Pelatihku

Pelatihku
Episode 162


__ADS_3

"Bunda, Risda ingin ganti sepeda motor. Bekas nggak papa, asal ngak mudah mogok," Suara Risda yang sedang berbicara dengan Ibunya melalui telpon.


"Risda mau ganti apa? Insya Allah kalo Bunda ada uang nanti Bunda belikan yang bekas tapi masih bagus ya?"


"Iya Bunda, bekas pun nggak papa asal nggak mudah mogok seperti motor Risda yang ini."


Risda pun mulai bercerita tentang hari harinya yang menyenangkan dilingkungan sekolahnya, dirinya jarang bertemu dengan Ibunya sehingga dia hanya bisa mengutarakan isi hatinya melalui ponselnya saja. Dia sangat betah jika mengobrol dengan Ibunya, bahkan sampai berjam jam pun pernah dirinya lakukan.


Risda jarang sekali mengobrol dengan orang yang ada dirumahnya itu, akan tetapi jika mengobrol dengan Ibunya dirinya akan merasa sangat betah dan nyaman. Kasih sayang yang dirinya dapatnya hanyalah dengan cara seperti itu dan uang, itulah hal yang mampu dilakukan oleh Ibunya. Untuk menemani hari hari Risda, itu sudah diluar kemampuannya.


Risda ingin sekali ganti sepeda motor agar tidak merepotkan yang lainnya, dirinya tidak bisa berbuat apa apa ketika motornya sedang mogok. Oleh karena itu, dirinya ingin ganti sepeda motor. agar tidak merepotkan Afrenzo lagi ketika motornya mogok dijalan seperti sebelumnya.


"Bunda, kapan pulang? Aku rindu."


*****


Risda bangun lebih pagi kali ini, tubuhnya sangatlah capek dan harus dirinya paksakan untuk bangun karena kewajibannya yang harus pergi menuntut ilmu ke sekolah. Risda melihat kearah ponselnya, dan masih mendapati pukul 3 dini hari.


Entah mengapa dirinya terbangun dimalam seperti ini, bahkan adzan subuh saja belum berkumandang di awang awang. Biasanya akan terdengar suara qiro'ah sebelum adzan subuh, akan tetapi kali ini suasana masih teramat sangat sunyi dan hanya terdengar suara binatang binatang kecil yang menghiasi malam itu.


Risda mencoba untuk memejamkan kedua matanya kembali karena berpikir bahwa ini masih terlalu larut untuk memulai beraktivitas, akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa tidur untuk saat ini. Risda pun memutuskan untuk bangun dari tidurnya, dirinya pun berjalan menuju kearah meja riasnya untuk melihat wajahnya sendiri didepan kaca.


Begitu acak acakannya rambutnya saat ini, rambut panjang nan hitam itu terlihat sangat berantakan dengan ujung rambut yang berwarna merah kecoklatan. Masih terlalu larut untuk bangun jam segini, akan tetapi untuk memejamkan matanya lagi dirinya sudah tidak bisa tidur lagi.


"Gue pengen pulang, ini bukan rumah bagi gue," Guman Risda didepan cermin rias yang ada dikamarnya. Setiap kali dirinya mengatakan itu, air matanya selalu saja ikut serta mengalir.


Sungguh, dunia ini sangat tidak adil dengannya. Dirinya juga menginginkan kasih sayang keluarga yang tidak pernah ia dapatkan itu, sementara dirinya tidak memiliki hal itu untuk bisa dikabulkan.


Sangat sakit rasanya ketika melihat teman temannya bahagia dengan keluarganya, setiap teman temannya bercerita tentang keharmonisan keluarganya, rasanya hati ini selalu ingin menangis sejadi jadinya saat itu juga. Allah sama sekali tidak pernah mewujudkan impiannya untuk bahagia bersama dengan keluarganya, tolong jangan ceritakan kebahagiaan kalian bersama keluarga kalian kepadaku.


Hatinya sangat sakit dan ingin sekali menjerit. Tak seorang pun yang mau mendengarkan keluh kesalnya, bahkan menganggapnya ada saja tidak pernah apalagi mewujudkan impiannya untuk bahagia bersama dengan keluarganya.


