Pelatihku

Pelatihku
Episode 76


__ADS_3

Perdebatan tersebut langsung membuat Risda mendapatkan sebuah jitakan dari Afrenzo, setelahnya dirinya pun memonyongkan bibirnya karena mendapatkan jitakan dari Afrenzo. Untuk pertama kalinya Afrenzo tersenyum begitu lebarnya kepada Risda hingga menampakkan gigi gigi rapinya itu.


"Lo kenapa?" Tanya Risda yang merasa aneh karena tawa dari Afrenzo saat ini.


"Ngak papa," Afrenzo langsung menetralkan kembali eksperi tawanya itu menjadi wajah datar.


"Tertawa tawa aja kali, jangan sungkan sungkan gitu. Kayak sama siapa aja lo itu," Sindir Risda kepada Afrenzo.


"Ngak,"


"Tawa lo bagus, lebih baik lo tertawa daripada dingin kayak gitu."


"Dilantai atas ada makanan, lo makan dulu,"


"Ha?"


"Ambil,"


Risda pun langsung bergegas untuk menaiki tangga yang ada disana sesuai dengan perintah Afrenzo, sebenarnya dirinya tidak paham dengan maksud ucapan dari Afrenzo itu, akan tetapi dirinya tetap berjalan keatas untuk mengambil apa yang dimaksud oleh Afrenzo.


Dirinya pun melihat sebuah ruangan yang kosong dan sangat rapi, dirinya pun melihat sebuah kotak bekal yang berada tidak jauh darinya. Dirinya pun langsung bergegas untuk mengambilnya, dan membawanya untuk turun kebawah.


"Maksud lo ini, Renzo?" Tanya Risda sambil mengangkat kotak bekal tersebut.


"Iya, makanlah."


"Kenapa harus gue yang makan? Gue tadi bawa bekal kok,"


"Lo belom makan kan pulang sekolah tadi? Sekarang makan, bekal lo buat nanti malam."


"Bagaimana bisa lo tau? Gue kan kagak ngomong apa apa sama lo soal itu,"


"Perut lo bunyi dari tadi."


"Iya sih, maafin perut gue ya? Emang kagak bisa dikondisikan,"


Risda pun langsung menyengir seraya memegangi perutnya, ternyata pendengaran Afrenzo begitu tajam hingga suara perutnya yang sangat lirih itu pun mampu didengar oleh seorang Afrenzo. Dirinya merasa canggung dengan Afrenzo, bagaimana bisa perutnya berbunyi ketika berada didekat Afrenzo hingga membuatnya merasa malu.


Meskipun sambil membersihkan sebuah golok, dan tanpa menoleh sedikitpun kepada Risda, Afrenzo dapat mengetahui gerak gerik dari Risda. Risda pun duduk kembali ditempatnya sebelumnya, dirinya pun lalu membuka bekal makanan itu.


"Terus lo nanti malam makan apa kalo bekal ini lo kasihkan ke gue, Renzo?"


"Lo ngak perlu khawatir soal gue."


"Gue jadi ngerasa ngak enak makan bekal lo, Renzo. Sementara lo sendiri ngak tau makan apa nanti,"


"Gue bisa beli,"


"Tapi kan...."


"Makan sekarang atau pulang?"


"Baiklah gue makan,"


Risda pun makan makanan bekal milik Afrenzo itu, dalam diamnya Risda terus menikmati lezatnya masakan tersebut sambil menatap kearah Afrenzo. Lelaki itu seakan akan fokus dengan apa yang tengah dirinya lakukan tanpa menatao kearah Risda yang tengah dibelakanginya.


"Ngak usah merhatiin gue seperti itu," Ucap Afrenzo seakan akan tau apa yang dilakukan oleh Risda.


"Ha? Mata lo sebenernya ada berapa sih?" Tanya Risda yang langsung gelagapan ketika Afrenzo mengatakan hal itu.


"Banyak."


"Lo cowok paling aneh yang pernah gue temuin selama ini, Renzo. Sumpah deh!"


"Hem?"


"Apa ucapan gue kurang jelas? Lo cowok yang paling aneh yang pernah gue temuin, dan mungkin hanya lo yang seperti itu."


"Berapa banyak cowok yang lo temuin?"


