya suara Risda pun keluar dari mulutnya yang sejak tadi ia tahan untuk berbicara.
"Hem..." Jawab Afrenzo yang hanya berdehem saja tanpa menoleh kearah Risda.
"Renzo?" Panggil Risda.
Risda langsung menarik tangan Afrenzo dan membuat lelaki itu duduk, Afrenzo pun terkejut dan langsung menatap kearah wajah Risda ketika dirinya sudah terduduk. Pandangan keduanya saling bertemu, dan terlihat sebuah senyuman diwajah Risda ketika kedua matanya menatap mata hitam yang indah milik Afrenzo.
"Tangan lo panas banget, Renzo."
Merasakan bahwa pergelangan tangan Afrenzo terasa panas, Risda langsung bergegas untuk menyentuh kening Afrenzo, dirinya pun mengerutkan keningnya disaat merasa kening Afrenzo juga panas. Afrenzo sendiri langsung menjauhkan tangan Risda dari wajahnya itu, dirinya langsung menoleh kearah lain.
"Lo sakit?" Tanya Risda.
"Gue nggak sakit."
"Tapi tubuh lo panas banget, kayak orang demam,"
"Tangan lo aja yang dingin, jadi nyentuh kulit terasa panas."
"Emang sih tangan gue dingin," Risda pun terkekeh pelan karena melihat tangannya yang mengerut akibat kedinginan.
Dirinya pun menatap jari jari tangannya yang terasa dingin itu, sangat dingin sekaligus ditambah dengan semilir angin malam kali ini. Biasanya dirinya tidak akan tahan dengan dinginnya malam, entah mengapa kali ini dirinya merasa berberbeda, dan bahkan tubuhnya itu tidak merasa sakit ataupun masuk angin.
"Lo kembali saja dulu, habis itu lo ganti pakaian," Ucap Afrenzo yang melihat Risda menatap kearah jari jarinya yang mengerut itu.
"Nanti aja bareng bareng, kalo gue balik sendiri yang ada gue ngerasa nggak enak, Renzo."
"Nanti yang ada lo sakit, Da. Mending balik lebih dulu, biar gue izinin,"
"Nggak usah, gue nggak bakalan sakit."
Afrenzo pun kembali terdiam mendengar ucapan dari Risda, dirinya pun memilih untuk memperbaiki posisi duduknya agar terasa nyaman. Afrenzo pun meluruskan kedua kakinya, dan dirinya pun bersandar dengan kedua tangannya yang ia taruh dibelakang tubuhnya.
"Renzo, bulannya sangat indah ya?" Tanya Risda yang tengah menatap kearah bulan.
Afrenzo pun sekilas melihat kearah rembulan malam ini, dan dirinya pun langsung berbalik menatap kearah wajah Risda. Kedua mata Risda tengah berkaca kaca saat ini, seakan akan ada penuh kesedihan yang tengah dirinya tahan dalam waktu yang teramat sangat lama.
"Iya. Sangat indah," Ucap Afrenzo yang justru menatap wajah Risda.
"Lo tau, kenapa gue sangat merasa damai jika menatap bulan?" Tanya Risda.
"Kenapa?"
"Rembulan itu sangat indah jika dipandang di malam hari yang terang seperti ini, setiap kali gue menatapnya gue selalu merasa bahagia. Rembulan adalah ciptaan Allah yang paling indah menurut gue, dan selalu menemani malam gue jika gue sedang menangis untuk menenangkan gue. Melihat bulan selalu membuat gue merasa damai, sama kayak melihat kedua mata lo, Renzo. Bagi gue, adanya lo dan Bunda itu sudah jauh lebih cukup, gue ngerasa hidup kembali selama ada lo dan Bunda."
Afrenzo pun mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan puncak kepala Risda, Risda selalu bahagia jika ada seseorang yang mengusap kepalanya itu. Risda pun tersenyum kearah Afrenzo dengan senyuman yang sangat cerah nan lebar, Afrenzo sendiri pun juga tersenyum tipis melihat Risda tersenyum.
