Pelatihku

Pelatihku
Episode 13


__ADS_3

Panitia pemilihan ketua OSIS tersebut langsung mencatat jumlah suara pendukung untuk mereka, hingga akhirnya point antara Afrenzo dan Bagas itu pun seri hal itu membuat mereka sangat tegang untuk melihat hasil akhirnya.


Ketika kertas terakhir dibuka alhasil jumlah pendukung keduanya seimbang dan sama banyaknya daripada peserta yang lainnya, dari sekian banyak calon akan tetapi yang unggul hanya dua orang saja, yakni Bagas dan Afrenzo.


"Sekor keduanya sama, 300 orang mendukung ketua lama dan juga 300 orang yang mendukung Afrenzo," Ucap panitia penyelenggara pemilihan ketua OSIS.


"Adakan pertandingan aja, yang menang akan menjadi ketua," Ucap salah satu Guru pengawas.


"Pertandingan? Pertandingan apa Pak? Siapa tau saran dari Bapak itu penting"


"Basket, one by one"


"Saya setuju," Ucap Bagas dengan sombongnya karena dirinya memang hebat dalam permainan basketball.


"Gimana menurutmu Renzo?," Tanya panitia penyelenggara.


Afrenzo hanya menanggapinya dengan anggukan kepala pertanda bahwa dirinya menerima kompetisi tersebut, dan mereka langsung bergegas untuk menuju ke lapangan basket untuk menentukan siapakah yang akan menjadi ketua OSIS ditahun ajaran yang baru ini.


Sebelum Afrenzo dan Bagas menuju kelapangan keduanya langsung berganti pakaian terlebih dahulu dikamar mandi, setelahnya keduanya langsung menuju ke lapangan basket untuk mengikuti pertandingan bola basket.


Sementara Risda dan yang lainnya sudah berada ditepi lapangan untuk menyaksikan perlombaan itu, Risda pun merasa canggung karena tatapan yang tidak mengenakkan dari Wulan terarah kepadanya dengan tajam dan seakan akan Wulan mulai membenci dirinya itu.


"Apakah persahabatan gue akan berakhir hanya karena kesalah pahaman? Wulan adalah sahabat gue sejak kecil, tapi karena bertemu dengan Renzo, segalanya menjadi seperti ini" Batin Risda.


Bagas dan Afrenzo langsung memasuki lapangan bola basket secara bersama sama, keduanya kini berdiri saling berhadapan diantara seorang guru olah raga yang berada ditengah tengah keduanya.


Melihat Afrenzo yang sudah berada ditengah lapangan membuat senyuman diwajah Risda terpancar gembira begitu saja, akan tetapi dirinya tidak berteriak seperti sebelumnya karena ia merasa tidak enak dengan Wulan yang berada tidak jauh darinya itu.


Sementara Wulan yang menyaksikan itu hanya membuang muka dari Risda, melihat Risda yang terus mendukung Afrenzo membuatnya semakin membenci Risda dan beranggapan bahwa Risda berusaha untuk merebut Afrenzo darinya.


Pertandingan pun segera dimulai, Bagas sama sekali tidak membiarkan Afrenzo untuk merebut bola yang ada ditangannya saat ini, ketika Bagas hendak melemparkannya menuju ring hal itu membuat Afrenzo langsung mencegah bola tersebut untuk masuk kedalam ring dengan sebuah lompatan.


"Lo ngak akan bisa mengalahkan gue, Renzo"


"Kita lihat saja nanti,"


Pertandingan itu semakin sengit karena keduanya terlihat begitu hebat dalam pertandingan, hingga sudah berjalan 15 menit akan tetapi keduanya sama sekali tidak ada yang mencetak gol, selama itu membuat pernafasan Bagas seakan akan memburu dan berbeda jauh dari Afrenzo yang masih terlihat santai itu.


Afrenzo yang sering melatih pernafasannya itu membuatnya mampu untuk menjalankan pertandingan lebih lama lagi, soal pernafasan tidak ada yang bisa mengalahkan Afrenzo, bahkan dipertandingan beladiri biasanya yang diadakan hanya sekitar 5-7 menitan saja.


Lama pertandingan beladiri paling lama adalah sekitar 2 menit dibabak pertama, 2 menit dibabak kedua, akan tetapi jika hasilnya imbang maka akan diadakan yang namanya babak ke 3 dalam waktu yang sama untuk menentukan siapa pemenangnya.