"Beribu ribu kali, meskipun gue kagak akrab dengan mereka, tapi gue bisa tau sikap mereka. Mereka semua juga berbeda dengan lo, mungkin hanya lo satu satunya yang berbeda,"


"Hem."

__ADS_1


Afrenzo selama akan tidak peduli dengan ucapan Risda, dan dirinya hanya berdehem begitu saja. Sementara Risda kembali memakan bekal milik Afrenzo, karena dirinya merasa seperti tengah kelaparan saat ini.


Setelah membersihkan golok yang ada ditangannya itu, Afrenzo pun kembali menatanya ditempat sebelumnya. Golok tersebut adalah golok yang digunakan untuk latihan, sehingga tidak begitu tajam akan tetapi mampu digunakan oleh menusuk karena ujungnya yang sedikit runcing.


Afrenzo pun langsung bergegas untuk duduk didekat Risda yang tengah memakan bekalnya itu. Ruangan itu begitu rapi karena dirinya yang setiap hari akan membersihkan tempat itu, bahkan Risda pun kalah rajinnya dengan Afrenzo yang notabenenya seorang lelaki.


"Perasaan lo setiap hari ada disini, Renzo. Lo kagak pernah pulang?" Tanya Risda ketika selesai memakan bekalnya.


"Ini rumah kedua bagi gue, Da. Dan disini gue bisa ngerasa tenang," Ucap Afrenzo sambil menatap sekelilingnya.


"Iya sih, gue juga ngerasa damai disini. Apalagi lo ngerawat ruangan ini dengan benar, daripada dirumah yang hanya bisa mendengarkan omelan omelan yang membikin mental gue down lagi."


"Hem..."


"Renzo,"


"Ada apa?"


"Kenapa lo ngak tinggal disini saja daripada dirumah? Kalo dirumah, lo bisa dihajar oleh Bokap lo seperti sebelumnya,"


"Da, jika lo menyukai bunga mawar lalu lo tanpa sengaja ketusuk durinya. Apa lo akan membuang bunga itu begitu saja?"


"Ngak sih, itu karena gue yang salah bukan bunganya."


"Itu juga yang gue lakuin, gue yang salah bukan Bokap gue. Karena gue yang lalai, sehingga Bokap gue marah sama gue,"


"Gue ngak tau jalan pikiran lo, Renzo. Lo rela dihajar seperti itu sama Bokap lo tanpa lo ngelawan dia, lo yang sakit bukan Bokap lo,"


"Apa yang Bokap gue lakuin itu demi kebaikan gue. Hidup itu keras, Da. Kalo kita lengah, kita yang akan dipermainkan oleh dunia,"


"Tapi gue ngak setuju cara Bokap lo ngelakuin itu ke lo. Apalagi sampai membuat lo masuk rumah sakit,"


"Ini masalah pribadi gue, jangan sampai ada yang tau."


"Lo tenang aja, gue ngak akan pernah cerita ke siapapun soal lo. Tapi lo harus janji ke gue, kalo ada apa apa lo harus cerita ke gue,"


"Soal itu, lo ngak perlu tau tentang hidup gue. Yang perlu lo tau, gue baik baik saja,"


"Renzo..."


Belum selesai Risda kelanjutan perkataannya, Afrenzo pun langsung memotongnya begitu saja. Mendengar itu hanya membuat Risda menundukkan kepalanya dalam, dirinya tidak akan pernah bisa untuk membantah perintah dari Afrenzo.


Entah mengapa, setiap perkataan dari Afrenzo langsung membuatnya patuh. Dirinya tidak pernah patuh kepada siapapun kecuali Afrenzo sendiri, dan bahkan dirinya tidak bisa membantahnya jika Afrenzo sudah berkata bahwa dirinya tidak suka untuk dibantah oleh siapapun.


Senakal nakalnya Risda, dirinya pun bisa patuh dengan seorang pendiam seperti Afrenzo. Mungkin pertemuan keduanya begitu singkat, akan tetapi Risda merasa bahagia bersama dengan Afrenzo yang memperlakukannya dengan baik dan bahkan seperti sosok pengganti Ayahnya.


