
Risda terus memperhatikan kearah Afrenzo yang sejak tadi hanya termenung dalam diamnya, entah apa yang dipikirkan oleh lelaki tersebut sehingga terlihat begitu kalut dalam pikirannya. Risda masih tetap memperhatikan tangan Afrenzo, bekas merah karena suntikkan masih tertinggal jelas ditangan yang putih itu.
"Udah adzan, Da. Lo nggak pulang?" Pertanyaan itu terlontar tiba tiba oleh Afrenzo ketika mendengar suara adzan magrib.
"Gue masih mau nemenin lo disini, gue nggak pengen pulang, Renzo. Nanti kalo lo butuh apa apa gimana?"
"Kan ada Fandi yang bantuin gue, Da. Lo nggak perlu khawatirin gue seperti itu,"
"Kenapa sih lo nggak mau dirawat aja? Kenapa sih lo harus maksa untuk pulang padahal belom sembuh?"
"Pulang kemana? Dirawat apa?"
"Kata Fandi, lo habis dirawat dirumah sakit, tapi lo maksa untuk pulang sebelum waktunya. Renzo, gue takut lo kenapa napa,"
"Gue nggak sakit, Da. Kenapa harus dirawat? Lagian makanan dirumah sakit juga nggak enak, hambar. Mending makan dikantin, lebih enak dan berasa."
"Tapi kan, lo itu sakit."
"Siapa bilang? Kalo gue emang sakit, mana mungkin Bokap gue ngizinin pulang?"
"Tapi kan lo pernah ngelakuin itu dulu, bahkan tanpa persetujuan dari Bokap Nyokap lo."
"Iya deh, gue salah. Sekarang, mending lo pulang daripada dimarahi nanti,"
"Gue nggak mau pulang."
"Kalo lo dicariin gimana? Emang nggak kasihan sama Nyokap lo?"
"Kan gue bisa bilang kalo ada acara perguruan."
"Jangan bohong, bohong itu nggak baik, Da. Kalo lo lupa itu,"
Risda terdiam tanpa bisa membalas ucapan dari Afrenzo, dirinya juga tidak mungkin tiba tiba bilang kalau ada acara perguruan mendadak, bisa bisanya Ibunya akan semakin cemas nanti. Kalaupun ada acara, pasti akan dikabari seminggu sebelumnya, tidak mendadak seperti sekarang ini.
Ibunya sudah sangat percaya kepadanya untuk ikut beladiri, dirinya tidak mungkin mengecewakannya begitu saja nantinya, kalau dia melakukan itu maka akan lebih sulit lagi untuk bisa berangkat latihan. Jika dirinya dipersulit untuk berangkat, artinya dirinya pun akan sulit untuk bertemu dengan Afrenzo lebih lama.
"Sekarang lo pulang, terus mandi, terus makan, terus tidur. Biar besok bisa aktivitas lagi, biar nggak sakit," Ucap Afrenzo lembut sambil mengusap pelan puncak kepala Risda.
"Lo nggak ikut pulang juga? Lo tidur disini?"
"Gue pulang nanti, setelah latihan selesai. Kalo gue pulang sekarang, nanti siapa yang bisa diandalkan untuk bawa kunci aula?"
"Kan ada Fandi, Renzo. Kenapa harus ribet sih?"
"Fandi nggak mau, dan gue nggak bisa percaya orang lain selain Fandi. Gue nggak mau kejadian seperti dulu terulang lagi, apalagi menuduh anak beladiri yang ngerusak fasilitas sekolah."
"Tapi kan..."
"Nggak usah banyak tapi, Risda. Sekarang pulang!" Perintah Afrenzo yang tidak bisa dibantah lagi.
Risda pun menghala nafas dengan kasarnya, mungkin dirinya hanya bisa menuruti perintah dua orang saja, yang pertama adalah Ibunya dan yang kedua adalah Afrenzo. Selebihnya, dirinya bahkan akan membantah dengan keras, karena sikapnya yang keras kepala membuat pendiriannya sangat sulit untuk digoyahkan oleh siapapun itu.
"Baiklah gue akan pulang. Tapi lo harus sembuh,"
"Iya."