"Gue boleh tanya sesuatu sama lo, Renzo?"
"Tanya apa?"
"Kenapa lo begitu baik sama gue? Padahal kita bertemu juga belom lama,"
__ADS_1
"Lo sendiri juga baik sama gue, Da."
"Tapi gue sering bikin lo kecewa, sering bikin lo susah,"
"Gue bisa maklumin itu, karena lo juga rindu kasih sayang orang tua, kan? Lo ngelakuin itu karena lo ingin dimengerti, ingin diperhatikan oleh yang lainnya karena lo juga butuh perhatian. Selama ini lo tidak mendapatkan itu dari keluarga lo, jadi lo mencari dari orang lain,"
Risda hanya menundukkan kepalanya mendengar ucapan Afrenzo, memang benar dirinya sangat butuh perhatian dari orang orang seperti apa yang dikatakan oleh Afrenzo saat ini kepadanya. Dia memang memiliki keluarga, tapi dirinya tidak memiliki kasih sayangnya.
****
Risda dan yang lainnya langsung kembali kedalam ruangan yang telah disediakan setelah selesai mengganti pakaian mereka, Risda memakai pakaian biasa untuk tidur, karena waktu sudah larut malam sehingga mereka pun langsung terlelap dalam tidurnya.
Mereka semua pun tertidur kecuali beberapa panitia yang berjaga dan Afrenzo yang masih terjaga dimalam ini. Afrenzo dan pelatih lainnya sedang duduk didepan api unggun yang telah mereka buat, tak lupa ditangan mereka masing masing ada setusuk jagung bakar yang tengah mereka bakar.
"Gimana lukamu?" Tanya seseorang kepada Afrenzo.
"Anda memukulnya terlalu keras tadi, Pak. Rasa nyerinya masih terasa," Ucap Afrenzo.
"Apa! Kamu pukul Renzo?" Tanya lelaki yang duduk disamping Afrenzo dengan terkejutnya.
"Pak Mat, Pak Bima nggak salah kok, dia hanya melakukan tugasnya untuk menguji," Afrenzo membela orang yang telah menghajarnya sebelumnya.
"Dia sudah tau kalau kamu itu terluka, kenapa harus dipukulnya lagi?" Rahmat pun seakan akan mengalah Bima karena tindakannya itu.
"Maaf sebelumya, Renzo. Aku terlalu keras memukulmu tadi, biar aku obati,"
Bima pun langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu, dirinya pun hendak mengambil sesuatu untuk mengobati luka Afrenzo. Sementara Rahmat langsung membuka pakaian Afrenzo begitu saja, dan nampaknya luka memar yang sedikit menghitam disana.
"Papamu lagi?" Tanya Rahmat dan langsung dibalas anggukan oleh Afrenzo.
"Dia tidak mengizinkan diriku untuk ikut apapun yang berhubungan dengan pencak silat, sebelum berangkat dia menghajarku tadi," Ucap Afrenzo setelah mendapat tatapan dari Rahmat yang menyuruhnya untuk menjelaskan.
"Nggak akan Pak,"
"Dengarkan aku, kamu tidak akan dicap sebagai penghianat jika berhenti dalam organisasi ini."
"Sampai kapan pun aku tidak akan berhenti dari organisasi ini, Pak. Organisasi ini adalah rumahku, jika aku berhenti lantas kemana aku harus pulang? Meskipun Papa menghajarku sampai mati sekalipun, aku tidak akan pernah berhenti dalam organisasi ini."
"Keras kepala sama seperti Reval."
"Aku adik kandungnya, anda jangan lupa itu."
"Pantas saja sikapmu sama, dan semoga tidak berakhir sama."
"Hanya Allah yang tau."
"Reval orang yang baik, ramah, penyayang, dan murah senyum. Tapi kenapa dirimu jauh berbeda dengannya? Tapi yang mirip hanyalah keras kepalamu saja."
