Pelatihku

Pelatihku
Episode 28


__ADS_3

Risda pun cemberut kearah teman teman satu grubnya itu, wajahnya yang cemberut nampak begitu lucu hingga membuat mereka tertawa terbahak bahak. Risda yang melihat mereka seperti itu langsung melontarkan sebuah tatapan mata yang sangat dingin dan menyebalkan.


"Kalian membullyku?" Tanya Risda dengan tatapan dingin akan tetapi justru membuat mereka tertawa lebih keras lagi.


Memang wajah Risda tidak pantas untuk bersikap dingin, Risda dan Afrenzo memang berbeda. Semakin Risda menatap mereka seperti itu, hal itu membuat mereka tertawa dengan kerasnya hingga membuat perhatian seluruhnya terarah kepada Risda dan teman temannya itu.


"Lo harus memuji gue, Da. Berkat gue, lo jadi cantik seperti ini tau," Ucap Mira dengan bangganya.


"Bangsaat lo, Ra. Bukannya cantik, gue malah kek badut karena lo semua!" Umpat Risda.


"Cantik, Da. Sini gue buktiin deh,"


Mira pun menarik tangan Risda untuk keluar dari tendanya, Risda hendak menolak akan tetapi pegangan tangan Mira semakin dieratkan. Sampailah keduanya didepan tenda dan lebih tepatnya jalanan untuk para peserta lalui.


"Mas! Dia cantikkan?"


Risda pun terkejut bukan main ketika Mira bertanya kepada peserta dari sekolah lain, dan hal itu langsung membuat Risda melotot. Memang Mira sukanya malu maluin didepan banyak orang, lelaki yang dipanggilnya itu pun hanya tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah Risda dan Mira.


"Sialan lo, Ra!" Umpat Risda sambil mencengkram erat tangan Mira.


"Auhhh sakit, Da. Lo emang kagak punya perasaan sekali sih jadi orang," Gerutu Mira ketika lelaki yang ia panggil sebelumnya pun pergi.


"Lo yang kagak punya perasaan! Maksud lo apaan tanya ke orang lain ha? Bikin malu aja lo," Omel Risda kepada Mira.


"Gue kan hanya mau ngebuktiin kalo omongan gue ini beneran anjiirrr! Lo nya aja yang salah paham sama gue,"


"Ngebuktiin sih ngebuktiin, tapi ngak gini juga pe'ak. Lo yang ada dikira caper tau woi!"


"Bodoamat lah. Sebelum pentas, mending kita makan dulu deh, gue laper udah ngak tahan lagi,"


Bekal mereka memang belum dimakan sampai sekarang karena mereka yang sibuk untuk membangun tenda, bersiap siap hendak lomba, dan bahkan ribet dengan urusan mereka masing masing.


"Okeh, gue juga laper nih, Ra. Kita makan didepan tenda aja yak, lebih enak sambil lihat orang lalu lalang,"


"Yoi Bro."


Waktu pun masih menunjukkan pukul 7 malam, karena minim pencahayaan sehingga wajah mereka tidak terlalu jelas. Risda dan Mira menggunakan senter ponselnya untuk menerangi makan mereka berdua, Wulan sudah makan terlebih dahulu karena dirinya yang sangat kelaparan.


Risda pun membuka kotak bekal yang diberikan oleh Afrenzo sebelumnya. Untung saja Afrenzo memberinya bekal kalau tidak dirinya tidak tau lagi harus makan apa saat ini, karena tidak diperbolehkan untuk keluar lingkungan sekolah disaat malam hari.


Terlihat sebuah lauk ayam goreng disana, dan ada beberapa lalapan yang ditaruh didalamnya. Risda tersenyum ketika melihat ayam goreng tersebut, ia tidak menyangka bahwa Afrenzo mengirimkan bekal seperti itu kepadanya.


"Wih enak banget lauk lo, Da."


"Lo mau juga, Ra? Gue bagi deh,"


"Ngak usah kali, Da. Lo makan aja, gue juga makan bekal gue, kali aja lo mau capcay buatan nyokap gue? Ambil aja, Da."


"Lo baik banget deh, Ra. Lo emang temen gue yang the best pokoknya,"


"Tapi lo harus nurutin gue, Da. Setelah ini gue pengen rias wajah lo, lo harus mau! Gue maksa,"


"Apa ngak ada yang lainnya, Ra? Kenapa sih harus make up in gue?"


