
Diperjalanan Risda terus memejamkan matanya, akan tetapi kedua tangannya masih berpegangan erat kepada jaket yang dipakai oleh Sandi. Perlahan lahan pegangannya mulai meregang karena dirinya hampir masuk kedalam alam bawah sadar, akan tetapi kain yang mengikat tubuhnya itu membuatnya tidak mudah terjatuh.
Sandi tau bahwa tidak baik membawa seseorang yang tengah sakit parah dijalanan apalagi berdua, karena resikonya yang sakit tersebut akan terjatuh. Oleh karena itu, dirinya sebelum berangkat mengikat tubuh Risda kepada tubuhnya sendiri menggunakan sebuah kain, agar Risda tidak terjatuh dijalan.
"Da, kamu tidur?" Tanya Sandi kepada Risda.
Risda sendiri sedikit mendengar panggilan itu, akan tetapi kedua matanya sangat sulit untuk dibuka saat ini, seakan akan ada sebuah lem yang sangat kuat tengah merekat. Risda tidak menyahuti panggilan dari Ayahnya itu, dan dirinya jutru sibuk untuk memejamkan matanya.
Risda pun merasa hidungnya sangat gatal, dirinya pun terusik dari tidurnya. Risda mengusap hidungnya yang gatal itu, dirinya pun mendapati secercah darah ditangannya. Risda lalu membelalakkan matanya, dia pun langsung mengusapinya menggunakan bajunya.
"Jangan sampe ada yang tau," Batin Risda menjerit.
"Da, kenapa?" Tanya Sandi yang merasakan pergerakan dari Risda.
"Risda hanya pusing kok, Yah. Risda nggak papa,"
Risda lalu mendongakkan kepalanya agar darah yang keluar dari hidungnya berhenti mengalir. Tubuhnya semakin lama semakin lemah, bahkan kepalanya mulai bersandar kembali dipundak Ayahnya itu. Tangannya tidak lagi berpegangan kepada baju Sandiri, bahkan untuk mengangkat tangannya sendiri saja dirinya sudah tidak mampu.
"Da, pegangan!" Teriak Sandi panik ketika merasakan tubuh anaknya yang lemas itu.
Risda sama sekali tidak memedulikan teriakan dari Sandi itu, karena kepalanya sendiri pun merasa sangat berat sekaligus pusing. Cukup lama mereka berada didalam perjalanan, akhinya mereka tiba juga ditempat tujuan.
Melihat kedatangan Risda yang tengah diikat dibelakang tubuh Sandi, hal itu membuat Neneknya sangat terkejut dan langsung mendatangi dirinya. Bukan hanya neneknya saja akan tetapi juga Kakek, Kakak, dan para tetangganya juga ikut melihat dengan dekat.
"Dia kenapa?" Tanya Indah.
"Risda kenapa? Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Neneknya khawatir.
"Biar dia istirahat didalam,"
Tanpa berlama lama lagi, Sandi lalu mengangkat tubuh Risda untuk masuk kedalam rumahnya. Risda sudah tidak mampu untuk berjalan lagi, sehingga Sandi langsung mengangkatnya dan membawanya menuju kekamarnya yang ada didalam rumah itu.
"Buatkan minuman hangat," Ucap Sandi kepada Indah.
"Nggak usah, Yah. Risda pengen istirahat saja," Ucap Risda lemah dan terdengar sangat lirih.
Risda berkata sambil memejamkan matanya, Neneknya sendiri pun langsung mengambilkan kompresan untuknya karena tubuh Risda terasa sangat panas. Mereka tidak mendengarkan ucapan Risda, dan mereka langsung membuatkan Risda minuman hangat.
"Kenapa dia?" Tanya Neneknya.
"Nggak tau, Bu. Aku datang sudah seperti ini dianya, yaudah aku bawa pulang saja dan biar dirawat dirumah. Pasti dia juga belum makan," Ucap Sandi.
Risda dengan kedua matanya yang terpejam pun masih mendengarkan pembicaraan orang orang yang ada disekitarnya itu, kedua matanya memang ingin terus terpejam akan tetapi kedua telinganya masih mampu untuk mendengarkan suara suara yang ada disekitarnya itu.
"Da, duduk dulu. Ayo diminum minumannya," Ucap Indah yang selesai untuk membuatkan minuman hangat untuk Risda.
Risda sendiri pun tidak memberikan reaksinya kepada Indah, hal itu membuat Sandi langsung meraih belakang kepalanya dan mendudukkannya. Sandi pun menyandarkan kepala Risda didadanya, dirinya lalu membantu Risda untuk minum minuman hangat itu agar kondisinya membaik.