"Didikkan kita berbeda. Mana mungkin karakter seluruhnya bisa disamakan?"
"Bener juga sih apa yang dikatakan oleh Reval,"
"Apa yang dikatakan oleh Kakak?" Tanya Afrenzo penasaran.
"Afi nya akan tumbuh menjadi lelaki dewasa setelah dia pergi, benar saja apa katanya itu. Beban yang kamu tanggung sangat banyak, terkadang kau harus memikirkan dirimu sendiri dan jangan memikirkan orang lain terus, Renzo. Kau juga berhak bahagia."
*****
"Renzo!"
Risda berlari untuk menuju kearah Afrenzo. Setelah dirinya terlelap dalam tidurnya, panitia pun membangunkan mereka untuk bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjama'ah, dan tanpa sengaja Risda melihat Afrenzo yang tengah berjalan sendirian disana.
__ADS_1
Mendengar panggilan itu, hal itu langsung membuat Afrenzo menghentikan langkahnya dan menoleh kearah seseorang yang tengah memanggilnya itu. Risda langsung berdiri dihadapan lelaki tersebut, jalanan masih terlalu sepi karena seluruhnya masih berada diruangannya untuk bersiap diri menuju ke masjid.
"Lo cepet banget sih jalannya," Keluh Risda setelah sampai dihadapan Afrenzo.
"Kenapa?" Tanya Afrenzo sambil memicingkan sebelah matanya.
"Semalam gue nggak bisa tidur, dan nggak sengaja denger pembicaraan lo sama pelatih yang lainnya."
Afrenzo pun langsung membuang pandangan dari Risda setelah Risda selesai mengucapkan perkataanya itu, "Apa lo juga nyuruh gue berhenti dari beladiri?" Tanya Afrenzo tanpa menoleh.
"Renzo, gue nggak ada niatan untuk nyuruh lo berhenti. Tapi....."
"Abaikan soal gue."
Afrenzo pun hendak melangkah meninggalkan Risda, akan tetapi Risda langsung meraih tangannya itu dan menggandeng tangan Afrenzo. Risda tidak membiarkan lelaki itu pergi meninggalkannya, Risda tau bagaimana perasaan Afrenzo saat ini.
"Renzo, kalau kita mencintai sesuatu pasti kita tidak mau kehilangannya. Gue juga merasa bahwa organisasi ini adalah rumah gue, keluarga gue juga nyuruh gue untuk berhenti, tapi gue...." Risda pun tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya, seakan akan suaranya tercengkal begitu saja.
Risda yang tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya pun hanya menundukkan kepalanya lesu, mendengar itu langsung membuat Afrenzo menoleh kearah Risda dan mengusap pelan puncak kepala Risda.
"Da. Kita hanyalah anak kecil dimata mereka, dan kita tidak memiliki hak untuk memilih jalan hidup kita sendiri. Gue tau ini bakalan sulit,"
"Apa lo mau berhenti untuk latihan?" Tanya Risda.
"Nggak akan pernah."
"Tapi gimana kalau Papa lo memukuli lo terus seperti ini? Padahal dia juga tau bahwa lo itu berprestasi dalam beladiri,"
"Gue hanya berharap, adik adik gue nggak bakalan ngerasain apa yang gue rasain, Da. Mereka berhak untuk meraih mimpi, begitupun juga lo,"
"Tapi lo berhak menentukan jalan hidup lo sendiri, Renzo. Mereka tidak bisa menekan lo seperti ini,"
"Jalan hidup ada ditangan kita sendiri, Da. Siapapun tidak bisa mencegahnya, karena takdir akan mencari jalannya sendiri. Allah tidak akan menciptakan takdir yang buruk untuk hambanya, semuanya akan indah pada waktunya."
"Tapi Papa lo?"
"Sudah. Lebih baik kita segera bergegas menuju masjid, habis ini waktunya untuk sholat subuh," Pungkas Afrenzo yang tidak mau berlama lamaan untuk membahas masalah tersebut.
