
Waktu menunjukkan waktunya untuk pulang sekolah, hari ini adalah jadwalnya latihan beladiri bagi Risda. Ketika seluruh murid bergegas untuk menuju keluar kelas, tiba tiba Afrenzo masuk kedalam kelas Risda.
"Renzo, kenapa?" Tanya Risda takut ketika melihat ekspresi wajah marah terpancar diwajah Afrenzo.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Risda, Afrenzo pun langsung meraih pergelangan tangannya itu. Dirinya pun menyeret dengan kasar cewek itu, dan membawanya untuk pergi dari ruang kelas Risda.
Karena pegangan tangan Afrenzo yang cukup erat hingga membuat Risda kesakitan apalagi dirinya tidak bisa melepaskan pegangan tangan tersebut, karena tenaganya kalah kuat dengan tenaga milik Afrenzo.
"Renzo sakit!" Teriak Risda mencoba untuk melepaskan pegangan tangan milik Afrenzo itu.
"Diam!" Sentak Afrenzo dengan menambah kecepatan langkahnya, sehingga Risda harus berlari untuk mengejarnya.
"Renzo lepasin tangan gue! Sakit!"
Cowok itu nampak sekali bahwa dirinya sedang marah, Risda menduga bahwa ini ada hubungannya dengan ulahnya tadi siang disekolahan. Tapi, Afrenzo benar benar kasar dengannya saat ini, bahkan teriakan kesakitannya itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Afrenzo.
Afrenzo membawanya masuk kedalam aula beladiri, dan dimana saat itu hanya ada Risda dan Afrenzo saja. Afrenzo pun menarik tangan Risda untuk menaiki tangga yang ada didalam aula beladiri itu, Risda berusaha untuk menghentikan langkahnya.
"Masuk!" Sentak Afrenzo dengan tatapan tajam yang terarah kepada Risda.
Melihat itu membuat Risda menitihkan air matanya, tangannya begitu sakit akibat tarikan kuat yang dilakukan oleh Afrenzo. Risda terus memandangi pergelangan tangannya, sambil memegangi tangan Afrenzo dengan tangan satunya.
Melihat Risda yang hanya berdiam diri, lalu membuat Afrenzo kembali menarik tangannya itu untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Dirinya pun langsung menutup pintu ruangan itu, dan langsung melepaskan pegangan tangan Risda.
"Lo tau apa kesalahan, lo?" Tanya Risda dengan nada marahnya kepada Risda.
"Maafin gue, Renzo." Ucap Risda lirih sambil terisak tangis.
Risda tidak berani untuk menatap wajah Afrenzo saat ini, dirinya pun meluruh kelantai dan memeluk lututnya dengan erat karena takut dengan cowok itu saat ini. Rasa sakit ditangannya itu pun seakan akan kalah dengan rasa ketakutannya, sehingga dirinya tidak merasakan rasa sakit ditangannya.
"Gue tau! Lo kan yang ngunciin Bagas dikamar mandi? Maksud lo apa'an, Da!" Sentak Afrenzo yang masih dengan nada tinggi kepada Risda.
"Gue minta maaf, Renzo. Iya gue salah, gue yang ngelakuin itu semua, maafin gue hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Risda pun pecah seketika, dirinya pun menangis dengan histerisnya dihadapan Afrenzo.
"Lo tau itu salah, tapi kenapa lo lakuin itu, Da!"
"Renzo, maaf. Gue hanya ngak suka sama dia, dia udah beberapa kali buat lo dipukuli sama Bokap lo sendiri,"
"Ya Allah, Da. Ngak seharusnya lo lakuin itu, apalagi dia anak Guru disini, lo bisa kena masalah nantinya. Lo ngak perlu ngelakuin itu," Nada bicara Afrenzo mulai memelan dihadapan Risda setelah mendengar alasan Risda melakukan itu kepada Bagas.
"Gue ngak suka sama dia, Renzo. Dia seakan akan senang ngelihat lo dihajar seperti itu sama Bokap lo,"
"Tapi lo ngak perlu ngelakuin hal seperti itu, Da. Kalo lo ngelakuin itu, apa bedanya lo sama dia?"
"Renzo maaf, terus apa yang harus gue lakuin agar dapat maaf dari lo? Beritahu gue,"
"Akui semuanya besok, Da. Akui bahwa lo yang ngelakuin itu,"
"Tapi Renzo..."