"Wajah lo imut, Da. Pengen aja gitu ngerias wajah lo,"

__ADS_1


"Iya deh iya, bawel banget deh."


Risda dan Mira pun memakan bekal mereka berdua dengan lahapnya. Risda tanpa sengaja melihat beberapa siswa perguruannya yang melintas didepan mereka berdua, Pandangan Risda tertuju kepada sosok yang memiliki sakral yang berbeda dari yang lainnya, itu adalah Aftenzo.


Afrenzo diikuti oleh beberapa siswanya dibelakangnya, terlihat ada 10 orang yang sedang berjalan dibelakangnya saat ini. Afrenzo hanya melirik sekilas kearah Risda dan kembali fokus kepada jalannya itu, ia pun berlalu pergi dari tempat tersebut.


"Mereka mau kemana?" Tanya Risda kepada Mira.


"Mereka siapa?" Tanya Mira yang memang sejak tadi dirinya fokus kepada bekalnya.


"Anggota beladiri disekolah ini, Ra. Masak lo ngak lihat sih tadi?"


"Ya ngak taulah, orang gue aja bukan bagian dari beladiri. Seharusnya lo yang tau, lo kan juga siswa yang ikut beladiri,"


"Gue emang ikut sih, tapi gue ngak tau mereka pergi kemana,"


"Ya tanya aja sama pelatih lo itu, masak nomer ponselnya juga lo ngak tau,"


"Gue emang ngak tau, Ra. Jangankan untuk ngehubungi dia, bahkan gue aja ngak punya nomor ponselnya itu,"


Risda memang tidak punya nomor ponsel Afrenzo sejak dulu, meskipun dirinya aktif dalam latihan akan tetapi mereka belum pernah bertukar nomor ponsel. Risda ingin meminta nomor ponsel Afrenzo akan tetapi dirinya merasa tidak nyaman jika dia yang minta terlebih dulu.


Afrenzo sendiri pun tidak pernah meminta nomor ponselnya, sehingga hal itu membuat Risda belum pernah memiliki kesempatan untuk bertukar nomor dengan Afrenzo. Sampai saat ini, dirinya tidak mengetahui nomor ponsel dari lelaki dingin itu.


"Bagaimana bisa lo ngak punya nomor pelatih lo sendiri, Da. Seharusnya lo minta kepada dia,"


"Gengsi dong, Ra. Masak iya sih cewek yang minta nomor ke cowok, yang ada gue malah diketawain oleh yang lainnya kali,"


"Pe'ak lo, Da. Ngak mungkin lah mereka ngetawain lo, secara nih ya, lo kan muridnya. Jadi, lo yang harus minta ke dia, dia sih ngak mungkin minta nomor ke lo. Disini lo yang butuh dia, bukan dia yang butuh lo, dia kan pelatih lo,"


"Anjiiirr!! Lo biasanya yang malu maluin, sekarang pake malu malu, kagak konek lo,"


"Sialan lo, Ra. Mending lo cariin gue solusi deh, daripada lo ngomong aja kagak jelas,"


"Lo dekat kan dengan Satria? Mending lo minta aja ke dia, dia kan juga siswanya."


Risda pun menjentikkan jarinya dikeningnya, ide dari Mira ada benarnya jika dia ingin mengetahui nomor ponsel milik Afrenzo. Akan tetapi, Risda ragu untuk memintanya langsung kepada Satria, Satria sendiri pernah melarangnya untuk dekat dekat dengan Afrenzo karena dia galak.


Risda pun diam membisu memikirkan perkataan dari Mira, didalam pikirannya banyak sekali pro dan kontra yang sedang berlarian. Ucapan Mira juga ada benarnya, kalau Afrenzo tidak akan meminta nomor ponselnya, secara kan memang Risda yang membutuhkan Afrenzo daripada Afrenzo sendiri.


"Tapi, Ra. Dia ngak bakalan ngasih,"


"Bagaimana bisa? Eh, tapi dari sikapnya. Sepertinya, Satria naksir deh sama lo,"


"Itu mana mungkin pe'ak. Orang kek gue ngak pantes di naksirin orang, mau mati juga,"


"Hus!! Omongan lo emang ngak bisa dijaga, Da. Lama lama gue tonjok tuh bibir lo!"


"Iya ya maaf."


Risda pun kembali fokus kepada makannya, jika Afrenzo disana mungkin dirinya akan menatap tajam kearahnya karena Risda yang makan sambil berbicara. Beruntung bahwa Afrenzo tidak ada ditempat itu, sehingga tidak ada yang menatapnya dengan tajam seperti ini.


