
Risda dan yang lainnya langsung bersiap siap untuk berangat dari aula beladiri itu, mereka kini tengah berada di atas motor mereka masing masing sementara Risda masih mematung di tempatnya. Risda tidak membawa motornya kali ini, karena ibunya melarangnya untuk membawa motor sendiri.
"Naik!" Perintah Afrenzo kepada Risda yang masih berdiam saja.
Sebelum berangkat ke aula itu sebelumnya, Afrenzo telah menjemputnya dirumahnya akan tetapi Risda hanya menyuruhnya untuk menunggu digang rumahnya saja karena takut jika dilihat sama Indah. Sampai sekarang, Afrenzo belum mengetahui wajah dari Indah.
Afrenzo pun menyalakan motornya, sementara Risda langsung bergegas untuk naik keatas motor tersebut setelah memakai helm yang telah disediakan oleh Afrenzo. Sulit bagi Risda untuk menjelaskan perasaannya saat ini, apalagi seluruhnya menatap kearahnya dengan perasaan yang iri.
"Semua sudah siap?" Tanya Afrenzo kepada seluruhnya.
"Siap pelatih!" Seru mereka dengan serempaknya.
"Baiklah. Ayo berangkat," Ajak Afrenzo.
Afrenzo pun mulai memutar gas motornya untuk melajukan motornya itu, dan hal itu juga diikuti oleh siswa yang lainnya. Afrenzo berada didepan mereka, dan mereka mengendarai motor motor itu dengan berbaris rapi seakan akan hendak melakukan sebuah pawai berjalan.
"Renzo, apa nanti pelatihnya galak galak?" Tanya Risda ditengah tengah perjalanan mereka.
"Menurutmu?" Tanya Afrenzo balik tanpa menjawab pertanyaan dari Risda.
"Gue denger sih mereka semua menyeramkan tau, mereka kan ahli beladiri terus kalau marah gue takut dipukuli. Serem juga,"
"Adab lebih utama daripada ilmu, Da. Sehebat hebatnya mereka, mereka tidak akan menggunakan sepenuh tenaga mereka untuk melawan. Mereka akan menghormati orang yang menghormati mereka, begitupun sebaliknya," Jelas Afrenzo.
Risda justru takut dengan pelatih yang ada ditingkat atas daripada Afrenzo, padahal yang sebenarnya Afrenzo lebih menyeramkan daripada pelatih yang ada ditingkat atas. Afrenzo sudah pandai beladiri sejak kecil, jika kepandaiannya itu terus dilatih maka tingkat atas pun akan kalah dengannya.
Afrenzo tidak ingin menampakkan pencapaiannya itu dihadapan daerah, dan dirinya justru memilih untuk menjadi peserta kali ini. Jika pelatihan itu ada di cabang, dirinya mampu untuk menampakkan jati dirinya sebagai pelatih akan tetapi tidak dengan daerah.
"Nanti lo jangan jauh jauh dari gue ya, Renzo? Biar kita satu team nantinya," Ucap Risda memohon kepada Afrenzo.
"Lihat saja nanti, gue juga nggak tau aturannya gimana. Gue bukan panitia diacara ini,"
"Meskipun lo bukan panitia, kan lo pasti tau arah ujiannya kemana. Jadi pliss ya?"
"Iya."
Afrenzo pun kembali fokus dengan jalanan yang akan dilalui oleh mereka itu, dirinya berada dipaling depan daripada yang lainnya, sementara para seniornya berada dibelakang untuk mengawasi siswa baru yang mengikuti acara itu. Risda lalu berpegangan erat dengan jaket yang digunakan oleh Afrenzo, karena dirinya agak takut jika terjatuh dari motor karena Afrenzo yang membawa motornya dengan cepat.
Perjalanan mereka cukup lama dan jauh, karena lokasi yang digunakan dalam acara itu berada dipusat kota, sehingga jarak yang ditempuhnya juga panjang. Risda menatap kearah jalanan itu, dimana dirinya bisa merasa tenang hanya dengan menatap indahnya kota yang dirinya lalui.
"Renzo," Panggil Risda lagi.
Risda seakan akan tidak mau diam diatas motor itu, dirinya begitu jenuh ketika hanya berdiam diri saja tanpa adanya perkataan. Sehingga dirinya ingin sekali mengajak Afrenzo untuk berbicara dengannya, meskipun Afrenzo tidak mudah untuk diajak bercanda.
"Hem?" Tanya Afrenzo dengan hanya berdehem saja.
"Apakah tempatnya masih jauh?" Tanya Risda.
"Kurang lebih 20 menit lagi sampai. Ada apa?"
