
Risda memandangi orang yang ada dihadapannya itu dengan ketakutan, entah kenapa dirinya merasa sesuatu yang berbeda dari lelaki itu. Dirinya ingin sekali memberitahu hal yang dia rasakan kepada Ibunya, akan tetapi dirinya tidak mau berpikiran negatif tentang orang lain.
Orang itu bernama Abie, usianya sekitar 45 tahunan, sementara Dewi masih berusia 38 saat ini. Dewi menikah dengan Sandi pada saat berusia 15 tahun, sementara Sandi sudah berusia 20 tahun. Keduanya bertemu dijalanan ketika Dewi bekerja disebuah pabrik, karena tidak mampu melanjutkan sekolahnya ketingkat SMP, Dewi akhinya memutuskan untuk bekerja.
Risda sangat takut saat ini, dirinya merasa bahwa aura yang dimiliki oleh orang itu begitu menyeramkan. Bahkan dirinya lebih takut dengan orang tersebut daripada hantu yang pernah dirinya lihat, auranya terlihat begitu gelap hingga membuatnya merinding melihatnya.
Abie adalah kenalan dari Ibunya, dan keduanya begitu dekat lewat ponsel. Dewi tidak mengenali Abie secara langsung, akan tetapi kali ini keduanya bertemu.
"Da, nanti kamu pulang sama Indah ya? Bunda mau keluar sebentar sama Om Abie," Ucap Dewi.
"Bunda mau kemana? Risda ikut!" Risda seakan akan tidak membiarkan Ibunya untuk jalan dengan orang yang baru dikenalnya itu.
"Sebentar, nanti Bunda juga pulang kok,"
"Ngak mau, pokoknya Risda mau ikut!" Risda seakan akan terus memaksa untuk ikut pergi bersama dengan Ibunya itu.
Risda merasakan sesuatu yang berbeda dengan orang yang baru dikenal oleh Ibunya itu, Risda tidak suka jika Ibunya keluar dengan orang baru itu. Biasanya Risda tidak seperti itu anaknya, akan tetapi karena aura yang terpancarkan dari tubuh lelaki itu membuat Risda tidak ingin Ibunya keluar dengan lelaki itu.
"Risda, cuma sebentar kok," Ucap Abie yang mencoba untuk membujuk Risda.
"Ngak boleh!" Sentak Risda.
Rasa ketakutan selalu hadir didalam pikirannya tentang orang yang ada dihadapannya itu, meskipun Afrenzo juga terlihat menyeramkan akan tetapi aura yang terpancarkan dari Afrenzo adalah kehangatan, hingga membuat Risda merasa nyaman berada didekatnya, berbeda jauh dengan orang yang ada dihadapannya saat ini.
"Ya sudah, Bunda ngak jadi pergi," Putus Dewi ketika Risda tidak mengizinkannya karena firasatnya.
Mendengar itu membuat senyuman diwajah Risda pun terlihat, dirinya merasa lega ketika Dewi memutuskan untuk tidak jadi pergi dengan Abie. Wajah Risda kelegaan terlihat berbeda jauh dengan wajah Abie yang terlihat kusut karena tidak jadi pergi dengan Dewi.
"Kenapa Risda ngak ngebolehin Bunda pergi sama Om?" Tanya Abie kepada Risda.
"Anjiiiirrrr! Gue harus jawab apa?" Batin Risda menjerit.
Risda pun tidak menjawab apa apa atas pertanyaan dari Abie, Dewi merasa bahwa anaknya itu tidak nyaman dengan kehadiran lelaki itu, melalui dengan caranya bersikap. Bahkan Risda terlihat lebih diam daripada sebelumnya yang banyak bicara kepadanya, kehadirannya seakan akan langsung membuat Risda terbungkam erat.
Risda masih tetap melanjutkan makannya tanpa menjawab pertanyaan itu, dirinya begitu sangat tidak suka dengan sosok lelaki itu, entah hal apa yang membuatnya tidak suka walau dengan sekali pandang saja.
Dewi dan Abie pun saling berbincang bincang, entah hal apa yang sedang mereka bahas, akan tetapi Risda sama sekali tidak memedulikan itu. Indah pun sama, dirinya hanya menikmati bakso yang dipesannya itu tanpa memedulikan percakapan keduanya.
Mereka semua seperti tengah berada dalam kondisi bisu, tanpa ada percakapan, tanpa ada canda tawa. Seketika tempat tersebut terasa hambar bagi Risda, Risda ingin cepat cepat pulang untuk saat ini, agar dirinya bisa menjauh dari lelaki yang dipanggil Abie itu.