Tak beberapa lama kemudian, datanglah beberapa anak yang mengikuti latihan malam kali ini. Risda pun melambaikan tangannya kepada Anna yang baru saja melewati pintu masuk ruangan aula beladiri itu. Anna pun langsung datang untuk menghampiri Risda, sementara Afrenzo langsung bergegas untuk menuju keruangan atas.


"Lo sejak kapan datang, Da? Kok udah disini saja," Tanya Anna.


"Gue datang 1 abad yang lalu, An. Lo sih lama banget datangnya,"


"Iya kah? Udah almarhum dong lo?"


"Ngawur aja lo," Ucap Risda dan langsung menjitak kepala Anna seperti apa yang biasanya Afrenzo lakukan kepadanya.


"Akh.. Lo tau sakit kagak sih? Ini kepala bukan kelapa,"


"Udah tau, gue kagak nanya."


Mendengar itu langsung membuat Anna mendengus kesal karena Risda. Sementara Risda, terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki dosa sama sekali, dan justru terlihat bahagia setelah menjitak kepala Anna begitu saja.


"Ternyata enak juga ya menjitak kepala orang, pantas saja Renzo suka ngelakuin itu ke gue, hehehe.." Batinnya sambil tersenyum tipis.


*****


Ketika waktu menunjukkan adzan magrib, mereka pun langsung bergegas untuk menuju kearah masjid yang ada disekolahan itu. Mereka pun langsung mengambil air wudhu seperti apa yang diperintahkan oleh Afrenzo, dan setelahnya mereka melakukan sholat berjamaah.


Mereka tidak lupa juga untuk membaca Al Qur'an dengan bersama sama, 1 juz yakni juz 30. Mereka pun membacanya sampai adzan isya' berkumandang, karena diperguruan itu tidak hanya diajarkan ilmu beladiri saja melainkan juga tentang ke agamaan. Oleh sebab itu, Afrenzo sendiri pun sedikit paham tentang agama.


Setelah sholat isya', Risda dan gadis yang lainnya pun langsung melipat mukenahnya. Karena cuaca yang sudah gelap karena matahari telah terbenam, tempat tersebut terlihat begitu gelap apalagi lapangan nan luas itu.


Sekilas, Risda seperti melihat sosok seorang yang begitu banyak melintas dikelas kelas yang ada dilantai dua, dirinya melihat begitu banyak bayangan orang yang lewat melalui kaca yang ada dikelas kelas itu.

__ADS_1


"An, lo lihat itu kagak? Kenapa begitu banyak orang didalam kelas? Kan ini sudah malam," Ucap Risda sambil menunjuk kearah sebuah kelas yang berada dilantai dua.


"Apa'an sih, Da? Gue kagak lihat apapun, gimana bisa ada orang. Lo tau sendiri kan, mereka semua ada disini,"


"Gue serius, An. Masak lo ngak lihat sih?"


Risda pun nampak gemetaran ketika melihat bayangan hitam itu, keringatnya langsung membasahi tubuhnya. Pandangannya sekarang tengah terarah kepada sosok yang begitu banyak itu, entah itu apa'an akan tetapi Risda sepertinya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tempat itu.


"An, gue takut," Ucap Risda pelan.


"Ngak ada apa apa, Da. Bayangan apa yang lo maksud? Disana ngak ada seseorang pun tau, sudah ah jangan dilihatin mulu."


"Gue serius, An. Gue merinding,"


Tiba tiba, seseorang langsung menarik tangan Risda hingga membuat gadis itu menoleh kearah orang tersebut. Sosok Afrenzo langsung berdiri dihadapan Risda, dan dirinya bisa melihat adanya ketakutan yang mendalam diwajah gadis itu.


"Jangan sampai pikiran lo kosong," Ucap Afrenzo.


"Renzo, gue takut. Mereka sangat banyak," Ucap Risda seakan akan pandangannya kini terasa kosong.


"Gue tau, tetap fokus, Da."


"Mereka... Mereka..."


"Apa yang lo lihat, itu benar. Mereka memang ada disekitar kita, jangan sampai pikiran lo kosong dan dikuasai oleh mereka."


"Lalu gue harus gimana? Gue bener bener takut,"


"Sudah ngak papa, mereka tidak akan menggangu."