Afrenzo pun bergegas meninggalkan tempat tersebut, dan Risda tidak mau melepaskan pengangan tangannya dari tangan Afrenzo. Hal itu, langsung membuat Afrenzo menyeret Risda untuk ikut serta jalan bersamanya, dan Risda pun hanya mengikuti langkah kaki Afrenzo tanpa adanya percakapan apapun diantara keduanya.
Ketika keduanya sudah sampai dimasjid, Risda langsung melepaskan pegangan tangannya itu dari tangan Afrenzo. Afrenzo hanya menoleh sekilas dan langsung melangkah menuju ketempat wudhu laki laki.
"Apapun yang terjadi, lo harus baik baik saja, Renzo." Suara Risda yang melengking keras karena gadis itu pun berlari menjauh dari Afrenzo.
Mendengar suara Risda, seketika senyuman diwajah Afrenzo pun muncul, sebegitu khawatirnya kah gadis itu terhadapnya? Dan itulah yang membuat Afrenzo merasakan hal yang berbeda dari diri Risda. Risda sendiri langsung bergegas untuk menuju ke tempat wudhu perempuan, dan dirinya pun langsung berwudhu disana.
Risda datang paling awal ditempat itu, sehingga disana masih terlihat sepi, setelah dirinya selesai wudhu tempat itu mendadak langsung ramai para peserta yang hendak melakukan sholat subuh. Risda langsung bergegas masuk kedalam masjid setelah selesai wudhu, dan dari sela sela kain hijau, Risda melihat sosok Afrenzo yang tengah subuk berdzikir sambil menundukkan kepalanya.
"Ya Allah, dia orang baik, hamba mohon kuatkan dia dalam segala masalah yang akan dia hadapi,"
Pandangan Risda terus menatap kearah Afrenzo yang ada dibalik tirai hijau pembatasan antara shof lelaki dan perempuan. Risda bahkan tidak menyadari bahwa beban hidupnya juga teramat banyak, dan bahkan rasanya ingin sekali untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
"Afi nya akan tumbuh menjadi lelaki dewasa setelah dia pergi, benar saja apa katanya itu. Beban yang kamu tanggung sangat banyak, terkadang kau harus memikirkan dirimu sendiri dan jangan memikirkan orang lain terus, Renzo. Kau juga berhak bahagia." Kata kata itu terus terngiang ngiang didalam ingatan Risda.
Risda tidak tau apa maksud dari perkataan itu, ia sendiri bahkan tidak mengetahui kisah apa yang terjadi sebelum dirinya mengenal Afrenzo. Disaat Risda bertanya tentang itu, Afrenzo tidak pernah menjawab pertanyaannya itu dan justru memilih untuk terus diam agar tidak ditanya lagi oleh Risda.
Kediamannya itu membuat Risda merasa tidak enak jika hanya dibiarkan saja oleh Afrenzo, seakan akan Afrenzo kembali bersikap dingin kepadanya jika dirinya menanyakan soal tersebut kepadanya. Oleh karena itu, Risda tidak pernah lagi bertanya apapun mengenai hal tersebut kepada Afrenzo, dan dirinya tidak ingin jika Afrenzo akan membencinya jika ia semakin mengusik masalalu lelaki itu.
Risda baru saja memiliki teman yang asik seperti Afrenzo, teman yang selalu membimbingnya dan bahkan menasehatinya dengan sabar. Dirinya tidak mau kehilangan teman seperti itu hanya karena dirinya yang merasa penasaran dengan lelaki itu, lebih baik dia mengubur rasa ingin taunya daripada harus kehilangannya.
Risda tidak mau kehilangan sahabatnya hanya karena penasarannya, jikalau dia tau sekalipun masalalu Afrenzo, bahkan dirinya juga tidak mampu untuk mengubahnya, lantas untuk apa dia banyak tau soal itu. Apapun yang terjadi memang seharusnya terjadi, bahkan takdir akan mencari jalannya sendiri untuk tujuannya.
__ADS_1