Tiba tiba ponsel Risda pun berbunyi, pertanda ada pesan yang masuk kedalam ponselnya itu. Risda pun langsung mengambilnya, dan membaca nama Pelatihku disana, itu adalah panggilan yang dirinya gunakan untuk Afrenzo.
...----------------...
...Pelatihku...
¹¹'¹²Lo dimana?
^^^Gue lagi makan sama Nyokap gue, diwarung¹¹'¹²^^^
¹¹'¹²Oh
^^^Ngapain lo chat gue? Ada perlu apa?¹¹'¹⁵^^^
¹¹'¹⁵Hati hati
^^^Apanya?¹¹'¹⁵^^^
^^^gue harus hati hati apa?¹¹'²⁰^^^
__ADS_1
^^^Renzo? Bales dong!¹¹'²²^^^
^^^Huhhh... Dasar orang aneh emang!¹¹'³⁰^^^
...----------------...
Setelah menggetikkan itu, Afrenzo tidak lagi membalas pesan dari Risda itu, dan bahkan hanya dilihat saja tanpa dibalas. Risda pun terlihat kesal dengan Afrenzo, harus hati hati dengan siapa? Siapa yang bahaya? Hal itu membuatnya bingung.
"Apa jangan jangan...." Risda tidak mampu untuk melanjutkan gumanannya itu.
Dirinya pun menatap sekelilingnya untuk mencari keberadaan dari Afrenzo, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukannya. Karena Ibunya yang fokus dengan Abie, hal itu membuatnya tidak menyadari dengan gumanan dari Risda dan apa yang dilakukan oleh Risda.
"Bun, Risda lelah pengen tidur. Ayo pulang," Ajak Risda ketika sudah merasa bosan dan bakso yang dirinya makan sebelumnya memang telah habis.
"Bentar lagi ya?"
"Ngak mau, maunya sekarang,"
"Yaudah pulang sama Kakakmu dulu, nanti Bunda nyusul,"
"Ngak! Pokoknya harus pulang sama Bunda."
"Iya udah iya, pamitan dulu sama Om."
Risda pun memberanikan diri untuk berpamitan, Abie pun mengulurkan tangan kepada Risda, Risda hanya mengulurkan tangannya sebentar setelah itu langsung dilepaskan olehnya. Memang terlihat agak tidak sopan, akan tetapi Risda tidak mau berlama lama untuk menyentuh tangan lelaki itu.
Setelah itu, Risda langsung keluar dari warung tersebut tanpa menunggu Ibu dan Kakaknya itu. Dari jarak yang sangat jauh, dirinya melihat sosok seseorang yang mengendarai sepedah motornya menjauh dari tempat itu, dan dirinya menduga bahwa dia adalah Afrenzo.
"Dia ada disini?" Tanya Risda entah kepada siapa.
Risda memandangi pengendara motor itu hingga bayangannya menghilang dari pandangannya, Afrenzo memang benar benar orang yang aneh dan agak beda dengan yang lainnya.
"Ayo pulang," Ajak Dewi.
Mereka sebenarnya kepasar menggunakan angkutan umum, sehingga mereka berjalan menuju kearah parkiran dimana angkutan umum yang terparkir dengan rapinya. Karena ketiganya memiliki tubuh yang besar, sehingga naik sepedah motor pun tidak bisa berboncengan berempat.
Risda naik paling awal daripada keduanya, setelah itu disusul oleh Adik keponakannya itu, setelahnya barulah Indah dan Dewi. Angkutan umum itu langsung berjalan ketika mengetahui bahwa penumpangnya sudah banyak didalam, dan mereka pun pergi meninggalkan Abie.
"Bunda, kenal orang itu dimana?" Tanya Risda penasaran.
"Ngak tau, tiba tiba kirim pesan ke Bunda," Jawab Dewi.
"Risda ngak suka dengannya, Bun. Mending Om Miren daripada dia,"
Miren adalah sosok seorang lelaki yang berstatus duda anak 1, anaknya itu masih berusia sekitar 4 tahunan dan berjenis kelamin laki laki. Mereka pernah bertemu ketika Risda masih duduk dibangku kelas 6 SD, dan Miren selalu menemaninya untuk belajar meskipun hanya melalui ponselnya saja.
