Pelatihku

Pelatihku
Episode 141


__ADS_3

Risda mampu untuk berdiri dengan tegaknya, meskipun kedua matanya masih terlihat sayup dan juga dirinya merasa sangat pusing dan tubuhnya gemetaran. Tak beberapa lama kemudian, dirinya pun terjatuh dilantai karena rasa pusing yang telah menghampiri dirinya itu.


"Hufttt... Kayak anak bayi yang belajar berdiri," Guman Risda lirih.


Ditengah malam, Risda justru masih terjaga dari tidurnya karena dirinya yang tidak bisa tidur saat ini. Ibunya sudah kembali bekerja karena perintah dari Bosnya, dan Risda pun mengizinkan dirinya kembali karena Risda sendiri takut jika Ibunya itu kehilangan pekerjaan.


Risda lalu menundukkan kepalanya sambil melihat kearah lantai kamarnya, dirinya melihat lantai itu seakan akan lantainya bergetar akibat gempa. Risda lalu menyentuh ke arah lantai tersebut untuk menetralkan pandangannya agar tidak bergerak, meskipun hal itu sulit dilakukan akan tetapi dirinya tidak mudah menyerah begitu saja.


"Kekuatan sebenarnya ada didalam hati manusia, jika hatinya merasa yakin maka tidak ada yang tidak mungkin. Aku pasti bisa!"


Risda pun meletakkan salah satu tangannya ke depan dadanya, dirinya sendiri pun merasakan detak jantung yang dihasilkan dari jantungnya sendiri. Ia merasa sangat yakin bahwa dirinya bisa melakukan itu, dirinya merasa yakin bahwa dia akan sembuh secepat mungkin dan akan kembali melanjutkan sekolahnya.


Risda sangat lelah jika terus terusan berada di rumah seperti ini, apalagi dirinya yang tidak bisa berbuat apa apa dan tidak punya teman untuk diajak berbicara. Dirinya merasa sangat bosan di rumah, apalagi untuk main ke rumah temannya yang berada tidak jauh dari rumahnya itu.


Setelah beberapa kali dirinya mencoba akhirnya dirinya pun terjatuh kembali, dirinya sama persis seperti anak bayi yang baru belajar berdiri dan berjalan. Kedua kakinya terlihat sangat lemah sehingga membuatnya mudah terjatuh, apalagi ditambah dengan rasa pusing yang sedang menyerang kepalanya itu.


Setelah mencoba cukup lama akhirnya dirinya pun kelelahan, Risda memutuskan untuk kembali tidur ke kasurnya karena dirinya mulai mengantuk. Meskipun kedua matanya tidak segera terpejam akan tetapi dirinya mulai mengantuk, ingin sekali dirinya tidur akan tetapi tidak bisa melakukan itu.


*****


Keesokan paginya dirinya mulai bisa bangkit berdiri lagi, bahkan tubuhnya itu terlihat lebih mendingan daripada sebelumnya. Rasa pusing yang ada di kepalanya pun lebih berkurang daripada rasa pusing yang dialaminya kemarin kemarin, dirinya sudah bisa melakukan aktivitas yang ringan seperti mengambil makanan sendiri.


Sudah genap dirinya tidak masuk sekolah selama 1 bulan penuh, karena melihat kondisinya yang sudah membaik akhirnya dirinya memutuskan untuk kembali ke rumah Lasmi untuk melanjutkan pendidikannya. Meskipun neneknya melarangnya untuk kembali saat ini karena kondisinya, akan tetapi tidak ada yang bisa untuk mencegah tekat Risda yang sudah bulat.


Apalagi dirinya saat ini sedang duduk di bangku kelas 6 SD, Risda tidak ingin ketinggalan pelajaran lebih lama lagi, atau dirinya tidak bisa masuk ke dalam sekolah favorit nya. Sudah sebulan dirinya tidak bersekolah sehingga dia takut jika lebih lama lagi tidak bersekolah, maka dia akan kehilangan begitu banyak pelajaran.


Risda tidak ingin perjuangannya untuk bersekolah selama ini sia sia, karena dirinya yang sudah tidak masuk sekolah selama itu. Risda pun bertekad untuk masuk ke sekolah besok harinya, sehingga dirinya meminta kepada ayahnya untuk mengantarkannya kembali ke rumah Lasmi.


Meskipun dengan ragunya, Sandi lalu mengantarkan anaknya itu kembali kerumah Lasmi. Dia tau bahwa anaknya masih bersekolah dikota itu, sehingga mau tidak mau dirinya harus mengantarkannya kerumah orang yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


Kebetulan hari itu adalah hari kamis, sehingga besok lusanya Risda bisa bersekolah dan libur lagi sehari. Sandi dan Risda lalu bergegas menuju kerumah Lasmi, meskipun kondisi Risda belum sepenuhnya membaik.