"Lo irit banget ya bicaranya, apa lo nggak pernah bercanda gitu? Gue jenuh,"
"Hafalin aja lambangnya."
Bukannya mengajaknya bercanda, Afrenzo justru malah menyuruhnya untuk menghafalkan materi lisan yang diujikan nantinya. Hal itu hanya membuat Risda menghela nafasnya, dirinya semakin bosan jika seperti ini apalagi Afrenzo yang tidak bisa diajak bercanda itu.
"Hai..." Teriak Risda kepada pengendara lainnya sambil melambaikan tangan.
"Hoiya!" Teriak pengendara tersebut balik sambil melambaikan tangannya.
Mendengar itu langsung membuat Afrenzo menoleh kebelakang melalui kaca spionnya, Risda yang tau kalau Afrenzo sedang menatapnya dengan kaca sepion langsung berdiam diri.
"Kenapa Renzo?" Tanya Risda sambil mendekatkan wajahnya ke helm Afrenzo.
"Lo kenal?" Tanya Afrenzo.
"Kagak sih, asal nyapa orang aja, hehehe..." Risda pun cengengesan dibelakang Afrenzo.
Risda memang tidak mengenali orang tersebut, dan dirinya hanya asal menyapa saja. Akan tetapi, orang itu justru menyahutinya apalagi dengan melambaikan tangannya. Seakan akan keduanya saling mengenali, padahal keduanya sama sekali tidak kenal.
Memang Risda tidak bisa berdiam diri, ada saja hal yang dirinya lakukan hingga membuat orang yang ada disekitarnya menatap aneh kearahnya. Risda juga tidak menyangka kalau orang itu justru menjawab sapaannya yang asal menyapa itu, dan hal itu menyelamatkannya dari rasa malu.
"Renzo, kok diem lagi sih?" Tanya Risda yang tidak mendapatkan sahutan dari Afrenzo.
"Sudah sampai."
__ADS_1
Risda pun langsung beralih pandangan menuju kejalanan sekitar, motor yang dikendarai oleh Afrenzo masuk kedalam sebuah halaman yang terdapat sebuah bangunan yang cukup besar. Risda tidak menyadari bahwa mereka telah sampai dilokasi tujuan, dan baru menyadari ketika Afrenzo mengatakan bahwa mereka sudah sampai.
"Menakutkan," Guman Risda pelan.
"Kenapa?" Tanya Afrenzo yang mendengarnya.
"Nggak papa," Jawab Risda sambil menyengir dan turun dari motor milik Afrenzo.
Afrenzo dan lainnya langsung segera memarkirkan motornya kesebuah halaman yang telah disediakan, sementara Risda dan beberapa anak memilih untuk berdiri dikejauhan sambil menunggu yang lainnya. Risda menatap sekelilingnya sambil terkagum kagum dengan para peserta yang hadir, begitu ramai dan juga suara bergemuruh membuatnya tersenyum.
"Gue bakalan dapat pacar nggak ya kali disini?" Tanya Vina entah kepada siapa.
"Pikiran lo pacar mulu deh, Vin. Ingat cinta tak selamanya indah," Ucap Anna.
"Biar kayak Risda tau, pacaran sama pelatih beladiri,"
"Matamu! Gue aja kagak punya pacar, ya kali gue pacaran sama Renzo. Yang ada kesiksa hidup gue," Seloroh Risda dengan mengumpat.
"Halah halah, mana mungkin kalo kagak pacaran bisa sedekat itu, Da? Kesiksa kenapa? Bukannya Renzo selalu baik sama lo ya?" Tanya Vina penasaran.
"Emang baik sih, tapi..."
"Hemm.." Tiba tiba seseorang pun berdehem didekat mereka.
Mereka sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Afrenzo sudah berdiri tidak jauh dari mereka, dan mereka pun langsung bersembunyi dibalik punggung Risda. Risda hanya bisa menyengir dihadapan Afrenzo, sementara Afrenzo masih menatap mereka dengan tajam.
"Lo kok udah disini aja sih, Renzo?" Tanya Risda untuk mengalihkan pembicaraan.
Risda dan yang lainnya berharap bahwa Afrenzo tidak mendengar perkataan mereka sebelumnya, mereka pun sangat takut jika sampai Afrenzo mendengarnya. Vina dan Anna pun memegangi baju Risda dengan eratnya, sementara Risda menatap Afrenzo sambil mencoba untuk melepaskan pegangan itu.
"Ikut gue," Ucap Afrenzo.
"Kemana? Hanya gue?" Tanya Risda terkejut karena tiba tiba Afrenzo mengajaknya untuk pergi.