Risda pun bangkit dari duduknya, dirinya pun mengulurkan tangan kepada Afrenzo. Afrenzo terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membalas uluran tangan Risda, dan Risda pun menempelkan bibirnya untuk berniat mencium tangan Afrenzo sebagai tanda berpamitan untuk pulang.
"Jangan dicium. Diriku belum pantas mendapatkan itu," Ucap Afrenzo dan langsung menarik tangannya dengan segera.
"Tapi kan lo itu pelatih," Ucap Risda keheranan.
"Gue memang pelatih, tapi untuk dicium tangan gue masih belum layak."
__ADS_1
"Tapi lo adalah pelatih gue, Renzo. Orang yang membimbing gue untuk belajar beladiri,"
"Sudah sudah, pulanglah."
"Yaudah gue pulang, jangan sakit sakit nanti gue nangis. Habis latihan langsung pulang, jangan kemana mana apalagi udara malam hari tidak enak ditubuh. Nanti kalo sudah sampe rumah kabarin,"
"Gitu banget, ya? Emang harus?"
"Harus banget. Kalo lo kagak ngabarin, gue datangin ke rumah lo."
"Iya."
Risda pun dengan berat hati langsung melangkah pergi dari tempat itu, dirinya mulai menuruni tangga yang ada disana. Sebelum menuruninya, dirinya sekilas menoleh kembali kearah Afrenzo yang menyandarkan tubuhnya ditembok yang ada didalam ruangan itu.
Sifat Afrenzo tidak mudah untuk ditebak, akan tetapi Risda tau bahwa dirinya seperti tengah menahan rasa sakit. Sesampainya dilantai bawah, Risda masih melihat Fandi dan para senior lainnya masih tengah sibuk berlatih, entah sampai kapan mereka akan berlatih hari ini.
"Udah selesai?" Tanya Fandi ketika melihat Risda berjalan didekatnya.
"Dia kenapa?" Tanya Risda tanpa menjawab pertanyaan dari Fandi sebelumnya.
"Kenapa lo tanya gue? Kenapa nggak tanya orangnya langsung?" Tanya Fandi ke heranan, karena Risda justru bertanya kepadanya padahal sebelumnya Risda sudah melihat orangnya langsung.
"Kan lo temennya, jelas lo tau tentang dia. Dia kagak mau jujur sama gue, selalu saja nyari nyari alasan kalo gue tanya, Fan. Dia sakit apa?"
"Lo aneh, Da. Mana gue tau tentang dia, gue hanya disuruh untuk jagain dia doang, selebihnya itu urusannya. Sudah sono pulang, nggak guna lo disini," Usir Fandi.
"Matamu!"
Dengan kesalnya, Risda pun pergi dari tempat itu, dirinya tidak suka berlama lama ditempat tersebut apalagi adanya Fandi disana. Fandi hanya terkekeh pelan melihat Risda pergi dari sana, dirinya pun kembali melanjutkan latihannya bersama dengan yang lainnya.
Bhak... Bhukk... Bhakkk... Bhukkk....
Terdengar suara sebuah peching yang tengah dipukuli bergantian oleh mereka sebagai latihan, hanya ada suara kaki dan peching yang saling berbenturan hingga menimbulkan suara yang nyaring. Sama sekali tidak ada percakapan diantara mereka, akan tetapi tempat itu terasa sangat ramai walaupun tanpa adanya kata kata diantara mereka.
Mendengar teriakan itu langsung membuat Fandi kembali menghentikan latihannya, dirinya dan yang lainnya langsung panik begitu mendengar suara teriakan yang sangat panjang. Fandi dan yang lainnya langsung bergegas untuk menuju kearah sumber suara, yang letaknya ada diluar area aula beladiri itu.
Ketika mereka berdatangan, Risda sebagai pelaku teriakan itu hanya bisa menyengir seakan akan tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun itu. Ia tidak menyangka bahwa teriakannya itu akan mendatangkan seluruh senior yang sedang berlatih, dan hal itu membuat latihan mereka kembali terganggu.
"Kenapa teriak teriak? Ganggu orang aja!" Bentak Fandi yang terlihat sangat emosi ketika melihat Risda yang hanya menyengir.
"Lo kasar banget jadi cowok." Keluh Risda.
"Bisa nggak sih lo itu nggak usah gangguin kita latihan? Emang lo kenapa? Nggak usah teriak teriak kayak gitu juga kali, bikin emosi orang aja."
