Pelatihku

Pelatihku
Episode 62


__ADS_3

Risda pun bergegas keluar dari kelasnya, dirinya benar benar merasa muak dengan Satria, Satria mengatakan bahwa bukan dirinya pelakunya, akan tetapi siapa lagi kalau bukan dia? Karena hanya dia yang berada disana.


"Da, tungguin gue!" Panggil Mira.


Mira pun langsung menyambar tangan Risda hingga membuat Risda menghentikan langkah kakinya itu, kedua mata Risda kini tengah mengeluarkan air matanya, karana begitu banyak hinaan yang dirinya terima sejak tadi dari orang orang.


Meskipun mereka tidak berbicara kepadanya secara langsung, akan tetapi Risda mampu untuk mendengarnya dengan sendirinya. Foto tersebut telat membuat hari Risda sangat menyedihkan, dirinya tidak tau lagi harus berbuat apa saat ini, entah siapa yang telah memajang foto tersebut sebelumnya.


"Da, jangan nangis," Ucap Mira.


"Gue harus gimana, Ra? Mereka semua ngehina gue, dan mereka juga ngomongin gue terus. Gue ngak suka kalo digini'in," Ucap Risda dengan nada sedihnya.


"Gue tau apa yang lo rasain, Da. Gue selalu ada untuk lo kok,"


"Lo memang tau apa yang gue rasain? Bahkan jika lo ada didalam posisi gue, lo ngak akan bilang kayak gitu, Ra."


"Risda yang gue kenal itu tegar, kenapa lo jadi rapuh seperti ini, Da?"


"Setegar tegarnya seorang wanita, dia juga bisa nangis, Ra. Dan gue saat ini sedang rapuh,"


Mira pun menarik tubuh Risda kedalam pelukannya itu, Risda pun hanya menurut. Mira mengusap pelan kepala Risda untuk menenangkan gadis itu, pundaknya tengah bergetar dan terdengar suara isak tangis dari Risda.


"Da," Panggil seseorang dan langsung membuat Risda menoleh karena dirinya sangat mengenali suara itu.


"Renzo," Ucap Risda lirih sambil menghapus air matanya.


"Ngapain lo? Karena lo Risda jadi seperti ini, belum puas lo buat Risda begini? Karena tindakan lo itu, Risda yang kena fitnah!" Sentak Mira kepada Afrenzo.


Mira tidak terima jika Afrenzo ingin menyakiti Risda lagi, kejadian kali ini membuatnya berani melontarkan perkataan seperti itu kepada Afrenzo. Mendengar ucapan Mira hanya membuat Afrenzo terdiam, sementara Risda langsung mengenggam erat tangan Mira untuk membuat gadis itu berhenti berucap.


"Ra, ini bukan salah Renzo. Renzo ngak salah dalam hal ini," Bela Risda.


"Gimana ngak salah, Da? Jelas jelas dalam foto itu dirinya berani sekali memelukmu, Da. Kenapa lo masih bela dirinya?" Mira pun tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Risda.


"Ini hanya salah paham saja kok, jangan salahin Renzo,"


"Terserah lo, Da. Gue males ngasih tau lo, kalo sampe lo diapa apa'in oleh dia, jangan cari gue, Da."


"Ra!"


Mira pun langsung pergi dari sana meninggalkan Risda dan Afrenzo, kepergian Mira langsung membuat Risda menundukkan kepalanya. Entah karena apa Mira melakukan hal seperti itu, kenapa dirinya tiba tiba tidak suka dengan sosok Afrenzo.


"Maafin gue," Ucap Afrenzo lirih.


Risda langsung menoleh dan mendongakkan kepalanya untuk menatap kearah Afrenzo, terlihat ada sebuah penyesalan diwajah Afrenzo saat ini. Afrenzo tidak pernah terlihat seperti itu sebelumnya, hal itu langsung membuat Risda kembali meneteskan air matanya.


"Ini bukan salah lo, Renzo. Kenapa lo minta maaf ke gue seperti itu?" Tanya Risda dengan bingungnya.


"Karena kejadian tadi pagi, lo jadi seperti ini, Da. Maafin gue, seandainya...." Ucapan Afrenzo menggantung karena Risda yang menempelkan jari telunjuknya dibibir Afrenzo.


Risda menggeleng gelengkan kepalanya, kejadian ini bukanlah salah Afrenzo, akan tetapi kejadian ini karana tindakannya sendiri yang menarik masker milik Afrenzo sebelumnya.


