
Risda memandangi sekeliling ruangan beladiri itu, dirinya masih merasa pusing dan baru saja tersadarkan dari pingsannya itu. Ia tidak tau apa yang terjadi kepadanya sebelumnya, mengapa dirinya bisa sampai tidak sadarkan diri ditempatnya itu, seingatnya dirinya masih mendengarkan ucapan Afrenzo.
Risda merasa benar benar sangat pusing saat ini, berada didalam aula beladiri itu sendirian membuatnya hanya bisa merenung. Cukup lama dirinya menunggu kedatangan dari Afrenzo kembali, akhinya lelaki itu pun datang sambil membawakan makanan untuk Risda.
"Da, makan dulu," Ucap Afrenzo sambil mengeluarkan sebuah kotak dari dalam kantung plastik yang dirinya bawa.
"Kenapa beli cuma satu? Lo kagak ikut makan?" Tanya Risda yang memperhatikan apa yang dilakukan oleh Afrenzo.
"Gue udah makan tadi. Mending lo makan dulu, habis itu lo pulang dan istirahat dirumah,"
"Gue kagak ingin pulang, gue masih pengen disini sama lo, Renzo. Dirumah kagak nyaman,"
"Jangan dengarkan ucapan mereka, langsung masuk kamar saja."
Risda pun hanya bisa menganggukkan kepalanya saja, biar bagaimanapun juga Afrenzo masih memiliki kegiatan yang lainnya sehingga dirinya tidak bisa menemani Risda ditempat itu. Risda pun langsung memakan makanan itu, sementara Afrenzo langsung bangkit dari duduknya menuju kesebuah samsak tinju.
Afrenzo memang suka sekali berlatih dengan menggunakan samsak tinju, karena hanya dengan itu dirinya bisa melatih pukulan sekaligus tendangannya. Risda memakan makanan yang diberikan oleh Afrenzo itu sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh lelaki itu, gerakan yang dilakukan olehnya begitu sangat indah sekaligus penuh dengan kekuatan.
Afrenzo melakukan gerakannya dengan cepat, sehingga kedua mata Risda tidak bisa menangkap gerakannya itu dengan mudah. Meskipun dirinya terus memperhatikannya, akan tetapi dirinya tidak bisa mengikuti gerakan itu.
"Renzo memang hebat, pantes saja dia sudah jadi pelatih diusia muda seperti ini. Gue kagum sama lo," Guman Risda pelan sambil terus memperhatikan gerakan Afrenzo.
"Jangan terlalu memuji. Lo juga bisa kayak gue jika mau berusaha, bisa saja lo itu lebih hebat daripada gue," Sahut Afrenzo yang mendengar ucapan lirih itu.
Meskipun sambil berbicara, akan tetapi fokus Afrenzo masih tertuju kepada samsak tinju yang ada dihadapannya itu. Afrenzo terus melakukan gerakan tendangan dan pukulan, bahkan suara yang diciptakan dari benturan antara kulit dan samsak terdengar sangat nyaring.
Afrenzo memang menggunakan tenaga penuhnya untuk melakukan gerakan itu, sehingga bunyi yany dihasilkan sangat keras. Afrenzo tidak pernah main main dengan latihannya, bahkan latihan itu bertujuan agar dirinya tidak akan merasa segan kepada musuh yang akan dihadapinya.
Jika kita ragu dalam memukul sebuah samsak ( untuk seorang pesilat ) maka keraguan itu akan berpengaruh ketika berada didalam stadion ( Gelanggang ), sehingga kita akan ragu untuk menyerang musuh. Keraguan yang tercipta akan berdampak besar pada kemenangan, selama masih ada keraguan maka kemenangan hanyalah sebuah angan tanpa kepastian.
"Bagi gue, lo itu tetep yang paling hebat, Renzo. Gue bangga sama lo," Ucap Risda.
"Jangan terlalu memuji gue seperti itu, Da. Sebentar lagi akan ada latihan malam dipusat, lo ikut kagak?"
"Nginep lagi?"
"Tentu."
Risda pun merasa sangat senang mendengarnya, dengan cara itu dirinya tidak perlu lagi untuk tidur dirumah. Acara acara dimana dirinya diharuskan untuk menginap, tidak pernah dia lewatkan sama sekali, dan dirinya yang akan selalu berada dibarisan paling depan untuk ikut berpartisipasi dalam acara itu.
Meskipun Risda tau bahwa latihan malam akan sangat menghabiskan tenaganya, karena dirinya diminta untuk terus latihan tanpa istirahat semalaman. Dia hanya akan diperbolehkan untuk istirahat ketika waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi hari, karena setelah sholat isya' sampai jam 2 dirinya akan terus berlatih dan diuji.