Afrenzo pun langsung memijat kening Risda, Risda pun tiba tiba menangis. Dirinya seakan akan benar benar ketakutan saat ini, sementara Anna sendiri pun merasa kebingungan, dirinya sama sekali tidak melihat apapun disana bahkan kelas tersebut pun kosong meskipun lampu yang ada disana mati.


Afrenzo lalu mengajak Risda untuk kembali ke aula beladiri bersama dengan siswa lainnya, mereka diberi waktu 1 jam untuk memakan bekal yang mereka bawa sebelumnya itu sebelum latihan malam dimulai. Risda yang merasa mendingan itu pun ikut serta memakan bekalnya dengan yang lainnya.


"Ada, lo tadi kenapa?" Tanya Anna.


"Ngak tau, emang gue kenapa?" Tanya Risda balik.


"Ha? Lo emang ngak sadar dengan apa yang terjadi, Da? Lo tadi nangis sambil mengatakan kalo lo itu takut,"


"Gue begitu ya? Kok gue kagak tau sih?"


"Lo bener bener ngak sadar dengan apa yang terjadi, Da? Untung aja ada pelatih tadi, kalo ngak mungkin lo terus saja nangis."


"Gue tadi diapain sama dia? Gue tadi kenapa sih?"


"Lo bener bener ngak sadar? Lalu lo sadarnya sejak kapan?"


"Gue ngak tau, An. Tiba tiba gue udah ada disini saja, emang dari tadi kita kemana?"


"Astaga, Da. Lo bener bener ngak sadar soal itu,"


Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo pun datang ketempat itu dari ruang atas. Dirinya pun menatap kearah Risda sesaat, setelah itu dirinya pun mengalihkan pandangannya menuju kesiswa yang lainnya.


"Perhatikan seluruhnya, untuk kalian yang baru saja mengikuti latihan malam kali ini. Didekat kita, disekitar kita, ada begitu banyak mahluk yang tak kasat mata. Perhatikan juga tingkah laku dan sopan santun kalian disini, bukan aku yang akan menghukum kalian jika salah tapi mereka yang gaib." Ucap Afrenzo kepada seluruhnya.


Mereka yang mendengarnya itu pun langsung merinding, ada yang menyesal karena mengikuti latihan malam ini, dan ada yang semakin penasaran dengan hal yang disampaikan oleh Afrenzo itu. Mereka yang berada didalam lingkungan baru itu pun, belum mampu untuk menyesuaikan diri ditempat itu.


"Apa sosok seperti itu benar benar ada, Pelatih?" Tanya seorang gadis.


"Biasanya akan terjadi hal hal yang aneh diarea pelatihan, itulah kenapa tingkah laku kita itu begitu penting. Bukan hanya ada kejadian sekali dua kali kita diganggu selama pelatihan, jadi kalian semua harus berhati hati dalam bertindak. Apa yang ada disekitar kalian tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ada," Ucap Fandi menjelaskan.


"Kalau seperti ini, kenapa harus diadakan latihan macam ini? Bukankah malah membahayakan peserta yang lainnya?"


"Disini kita belajar untuk menjaga lisan, menghormati kehidupan lain agar mampu untuk hidup berdampingan, dan terutama akhlak dan sopan santun. Mereka tidak akan menggangu selama kita tidak mengganggu mereka, jadi sekali lagi perhatikan kata kata kalian,"


"Baik Mas Fandi,"


"Jangan mengumpat, jangan mengeluh, jangan berkata kasar, dan jangan bertindak macam macam," Ucap Afrenzo lagi


"Baik pelatih!" Jawab mereka serempak.


"Bagus, sebentar lagi latihan akan dimulai. Aku tunggu kalian dilapangan,"

__ADS_1


Afrenzo pun bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut beserta para senior lainnya. Mereka semua pun bergegas untuk menuju ke lapangan untuk melakukan upacara pembukaan latihan malam. Risda dan yang lainnya pun langsung bergegas untuk menuju kearah lapangan sesuai apa yang dikatakan oleh Afrenzo sebelumnya.


Lapangan tersebut terlihat begitu gelap, karena tempatnya yang luas membuat lapangan itu jauh dari cahaya lampu yang ada dikelas kelas. Bahkan Risda tidak dapat melihat wajah temannya sendiri walaupun mereka saling berdekatan saat ini karena gelapnya tempat tersebut.


__ADS_2