"Jangan nyalahin diri lo sendiri, Renzo. Gue yang harus minta maaf ke lo soal itu, disini gue yang salah. Renzo, jangan minta maaf seperti itu, hal itu membuat gue merasa makin bersalah,"


"Da, gue ngak bermaksud seperti itu,"


"Gue tau, seharusnya gue ngak ngelakuin itu, Renzo. Sekarang semuanya jadi seperti ini,"


Afrenzo pun menundukkan kepalanya dalam, ia tidak menyangka kejadian pagi tadi langsung menjadi sebuah bumerang baginya dan Risda. Seluruh penghuni sekolahan tersebut terus membicarakan tentang keduanya, dan mengatakan hal hal yang buruk kepada keduanya.


Afrenzo masih mampu untuk menahan ucapan ucapan tersebut, akan tetapi tidak dengan Risda. Ucapan mereka begitu menyakitkan bagi Risda, hingga membuat gadis itu terus menangis.


Jabatan Afrenzo yang sebagai ketua OSIS itu pun tengah dipertanyakan, bagaimana bisa ketua OSIS mencontohkan hal seperti itu kepada yang lainnya. Mereka semua benar benar tidak menyangka bahwa ketua OSIS pilihan mereka itu pun berbuat seperti itu, apalagi kepada seorang gadis.


"Kalian berdua dipanggil diruangan BK sekarang," Ucap seseorang dan langsung membuat keduanya menoleh.


Orang itu adalah Bagas, mantan ketua OSIS yang ada disekolahan itu. Afrenzo hanya menghela nafasnya, kasus ini sangat besar baginya, sementara Risda hanya memandang dengan kesedihan kepada Afrenzo.


"Kami akan segera kesana," Jawab Afrenzo.


"Ditunggu!"


Bagas pun meninggalkan tempat itu, kini hanya ada Risda dan Afrenzo yang saling berhadapan. Risda menatap kearah Afrenzo dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya, sementara Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya.


"Renzo, gue takut," Cicit Risda pelan.

__ADS_1


"Tenang aja," Ucap Afrenzo.


Keduanya pun bergegas menuju ke ruang BK, Risda ragu untuk melangkah masuk kedalam ruangan tersebut. Akan tetapi, Afrenzo terus meyakinkannya bahwa mereka akan baik baik saja.


Keduanya pun masuk kedalam ruangan tersebut, keduanya langsung disambut oleh beberapa guru dan juga beberapa anggota OSIS yang ada di SMA Bakti Negara itu. Kedatangan keduanya pun langsung membuat tempat yang tadinya ricuh, kini menjadi sepi dan tatapan semuanya tertuju kepada keduanya.


"Duduk," Ucap seorang guru pun menyuruh keduanya untuk duduk dibangku yang telah disediakan.


Afrenzo dan Risda pun langsung duduk ditempat yang disediakan, keduanya kini duduk berhadapan dengan seorang guru. Tatapan tajam pun diberikan oleh guru itu kepada keduanya, hal itu langsung membuat Risda menundukkan kepala dalam karana takutnya.


Risda pun menggerakkan jari jemarinya karena gugupnya, ia merasa panik sehingga kedua tangannya saling berpegangan. Sementara Afrenzo, dirinya masih terlihat tenang saat ini.


"Maksud kalian apa dengan ini?" Tanya guru itu sambil melemparkan sebuah foto kepada keduanya.


Afrenzo sedikit tidak suka dengan cara guru itu melemparkan foto tersebut, hingga hal itu membuat Afrenzo menatap tajam kearahnya. Afrenzo pun melipat kedua tangannya didepan dadanya sambil menyandarkan punggungnya disandaran bangku tersebut.


"Jelaskan semuanya!" Sentak guru itu.


"Itu hanya salah paham," Ucap Afrenzo dengan santainya.


"Salah paham bagaimana? Jelas jelas kamu berani beraninya berpelukan disekolahan ini,"


"Renzo ngak seperti itu, Bu. Anda salah paham dengan foto itu," Ucap Risda dengan segera karena guru itu menatap tajam kearah Afrenzo.


"Jelaskan, kenapa bisa ada kejadian seperti ini?"


"Ini salah paham, Bu. Ini semua salahku, karena aku yang memulainya dulu, ...." Risda pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada guru tersebut.


"Ibu ngak mau tau, kalian harus dihukum," Pungkas guru tersebut.


"Hukum saya saja, Bu. Jangan Risda," Ucap Afrenzo.


"Ngak Bu, ini salah saya, dan saya yang harus dihukum bukan Renzo." Risda tetep kekeh untuk membela Afrenzo.


"Hukum saya dua kali lipat, untuk menggantikan Risda. Jangan hukum dia, saya juga salah disini,"


"Renzo, kamu apa'an sih? Aku yang salah, karena menarik maskermu, bukan dirimu."