Tiba tiba...


Ting...


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel milik Risda, melihat itu langsung membuat Risda segera meraih ponselnya dan melihat siapa yang telah mengirimkannya sebuah pesan itu. Terlihat nomor yang tidak dikenalnya mengirim sebuah pesan kepadanya.


Risda pun melihat pesan apa yang dikirimkan oleh pemilik nomor itu, ketika pesan itu terasa tidak penting bagi Risda, Risda langsung membuang ponselnya ke kasurnya dan kembali merebahkan tubuhnya itu.


Begitu lama dirinya menatap langit langit kamarnya itu, hingga tidak menyadari bahwa matahari mulai menyinari bumi saat ini. Risda langsung bergegas menuju kekamar mandi, yang memang berada diluar rumahnya karena dirinya tidak terbiasa kekamar mandi yang ada didalam rumahnya.


Kamar mandi yang ada didalam rumahnya itu adalah buatan dari Kakak iparnya, yang dimana dirinya berpikir bahwa dia tidak memiliki hak untuk memakai kamar mandi itu. Risda tidak ingin merepotkan orang lain, dan dirinya juga tidak mau menerima sesuatu yang pemiliknya tidak iklas memberi ( memberi dengan cara terpaksa ).


Dinginnya udara dipagi hari, ditambah dengan dinginnya air itu membuat Risda sedikit mengigil. Setelah membersihkan tubuhnya, dirinya segera bergegas untuk kekamarnya dan memakai selimut tebalnya untuk menghangatkan tubuhnya itu.


"Kenapa udara pagi ini sangat dingin daripada biasanya? Kayak sikap Afrenzo yang bisa berubah ubah."


Risda terus mengigil dipagi itu, bahkan rasanya udara itu terus menyerangnya hingga terasa seperti membeku. Risda tidak tahan dengan udara dingin, sehingga kulit kulitnya terasa seakan akan tengah mati rasa.


Risda memakai selimutnya itu sampai waktu menunjukkan pukul 6 pagi, setelah itu dirinya bergegas untuk menuju ke meja makan yang ada dirumah Neneknya. Disana Risda membuka tudung saji yang ada disana sambil membawa sebuah piring, akan tetapi ia sama sekali tidak menemukan lauk disana.


Risda hanya menghela nafasnya dengan kasar, kali ini dirinya tidak sarapan lagi dirumah. Ketika dirinya hendak pergi dari posisinya, tiba tiba Neneknya mendekat kearahnya sehingga Risda menghentikan langkahnya.


"Tantemu belum masak, Da. Masih belanja dipertigaan sana, tunggulah sebentar lagi," Ucap Neneknya kepada Risda.


"Nanti aja aku sarapan disekolahan, Nek. Takut telat." Pungkas Risda dan langsung bergegas meninggalkan Neneknya itu.


"Da," Panggil Neneknya lagi.

__ADS_1


"Risda berangkat, assalamualaikum."


Setelah mengucapkan salam, Risda tidak lagi menghiraukan panggilan dari Neneknya. Risda langsung kembali kedalam kamarnya untuk mengambil tasnya dan langsung pergi menggunakan sepedah motornya itu.


Diperjalanan, Risda tengah menitihkan air matanya. Lagi lagi dirinya harus berangkat sekolah tanpa makan terlebih dulu, pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernihnya karena begitu banyak beban yang dirinya tanggung sendirian.


"Emang gue hanya beban kok, kalo emang gue kagak dibolehin makan disitu mending langsung ngomong aja sama gue. Biar gue nggak berharap lebih untuk dimasakin sebelum berangkat sekolah, mulai sekarang gue nggak bakal ngambil nasi sebelum diperintah, meskipun gue harus mati dengan cara kelaparan sekalipun."


Dengan kasarnya, Risda menghapus air matanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang gas motor untuk menyeimbangkan laju motornya tersebut. Pikiran Risda pergi entah kemana, kepalanya rasanya sangat pusing dan cenat cenut.


Tiiiinnnnnnnn......