Vina dan Anna pun kompak untuk mendorong tubuh Risda agar mendekat kearah Afrenzo, Risda pun sangat kesal dengan ulah teman temannya itu. Dirinya ingin sekali mengumpat kepada mereka, akan tetapi tidak berani melakukannya jika berada dihadapan Afrenzo.
"Renzo gue minta maaf soal ucapan tadi, kita nggak ada niatan buat ngomongin lo kok. Lo marah ya?" Tanya Risda.
"Hem? Ucapan apa?" Tanya Afrenzo sambil mengerutkan keningnya.
"Nggak papa," Jawab Risda dengan cepat supaya tidak membuat Afrenzo curiga.
"Disini jangan panggil gue pelatih, panggil nama saja. Kalian semua ikut gue, biar gue tunjukkan ruangan untuk kalian menginap," Ucap Afrenzo setelahnya.
"Iya," Jawab Risda dengan senang dan semangatnya.
Afrenzo pun berjalan menjauhi mereka, dan mereka semua pun bergegas untuk mengikutinya dari belakang. Tak beberapa lama kemudian, mereka akhirnya berhenti disebuah ruangan yang akan digunakan untuk menginap selama acara.
"Ini ruangan cewek apa cowok?" Tanya Fandi.
"Cewek. Kalau cowok ada dibelakang sana," Ucap Afrenzo sambil menunjuk kearah yang jauh.
Fandi dan para cowok lainnya langsung bergegas menuju kearah yang ditunjuk oleh Afrenzo, Afrenzo pun hendak menyusul mereka akan tetapi tangan Risda langsung menghentikan langkahnya karena tangan itu memegangi tangan Afrenzo. Afrenzo pun memandang kearah tangan Risda yang mengenggam tangannya dengan tatapan tajam, Risda yang menyadarinya pun langsung melepaskan pegangan tangannya itu.
"Hehe... Maaf ya." Cicit Risda pelan sambil menyengir.
"Kenapa?" Tanya Afrenzo kepada Risda.
"Toiletnya dimana? Udah nggak tahan nih," Ucap Risda.
"Ikut gue,"
Afrenzo pun langsung melangkahkan kakinya, sementara Risda langsung memberikan tasnya kepada Anna dan bergegas untuk menyusul. Anna pun merasa kesal dengan Risda yang tiba tiba menitipkan tasnya itu kepadanya, apalagi tasnya tersebut sangatlah berat.
"Dasar bang*ke!" Umpat Anna kepada Risda yang berlari menjauh.
"Jagain tas gue, jangan sampe hilang!" Teriak Risda tanpa menoleh.
"Gue buang ke tong sampah!" Teriak Anna balik.
Risda tidak mempedulikan teriakannya itu, dirinya pun bergegas untuk menyusul Afrenzo yang melangkah pergi. Risda pun mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Afrenzo, keduanya pun berjalan dengan beriringan.
"Renzo, lo ganteng," Ucap Risda sambil memperhatikan wajah Afrenzo yang datar.
Afrenzo pun membuang muka dari hadapan Risda, bagaimana nggak salting coba? Tatapan Risda menatapnya dengan lekatnya. Melihat perubahan wajah Afrenzo menjadi jutek, hal itu justru membuat Risda terkekeh senang.
__ADS_1
"Tapi lebih gantengan lagi kalo lo tersenyum," Ucap Risda lagi.
Afrenzo pun hanya diam saja mendengar ucapan dari Risda, Risda pun cemberut karena Afrenzo tidak merespon ucapannya itu. Dirinya pun terus berjalan disamping Afrenzo dan memperhatikan wajahnya tanpa memperhatikan jalanan yang dirinya lalui.
Tiba tiba kakinya tersandung sebuah vas bunga yang ada dilorong bangunan itu, Risda begitu sangat terkejut dan dirinya pun langsung terjungkal. Risda terjatuh dihadapan Afrenzo, sementara Afrenzo langsung menghentikan langkahnya.
"Auhh... Siapa sih yang naruh vas bunga disini, nggak tau apa kalo ada orang lewat. Bisa bisanya ditaruh disini, emang dia mau bikin orang celaka," Gerutu Risda sambil mengibas kibaskan kedua telapak tangannya.
"Mangkanya kalau jalan itu pake mata," Ucap Afrenzo.
"Iya iya, bantuin berdiri," Risda pun mengulurkan tangannya kepada Afrenzo.
Afrenzo pun langsung menerima uluran tangan itu, dirinya pun langsung membantu Risda untuk berdiri dari duduknya. Setelahnya Risda pun mengibas kibaskan baju dan celananya yang kotor karena pasir, untuk menghilangkan debu yang menempel dibajunya itu.