"Minum dulu, habis ini baru minum obat," Ucap Sandi.
"Nggak mau," Jawab Risda lirih.
"Kalau nggak mau minum obat, mau kah kalau sakit terus terusan?" Ucap Indah dengan nada yang tidak mengenakkan.
"Ndah, Adikmu ini sedang sakit. Seharusnya lebih lembut lagi kepadanya," Ucap Sandi sambil menatap kearah anak tertuanya itu.
Indah pun terdiam sambil menatap wajah Risda yang tengah memejamkan matanya, Sandi sendiri lalu mendekatkan ujung gelas minuman hangat itu dibibir Risda. Belum juga minuman itu sampai di tenggorokannya, tiba tiba Risda pun memuntahkan air yang ada diperutnya sangat banyak.
Risda yang hanya makan disiang hari ketika pulang sekolah itu pun membuat tubuhnya tidak sanggup untuk menahan beban didalam hidupnya itu, sehingga membuatnya langsung jatuh sakit begitu saja. Biasanya Risda akan makan 3 kali dalam sehari, akan tetapi setelah ikut tinggal bersama dengan Lasmi dirinya hanya makan sekali dan disaat pulang sekolah saja.
"Kalau seperti ini mending dibawa kerumah sakit saja, minuman saja tidak masuk kedalam apalagi makanan?" Ucap Kakeknya.
__ADS_1
"Biar aku bawa kerumah sakit dulu, biar dia mendapatkan pertolongan," Ucap Sandi.
"Sekalian dirawat inap saja, biar bisa diawasi oleh Dokternya,"
"Iya, Yah."
"Nggak usah," Ucap Risda pelan.
Risda tidak mau dibawa kerumah sakit, dirinya bahkan tidak mau dipasangkan infus ditangannya karena dia takut sakit. Sandi pun kembali menyandarkan kepala Risda dibantalnya, untuk membiarkan gadis itu beristirahat.
"Jangan bandel bandel jadi anak, nurut aja apa salahnya sih? Kalau sakit gini, siapa yang repot?" Ucap Indah dengan ketusnya.
"Kalau aku udah mati, kalian nggak akan repot repot lagi kok. Maafin aku yang selalu merepotkan kalian ini," Batin Risda.
Risda pun merasa bahwa kesadarannya itu hilang, dirinya hanya melihat kegelapan diseujung pandangan yang bisa dirinya lihat. Mereka mengiranya bahwa Risda hanya memejamkan matanya saja, akan tetapi nyatanya dirinya mulai kehilangan kesadarannya sendiri.
Risda tidak tau apa yang mereka ucapkan setelahnya, hanya ada kesunyian dan kegelapan yang dirinya rasakan saat ini. Entah berapa lama dirinya tidak sadarkan diri, akan tetapi ketika dirinya tersadarkan dia sudah melihat sosok Dewi yang duduk ditepi kasurnya itu.
"Bunda," Ucap Risda lirih.
"Kamu sakit apa, Da? Kenapa bisa begini," Tanya Dewi khawatir sambil menitihkan air mata didepan Risda.
"Sejak kapan Bunda datang?" Tanya Risda yang tanpa menjawab pertanyaan dari Dewi sebelumnya.
"Sudah 1 jam yang lalu, kami mau bawa kamu kerumah sakit, Da. Ayo berangkat,"
"Nggak usah, Bun. Risda nggak papa kok, hanya kelelahan saja,"
"Kelelahan? Kelelahan kenapa?"
Dewi pun terkejut mendengar ucapan Risda, Risda sendiri juga tidak bisa jujur kepada Ibunya itu karena tidak ingin membikin Ibunya itu khawatir terhadapnya. Apalagi dirinya yang selama ini diberlakukan layaknya seorang pembantu oleh Lasmi, dan dirinya tidak ingin jikalau ia harus memutuskan sekolahnya hanya demi hal itu.
"Kelelahan main sama teman teman," Jawab Risda sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
"Iya Bun, maafin Risda ya. Risda nggak akan lelah lelahan lagi,"
Dewi lalu mengusap kepala Risda pelan, Risda pun memejamkan matanya karena rasa pusingnya itu. Dewi hendak membawanya kerumah sakit untuk mengetahui kondisinya, akan tetapi Risda terus menolak akan hal itu.
Bagi Risda lebih baik jika dirinya hendak mati, maka mati saja daripada harus mengetahui tentang kondisi tubuhnya sendiri. Hal itu justru akan membuatnya menderita, dan terlalu banyak larangan untuk dirinya.