"Da, aku juga salah disini. Bukan hanya dirimu saja,"


"DIAM!" Bentak guru tersebut karena keduanya yang saling bertengkar seperti itu.


Bentakan tersebut langsung membuat keduanya diam begitu saja, sementara anggota OSIS yang ada disana pun membelalakkan kedua matanya, bukan karena bentakkan dari guru itu, melainkan karena Afrenzo yang berdebat dengan Risda.


Bukan karena perdebatan yang diucapkan oleh keduanya itu, akan tetapi mereka terkejut karena baru kali ini Afrenzo yang terkenal dengan kediamannya itu tengah berdebat dengan seorang gadis.


"Kalian di skors 3 hari dari sekolahan ini," Pungkas guru tersebut yang terlihat seperti kehabisan kesabaran.


"APA!" Teriak Risda dan Afrenzo secara bersamaan karena sangking terkejutnya.


"Ngak bisa, Bu. Ini hanya salah paham kenapa harus diperbesar?" Bantah Afrenzo.


"Kalian ngak sadar dengan apa yang terjadi? Kalian ini sudah salah, masih saja membantah, udah ada buktinya juga. Kalian mau mengelak gimana lagi?" Seru seorang pemuda yang tidak lain adalah Bagas.


"Bagaimana kalo kita lihat cctv yang ada dihalaman itu? Biar semuanya tau kejadiannya itu seperti apa," Ucap Risda sambil menatap tajam kearah Bagas.


"Untuk apa? Disini semuanya sudah jelas, bagaimana kalian bisa mengelaknya lagi?"


"Bener tuh, Bu. Bagaimana kalo kita lihat cctv nya saja? Biar semuanya jelas," Seru seorang gadis yang termasuk kedalam anggota OSIS.


"Baiklah, kita lihat cctv yang ada dilorong itu," Putus guru wanita itu.


"Itu ngak perlu, disini semuanya sudah jelas," Bagas masih kekeh untuk meyakinkan mereka.


"Kenapa lo? Apa jangan jangan lo yang nyebarin foto itu? dan menjadikan beberapa foto, lalu satunya lo pajang dimading sekolahan." Tuduhan Risda pun langsung tertuju kepada Bagas.


"Bagaimana gue bisa ngelakuin itu? Renzo saudara gus sendiri!" Bagas tidak terima jika dirinya dituduh seperti itu.


"Lo ngak pernah anggap gue sebagai saudara," Sela Afrenzo.


Ucapan tersebut langsung membuat Bagas bagaikan tersambar oleh petir yang sangat keras. Bagaimana tidak? Disaat dirinya meyakinkan semua orang bahwa dirinya adalah saudara dari Afrenzo, akan tetapi Afrenzo justru mengatakan hal itu kepada semuanya.


"Dan seingat gue, lo sering buat gara gara dengan Afrenzo," Ucap Risda.


"Siapa lo yang sok tau dengan Afrenzo?" Tanya Bagas dengan tegasnya kepada Risda.

__ADS_1


"Gue sahabatnya, dan gue tau tentang dia. Afrenzo bukan tipe laki laki brengsek seperti apa yang kalian semua katakan, semua tuduhan ini ngak benar!" Risda pun langsung berdiri dari duduknya dan berhadapan dengan Bagas.


"Kalian semua tau fotonya kan? Apakah ada settingan difoto itu? Ngak ada kan?" Tanya Bagas kepada semuanya untuk mengalihkan pembicaraan Risda.


"Apa jangan jangan lo yang nyebarkan foto itu?" Tanya Risda yang semakin menyudutkan Bagas.


"Bagaimana lo bisa nuduh gue? Kejadian yang sebenarnya aja gue ngak lihat. Tapi dari foto itu, semuanya sudah jelas,"


"Bu, foto itu memang bukan settingan. Tapi kejadian yang sebenarnya tidak seperti apa yang kalian semua katakan, kalian memang bisa melihat, dan kalian memang bisa mendengar. Tapi, kalian tidak akan tau kejadian yang sesungguhnya itu seperti apa!"


"Iya Bu, ada seseorang yang sengaja menjebak kami berdua dalam hal ini. Dia mengambil gambar kami dengan diam diam,"


"Lalu siapa yang melakukan itu?" Tanya guru tersebut.


"Bagas!" Ucap Risda dengan tegasnya dan menatap tajam kearah Bagas.


"Ngak Bu, ini semua fitnah. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan," Ucap Bagas membela diri.


