
Risda masih tetap fokus untuk menulis, setelah mengganti pakaiannya menjadi pakaian olah raga. Risda sudah berada didalam aula beladiri dan sedang fokus untuk menulis sebelum latihan beladiri dimulai, Risda kini sedang fokus hingga tidak memerhatikan bahwa Afrenzo sudah memasuki ruangan tersebut dengan pakaian beladirinya.
Afrenzo mendekat kearah Risda sambil membawakan beberapa cemilan dan juga sebotol air mineral, Afrenzo langsung menaruhnya dihadapan Risda yang tengah fokus itu. Risda begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo dan langsung mendongak kearah Afrenzo.
"Makan dulu," Ucap Afrenzo.
"Tapi tugas gue belum kelar, Renzo."
"Lanjutkan nanti dirumah,"
Yang sudah ditulis oleh Risda tidak ada separuh dari isi buku tersebut. Akan tetapi, Afrenzo langsung menyuruhnya untuk berhenti menulis dan memakan makanan yang telah dibelikan tersebut.
Risda pun hanya menuruti ucapan Afrenzo dan langsung memakan makanan yang dibawakan oleh Afrenzo, sesuai dengan aturan Afrenzo, Risda memakan makanan tersebut tanpa berbicara sampai makanan itu habis.
"Renzo, hari ini gue sangat keterlaluan ya? Sehingga lo sampai datang kekelas gue tadi," Ucap Risda.
"Ngak masalah, jangan diulangi lagi."
"Huftt.. Gue hanya berharap bahwa nyokap gue pulang, gue kangen sama nyokap gue, Renzo. Gue tau lo ngak bakalan peduli dengan cerita gue, tapi menurut gue setelah bercerita dengan lo, gue merasa tenang. Lo memang pendiam, tapi gue yakin bahwa beban yang lo tanggung itu juga cukup berat. Tapi, lo jangan dingin dingin dong ke gue, kalo punya masalah lo cerita ke gue, kali aja setelah cerita beban lo hilang."
Afrenzo hanya mendengarkan curhatan dari Risda dalam diamnya, melihat Afrenzo yang tidak membalas ucapan dari Risda hanya membuat Risda menghela nafas berat karenanya.
"Huftt.. mungkin gue nya yang terlalu berharap bahwa lo mau membalas ucapan gue, lo itu kayak boneka gue yang ada dirumah, Renzo. Bedanya hanya dia yang ngak bisa gerak, sementara lo mampu untuk gerak sendiri,"
"Ceritalah semau lo, gue dengarkan,"
"Entah kenapa, kalo dekat lo, gue jadi cengeng gini," Risda pun tersenyum sambil mengusap kedua matanya yang terasa hendak meneteskan air mata itu.
"Ayo dimulai latihannya," Ucap Afrenzo dan langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Risda langsung bangkit dari duduknya setelah Afrenzo berjalan keluar gedung beladiri itu, mereka akan berlatih dihalaman depan gedung tersebut. Ternyata sudah banyak anak yang berkumpul saat ini, dan disana hanya ada siswa pemula saja.
"Hai Risda," Sapa seseorang kepada Risda.
"Hai juga, Anna."
"Risda, pimpin pemanasan," Ucap Afrenzo.
"Ha?" Risda pun membulatkan matanya lebar lebar setelah Afrenzo mengatakan itu.
Risda mendapatkan tatapan tajam dari Afrenzo hingga membuatnya langsung bergegas maju kedepan untuk memimpin pemanasan. Biasanya yang memimpin adalah Satria, entah kenapa kali ini dirinya tidak hadir dalam latihan sehingga membuat Risda yang menggantikannya.
Risda pun memulai pemanasan tersebut dengan dibimbing oleh Afrenzo dari kejauhan, untuk kali ini Risda terlihat seperti pemimpin bagi mereka. Meskipun begitu dirinya belum memiliki sakral beladiri, entah sampai kapan dirinya akan memakai baju olahraga disaat latihan.
Setelah pemanasan, mereka pun berlari mengelilingi lapangan sebanyak 20 kali. Ditengah tengah mereka berlari, Afrenzo tengah menghafal sebuah jurus yang terlihat indah gerakannya, dan ditengah tengah teriknya matahari sore itu mereka memutari lapangan yang terasa panas.