"Maapin yak. Lagian gue panggil lo doang kok, bukan yang lainnya juga. Jadi lainnya kan bisa lanjutin latihannya," Ucap Risda dibuat setenang mungkin, yang sebenarnya sedang terjadi adalah dirinya begitu gemetaran melihat Fandi seperti itu.
"Tapi teriakan lo ngerusak ke fokusan kami, Da. Gue buang lo sekalian ke jurang, biar tenang dunia ini tanpa lo,"
"Kok ngamok? Gue kan hanya mau minta tolong sama lo doang, Fan. Mau minta tolong sama Renzo juga kasihan, jadi minta tolong sama lo aja,"
"Emang gue mau nolongin lo? Males banget."
"Motor gue mogok lagi, Fan. Mau ya nolongin gue? Ya? Ya? Ya? Nanti gue beli'in es marimas deh,"
"Ngerayu? Gue kagak boleh minum es." Fandi justru melipat kedua tangannya didepan dadanya dan membuang muka dari pandangan Risda.
"Padahal es marimas tuh enak lo, kayak Renzo aja anti sama es. Tapi sikapnya aja udah dingin, apalagi ditambah es."
"Didalam peraturan emang kagak boleh minum es."
Risda pun terdiam, memang Afrenzo pernah mengatakan hal itu kepadanya, akan tetapi karena kebiasaannya hingga membuatnya tidak bisa jauh jauh dari yang namanya es. Bahkan Risda akan merasa kehausan tanpa minum es meskipun sudah minum air putih, dan kebiasaan itu membuatnya tidak bisa lepas dari yang namanya es.
Langit pun mulai menggelap, dan bahkan gedung tersebut pun sudah mulai terang dengan cahaya lampu yang sudah dinyalakan. Karena tidak mau berlama lama lagi, Fandi pun akhirnya mau membantu Risda untuk menyalakan kembali motornya yang mogok itu.
__ADS_1
"Noh dah nyala, buruan pulang sono." Usir Fandi setelah motor Risda baru bisa dinyalakan.
"Makasih Kakak senior yang baik hati," Ucap Risda yang langsung mengambil alih motor itu dari tangan Fandi.
"Berani pulang sendiri kagak? Apa perlu diantar?"
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Fandi, hal itu membuat Risda langsung melotot kearah lelaki itu. Bukan nada pertanyaan dari Fandi yang membuatnya tidak mempercayai apa yang dirinya dengar, akan tetapi bagaimana pertanyaan yang dilontarkannya.
"Gue bukan cewek manja, masak sama jalanan gelap aja gue takut? Gue kagak takut soal gituan."
"Yakin? Kalo lo digondol sama wewe gombel gimana? Yakin nggak takut?"
"Mana ada wewe gombel yang mau sama gue? Yang ada mereka bakalan lari kejer lihat gue."
"Iya juga sih, secara lo kan lebih nyeremin daripada mahluk astral sekalipun itu. Ibarat lo itu sebelas dua belas deh sama sebangsa mereka,"
"Bangsaattt lo!"
Fandi pun terkekeh mendengar umpatan dari Risda, memang gadis itu mudah sekali terpancing untuk mengumpat bahkan rasanya seperti hal itu sudah menjadi makanannya tiap hari. Tanpa basa basi lagi, Risda pun memutar gasnya untuk melajukan motornya meninggalkan halaman itu, dan bergegas meninggalkan Fandi yang masih terkekeh ditempatnya.
Jalanan yang dilalui oleh Risda sangatlah sepi, dan bahkan sama sekali tidak ada pengendara selain dirinya yang lalu lalang ditempat itu. Kiri dan kanan jalanan itu dipenuhi oleh pepohonan yang rimbun, dan mampu terlihat sangat menyeramkan daripada biasanya disaat dirinya lalui.
"Ini malam apa, ya? Kok tumben sepi banget disini?" Guman Risda yang bertanya entah kepada siapa.
Tak henti hentinya dirinya terus membaca sholawat nabi didalam hatinya, karena Risda sekarang merasa sangat takut melalui jalanan itu sendirian apalagi dirinya adalah seorang gadis yang penakut. Jalanan itu rasanya seperti sebuah terowongan yang tanpa ujung, bahkan lampu motor miliknya pun tidak mampu menembus kejauhan.