Akan tetapi hal itu sama sekali tidak membuatnya lelah, Risda hanya tidak suka jika dirinya berada dirumahnya dalam waktu yang lama. Ini adalah kesempatan untuknya agar bisa merasa bahagia tanpa harus ditekan oleh keluarganya, selama ini dirinya tidak bisa berbuat apa apa karena tidak diperbolehkan melakukan apapun tapi tidak ketika dirinya masuk sekolah SMA.
"Gue pasti ikut, Renzo. Lo juga ikut kan?" Tanya Risda.
"Gue ikut, dan ikut jadi peserta bukan panitia."
"Lah kenapa begitu? Lo kan pelatih juga, Renzo. Kenapa jadi peserta?"
Afrenzo pun menghentikan serangannya kepada samsak tinju itu, dirinya pun bergegas untuk mendatangi dimana Risda berada. Afrenzo langsung bergegas untuk duduk disamping Risda, dirinya pun mengambil botol minumnya dan meminumnya untuk menghilangkan rasa hausnya.
"Bukan masalah soal panitia atau peserta, gue lebih suka jadi peserta daripada panitia. Lagian dalam acara itu juga diuji dengan tanding, kalo jadi panitia gue hanya bisa jadi juri tidak untuk ikut bertanding. Jadi gue memutuskan untuk jadi peserta diacara itu,"
"Emang bisa gitu ya?"
"Umur gue masih muda, Da. Guru besar juga setuju dengan ucapan gue,"
"Lagian salah lo juga sih, udah tau masih muda kenapa hebat banget soal beladiri."
Risda justru menyalahkan kehebatan dari Afrenzo, bagaimana bisa takdir disalahkan seperti ini. Afrenzo sendiri juga tidak meminta untuk memiliki bakat seperti ini, tetapi Allah memberinya sebuah anugerah dengan cara dia yang dihebatkn dalam persoalan beladiri dan olahraga.
__ADS_1
Afrenzo sendiri pun langsung menatap tajam kearah Risda, tatapan itu selalu saja berhasil menbuat Risda jadi merinding seperti habis melihat hantu saja. Risda langsung membungkam mulutnya dengan rapat, karena takut jika lelaki itu akan memarahinya nanti.
"Renzo, jangan natap gue seperti itu dong. Lo nyeremin banget sih jadinya," Cicit Risda pelan sambil menyengir ketakutan.
Afrenzo hanya bisa menghela nafasnya mendengar ucapan dari Risda, dirinya yang terbiasa dengan tatapan tajam sekaligus sikap yang dingin membuatnya mudah sekali berubah menjadi dingin. Sikapnya yang dingin tidak akan bisa berlangsung lama jika dihadapan Risda, karena Risda membuatnya tidak bisa terus bersikap dingin.
"Habis ini lo ada acara apa, Renzo?" Tanya Risda untuk mengalihkan pembicaraan sebelumnya.
"Latihan di SD," Jawab Afrenzo singkat.
"Jadwal lo padat banget, emang kagak pernah capek?"
"Habis ini lo pulang istirahat," Ucap Afrenzo tanpa menjawab pertanyaan dari Risda sebelumnya.
Afrenzo memakai jaketnya kembali, dirinya tengah bersiap siap untuk menuju kesekolahan yang dimaksudkan itu. Risda memang telah selesai menghabiskan makanannya itu sejak tadi, dirinya pun ikut serta memakai jaket yang dirinya bawa sebelumnya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Afrenzo.
Afrenzo menyuruhnya membawa jaket untuk dipakai ketika berangkat dan pulang latihan, Risda yang memang tidak suka berganti pakaian setelah latihan membuatnya agak khawatir dengan cewek itu. Afrenzo takut jika terjadi sesuatu dengan Risda dijalan, apalagi didunia jalanan sangat mengkhawatirkan jika memakai pakaian beladiri.
Banyak sekali siswanya yang pernah dicegat oleh orang orang jahat karena pakaiannya, dunia beladiri tidak seindah yang mereka bayangkan. Terkadang organisasi organisasi beladiri lainnya akan saling menyerang, hanya untuk mendapatkan gelar sebagai perguruan yang kuat.
Siapa yang kuat akan menguasai, dan siapa yang terlemah akan dikuasai. Memang hal itu tidak ada didalam aturan sebuah negara, akan tetapi kebanyakan oknum oknum yang tidak bertanggung jawab akan melakukan hal seperti itu untuk menindas yang lainnya.
Tidak jarang banyak kabar yang beredar mengenai sebuah tawuran antar perguruan beladiri, bahkan hanya karena masalah sepele maka seluruh siswa disebuah perguruan akan menyerang perguruan lainnya dan berujung pada tawuran antar perguruan.