Risda tidak ingin berlama lamaan berada di rumahnya karena dia takut ketinggalan pelajaran, mau tidak mau dirinya harus kembali ke malas nih untuk melanjutkan sekolahnya. Meskipun dirinya masih sakit dan belum sepenuhnya sehat, akan tetapi dirinya mencoba untuk terus kuat agar dia bisa mengikuti pelajaran yang ada di kelasnya.


"Da, besok dan besok lusa Ayah tidak bisa datang menjengukmu. Jaga diri baik baik," Ucap Sandi ditengah tengah perjalanan.


"Kenapa, Yah?" Tanya Risda dengan penasarannya, karena tidak biasanya Ayahnya akan berkata seperti itu kepadanya.


"Ada urusan penting, hari senin aja Ayah kesana."


"Oh... Iya Yah,"


Risda pun menganggukkan kepalanya paham, entah urusan penting apakah yang dimaksud oleh Ayahnya itu. Akan tetapi, dirinya tidak mempertanyakan lagi urusan apa itu, dirinya tau mengenai emosi dari Ayahnya sendiri sehingga dirinya tidak ingin membuat masalah dengannya.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampailah di sebuah rumah yang rumah itu adalah milik Lasmi, keduanya lalu turun dari sepedah motor itu. Risda ragu untuk masuk kedalam rumah itu, karena takut bertemu kembali dengan Lasmi, orang yang selalu memperlakukannya dengan buruk itu.


"Assalamualaikum," Risda mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah tersebut.

__ADS_1


Beberapa ketukan pun dirinya lakukan selama belum dibukakan pintu, cukup lama dirinya dan Ayahnya berdiri didepan pintu. Tiba tiba pintu tersebut dibuka dari dalam, dan muncullah wajah seseorang yang paling ditakuti oleh Risda ketika bertemu.


"Waalaikumussalam," Jawab Lasmi.


Melihat kedatangan dari Risda, Lasmi langsung segera menyuruh gadis itu untuk masuk kedalam rumahnya beserta Ayahnya. Keduanya langsung masuk kedalam rumah itu, dan duduk disebuah kursi yang telah disediakan diruang tamu.


"Kok baru datang, Da? Sudah sembuh?" Tanya Lasmi dengan basa basinya.


"Alhamdulillah sudah, Bude. Besok sudah bisa bersekolah lagi," Jawab Risda.


"Alhamdulillah kalau begitu. Temen temenmu sering datang kemari menanyakan kabarmu karena sudah lama tidak masuk sekolah, Bude bilang aja kalau kamu dibawa pulang sama Ayahmu, jadi tidak ada disini."


Risda seakan akan malas mendengarkan ucapan dari Lasmi, dirinya ingin cepat cepat untuk istirahat saat ini karena telah melakukan perjalanan cukup jauh dan dirinya sedang kelelahan. Akan tetapi, Lasmi masih saja mengobrol dengannya dan juga Ayahnya itu, sehingga Risda tidak langsung masuk kedalam rumah itu.


"Biar Risda istirahat dulu, kalau begitu aku pamit saja. Jaga Risda dengan benar, dia masih sakit dan belum sembuh total," Ucap Sandi kepada Lasmi.


Sandi sendiri pun tidak ingin berlama lamaan berada disana, karena dirinya juga malas mendengarkan wanita itu yang terus mengoceh. Apa saja dibahas oleh wanita itu, bahkan dirinya pun mengatakan bahwa kamar yang ditempati oleh Risda sudah dibersihkan dan lain sebagainya.


Sandi pun berpamitan kepada Risda, dirinya pun langsung pergi tanpa berjabat tangan terlebih dulu dengan Lasmi. Risda sendiri lalu masuk kedalam kamarnya karena lelah, ketika dirinya masuk kedalam kamar itu, dia begitu terkejut karena barang barangnya sama sekali tidak ditata justru berserakan dimana mana.


"Katanya sudah dibersihkan, tapi nyatanya..... Sudahlah, males juga bersih bersih," Guman Risda lirih dan langsung menutup kembali pintu kamarnya itu.


Risda pun lalu duduk ditempat tidurnya itu, tanpa sengaja dirinya melihat sebuah taplak meja yang ada disana. Dirinya pun teringat bahwa sebelum dirinya mendapat jadwal untuk mencuci taplak meja itu, dan sampai saat ini belum dirinya cuci juga.