Suara klakson motor terdengar sangat panjang, ketika di persimpangan 3, Risda hampir kehilangan kendali motornya itu. Seorang pengenada motor lainnya hampir saja menabrak motor Risda karena kelalaian Risda, Risda dengan reflek langsung menghentikan motornya itu.


"Bangsaat!! Bisa bawa motor nggak sih? Pengen mati apa gimana? Yang bener dong kalo bawa motor!!" Bentak seseorang lelaki yang hampir menabrak motor Risda.


Risda langsung turun dari motornya dan mengarahkannya ketepi jalanan itu. Lelaki itu pun juga turun dari motornya dan langsung menghampiri Risda yang berada ditepi jalan.


"Maaf Pak. Kurang fokus berkendara tadi," Ucap Risda lirih, dan terdengar sedang menahan tangisnya.


"Lain kali kalo berkendara itu hati hati! Jangan sampe gara gara kamu yang ingin mati, terus kamu membahayakan pengendara yang lainnya. Kalo pengen mati, lompat saja dari tebing! JANGAN DIJALAN!" Lelaki itu nampak begitu marah dan nada bicaranya semakin tinggi kepada Risda.


"Anda benar. Mungkin bunuh diri adalah jalan terbaik bagiku saat ini, terima kasih sarannya."


Seseorang langsung menarik tangan Risda, Risda yang tengah pasrah itu pun membiarkan orang itu menariknya begitu saja. Seseorang itu langsung menggerakkan tangannya untuk menyentuh dagu Risda, dan membuat Risda menatap kearahnya.


"Jangan pernah berpikiran seperti itu," Ucapnya kepada Risda. "Maafin teman saya, Pak. Mentalnya sedang tidak baik baik saja, saya akan ganti kerugian Bapak jika ada," Ucapnya lagi kepada lelaki yang tengah marah itu.


"Nggak perlu. Lain kali bilangin temenmu agar tidak menyusahkan pengendara lainnya," Lelaki itu pun langsung pergi dari tempat tersebut.


Risda pun sejak tadi terdiam dan seakan akan dirinya melamun tanpa mempedulikan situasi sekitarnya itu, pikirannya benar benar kacau dan dirinya hanya bisa menundukkan kepalanya dan diam seribu bahasa.


"Gue pengen mati, Renzo. Capek hidup terus, udah kayak beban aja gue hidup."


"Berangkat sekolah bareng gue aja, motor lo taruh rumah gue."


"Nggak perlu. Gue bisa berangkat sendiri," Risda pun mengibaskan tangan Afrenzo yang memegangi pergelangan tangannya itu.


Tanpa kata kata, Afrenzo langsung mengambil kunci motor milik Risda dan memasukkannya kedalam saku celananya. Risda pun terlihat geram kepada lelaki itu, dan dirinya berusaha untuk merebutnya kembali akan tetapi tidak bisa.


"RENZO! Balikin nggak!" Teriak Risda.


"Nggak!"


"Balikin!" Risda terus berteriak meminta untuk Afrenzo mengembalikan kunci motornya.


Afrenzo tetap kekeh untuk tidak memberikannya kepada Risda, hingga akhirnya Risda pun menjatuhkan tubuhnya ditanah karena lelah. Risda pun menangis saat itu juga, air mata yang sejak tadi dirinya tahan akhinya meluncur dengan derasnya.


"Renzo balikin kunci motor gue," Ucap Risda lirih dan terdengar isakkan sangat menyakitkan dari mulut gadis itu.


"Gue akan balikin kalo lo udah mendingan, sekarang berangkat bareng gue."


"Nggak mau. Balikin kunci motor gue sekarang, gue mau berangkat sendiri, gue nggak mau nyusahin orang lain. Balikin ke gue, gue mohon! Hiks.. hiks.. hiks.."


Afrenzo yang berdiri didepan Risda langsung berlutut didepan gadis itu, dirinya menatap kearah wajah Risda yang terlihat sembab, dan dirinya pun menyentuh dadanya yang terasa sakit ketika melihat Risda menangis seperti itu.


"Renzo, gue udah nggak pantes untuk hidup lagi. Gue hanya beban, gue sering nyusahin orang," Ucap Risda lirih dan rasanya hatinya sangat sakit.