Afrenzo juga telah menjelaskan hal itu kepada Risda, sehingga membuat Risda memahaminya dengan jelas. Oleh karena itu, Risda memakai jaket berangkat dan selesai latihan, agar tidak menimbulkan sebuah masalah bagi perguruan dan juga bagi dirinya sendiri.
"Renzo," Panggil Risda ketika melihat lelaki itu berjalan keluar dari aula beladiri.
Risda langsung bangkit dari duduknya itu dan bergegas untuk mengejar lelaki itu, setelah keduanya keluar dari dalam aula beladiri, Afrenzo langsung mengunci pintu ruang aula beladiri itu. Sementara Risda hanya berdiri disampingnya, dan memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Afrenzo.
"Renzo," Panggil Risda lirih.
"Ada apa?" Tanya Afrenzo yang langsung menoleh kepadanya.
Afrenzo pun mengangkat tangannya dan mengusap kepala Risda pelan, dirinya pun tersenyum tipis sebagai jawaban dari ucapan Risda itu. Setelahnya keduanya langsung bergegas untuk menuju keparkiran yang ada dihalaman aula beladiri itu, dan keduanya naik keatas motor mereka masing masing.
"Jaga diri baik baik, jangan banyak memikirkan hal yang tidak penting. Lo tidak adil pada diri lo sendiri, yang memaksa untuk berpikir keras untuk hal yang tidak penting. Jangan banyak pikiran, kalo lo sampe pingsan dijalanan giman?"
"Kenapa lo jadi bawel seperti ini sih, Renzo? Udah kayak emak emak aja,"
"Gue bawel demi lo, Da. Bukan untuk diri gue sendiri," Afrenzo pun sangat serius dalam mengatakan itu, sehingga membuat Risda langsung menganggap bahwa ucapan Afrenzo itu sangat serius untuknya.
"Lo juga harus pikirin kesehatan lo, Renzo. Jadwal lo memang padat, jangan lupa makan juga,"
"Tentu. Tidak ada yang menyayangi kita dengan tulus selain diri kita sendiri, belajarlah untuk menyayangi diri sendiri,"
"Siap pelatih," Risda pun memberikan sebuah hormat kepada Afrenzo.
Afrenzo pun tersenyum tipis kepada Risda, keduanya pun langsung menyalakan motor mereka masing masing. Afrenzo dan Risda pun akhirnya berpisah pada tujuan mereka masing masing, Afrenzo belok ngiri sementara Risda belok nganan.
*****
Risda tengah menyapu kelasnya, karena memang ini adalah jadwalnya untuk piket kelas. Risda berangkat lebih awal daripada yang lainnya, karena itulah kebiasaannya jika memang dirumahnya tidak ada makanan, sehingga dirinya berangkat tanpa sarapan terlebih dulu.
"Kemaren hujan angin apa gimana? Kenapa disini banyak sampah dedaunan sih," Guman Risda saat berjalan menuju kebelakang kelasnya.
Risda pun menghela nafasnya, dirinya lalu menyapu sampah dedaunan itu. Karena jumlahnya yang sangat banyak, membuatnya sedikit kesulitan untuk membersihkan sampah itu, bahkan pengki yang ada didalam kelas itu pun entah kemana.
Tiba tiba seseorang masuk dengan berlari, hingga membuat dedaunan itu kembali terbang memenuhi seluruh lantai kelas. Risda yang menyaksikan itu langsung membelalakkan matanya, dirinya pun menatap dengan nyalang kearah orang itu.
"Bangsaaatttt!" Umpat Risda dengan kerasnya.
__ADS_1
"Sorry, Da. Gue tadi buru buru," Ucap orang itu ketika melihat Risda marah.
"Sia sia dong gue nyapu kelas ini, gara gara lo semuanya kembali berantarkan, Sat. Kagak usah masuk kelas sekalian, lo diusir dari kelas ini,"
Orang itu tidak lain adalah Satria, teman sekelasnya itu. Risda sangat marah saat ini, karena usahanya untuk membersihkan kelas itu lenyap seketika. Masih pagi saja sudah membuat mood gadis itu hilang, bahkan dirinya terlihat sangat marah.
"Sorry banget, Da. Tinggal nyapu lagi apa susahnya sih?"
Plakkk...
"Akhh..."
Risda pun mengayunkan sapu yang ada ditangannya dan langsung memukul Satria dengan kerasnya menggunakan sapu itu. Satria pun mengepalkan tangannya kearah Risda, akan tetapi itu sama sekali tidak membuatnya merasa takut karena ditangannya masih memegang sebuah sapu.
"Apa lo! Nggak terima?" Tanya Risda dengan nada tingginya.