Setelah 20 kali putaran akhinya mereka kembali berbaris ditempat sebelumnya masing masing, melihat itu membuat Afrenzo langsung menghentikan apa yang saat ini ia lakukan, dan Afrenzo langsung berdiri didepan mereka semua.
Afrenzo menjelaskan kepada mereka mengenai apa itu tangkisan, hanya didalam latihan saja Risda akan mendapati sosok Afrenzo yang berbicara cukup panjang. Risda mendengarkan setiap hal yang dikatakan oleh Afrenzo dengan cermat.
"Tangkisan terbagi menjadi 4 macam jenis, yaitu tangkisan dalam, tangkisan luar, tangkisan atas, dan tangkisan bahwa."
Afrenzo pun mempraktikkan gerakan masing masing jenis tangkisan kepada siswanya itu, dan dengan perlahan lahan dirinya mulai membimbing siswanya untuk melakukan gerakan itu secara serempak.
"Tangkisa dalam, gerakan menangkisnya itu tangan dari luar menuju kedepan dada dengan tangan yang terkepal kuat!" Sentak Afrenzo.
Bukan hanya menjelaskannya saja, akan tetapi Afrenzo pun melontarkan sebuah pukulan yang penuh dengan tenaga kepada satu persatu siswanya itu, banyak diantara mereka yang berteriak kesakitan akibat mereka yang berusaha untuk menangkis serangan yang diberikan oleh Afrenzo.
Afrenzo menyuruh mereka untuk mengulangi keempat gerakan tersebut terus menerus agar mereka terbiasa untuk menangkis serangan yang tiba tiba, Afrenzo memerhatikan mereka satu persatu dan dirinya akan datang jika dirasa bahwa gerakan mereka kurang sempurna.
__ADS_1
"Tangkisanmu kurang kuat!"
"Kuda kuda harus ditekuk!"
Afrenzo pun menaiki paha mereka yang tengah mereka gunakan untuk kuda kuda, semakin kuat kuda kudanya maka beban yang ditanggungnya akan semakin ringan, berat badan Afrenzo saat ini mencapai 60kg sehingga dengan cara menaiki kuda kuda mereka akan membuat mereka mendadak terjatuh jika kurang kuat.
Risda yang memang sudah berlatih secara privat dengan Afrenzo beberapa kali itu pun terlihat sudah terbiasa dengan kuda kudanya, ketika Afrenzo mengarahkan serangan atas keadaan membuat Risda langsung segera menangkisnya dengan cepat meskipun tangannya sendiri yang terasa kebas akibat kuatnya tangan Afrenzo.
"Akh..." Jerit Risda ketika kewalahan untuk menangkis serangan dari Afrenzo.
Afrenzo pun terus menyerangnya tanpa memedulikan rasa sakit yang dialami oleh Risda, Risda terus melakukan serangan tangkis untuk menangkis sedangan dari Afrenzo hingga rasa sakitnya itu bertambah semakin parah.
"Terus gerak!" Sentak Afrenzo.
Ingin sekali Risda mengeluh saat ini, akan tetapi tekatnya untuk meraih prestasi membuatnya tidak mampu untuk mengeluh lagi. Didalam pikiran Risda hanyalah turnamen beladiri yang harus ia menangkan, akan tetapi rasa sakit ditangannya semakin menjadi.
Afrenzo sama sekali tidak main main dengan serangan pukulan yang saat ini ia lakukan, meskipun gerakannya terlihat santai tanpa bertenaga akan tetapi untuk menangkis tangannya itu terlalu keras.
Berlatih push up adalah salah satu cara untuk memperkuat kekuatan tangan, tangan Afrenzo terlihat berotot. Risda pun memundurkan diri beberapa langkah kebelakang karena kewalahan untuk menghadapi serangan Afrenzo, Afrenzo lalu memegangi tangannya karena mengetahui bahwa Risda akan terjatuh.
"Jika ingin mundur, lihat keadaan dulu," Ucap Afrenzo.
"Sorry pelatih, kepala gue sedikit pusing," Ucap Risda sambil memegangi kepalanya.
"Istirahat dulu,"
"Ngak, gue ingin nunjukin ke orang orang bahwa gue bisa berguna,"
"Terserah,"
__ADS_1
Afrenzo kembali memulai latihannya kali ini bukan Risda yang diserangnya melainkan siswa lainnya, Risda melihat kearah pergelangan tangannya itu dan mendapati bercak merah ditangannya. Bercak merah itu tidak lain adalah bekas tangkisannya dari tangan Afrenzo.