Cara melatih pernafasan juga bisa dilakukan dengan berlari, semakin lama berlari maka pernafasan yang dimilikinya semakin kuat dan mampu bertahan lebih lama lagi, Afrenzo biasanya berlari mengitari lapangan beladiri lebih dari 2 jam lamanya.


Bukan hanya itu, akan tetapi setiap harinya waktu berlarinya akan ia tambah yang awalnya hanya 1 jam lama kelamaan akan menjadi 3 jam untuk berlari dalam waktu satu hari.


Ketika waktu sudah berjalan 20 menit hal itu membuat Bagas lengah dalam pertandingannya sehingga hal itu langsung membuat Afrenzo mampu mencetak skor untuk pertama kalinya dan langsung membuat seluruhnya berteriak kegirangan untuk menyemangati kulkas berjalan itu.


Hal itu langsung membuat Bagas mengepalkan kedua tangannya dan berniat untuk membuat Afrenzo cidera, ia sangat mengenali kelemahan Afrenzo dan ingin membuat Afrenzo cidera untuk kesekian kalinya, ia pun menggerakkan kakinya kearah lutut Afrenzo.


Beruntung saat itu Afrenzo mampu untuk menghindarinya begitu saja, Bagas terus berusaha untuk menjatuhkan Afrenzo dengan kedua kakinya, Risda yang memperhatikan hal itu pun langsung terkejut dan membelalakkan kedua matanya.


"Curang!," Ucap Risda.


Risda langsung meninggalkan tempat untuk menuju kearah panitia penyelenggara pemilihan ketua OSIS itu untuk memberitahukan hal ini, tanpa sepengetahuan teman temannya Risda menyelinap untuk pergi dari tempat tersebut karena seluruhnya sedang fokus dengan pertandingan.


"Kenapa ngak dihentikan sih pertandingannya, udah tau main curang masih aja dilanjutkan," Protes Risda kepada panitia penyelenggara itu.


Protesnya itu seakan akan tidak didengarkan oleh panitia penyelenggara itu, hal itu membuat Risda nampak begitu geram karenanya, ia pun kembali menatap kearah lapangan tempat dimana Afrenzo dan Bagas sedang bertanding.


"WOIIII!!! CURANG LO!" Teriak Risda dengan sekuat tenaganya.


Teriakannya itu langsung didengar oleh beberapa siswa yang ada dan langsung membuat mereka fokus kepada pertandingan, entah sejak kapan pertandingan basket menjadi pertandingan beladiri, Bagas terus berusaha untuk menjatuhkan Afrenzo sementara Afrenzo terus berusaha untuk menghindarinya.


Melihat itu membuat beberapa guru langsung bergegas menuju ke lapangan untuk memisahkan mereka berdua, para guru itu langsung memegangi Bagas yang berusaha untuk menyerang Afrenzo sementara Risda langsung berdiri dihadapan Afrenzo dan memegangi tangan lelaki tersebut.

__ADS_1


"Kalian berdua! Ikut keruangan BK sekarang!" Ucap seorang guru wanita yang menjadi guru BK disekolahan tersebut.


"Renzo ngak salah, Bu. Renzo sejak tadi menghindari serangannya, jadi untuk apa Renzo kesana?," Bela Risda kepada Afrenzo.


"Ibu ngak mau tau, pokoknya kalian berdua harus keruangan Ibu sekarang juga!"


Afrenzo pun memegangi tangan Risda yang memegangi pergelangan tangannya itu, Afrenzo menepuk pelan tangan Risda agar Risda melepaskan pegangan tangannya tersebut dan membiarkan dirinya untuk bergegas keruangan BK.


"Renzo," Panggil Risda.


"Ngak papa," Jawab Afrenzo.


Afrenzo langsung bergegas untuk meninggalkan Risda dilapangan tersebut, ia dan Bagas langsung menuju ke ruangan yang dimaksud itu, bersama dengan beberapa guru yang mengikuti keduanya, melihat kepergian dari Afrenzo membuat Risda ikut serta untuk pergi dari sana.


Bagas dan Afrenzo langsung dimintai untuk duduk didepan seorang wanita yang sudah berada didalam ruangan tersebut, keduanya hanya diam membisu sambil mendengarkan omelan dari guru wanita itu.


"Kalian ini bagaimana sih! Ini bukan pertandingan beladiri, dengan seenaknya kalian rubah menjadi pertandingan beladiri," Omelnya kepada kedua pemuda yang ada dihadapan itu.