"Sakit tau, Da. Emang lo pikir tubuh gue ini samsak, ha? Gue pukul balik tau rasa lo,"
"Gue nggak takut sama lo, emang lo pikir hati gue kagak sakit apa, ha? Gue susah susah ngumpulin tuh sampah daun, eh lo malah buat berantakan lagi. Emang bangsaatttt!"
Risda terus mengomel karena perbuatan dari Satria itu, sementara Satria langsung menutup kedua telinganya karena tidak mau mendengarkan omelan dari Risda. Satria lalu mengambil sapu yang lain yang ada didekatnya itu, dan dirinya pun langsung memukulkan sapu itu ke meja yang ada didekat mereka dengan kerasnya.
Brakkk...
Suara itu langsung membuat Risda terdiam, jantungnya berdebar karena rasa terkejutnya seketika. Rania yang baru datang pun ikut terkejut dengan hal itu, apalagi melihat sapu yang ada ditangan Satria gagangnya sudah patah menjadi dua.
"Bisa diem kagak lo, ha? Mending lo diem, daripada gue harus pake kekerasan nantinya," Ancam Satria.
"Gue nggak peduli!" Teriak Risda.
Plakk...
Sebuah tamparan langsung mengenai pipi Risda, Risda pun merasa pipinya terasa panas sekaligus nyeri akibat tamparan itu. Rania yang melihat itu langsung membuatnya bergegas mendatangi Risda, sementara Risda langsung memegangi pipinya dengan air mata yang hendak menetes.
"Lo apa apa'an sih, Sat! Beraninya lo sama cewek, gue nggak habis pikir dengan jalan pikiran lo. Setidaknya jangan main tangan sama cewek," Ucap Rania sambil menengahi keduanya.
"Bilangin sama temen lo itu, jangan mentang mentang dia ikut beladiri lalu dia jadi sok jago disini. Jika dia bisa main kekerasan, gue juga bisa!" Sentak Satria diakhir kalimatnya.
"Meskipun begitu, jangan pake kekerasan! Emang lo kagak bisa lebih lembut dikit sama cewek?"
"Dia emang kagak bisa dihalusin! Dibaikin malah ngelunjak,"
Satria langsung bergegas menuju kearah pintu ruangan itu, sementara Rania langsung memeluk tubuh Risda untuk menenangkan gadis itu. Hal itu sangat menyakitkan bagi Risda, apalagi tiba tiba dirinya yang ditampar itu.
"Lo nggak papa kan, Da?" Tanya Rania.
Risda pun menggeleng kepalanya, dirinya tidak bisa berkata kata lagi karena pipinya yang terasa kebas sekaligus kedua matanya ingin sekali meneteskan air mata. Ketika Satria sampai di pintu kelas itu, seketika tubuhnya terpental kebelakang hingga jatuh dilantai.
Risda dan Rania pun langsung terkejut dan bergegas untuk mendatangi tempat itu. Risda pun melihat sosok Afrenzo berdiri dibalik pintu itu, cowok itu tengah menatap dingin kearah Satria yang terbaring dilantai.
Sebelumnya ketika keributan itu terjadi, Afrenzo tidak sengaja mendengarnya. Bahkan dirinya sempat mengintip melalui cendela yang ada diruang kelas itu, dirinya melihat Satria yang memukulkan sebuah sapu dihadapan Risda dengan sangat kerasnya, bahkan dirinya juga melihat Satria yang menampar Risda dengan kerasnya.
Ketika Satria hendak pergi dari ruang kelas itu, Afrenzo langsung bergegas untuk menuju kedepan pintu ruangan itu, dan ketika Satria lewat pintu itu, Afrenzo pun langsung menendangnya dengan sangat keras hingga membuat Satria terpental dan terjatuh.
"BANGUN LO!" Bentak Afrenzo.
Afrenzo langsung mendatangi dimana Satria berada, dirinya pun langsung menarik kerah baju Satria dan menariknya agar lelaki itu bangkit dari jatuhnya. Risda yang melihat itu langsung bergegas memegangi tangan Afrenzo, dirinya takut jika keduanya akan kembali bertarung nantinya.
"Gue nggak suka kalo ada seorang lelaki yang berani mukul seorang wanita," Ucap Afrenzo dengan nada dinginnya.
"Renzo sudah, jangan berkelah," Ucap Risda pelan karena takut jika Afrenzo sampai terlibat dalam sebuah perkelahian.
__ADS_1
Tatapan tajam dari Afrenzo masih tertuju kepada Satria, dirinya sama sekali tidak menatap kearah Risda sedikitpun itu. Satria sendiri hanya bisa membuang muka dari hadapan Afrenzo, sangat malas rasanya menatap wajah lelaki yang tengah memegangi kerah bajunya itu.