"Lo yang berbuat, dan lo juga harus tanggung jawab. Jangan jadi pengecut yang hanya berani berbuat dan takut untuk bertanggung jawab,"
"Kalo gue di skors dari sekolahan ini gimana? Gue ngak mau itu, Renzo. Apa ngak ada cara lain untuk hal itu?"
"Lo tidak akan di skors besok, gue akan lakuin sesuatu,"
"Renzo...." Risda tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya.
Akan tetapi, Afrenzo pun langsung bergegas untuk meninggalkan ruangan itu. Dirinya membiarkan Risda seorang diri didalam ruangan tersebut begitu saja, Risda menduga bahwa Afrenzo masih marah dengannya saat ini.
Afrenzo benar benar meninggalkannya begitu saja, dirinya merasa kecewa dengan ulah Risda saat ini. Risda hanya mendengus dengan kesalnya, sudah hampir 1 jam dirinya tidak balik lagi keruangan itu.
Risda pun langsung bangkit dari duduknya, bukan hal gampang untuk bisa merubah Risda menjadi gadis yang baik dan penurut. Dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo, bisa saja akan membuat Risda semakin memberontak dan melawannya suatu saat nanti.
"Dia bener bener pergi?" Tanya Risda entah kepada siapa.
Dirinya pun menatap kearah pergelangan tangannya, tempat dimana Afrenzo menariknya sebelumnya itu. Pergelangan tangannya sedikit memerah, bahkan mendadak rasa sakitnya kembali muncul lagi setelah itu.
"Brengs*k sekali sih tuh orang, sakit tau," Ucapnya lagi sambil mencerucutkan bibirnya dengan sebalnya.
__ADS_1
Risda lalu bangkit dari duduknya, dirinya ingin pergi dari sekolahan itu saat ini. Dia tidak mau mengikuti beladiri sekarang, karena moodnya sedang tidak baik baik saja. Ketika dirinya ingin membuka pintu ruangan tersebut, tiba tiba Afrenzo pun muncul dihadapan pintu itu dengan memakai pakaian beladiri.
Tanpa berkata apapun dengan Risda, Afrenzo pun masuk kedalam ruangan itu sambil membawa dua kotak nasi ditangan kanannya. Afrenzo melewati Risda begitu saja, dan langsung duduk disebuah kursi panjang yang ada disana.
"Duduk!" Perintah Afrenzo kepada Risda.
"Gue ngak mau, gue mau pulang aja. Gue ngak ikut latihan lagi,"
"Gue bilang duduk!"
"Ngak mau!"
"Da!"
Masih terlihat setetes air mata dipelupuk mata Risda, Risda tidak suka jika dibentak, bentakkan apapun itu pasti akan membuat hatinya sangat terluka. Dirinya pun mematung didepan pintu yang saat ini terbuka lebar itu, dirinya bahkan tidak mau untuk menatap kearah Afrenzo saat ini.
Cowok itu benar benar menyebalkan bagi Risda, hatinya yang sangat terluka saat ini, membuat Risda seakan akan tidak suka dengan Afrenzo. Risda tidak peduli dengan panggilan dari Afrenzo saat ini.
"Duduk sekarang," Ucal Afrenzo sambil memegangi tangan Risda.
"Ngak mau!"
Pegangan tangan dari Afrenzo itu langsung membuat Risda mengibaskan tangannya, dirinya tidak ingin dipegangi oleh Afrenzo saat ini karena hatinya yang masih terluka. Afrenzo hanya berdiam diri, dan ikut mematung dihadapan Risda saat ini.
"Gue mau pulang,"
Risda pun bergegas untuk menuruni tangga itu, akan tetapi langsung dihadang oleh Afrenzo. Membiarkan Risda pulang sendirian disaat dirinya sedang badmood, sama saja membiarkan gadis itu untuk bertindak nekat dijalanan nantinya.
"Bisa minggir ngak sih!" Sentak Risda kepada Afrenzo karena Afrenzo yang terus menghalangi jalannya saat ini.
"Siapa yang memperbolehkan lo untuk pulang?" Tanya Afrenzo.
"Gue ngak butuh izin dari lo,"
"Gue ngak akan biarin lo keluar."
"Minggir atau mau gue hajar lo?"
Tatapan Risda pun menajam, dirinya menatap tidak suka kepada Afrenzo. Cowok itu benar benar terlihat menjengkelkan dimata Risda, apalagi ketika dirinya ingat bagaimana Afrenzo menarik tangannya sebelumnya itu.