"Renzo duluan, Bu. Dia yang menyerangku lebih dulu," Bagas membela dirinya sendiri.


"Kamu juga, kami ini mantan ketua OSIS! Bisa bisanya berbuat curang dalam pertandingan ini, dan kamu anak salah satu guru disini, seharusnya kamu memberi contoh yang baik untuk yang lainnya"


"Maaf, Bu" Bagas menundukkan kepalanya dalam.


"Ibu akan adukan ke Ayahmu dan kalian berdua akan Ibu hukum"


"Saya terima, Bu" Jawab Afrenzo.


"Dan kamu juga seorang guru beladiri disini Renzo, seharusnya kamu juga memiliki aturan jangan main sembarangan seperti tadi, seharusnya ilmu yang kamu miliki itu kamu amalkan bukan membuat dirimu sok hebat disini"


"Saya hanya melindungi diri, Bu. Saya tidak bermaksud untuk menjadi sok hebat disini," Jawab Afrenzo dengan tegasnya.


"Sudah cukup, untukmu Bagas, kau tidak boleh mencalonkan diri lagi, Ibu benar benar kecewa dengan dirimu," Ucap guru itu sambil menatap tajam kearah Bagas.


"Tapi Bu,"


Tanpa berkata kata lagi, Afrenzo langsung bergegas keluar dari dalam ruangan tersebut, ketika dirinya membuka pintu ruangan tersebut ia langsung disambut oleh seorang gadis disana.


"Lo ngak papa kan?" Tanya gadis itu kepada Afrenzo.


Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, Afrenzo langsung bergegas melangkah untuk pergi dari tempat tersebut, gadis itu adalah Wulan yang tengah berdiri dihadapan pintu untuk menunggu Afrenzo keluar dari ruangan BK.


"Sial, gue diabaikan begitu saja! Ini semua gara gara Risda, gue benci dirimu Da!" Batin Wulan yang ditinggal pergi begitu saja oleh Afrenzo.


Afrenzo langsung bergegas pergi dari tempat tersebut untuk menuju kearah kelasnya, dengan langkah gontai Afrenzo melangkah dilorong sekolahan tersebut seorang diri.


"Renzo!" Panggil seseorang kepada Afrenzo.


Mendengar panggilan tersebut sontak langsung membuat Afrenzo menghentikan langkah kakinya ketika hendak memasuki ruang kelasnya itu, ia pun mendengar suara langkah kaki yang tengah berlari kearahnya itu.


"Lo ngak papa kan?" Tanya seorang gadis dan langsung berdiri dihadapan Afrenzo.


"Hem..." Jawab Afrenzo dan hanya dengan deheman saja.


"Guru tadi bilang apa aja ke lo?" Tanya gadis itu yang tidak lain adalah Risda.


"Bukan apa apa"


Setelah menjawab pertanyaan tersebut, Afrenzo langsung melangkah masuk kedalam kelasnya dan meninggalkan Risda yang masih berdiri ditempatnya saat ini, hal itu membuat Risda langsung melangkah untuk pergi dari tempat tersebut menuju kekelasnya sendiri.


Ia pun melihat sosok Wulan yang tengah berjalan kearahnya dengan menatap tajam kepadanya, hal itu membuat Risda langsung masuk kedalam kelasnya dan duduk dibangkunya saat ini.


Brakkk....


Wulan langsung menggebrak meja yang ada dihadapan Risda dengan keras, dan apa yang dilakukan oleh Wulan tersebut langsung membuat Risda merasa terkejut begitupun dengan teman temannya.

__ADS_1


"Lo apa apaan sih Lan!" Teriak Risda dan langsung berdiri dari duduknya.


"Gue peringati ke lo ya, jangan dekati Renzo lagi! Gue ngak suka lo dekat dekat dengannya, jauhi Renzo sekarang juga," Ucap Wulan sambil menuding kearah Risda.


"Ngak bisa! Renzo itu pelatih gue, dan gue ngak akan pernah berhenti untuk belajar beladiri, dan lo sendiri juga ngak berhak untuk ngehalangin gue,"


"Lo!!"


"Jangan hanya gara gara lo adalah sahabat gue, lo bisa seenaknya aja merintah merintah gue, gue ngak suka diperintah!," Ucap Risda dengan tegasnya.


"Jadi lo lebih memilih persahabatan ini putus ha? Teman macam apa lo itu!"