Dapat terlihat dari kedua matanya bahwa Risda tengah menahan sebuah rasa sakit yang mendalam, dirinya pun merasakan bahwa jantungnya terasa sangat nyeri apalagi digunakan untuk bergerak. Oleh karena itu, Risda terlihat hanya berdiam diri tanpa bergerak karena jika dirinya bergerak maka dia akan merasakan sakit.
"Ayo kerumah sakit saja," Ucap Dewi sekali lagi.
"Nggak perlu, Risda nggak papa kok, Bun. Cuma ngantuk saja,"
"Kamu dari tadi sudah tidur, Da. Masak masih ngantuk saja sih? Kamu beneran nggak papa kan? Jangan bohong sama Bunda."
"Beneran, Bun. Risda nggak papa kok,"
"Seorang Ibu bisa merasakan kebohongan dari anaknya, Bunda nggak suka jika Risda berbohong. Apanya yang sakit? Kenapa wajahmu menyengir begitu?"
"Cuma heran aja sama Bunda, Risda baru bangun pun sudah diomeli. Risda hanya lelah," Risda pun beralasan lagi.
Begitu banyak kebohongan yang telah ia lakukan, bahkan dirinya menyembunyikan segalanya sendiri tanpa menginginkan siapapun mengetahui tentang hidupnya itu. Dirinya tidak mau kalau orang lain sampai mengkhawatirkan dirinya itu, dan justru Risda merasa seperti sebuah beban saja bagi orang orang yang ada disekitarnya.
Risda itu pembohong, apapun perkataannya tidaklah benar mengenai kondisi tubuhnya. Risda memang tidak pernah jujur mengenai perasaan dan juga hatinya sendiri, bahkan dirinya membohongi semua orang dengan sebuah senyuman dan kalimat tidak apa apa.
Apapun yang terjadi dengannya, dirinya selalu mengatakan tidak apa apa kepada semua orang dan bahkan memasang sebuah senyuman palsu. Apapun yang terjadi kepadanya, orang lain tidak boleh sampai mengetahuinya, maka dari itu dirinya menyimpan rahasianya sendiri tanpa sedikitpun bercerita kepada orang orang yang ada disekitarnya ya meskipun itu teman dekat sekalipun itu.
"Risda belom makan kan? Risda mau dibelikan apa?" Tanya Dewi yang teringat apa kata Sandi tentang Risda yang belum makan.
__ADS_1
"Risda sangat mual, Bun. Risda nggak mau makan," Ucap Risda sambil menggeleng gelengkan kepalanya pelan.
"Tapi Risda harus makan, biar cepet sembuh,"
"Nggak suka makan. Nanti muntah lagi,"
Risda tetep kekeh menolak untuk makan, akan tetapi Dewi terus memaksanya untuk makan agar perutnya ada isinya. Akhinya Risda tidak bisa menolak lagi dan Dewi pun memasukkan bubur sumsum kemulutnya itu, dan tak beberapa lama kemudian Risda pun kembali termuntahkan.
"Sudah Risda bilang kan, Bun. Risda nggak mau makan lagi," Ucap Risda setelah muntah muntah hingga tenggorokannya terasa sakit.
"Apa Risda nggak pengen sembuh?" Pertanyaan itu terlontarkan dari mulut Dewi sambil menatap nanar kearah Risda.
"Bunda..."
"Ayo makan dikit saja, biar perutnya ada isinya, Da. Mualnya ditahan dulu, biar buburnya masuk,"
"Gimana caranya nahan, Bun? Masuk dikit aja udah balik lagi, malah keluar semua,"
"Ya jangan dimuntah muntahkan lah,"
"Sulit."
Entah, Risda sama sekali tidak memahami ucapan dari Ibunya itu, bagaimana bisa muntah ditahan? Ya nggak bisalah. Risda hanya menghela nafasnya dengan kasar, dirinya pun lalu kembali merebahkan tubuhnya karena tidak sanggup jika terus terusan bersandar.
*****
Risda sedang tidur tengkurap dikasurnya, sosok seorang lelaki tengah duduk disebelahnya sambil memijat kaki dan juga tangannya. Nampak terlihat wajah Risda yang terlihat seperti tengah menahan rasa sakit, bahkan dirinya ingin berteriak karena rasa sakit itu.
Bukan hanya rasa sakit dari sebuah pijatan yang dirinya rasakan, akan tetapi rasa panas yang tercipta dari tubuhnya yang membuatnya semakin terasa tersiksa. Lelaki itu pun menuliskan sesuatu ditelapak tangan dan telapak kakinya dengan menggunakan sesuatu yang begitu dingin, Risda tidak bisa melihat sesuatu seperti apakah itu.