Bahkan Afrenzo sama sekali tidak memedulikan rasa sakit yang dirinya rasakan itu, Risda bukanlah Afrenzo yang bisa tahan dengan rasa sakit sebuah pukulan. Dirinya juga mampu merasakan sakit, bahkan hanya sebuah cubitan saja.
Risda lalu membuang muka dari hadapan Afrenzo, ketika lelaki itu juga menatapnya dengan tajam. Entah kenapa, sentakkan dari Afrenzo membuat dirinya sangat terluka, bahkan hal itu lebih sakit daripada bentakkan dari Ayahnya.
"Gue minta maaf, sudah marahin lo tadi," Ucap Afrenzo.
Ucapan itu seketika membuat Risda menangis sesenggukan kembali, rasanya begitu menyayat dihatinya. Mendengar kata maaf dari mulut Afrenzo, membuat Risda tidak mampu menahan tangisannya itu.
Afrenzo pun memegangi tangan Risda, kali ini hati Risda sedikit lunak setelah Afrenzo meminta maaf kepadanya. Afrenzo pun menautkan tangannya ditangan Risda, dan menarik gadis itu untuk bergegas kembali keruang atas.
Risda pun menurut saja dan duduk bersebalahan dengan Afrenzo diruangan itu, Afrenzo pun menyodorkan sekotak nasi yang dirinya bawa sebelumnya kepada Risda. Risda yang badmood itu pun tidak menyentuh nasi itu, bahkan perutnya terasa sudah kenyang saat ini.
"Makan sekarang," Ucap Afrenzo.
"Gue ngak lapar," Jawab Risda tanpa menoleh kearah Afrenzo.
"Da, ingat asam lambung lo."
"Ngak peduli, mending mati a..." Belum sempat Risda menyelesaikan perkataannya, akan tetapi tangan Afrenzo langsung menutupi mulutnya itu.
"Ngak," Ucap Afrenzo.
"Kalo gue ngomong gini, lo ngak ngebolehin. Tapi kalo lo yang ngomong, lo ngak mikirin perasaan gue," Ucap Risda sambil menyingkirkan tangan Afrenzo dari mulutnya.
Afrenzo pun berdiam diri mendengar ucapan Risda, keduanya sama sekali tidak ada bedanya. Bisa dibilang, Afrenzo dan Risda itu hampir mirip sikapnya.
Keduanya sama sama broken home, akan tetapi memilih jalan hidup masing masing. Afrenzo menjadi pendiam dan tidak mudah bergaul sengan orang lain, sementara Risda menjadi gadis yang jail dan tukang membuat masalah hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya jadi Risda, kedua orang tuanya sudah bercerai. Dirinya kebingungan untuk tinggal dengan siapa, tinggal dengan Kakaknya tapi Kakanya sering mengomelinya karena merasa iri dengannya, tinggal dengan Neneknya yang dari Ayah tapi Neneknya itu terlalu mengunggulkan cucunya yang lain, tinggal dengan Neneknya yang dari Ibu tapi Neneknya yang itu terlalu cerewet dan bahkan sering merendahkannya.
__ADS_1
Tapi jika dirinya tinggal bersama Ibunya, itu tidak akan bisa karena Ibunya hanyalah pembantu rumah tangga yang ikut orang lain. Jikalau tinggal dengan Ayahnya, dirinya pun tidak bisa melakukan itu, karena Ayahnya tinggal dirumah kosong yang bahkan rumah itu sudah rusak sebagian.
Tidak ada pilihan lain, sehingga dirinya memilih untuk tinggal dirumahnya sendiri meskipun masih bergabung dengan Kakaknya. Risda seakan akan tidak punya harga diri, bahkan dirinya tidak tau lagi kemana ia harus pergi dan menetap.
Hari harinya begitu suram dan bahkan terlihat sunyi dan sepi. Meskipun, disekitarnya adanya keramaian sekalipun itu, Risda tetap merasa sendiri bahkan dirinya pun seperti kesepian selama ini.
"Cepat makan, setelah ini latihan."
"Gue udah kenyang, gue ngak mood. Gue pengen pulang,"
"Makan dulu habis itu pulang,"
"Ngak mau."
"Ya udah ngak usah pulang," Pungkas Afrenzo.
Risda pun masih membuang muka dari hadapan Afrenzo, dirinya sangat kesal ketika Afrenzo menarik tangannya dan bahkan meninggalkan dirinya begitu saja sebelumnya. Sangat sulit untuk mengobati kekesalannya itu saat ini, bahkan ucapan Afrenzo sama sekali tidak dipedulikan oleh Risda.