*****


Risda dan yang lainnya lalu bersiap siap untuk berkumpul dihalaman sekolahan demi menunjukkan bakat mereka masing masing. Risda dan yang lainnya kini sudah berada ditengah tengah lapangan untuk menunjukkan hasil latihannya selama ini.

__ADS_1


Pertunjukkan berjalan dengan lancar hingga akhir pentasnya, mereka juga menyaksikan teman beda sekolahnya itu menunjukkan bakat mereka masing masing. Dan acara tersebut berakhir tepat dipukul 11 malam, setelah itu mereka diminta untuk duduk melingkar memenuhi lapangan dan ditengah tengahnya terdapat api unggun.


Hawa dingin pun langsung menyelimuti mereka, untung saja sebelum berkumpul kembali dilapangan, Riada dan yang lainnya sudah berganti pakaian menjadi pakaian santai mereka. Kalau belum ganti, mungkin mereka akan mengigil karena pakai kebayak yang memang tidak bisa melindungi mereka dari hawa dingin.


"Duduk semuanya!" Perintah Ketua panitia.


Seluruh peserta pun duduk ditempatnya masing masing, Risda memeluk kedua kakinya yang ditekuk karena hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya tersebut. Mereka semua mendengarkan apa yang disampaikan oleh ketua panitia tersebut dengan seksama, mungkin banyak ilmu yang bisa diamalkan dari sana.


"Begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada umatnya, sudahkah kita bersyukur untuk hari ini?


Satu, Nikmat yang terletak pada diri kita pribadi


Sang Pencipta memberikan kita mata dan telinga, tangan, dan kaki serta anggota tubuh lainnya. Kita mensyukurinya dengan menggunakan semuanya untuk kebaikan. Tidak boleh bagi kita untuk sombong seandainya diberikan wajah yang rupawan maupun cantik. Mata juga dipakai untuk melihat yang baik, telinga hanya mendengarkan yang bermanfaat. Semua kita gunakan untuk menuju ketaatan dan itulah sebaik-baik rasa syukur kita terhadap nikmat tersebut karena jika kita menggunakan semua anggota tubuh untuk hal yang sia-sia, maka hati kita tidak tenang, hidup kita akan kacau dan pastinya sang Pencipta pasti akan membalasnya.


Dua, Nikmat yang Diperoleh dari Usaha Sendiri


Nikmat ini berupa harta yang banyak, jabatan, pangkat yang sekarang kita emban, ilmu yang banyak, mobil, rumah dan lain sebagainya.


Hasil sebagian dari semua apa yang kita usahakan tersebut cara mensyukurinya adalah dengan bersedekah kepada orang-orang yang tidak mampu, anak yatim, maupun janda. Dengan sedekah, Allah akan membalas dengan melipatgandakan dari apa yang telah kita sedekahkan. Sudah banyak orang yang merasakan manfaat sedekah dan ganjaran yang diberikan oleh sang Pencipta pun sangatlah besar. Pergunakan semua yang kita hasilkan dari usaha kita untuk jalan kebaikan dan jangan pernah kita salah gunakan. Semua hanya titipan dan akan dipertanggung jawabkan di akhirat.


Tiga, Nikmat yang Ada di Alam Sekitar


Allah memberikan kita air, tanah, udara yang segar kepada kita agar kita bisa selalu mengambil manfaat dari semua itu. Cara mensyukuri nikmat ini adalah dengan menjaga kebersihan, menjaga kelestarian hutan maupun kebun. Iya, menggunakan semuanya untuk hal yang bermanfaat dan memikirkan tentang kebesaran sang Pencipta atas penciptaan langit, bumi, dan seisinya bahwa semuanya diciptakan tidaklah sia-sia. Sudah sepantasnya untuk kita selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan dan menjaga nikmat tersebut karena suatu saat akan dikembalikan kepada-Nya.


Kalian mungkin masih ngeluh atas cobaan yang kalian hadapi saat ini bukan? Pikir baik baik kata kata ini, kapan terakhir kali kalian bersyukur? Kapan terakhir kali kalian mengingat Allah?" Tanya Ketua panitia tersebut.


Risda menitihkan air matanya ketika mendengar ucapan dari ketua panitia yang sama sekali tidak ia kenali itu karena berasal dari luar lingkungan sekolah. Selama ini dirinya memang tidak pernah bersyukur dengan apa yang dirinya miliki, hal itulah yang membuatnya menitihkan air matanya.