Tak beberapa lama kemudian, akhinya dirinya pun sampai dirumahnya dengan selamat meskipun pikirannya masih tertuju kepada jalanan yang dirinya lalui sebelumnya. Risda lalu memarkirkan motornya didepan rumahnya, setelah dirinya mematikan motornya, seorang wanita paruh baya pun keluar dari dalam rumahnya.
"Kok malam banget, Da? Habis darimana saja?" Tanya Neneknya yang menyambut kedatangannya.
"Habis latihan beladiri, Nek. Karena mau ada acara jadi latihannya waktunya ditambahin," Bohong Risda mencari alasan.
"Ya sudah kalo seperti itu, buruan mandi setelah itu makan,"
"Iya Nek."
Risda pun masuk kedalam rumahnya, dan dirinya pun disambut oleh tatapan yang tidak mengenakkan dari Indah, melihat itu hanya membuat Risda menundukkan kepalanya. Risda segera bergegas masuk kedalam kamarnya, karena sepertinya udara ditempat itu sama sekali tidak bersahabat dengannya.
Nampaknya dirumah itu sedang ada tamu, tamu dari temannya Indah. Risda yang sudah lelah seharian itu pun tanpa sepatah kata langsung masuk kedalam kamarnya, dirinya tidak ingin berlama lama ditempat itu karena tatapan Indah yang rasanya ingin sekali memarahinya.
"Jam segini Adikmu baru pulang, Ndah?" Tanya temannya itu kepada Indah.
"Iya La, biasa emang anak liar ya begitu. Pulang sekolah jam segini terus, emang kagak punya aturan dianya. Kalo dibilangin nggak bisa, selalu ngeyel inilah itulah," Ucap Indah yang dibuat seakan akan dirinya paling benar.
"Hati hati aja, Ndah. Awas masuk kedalam pergaulan bebas, sekarang kan musimnya seperti itu. Nanti kalo sudah masuk ke pergaulan bebas, dia bakalan lebih liar,"
"Emang bisa begitu? Emang sih teman temannya kayaknya nggak bener semua. Masak ada temen yang malah dukung pulang malam? Terus sekolahnya modelnya gimana bisa sampe malam begini, emang kagak bener nih anak."
"Mumpung belum terlambat, Ndah. Lebih baik mencegah daripada mengobati,"
"Iya, nanti aku bilangin sama Ibu. Dia kan paling takut sama dia, karena Ibu yang ngasih dia uang,"
Risda pun mendengarkan setiap apa yang keduanya bicarakan, bahkan rasanya sangat sakit jika dikata katain dari belakang seperti ini. Apalagi Indah yang terus menjelek jelekkannya didepan temannya itu, dan bisa saja temannya akan mengatakan hal yang lebih parah daripada Indah kepada orang lain.
Teman dari Indah juga termasuk tetangga sebelah dari rumah mereka, sehingga kabar apapun itu mudah sekali menyebar begitu saja bahkan tanpa diketahui kebenarannya seperti apa. Bahkan nama Risda sudah jelek ditempat itu, apalagi dirinya yang sering pulang malam dan bahkan keluyuran dimalam hari.
"Temen lelakiku semuanya baik kok, mereka bukan orang yang buruk bagiku. Bukan teman yang nakal, mereka hanya tidak kenal saja dengan mereka semua," Guman Risda yang seakan akan tidak terima jika teman laki lakinya dibicarakan buruk oleh orang lain.
Risds tidak suka jika teman baiknya dibicarakan buruk oleh orang lain, karena mereka tidak akan paham soal rasa sakit itu. Bagi Risda, teman temannya itu baik, bahkan selalu mengingatkan dirinya jikalau dirinya salah ataupun lalai dalam menjalankan sesuatu.
Ucapan mereka begitu sakit bagi Risda, dan hanya karena perkataan mereka membuat Risda merasa sangat kenyang. Bahkan dirinya belum makan sore sampe detik ini, akan tetapi dirinya tidak memiliki mood untuk makan dan bahkan rasanya dirinya terlalu capek untuk menghadapi apapun.
Lelah, itulah yang dirinya rasakan saat ini.
__ADS_1