Risda cukup dekat dengan dia ketika waktu kecil dulu, karena orangnya asik dan baik bagi Risda. Risda sama sekali tidak bisa melupakan sosok itu, yang bagaikan seorang Ayah baginya itu.
Risda dan Ibunya pernah tinggal dirumahnya walaupun hanya sehari setelah melakukan perjalanan yang jauh, akan tetapi karena sebuah konflik sehingga membuatnya harus berpisah dengan lelaki tersebut. Waktu dulu berpisah, Risda sampai menangis karena tidak mau kehilangan sosok Ayah lagi.
Oleh karena itu, sampai detik ini dirinya masih mengingat lelaki tersebut dengan sangat jelasnya. Bahkan dirinya ingin bertemu kembali dengannya. Miren memang bukan orang kaya dan rumahnya biasa biasa saja, lebih herannya lagi, bantal dan selimutnya memakai karung beras akan tetapi rumahnya sudah bertembok kokoh.
Bahkan dulu anak laki lakinya itu berteman baik dengan Risda, usianya memang berbeda jauh dari Risda. Sekarang usia Risda sudah 16 tahun, saat itu Risda berusia 12 tahun dan anak laki laki itu masih berusia 5 tahunan.
"Bunda ngak suka Risda ngomongin dia lagi," Ucap Dewi dengan nada tidak sukanya.
"Kenapa, Bun? Bukannya Om Miren itu baik?"
"Risda waktu itu belum mengerti apa apa soal itu, dia bukan orang baik, Ris."
__ADS_1
"Bukan orang baik gimana, Bun? Dia aja baik sama Risda, dan udah nganggap Risda seperti anaknya sendiri waktu itu. Bunda aja yang pergi ninggalin dia,"
"Karena Risda waktu itu belum paham mana yang baik dan buruk. Kalo sekarang Risda pasti sudah paham kan?"
Benar juga apa yang dikatakan oleh Dewi itu, akan tetapi hati kecilnya masih menolak tentang itu dan terus beranggapan bahwa Miren adalah lelaki baik. Risda masih ingat dengan jelas tentang kejadian waktu dulu, dimana Risda dan Dewi langsung naik kedalam sebuah bus sementara Miren menghalanginya untuk pergi.
Risda juga mendengar seseorang berkata 'Kasihan anaknya, Buk. Kenapa ditinggal seperti itu? Kalo memang ada masalah keluarga, sebaiknya diselesaikan baik baik bukannya malah kabur begini' Kalimat itulah yang dirinya dengar waktu itu.
Kernet yang ada dibus tersebut, beranggapan bahwa Dewi dan Miren itu adalah sepasang suami istri, Risda adalah anak pertama mereka yang harus ikut Ibunya, sementara anak laki laki itu anak keduanya dan harus ikut kepada Ayahnya.
Akan tetapi, yang sebenarnya terjadi adalah keduanya sama sekali tidak ada hubungan suami istri, bahkan kedua anak itu bukanlah anak yang dihasilkan dari keduanya. Orang lain mampu melihat sebuah kejadian dan menyimpulkan, akan tetapi mereka tidak akan tau kejadian yang sebenarnya.
Jika kita mendengarkan ucapan orang lain, maka kita tidak ada benarnya dimata mereka. Kita manusia biasa, bukan Nabi yang bisa sempurna, bahkan Nabi sendiri pun pernah dihina oleh orang lain lantas bagaimana dengan kita?
Para Nabi saja diuji oleh Allah dengan ujian yang sangat luar biasa dasyatnya, yang mereka hadapi adalah kaum Kafir Quraisy. Mereka bahkan pernah dibenci oleh saudaranya sendiri, Nabi Muhammad Saw saja pernah dilemar kotoran ketika sedang melakukan sholat.
Semakin banyak diuji, semakin tinggi derajatnya dimuka bumi. Lantas bagaimana dengan kita sebagai manusia bisa? Diuji sedikit saja sudah mengeluh, fustasi, bahkan ada yang sampai nekat untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan jalur bunuh diri.
Sungguh sangat disayangkan orang orang yang memilih jalur bunuh diri sebagai jalan pintas untuk mengakhiri setiap masalah. Hidup tanpa masalah bagaikan sebuah masakan tanpa garam, hambar... Begitupun dengan novel, tanpa sebuah masalah akan terlihat membosankan.
"Sudahlah, Bu. Jangan didengarkan ucapan Risda itu," Sela Indah setelahnya.