"Kita semua yang ada disini, memiliki anggota tubuh yang lengkap. Kalian gunakan untuk apa anggota tubuh kalian selama ini? Mulut untuk membentak kedua orang tua, bahkan diluar sana banyak yang ingin bisa berbicara seperti kalian. Tangan untuk memukul yang lainnya, tapi pernahkah kalian berpikir bahwa tangan itu akan menjadi pertanggungjawaban kalian diakhirat disaat mulut kalian tidak bisa berbicara!


Apa yang kita keluhkan hari ini? Pernahkah kalian bersyukur atas nikmat yang diberikan? Mulai sekarang, minta maaflah kepada diri sendiri atas ego yang telah kalian lakukan. Jangan pernah lupa bersyukur untuk hari ini,"


Udara dimalam itu terasa sangat dingin dengan angin yang berhembus pelan, perkataan perkataan itu seakan akan menjadi sebuah cambukan bagi Risda yang memang dirinya tidak pernah bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah selama ini.


"Aku salah," Guman Risda pelan.


Anak yang dididik dengan baik oleh orang tuanya berbeda jauh dengan anak yang berjuang seorang diri untuk mengetahui apa kesalahannya. Itulah yang dialami oleh Risda, ia harus belajar seorang diri untuk bisa mengetahui mana yang benar dan salah tanpa bimbingan dari orang tuanya.


Jika jodoh ditentukan dengan menikah maka untuk apa adanya sebuah perceraian? Jika kalian sudah nekat menikah tanpa memikirkan masa depan nantinya akan seperti apa, justru anak kalian yang akan menjadi korbannya!


Seorang anak yang mampu bangkit seorang diri tanpa bantuan dan bimbingan dari orang tuanya, jangan salahkan bahwa anak itu akan menjadi keras kepala, egois, nakal, dan bahkan sulit untuk dinasehati. Dunia ini memang kejam, kejam bagi seorang anak yang menjadi korban dari perceraian orang tuanya.


Seorang anak yang tidak pernah bercerita panjang lebar kepada orang tuanya, ia tidak akan pernah takut akan kehilangan orang orang yang ada disekitarnya. Yang ada didalam pikirannya hanyalah ada kematian yang mereka inginkan, untuk apa mereka dilahirkan jika akhinya mereka disia siakan.


Anak broken home, mereka memiliki dua pilihan. Satu, mereka akan mudah terpengaruh pada pergaulannya, jika sudah seperti itu maka untuk memperbaikinya itu tidaklah mudah. Mereka akan sulit untuk dinasehati, dan menganggap segalanya adalah benar atas pikirannya sendiri.


Dua, anak itu akan berubah menjadi pendiam, insecure atas perbuatannya yang beda dari yang lainnya, menjadi sosok seorang introvert yang mengurung diri dari segala pergaulan. Sekali dinasehati dirinya akan merasa insecure bahkan takut untuk bertemu dengan orang yang menasehatinya.


Kalian tidak akan pernah tau bagaimana rasanya menjadi korban dari perceraian orang tua, jika kalian tidak mengalaminya sendiri. Bahkan tidak jarang diantara mereka akan melakukan bunuh diri, mereka tidak butuh omelan dari kalian, tapi mereka butuh bimbingan dan pelukan.


Anak yang dibesarkan tanpa bimbingan dari orang tuanya akan berbeda jauh dari anak yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang dari keluarganya. Plisss, mereka juga ingin hidup bahagia, dan tidak sepantasnya kalian beda bedakan dengan yang lainnya.


Jika mereka salah, maka beritahu apa yang benar dengan cara yang halus. Jangan hanya karena mereka salah lalu kalian marahi, kalian tidak tau karakter seseorang dan tidak semua orang itu sama. Ada yang sekali terkena ucapan kasar lalu insecure dan akhirnya berdampak pada kesehatan mereka, ada yang tahan dengan ucapan kasar sehingga ucapan itu tidak berpengaruh kepadanya.


Setiap karakter seseorang itu berbeda! Kalian tidak bisa menyama ratakan dengan yang lainnya, kami anak broken home! Kami berjuang sendirian untuk bisa bangkit kembali, seharusnya kalian dukung bukan malah menjatuhkan!

__ADS_1


( Dia tanpa menyebut nama : Ku harap keluargaku tau, dan baca ini )


__ADS_2