Pakaiannya pun menumpuk saat ini, entah sejak kapan pakaian itu belum juga dicuci olehnya. Bahkan pakaiannya itu sudah menjadi keras, seperti keripuk yang belum digoreng akan tetapi telah dipanaskan dibawah sinar matahari ( Di jemur ) berhari hari.


"Astaga... Apanya yang dibereskan? Lantainya? Temboknya? Kacanya? Atau hanya sekedar ucapan doang? Benar benar hanya pengen terlihat baik didepan orang, tapi tidak koreksi diri sendiri. Nggak ada akhlak emang," Ucap Risda dengan geramnya sambil mengeratkan gigi giginya.


Entah dirinya pasti akan merasa sangat kesulitan untuk membersihkan pakaian tersebut, apalagi pakaian itu terlihat sangat kaku saat ini. Ketika dirinya sudah sampai di kamar mandi dia pun terkejut, sabun cuci baju yang telah dirinya beli sebelum dirinya jatuh sakit pun tiada dan habis.


Risda sendiri pun semakin kesal ketika melihatnya, tanpa basa basi dirinya pun langsung bergegas untuk pergi dari rumah tersebut dan membeli sabun cuci baju itu. Padahal dirinya dulu membelinya dengan banyak, akan tetapi tidak tersisa sedikitpun itu.


Setelah selesai membelinya dirinya pun segera bergegas untuk mencuci pakaiannya itu, meskipun kondisinya saat ini sedang sakit akan tetapi dirinya tetap melakukan itu. Terpaksa besok dirinya tidak bisa masuk ke sekolah lagi, karena pakaiannya tersebut masihlah basah.


Risda mencuci pakaiannya dengan menggunakan tangannya, bukan menggunakan mesin cuci yang ada di rumah itu. Dirinya tidak diperbolehkan untuk memakai mesin cuci itu, sehingga dirinya mencuci pakaiannya sendiri menggunakan tangannya.


Belum selesai dirinya mencuci pakaiannya itu akan tetapi dirinya sudah kelelahan, Risda pun berhenti untuk mencuci sesaat karena untuk menghelakan nafasnya. Setelah dirasa dirinya sudah mendingan, dia pun langsung kembali bergegas untuk mencucinya lagi dan menjemurnya.


Setelah selesai melakukan itu dirinya pun bergegas untuk kembali ke kamarnya, tanpa terasa malam pun telah tiba kembali. Risda pun mulai terlelap dalam tidurnya karena kelelahan, padahal dirinya sendiri belum lah makan sore.


*****


Risda kembali mengecek pakaiannya itu, akan tetapi pakaiannya tersebut masihlah basah karena tidak dikeringkan dengan menggunakan mesin cuci. Sehingga dirinya tidak bisa masuk sekolah kali ini, akan tetapi pagi ini taplak meja yang ia cuci kemarin sudah sedikit kering.


Risda pun memutuskan untuk menyetrika taplak meja itu, dirinya pun langsung mengambil setrika milik Lasmi yang ada di rumah itu. Risda lalu menyiapkan peralatan yang digunakan untuk menyetrika, yakni handuk yang ditumpuk, pewangi pakaian yang digunakan untuk menyetrika, dan sebuah stop kontak untuk menancapkan setrika itu kelistrik.


Risda diajarkan ibunya untuk menyetrika pakaian sehabis pakaian itu kering, sehingga setiap dirinya mengangkat jemuran dia selalu menyetrikanya secara langsung setelahnya. Hal itu membuat pakaiannya yang ada di dalam lemari terlihat sangat rapi, bukan hanya rapi akan tetapi juga beraroma wangi.

__ADS_1


Ketika dirinya sedang menyetrika, dia melihat Erin yang berjalan melalui kamarnya itu. Erin pun mendekat kearahnya karena dirinya yang baru pulang dan sudah melihat Risda ada dirumah itu, Risda sendiri pun lalu menaruh setrikanya itu.


"Udah sembuh, Da?" Tanya Erin.


"Alhamdulillah, Mbak. Tadi mau sekolah juga, tapi pakaianku belum kering jadi besok saja. Besok sudah bisa sekolah lagi," Jawab Risda.


"Lah kenapa nggak dikeringin dulu dimesin cuci?"


"Nggak boleh sama Bude, lagian aku juga tidak ngerti cara pakainya gimana,"


"Oh.."


Setelah mengatakan itu, Erin pun lalu pergi dari tempat itu. Risda sendiri pun hanya mengabaikannya saja. Risda tidak ingin meneruskan ucapannya itu, meskipun Erin terlihat baik dihadapannya, akan tetapi dibelakangnya dirinya pun memiliki sikap yang tidak jauh berbeda dari ibunya itu.