"Darah," Ucap Afrenzo sambil menatap kearah telapak tangannya sendiri.
"Lo berdarah, Renzo? Kok bisa?" Tanya Risda terkejut.
"Coba lihat tangan lo,"
Afrenzo pun langsung meraih tangan Risda dan melihat telapak tangan Risda, Risda sendiri juga terkejut ketika ditelapak tangannya ada darah. Bahkan telapak tangan yang terluka itu sama sekali tidak dirinya rasakan, ketika dia mengetahui bahwa tangannyalah yang berdarah, seketika itu juga tangannya terasa perih.
"Aaaa.. Ternyata tangan gue sendiri," Teriak Risda panik melihat darah.
Afrenzo langsung menarik tangan Risda untuk pergi kearah wastafel yang ada disana, Afrenzo pun langsung membersihkan luka ditelapak tangan Risda itu dari kotoran tanah. Risda pun menyengir menahan rasa perih ditangannya itu, melihat itu langsung membuat Afrenzo berhati hati dalam membersihkannya.
"Tunggu sini, gue cari obat dulu," Ucap Afrenzo panik.
"Jangan tinggalin gue," Ucap Risda.
"Sebentar."
Afrenzo pun langsung berlari meninggalkan Risda ditempat itu, sementara Risda tidak bisa menghentikan larinya tersebut. Risda pun memandang kearah luka yang ada ditangannya, lukanya itu sedikit akan tetapi terus mengeluarkan darah karena ada sebuah batu yang runcing yang telah menusuk telapak tangannya.
"Lama lama darah gue habis, udah nyumbangin tiap bulan lagi," Guman Risda yang melihat tangannya terus mengeluarkan darah meskipun tidak terlalu banyak.
Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo datang sambil membawa obat tetes luka dan juga hansaplas dan kapas. Afrenzo pun meneteskan obat tersebut ke kapas yang dirinya bawa, Risda terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Afrenzo.
"Mana tangan lo," Ucap Afrenzo ambil mengulurkan tangannya.
"Nanti perih," Ucap Risda yang justru menyembunyikan tangannya dibelakang tubuhnya.
"Kalo nggak diobati malah parah nantinya," Ucap Afrenzo dengan tegasnya.
"Nggak mau!"
Afrenzo tidak mempedulikan ucapan Risda, dirinya pun menggerakan tangannya untuk menarik tangan Risda. Risda yang tenaganya kalah dengan Afrenzo, terpaksa dirinya tidak bisa memberontaknya.
"Akh..." Pekik Risda disaat Afrenzo menempatkan kapas yang telah diberi obat olehnya ke telapak tangan Risda.
Afrenzo pun menekan lukanya menggunakan kapas tersebut, agar menghentikan pendarahan yang terjadi ditelapak tangan Risda. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perihnya tangannya saat ini, apalagi Afrenzo seakan akan tidak memedulikan rasa sakitnya itu.
"Renzo sakit," Ucap Risda.
"Tahan sebentar, biar nggak infeksi."
Lama kelamaan rasa perihnya pun sedikit berkurang, meskipun Afrenzo telah menekannya dengan kuat. Afrenzo pun melepaskan kapas tersebut dari luka Risda, dan mendapati bahwa darah milik Risda pun berhenti mengalir.
Afrenzo pun membuang kapas tersebut di tong sampah, setelahnya dirinya pun meneteskan obat tetes itu diluka Risda secara langsung. Sangat perih yang dirasakan oleh Risda saat ini, akan tetapi Afrenzo langsung meniup lukanya untuk merendahkan rasa perih yang dirasakan oleh Risda.
Lama kelamaan luka tersebut mulai mengering karena obat yang diberikan oleh Afrenzo, setelah mengetahui bahwa lukanya sudah kering, Afrenzo lalu memasangkan hansaplas ditangan Risda untuk menutup luka itu.
"Lain kali hati hati kalau jalan," Ucap Afrenzo.
"Iya iya, lagian salah orang yang naruh vas ini disini sih," Sempat sempatnya Risda masih menyalah orang lain saat ini.
"Vas ini sudah ada disini 5 tahun yang lalu, bagaimana bisa disalahkan?"
"Sudah ah diem saja. Mana kamar mandinya?" Tanya Risda mengalihkan pembicaraan.
"Disana," Afrenzo pun menunjuk kearah sebuah pintu yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Gue mau kekamar mandi dulu, tapi jangan ditinggal."
"Iya."
__ADS_1