"Nasinya nanti sayang kalo ngak dimakan,"
"Urusan lo, gue ngak minta lo untuk beliin gue."
"Da, makan atau gue kunciin lagi didalam aula."
"Ya ya, gue makan."
Risda yang tidak mau dikunciin lagi seperti dulu didalam aula itu, langsung segera mengambil sekotak makanan itu. Dirinya lalu membukanya begitu saja, dan nampak sebuah ayam geprek sambal pisah disana.
Afrenzo tau bahwa Risda tidak bisa makan pedas karena asam lambung yang dimilikinya itu, sehingga Afrenzo membelikannya dengan sambal yang terpisah.
Risda pun mengambil sendok plastik yang ada didalam kotak makan itu, dirinya pun menyuapkan nasi tersebut perlahan lahan kedalam mulutnya. Risda masih merasa kesal, sehingga dirinya tidak terlalu lahap untuk memakannya.
Afrenzo hanya melihat Risda yang tengah makan itu, tanpa memakan nasinya sendiri. Diluar aula tersebut, sudah banyak siswa yang berdatangan ditempat itu, sementara Risda belum berganti pakaian dengan pakaian beladirinya.
Afrenzo menyuruh Risda untuk tetap didalam ruangan tersebut, sementara Afrenzo turun kebawah untuk melatih mereka. Risda yang tidak mood itu pun tidak mau mengikuti latihan kali ini, karena Afrenzo takut Risda macam macam sehingga dirinya tidak memperbolehkan Risda untuk pulang.
Karena bosannya, dirinya yang masih memakai baju olah raga itu pun bergegas untuk menuju ke sudut ruangan dan mengambil sebuah busur yang terdapat disana. Dirinya mencoba untuk menggunakannya, akan tetapi dirinya sama sekali tidak berhasil untuk melakukan itu.
"Ini gimana sih caranya, masak sama sekali ngak kena sasaran." Risda terlihat semakin kesal akan tetapi dirinya tak berhenti untuk terus mencoba.
Risda terus mencoba dan mencoba, meskipun dirinya tidak bisa melakukan itu. Ternyata belajar memanah tidak semudah yang dilihat didalam acara televisi selama ini, bahkan dirinya sendiri tidak bisa mengikuti gerakan dari atlet wanita yang juara dalam bidang memanah.
"Ngapain lo disini?" Tanya seseorang yang tiba tiba masuk kedalam ruangan itu.
"Lo yang ngapain kesini, Pan Pan?" Tanya Risda balik.
"Sejak kapan nama gue jadi Pan Pan? Main asal ganti aja lo,"
"Nama lo kan Fandi, serah gue lah mau panggil lo apa'an,"
"Emang ada bocah modelan kek gini ya ternyata, ditanya malah balik nanya,"
"Lo ngak tau gue pegang apa'an? Mau gue panah lo?"
"Sok sok an, emang lo bisa gunain anak panah itu biar tepat sasaran?"
"Jangan ngehina ya, mau gue panah jantung lo sekarang? Biar lo modar sekalian. Lo sendiri ngapain kemari? Bukannya latihan itu dibawah, lalu ngapain lo keatas?"
"Gue ada urusan, males banget ngelihat lo ada disini."
Fandi langsung mendekat kearah sebuah loker yang ada diruangan itu, dirinya pun mengambil sebuah pechingpet yang ada disana. Fandi diperintahkan oleh Afrenzo untuk mengambil alat sasaran pukulan dan tendangan itu, dirinya terkejut ketika melihat adanya Risda didalam saja.
"Siapa suruh lo ngelihat gue disini,"
"Jangan jangan lo penyusup ya disini, gue laporin lo ke pelatih nanti."
"Laporin aja, gue emang disini sejak tadi, dan pelatih sendiri yang nyuruh gue disini. Gue ngak bawa baju latihan, jadi gue disuruh ketempat ini,"
"Oh."
__ADS_1
Hanya jawaban itu saja yang diucapkan oleh Fandi, dan dirinya langsung bergegas untuk pergi dari ruangan itu karena dirinya tidak mau memperpanjang berdebat dengan Risda saat itu.
Gadis itu sama sekali tidak mau mengalah kalo sedang berdebat, apalagi Afrenzo selalu membelanya. Hal itu membuat Fandi sangat malas jika berurusan dengan Risda, karena yang akan maju nantinya adalah Afrenzo sendiri.