Entah kesalahan apa yang telah Risda perbuat kepada keluarga itu, dirinya tidak pernah membuat masalah dengan mereka, hanya saja dirinya tidak ingin adik dari Lasmi menikah dengan Ibunya itu.


*****


"Pagi tadi sudah setrika baju, kenapa sore juga melakukan itu?" Omel Erin ketika melihat Risda yang memegang setrika kembali.


"Ada apa sih, Rin?" Tanya Lasmi yang langsung menghampiri Erin yang berada di pintu kamar Risda.


"Ini loh, Bu. Boros listrik banget sih, tadi pagi sudah setrika eh sekarang setrika lagi. Emang dipikir bayar listrik itu murah?"


"RISDA! Kamu ini bisanya memboroskan listrik saja, kalau seperti ini terus bisa bisa diriku rugi keikutan kamu. Emang nggak bisa diuntungkan sama sekali," Lasmi pun membentak dan mengomeli Risda.


Bentakkan tersebut langsung membuat Risda merasa sakit hati, dirinya sendiri pun langsung menaruh kembali setrika itu dan mencabut kabelnya. Dirinya tidak mood lagi untuk melanjutkan menyetrika bajunya, karena omelan dan juga bentakkan dari Lasmi dan Erin itu.


"Lah iya, Bu. Tadi pagi aku ngelihat dia menyetrika baju, eh sorenya juga melakukan hal yang sama. Emang dipikir kita keluarga kaya gitu? Biaya listrik itu mahal, kamu sendiri pun tidak akan bisa membayarnya,"


"Gimana bisa mau hemat, jika kelakuanmu seperti itu, Da. Buang buang listri dengan percuma,"


Erin pun mengomentari Risda yang tengah memegang Setrikanya, Erin seketika merasa tidak suka melihat gadis itu ada dirumah tersebut. Dirinya menganggap Risda hanya benalu dirumahnya, karena hanya bisa memboros listrik tanpa membantunya untuk membayarnya.


"Apakah aku salah lagi? Padahal Bunda bilang, Bunda juga ikut nyumbang untuk bayar listrik. Padahal aku tidak menggunakan listri begitu banyak, dan hanya untuk mengcharger ponsel doang. Emang habisnya banyak?" Batin Risda menjerit.


Ingin sekali dirinya menitihkan air mata saat ini, akan tetapi dirinya harus kuat meskipun dimarahi seperti itu oleh Erin dan Lasmi. Erin sendiri pun langsung merampas setrika itu, dirinya pun lalu membawanya untuk pergi dari tempat tersebut dan menyimpannya didalam kamarnya.


Risda yang merasa sakit hati itu pun langsung menjatuhkan tubuhnya bersandar ditembok kamarnya. Sampai kapan dirinya akan mengalami nasib seperti ini, ingin rasanya dirinya mengakhiri hidupnya itu akan tetapi dirinya takut jika Ibunya sendirian didunia ini.


Seakan akan seluruh dunia pun kejam kepadanya, bahkan ketika dirinya dirumah sendiri pun dia tidak nyaman sama sekali. Risda adalah anak yang tidak bisa pergi jauh dari rumahnya, akan tetapi ketika Ibunya pergi dari rumah, dia tidak ingin lagi berada dirumah itu walaupun hanya sesaat saja.


"Bunda, hatiku sakit saat ini. Semua orang hanya menganggap Risda beban bagi mereka, apakah benar Risda adalah beban? Jika memang benar, maka hapuslah beban itu sekarang, Bunda."


Risda pun menutup pintu kamarnya dengan mendorong pintu tersebut menggunakan kakinya, dirinya lalu membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang memeluk erat kedua kakinya itu. Risda pun menangis sesenggukan setelahnya, baginya ini sangat menyakitkan hatinya, dan bahkan dirinya merasa begitu terluka.


Bukan seperti itu cara menasehati seorang anak kecil, apalagi anak itu mengalami tekanan batin akibat perceraian dari keluarganya itu. Bahkan anak itu tidak memiliki rumah untuk pulang, rumah untuk mencurahkan isi hatinya, rumah untuk bercanda gurau dan membagi kebahagiaan itu.

__ADS_1


Risda benar benar telah kehilangan rumahnya untuk pulang itu, baginya hidup dijalanan lebih baik daripada dirumah tempat dimana orang orang merasa tidak suka dengannya dan hanya menganggapnya sebagai beban itu.


Memang jalan itu tidak selalu indah, akan tetapi rumah juga tidak selalu menjadi tempat kembali paling nyaman. Kebanyakan anak yang mengalami broken home, mereka pasti merasa tidak suka dengan suasana rumahnya sendiri.


__ADS_2