"Ada yang sengaja buat dia sakit seperti ini," Ucap lelaki itu yang tidak lain adalah pamannya yang seorang dukun.
"Maksudnya gimana?" Tanya Dewi penasaran.
"Ada yang tidak suka dengan Risda, jadi dia mengirimkan ilmu hitam untuk menyakiti Risda. Jika dibiarkan terus terusan, maka dia akan semakin tersiksa nantinya," Jelas pamannya itu.
Risda sendiri yang mendengar itu pun hanya mendengarnya dengan acuh tak acuh, dirinya tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh seorang dukun meskipun dukun itu adalah pamannya sendiri. Pamannya tersebut bernama Pandi, orang yang mampu bermain ilmu gaib didalam keluarga besarnya.
Risda pun justu berpikiran yang lainnya. Dirinya pernah mengagalkan hubungan antara Ibunya dengan adik dari Lasmi. Mungkin sebab itu membuat Lasmi tidak suka dengannya, karen Risda tidak ingin Ibunya menikah dengan lelaki itu.
Bukan tanpa sebab dirinya menolak hubungan itu, akan tetapi karena Risda paham mengenai sikap lelaki itu. Apapun yang Risda minta akan langsung dituruti oleh lelaki itu sebagai media untuk mendekati Ibunya, dan Risda mengujinya sendiri dengan cara meminta hal yang aneh aneh sekaligus mahal.
Dari sanalah dirinya dapat mengetahui bahwa lelaki itu tidak tulus dengan Ibunya, karena lelaki itu banyak berbohongnya kepada Risda. Seharusnya dirinya jujur kalau tidak mempunyai uang, akan tetapi yang dikatakannya justru semakin berbelit.
Bukan hanya Lasmi yang gila akan uang, akan tetapi lelaki tersebut pun juga demikian. Mereka hanya menginginkan Ibunya Risda untuk sebagai asetnya saja, karena Ibunya itu bekerja dan memiliki gaji yang lumayan bagi mereka.
Bahkan kali ini, Risda sakit hampir 1 bulan penuh. Selama itu dirinya tidak kemasukan makanan apapun sehingga berat tubuhnya berkurang drastis. Meskipun sudah berusaha disembuhkan oleh Pandi, akan tetapi tidak ada perubahan sama sekali kepada dirinya itu.
"Ya Allah, hamba pasrah dengan apapun yang terjadi. Hamba serahkan segalanya kepada Engkau, hidup dan mati hanya Engkau yang mengetahui. Jika ditakdirkan sembuh, maka sembuhkanlah, jika ditakdirkan untuk mati maka permudahkanlah," Ucap Risda lirih sambil memegangi dadanya yang dimana letak jantungnya berada.
Risda sudah tidak sanggup jika sakit sakitan seperti ini terus, bahkan hampir sebulan ini dirinya tidak turun dari kasurnya. Risda merasa seluruh tubuhnya terasa sakit, bahkan seakan akan rasa sakit itu terus bertambah hari demi harinya.
Begitu banyak hal yang telah dilakukan untuk Risda, bahkan disaat diperiksa dirumah sakit mereka tidak menemukan penyakit apapun yang dialami oleh Risda. Hingga suatu malam yang sunyi, didalam tidurnya itu Risda melihat adanya seseorang yang datang kedalam mimpinya itu.
Risda tidak mengenali siapa orang itu, bahkan tidak pernah melihatnya dimana pun itu. Orang tersebut pun tersenyum kepadanya, senyuman yang begitu indah jika dilihat.
"Siapa anda?" Tanya Risda.
"Bangkitlah dari kasurmu, dan mencobalah untuk melangkah dengan perlahan lahan. Jangan biarkan sakitmu menghalangi langkah kakimu," Ucap seseorang yang ada didalam mimpi Risda.
Beberapa detik kemudian, Risda lalu membuka kedua matanya dengan lebar lebar, dan jantungnya yang berdetak dengan kencangnya setelah bangun dengan mendadak. Risda pun menatap kearah jam dinding, dan waktu masih menunjukkan pukul 2 dini hari.
__ADS_1
Risda mencoba untuk bangkit dari tidurnya seperti apa yang dikatakan oleh seseorang dalam mimpinya itu. Risda lalu melangkah dengan perlahan lahan, akan tetapi sebuah keajaiban pun datang untuk menghampirinya, dan rasa sakit yang dia rasakan pun perlahan lahan berkurang daripada sebelumnya.