"Apa kamu punya buktinya menuduh orang sembarangan?" Tanya guru tersebut sekali lagi.


"Saya tidak akan menuduh orang sembarangan, tapi gerak gerik yang dilakukan oleh Bagas dari tadi sangat mencurigakan. Saya pernah belajar IQ disekolahan dulu, sehingga saya tau gerak gerik pelaku yang sebenarnya itu," Ucap Risda.


Waktu Risda duduk dibangku SMP, dirinya diajarkan oleh ahli IQ disekolahannya. Dan saat itu ada kunjungan disekolahannya, sehingga mereka juga melakukan tes IQ untuk mengetahui tingkat IQ mereka masing masing.


Mereka diajari bagaimana tentang gerak gerik seseorang yang mencurigakan, agar bisa menemukan pelaku dan pencuri yang sebenarnya. Sehingga hal itu langsung membuat Risda dengan beraninya menuduh Bagas sebagai sasarannya, ia sangat yakin bahwa Bagas adalah pelakunya.


"Belajar IQ saja tidak cukup untuk bisa menuduh orang sembarangan, bagaimana kalo tuduhan mu itu salah?" Tanya guru tersebut.


"Jika salah, maka saya siap untuk dihukum," Ucap Risda dengan tegasnya.


"Saya juga siap untuk menerima hukuman," Sela Afrenzo yang ikut bangkit dari duduknya.


"Maka buktikanlah," Ucap guru itu dengan mudahnya.


"Baiklah, saya akan buktikan,"


Risda pun langsung berjalan menuju kearah Bagas, entah apa yang akan dirinya lakukan. Ia pun merampas ponsel milik Bagas, tanpa bisa Bagas halangi.


"Hoi itu ponsel gue!" Teriak Bagas ketika ponselnya diambil oleh Risda.


"Gue ngak nanya," Ucap Risda dengan santainya.


Risda lalu menyerahkan ponsel tersebut kepada Afrenzo, Afrenzo pun langsung menerimanya begitu saja, dan dia pun menyalakan ponsel itu. Akan tetapi dirinya tidak bisa membukanya karena tidak mengetahui pin nya.


"Apa pinnya?" Tanya Risda kepada Bagas dengan tatapan yang tidak mengenakkan.


"Kepo," Jawab Bagas tanpa memberitahukan pinnya itu.


"Beritahu pinnya!" Perintah Guru tersebut.


"Iya iya Bu, pinnya 1821," Jawab Bagas dengan terpaksa.


Afrenzo pun langsung menekan nomor yang disebutkan oleh Bagas itu, tak beberapa lama kemudian akhinya kuncinya terbuka. Ia pun langsung membuka galeri foto yang ada diponsel itu, dirinya pun mencari cari akan tetapi tidak ditemukan juga.


"Gimana?" Tanya Afrenzo kepada Risda.


"Cari aja, sini biar gue yang cari. Gue sedikit paham dengan ponsel kalo soal nyari,"


Bukan sedikit paham, akan tetapi kalo cewek sudah curiga, dirinya bakalan scroll ponsel tersebut sampai ketemu apa yang tengah dirinya cari itu. Setelah cukup lama mencari foto tersebut di galeri, akan tetapi tidak ditemukan juga.


"Udah dihapus kali, Da." Afrenzo pun menatap kearah Risda.


"Gue cari diberkas yang dihapus,"


Risda pun menekan sesuatu disana dan menampilkan folder yang menyimpan foto ataupun vidio yang telah dihapus, akan tetapi dirinya juga tidak menemukan itu. Risda pun menatap kearah Afrenzo karena dirinya tidak berhasil menemukannya.


Tiba tiba layar ponsel tersebut pun membuka sebuah folder catatan yang ada disana karena tidak sengaja bersentuhan dengan kulit Risda. Ia pun melihat folder tersebut bertuliskan foto, dirinya lalu membuka foto tersebut.


"Akhinya ketemu," Ucap Risda.


Bagas tidak bisa mengelak lagi setelah Risda mengetahui tentang foto itu. Risda pun melemparkan ponsel tersebut dimeja tempat dimana dirinya duduk tadi sambil berhadapan dengan guru itu, melihat itu langsung membuat semua orang terkejut.


"Ibu lihat kan? Dia memang sengaja nuduh Renzo," Ucap Risda.


"Ternyata kamu pelakunya,"

__ADS_1


Pandangan semuanya pun tertuju kepada Bagas, Afrenzo pun mengepalkan tangannya dengan kerasnya tanpa diketahui oleh siapapun itu. Bagas yang ditatap oleh mereka seperti itu, langsung menundukkan kepalanya.


__ADS_2