"Gue ngak milih, lo sendiri yang lebih memutuskan persahabatan ini putus hanya karena pemuda itu"


"Banyak bacoot lo!"


"Mau apa lo! Mau berantem disini sekarang juga? Ayo! Gue ladenin sekarang," Tantang Risda.


Pertengkaran itu tak luput dari perhatian seluruh siswa yang ada didalam kelas tersebut, dan seketika itu juga langsung membuat teman teman Risda langsung berdiri diantara keduanya untuk menghentikan pertengkaran tersebut.


"Kalian berdua ini apa apaan sih!," Teriak Rania.


"Ada masalah apa kalian ini?," Tanya Mira sambil memegangi tangan Risda.


"Jangan mentang mentang lo ikut beladiri jadi gue takut sama lo gitu ha!," Seru Wulan ketika melihat tangan Risda terkepalkan.


"STOP!" Bentak Rania, "Kalian berdua bawa Risda pergi dari sini, gue akan urusi Wulan!," Perintah Rania kepada Septia dan Mira.


"Wokeh, Bu ketua" Jawab keduanya berbarengan.


Mira dan Septia langsung menarik tangan Risda untuk keluar dari kelas itu, keduanya langsung menyuruh Risda untuk duduk ditempat duduk yang ada didepan kelas mereka, sementara Rania menyuruh Wulan untuk duduk ditempatnya.


"Kalian berdua ada masalah apaan?" Tanya Mira kepada Risda yang terlihat tenang itu.


"Wulan cemburu kalo gue deket deket dengan Renzo, padahal kan gue sama Renzo ngak ada hubungan apa apa, dia hanya pelatih gue doang ngak lebih," Jawab Risda dengan jujur.


"Jadi hanya karena masalah cowok saja sampe sebegitunya?," Septia membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Risda.


"Gue dan Renzo memang ngak ada hubungan sepesial, gue masih trauma dengan yang namanya cowok, semua cowok itu menyakiti termasuk juga bokap gue sendiri,"


"Sabar ya Da, sulit kalo seperti ini ceritanya, biar bagaimanapun dia juga adalah sahabat lo sendiri sejak kecil, dan Renzo sendiri juga adalah pelatih lo,"


"Bener apa yang dikatakan Mira, Da"


"Gue ingin membuktikan kepada nyokap gue bahwa gue juga bisa berprestasi seperti yang dia harapkan, gue dengar Renzo adalah guru pelatih yang hebat disini jadi gue ngak mau berhenti latihan hanya gara gara sahabat gue yang cemburu,"


"Gue paham kok, gue akan selalu dukung keputusan lo Da, apapun yang bikin lo seneng, gue dan Septia bakalan dukung lo"


"Thanks ya, karena telah mengerti tentang gue"


"Iya, Da. Lo jangan sedih sedih lagi, ngak papa lo dibenci sama Wulan, jika keputusan lo emang udah bulat gue dan Septia akan ada untuk lo"


Mereka pun langsung memeluk tubuh Risda yang memang tengah duduk diantara keduanya itu, Risda sendiri langsung merentangkan tangannya untuk memeluk kedua orang yang ada disebelah kanan kirinya itu.


*****


Karena kericuhan yang ada dipagi hari itu membuat Bagas didiskualifikasi dari pemilihan ketua OSIS baru, sehingga Afrenzo yang ditetapkan sebagai calon ketua OSIS yang baru dan akan dinobatkan menjadi ketua OSIS diesok hari.


Jam istirahat telah tiba, dan hal itu membuat Risda langsung bergegas kekantin seorang diri, biasanya dia akan bersama dengan Wulan akan tetapi kali ini dia milih untuk sendiri karena Wulan masih marah kepadanya itu.


Ketika sampai dikantin ia melihat Afrenzo yang tengah duduk seorang diri disebuah bangku yang ada dikantin itu sambil menikmati minuman yang ia beli sebelumnya, melihat itu membuat Risda langsung mendekat kearahnya.


"Renzo, selamat ya, gue dengar besok lo akan dinobatkan sebagai ketua OSIS baru," Ucap Risda dengan semangatnya.


"Thanks," Jawab Afrenzo.

__ADS_1


"Kalo gitu gue pesen makanan dulu ya,"


Risda langsung bergegas untuk menuju kepenjual yang ada ditempat itu, setelah tidak mendapatkan jawaban dari Afrenzo, Afrenzo memang seperti itu, sangat sulit untuk menjawab ucapan seseorang.


__ADS_2