"Gue juga ngak butuh didengarkan sama lo, Ndah! Gue ngak peduli lo dengerin ucapan gue atau ngaknya, itu ngak berpengaruh bagi gue. Untung gue masih inget kalo lo adalah Kakak gue, kalo ngak udah gue cincang lo jadi daging cincang," Batin Risda menjerit tidak suka dengan Kakaknya itu.
Tanpa adanya percakapan setelah itu, mereka tidak menyadari bahwa angkutan umum telah berhenti ditempat tujuan mereka. Mereka pun langsung turun dari mobil angkutan umum tersebut, dan langsung berjalan menuju kearah rumah mereka.
Setelah sampai dirumah, Risda langsung mengeluarkan buah strawberry yang dibeli tadi. Dirinya pun langsung memakannya dengan lahapnya, tanpa terasa buah itu telah habis saat ini karena sangking enaknya bagi Risda.
"Bun, kapan kapan beli lagi ya," Ucap Risda setelah menghabiskan buah strawberry terakhir yang dirinya miliki saat ini.
"Iya, nanti kalo kepasar lagi kita beli yang banyak untukmu."
"Bunda memang yang terbaik deh pokoknya bagi Risda, selalu ngertiin Risda,"
"Risda juga harus nurut sama Bunda, Bunda sangat sayang sama Risda,"
Risda adalah anak terakhinya dan satu satunya yang belum menikah dan dimiliki oleh orang lain, bisa dibilang bahwa Risda adalah kesayangan dari Ibunya itu. Meskipun Risda disayangi oleh Ibunya, akan tetapi dirinya tidak pernah merasakan indahnya sebuah keluarga yang lengkap.
Risda memang disayangi oleh Ibunya, akan tetapi Ibunya tidak pernah menemaninya untuk tumbuh dewasa, dan apapun itu akan diserahkan kepada Indah. Bahkan untuk mengambil rapot ataupun acara perpisahan sekolah, Indah lah yang selalu hadir bukan Ibunya.
Impian Risda, disaat hari kelulusannya waktu sekolah SMA, dirinya ditemani oleh Ibunya, bukan Kakaknya. Dia ingin Ibunya melihat bahwa dirinya akan lulus dengan nilai terbaik, akan tetapi dirinya sendiri juga malas untuk belajar.
"Bunda janji kan, mau nemenin Risda disaat hari kelulusan Risda nanti?" Tanya Risda.
"Iya, Bunda janji. Bunda akan hadir nanti untuk menemani Risda, Bunda akan usahakan untuk mendapatkan izin dari Bosnya bunda."
"Makasih Bunda,"
Dewi pun langsung memeluk anaknya itu, disaat seperti ini Risda merasa sangat nyaman dan tidak ingin melepaskan pelukannya itu. Risda sungguh rindu dengan Ibunya yang jarang sekali dirumah, bagi anak yang sudah terbiasa berada didekat Ibunya, mereka bakalan panik jika tidak bertemu dengan Ibunya walaupun hanya beberapa jam saja.
Sementara Risda, bahkan untuk bertemu saja sangat sulit, sekali bertemu pun hanyalah sesaat saja. Tinggal jauh dengan kedua orang tuanya dan hidup bersama dengan seseorang yang mengucilkannya itu, semua orang tidak akan mampu untuk membayangkannya saja.
Tinggal jauh dengan kedua orang tuanya, serumah dengan Kakak yang jahat kepadanya, numpang makan dirumah Tantenya yang juga membencinya. Membuat siapapun tidak akan betah dirumahnya, meskipun begitu Risda harus bertahan agar Ibunya tidak terlalu mencemaskan dirinya.
Tiada alasan lain selain karena Ibunya yang membuatnya mampu bertahan hingga detik ini, karena itulah yang membuat Risda sangat menyayangi Ibunya. Bahkan saat ini hadirnya Afrenzo dalam hidupnya, yang membuatnya mampu untuk terus bertahan hidup dalam keadaan apapun.
Bisa dibilang bahwa Afrenzo adalah cinta kedua setelah Ayahnya bagi Risda, sosok Afrenzo benar benar membuatnya mampu untuk bertahan hingga detik ini. Memang Afrenzo aneh orangnya, akan tetapi dibalik sikapnya itu dirinya sebenarnya sangat baik.
Masalah yang dihadapinya didalam keluarganya membuatnya menjadi dingin, bahkan sangat sulit untuk berinteraksi dengan orang lain selain Risda yang memang membuatnya memiliki rasa kepedulian terhadap sesama.
__ADS_1