"Lo di apa'in lagi sama keluarga lo? Ngomong ke gue, gue datangin rumah lo sekarang."

__ADS_1


Mendengar itu langsung membuat Risda menggerakkan kedua tangannya untuk mengenggam tangan kanan Afrenzo yang terkepal itu, Risda mengenggam erat tangan Afrenzo hingga dirinya merasakan bahwa tangan lelaki itu tengah bergetar.


Risda menggelengkan kepalanya dengan kuat menolak ucapan lelaki itu, "Jangan! Gue nggak mau mereka kenapa kenapa, gue nggak mau hubungan gue malah makin parah, Renzo."


"Tapi mereka sudah keterlaluan, Da! Gue nggak suka lihat lo nangis."


"Biar gue yang mati saja, Renzo. Kalo gue nggak ada, mereka bisa bahagia tanpa gue."


"Omong kosong! Nggak ada mahluk yang diciptakan oleh Allah itu sia sia."


"Renzo tolong, jangan pernah temui mereka dengan seperti ini, gue nggak mau jika lo sampe berantem sama keluarga gue."


Afrenzo pun terdiam mendengar permohonan dari Risda itu, dirinya pun hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. "Hanya ada dua pilihan, gue datangi rumah lo, atau berangkat sekolah bareng gue. Pilih mana?" Afrenzo memberatkan Risda dengan dua pilihan yang sulit bagi Risda.


"Renzo, kembalikan kunci motor gue. Pliss... Gue mohon."


"Berarti lo milih pilihan pertama? Oke fine, jangan halangi gue!"


"Nggak!"


Dengan segera Risda langsung meraih tangan lelaki yang hendak berdiri itu, Risda seketika langsung berdiri untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Afrenzo meskipun tinggi keduanya berbeda jauh. Risda pun memegangi kepalanya yang mendadak sangat pusing itu, rasanya seakan akan seluruh dunia tengah berputar didalam pandangannya.


Tubuh Risda mendadak hoyor begitu saja, dan langsung ditangkap oleh Afrenzo agar dirinya tidak terjatuh. Afrenzo menyandarkan kepala Risda didada bidangnya, Risda pun merasa nyaman dalam posisi seperti itu.


"Jangan membantah lagi." Pungkas Afrenzo.


Risda pun menganggukkan kepalanya pelan, Afrenzo langsung menyuruhnya untuk duduk diatas motornya. Sementara dirinya, ia langsung menaiki motor milik Risda dan membawanya pergi untuk ia taruh di garasi rumahnya.


*****


Keduanya telah sampai dihalaman sekolahan, Risda langsung turun dari motor Afrenzo ketika kedua melewati gerbang sekolah tersebut. Afrenzo lalu mendorong motornya menuju ke parkiran, sementara Risda membuntutinya dari belakang sambil memegangi motor itu.


"Renzo, gue ke kelas dulu ya?" Tanya Risda.


"Baiklah. Kalo butuh apa apa kasih tau gue," Ucap Afrenzo.


"Iya."


Risda langsung berjalan menuju kearah kelasnya, Afrenzo sendiri pun langsung bergegas untuk ke lapangan sekolah lebih tepatnya digerbang masuk sekolahan itu. Afrenzo adalah ketua OSIS, dan harus mencontohkan yang baik untuk seluruh siswa lainnya.


Bukan kelas tujuan Risda pertama kali, akan tetapi dirinya langsung bergegas untuk menuju kearah kantin sekolah. Risda langsung mendudukkan tubuhnya disalah satu bangku kosong yang ada disana, dan dirinya pun memesan makanan kepada ibu kantin yang bahkan saat ini sedang masak.


"Kenapa lagi? Nggak sarapan lagi?" Pertanyaan itu keluar dari seorang lelaki dewasa yang tiba tiba muncul didekat Risda.


"Dirumah masakannya belom matang, Pak. Daripada nunggu matang tapi telat masuk, mending sarapan disini," Jawab Risda kepada lelaki yang tidak lain adalah Hajirohman, pendekar besar yang menjadi pemilik kantin sekaligus pelatih Afrenzo itu.


"Bagus bagus, mengayakan diriku hehe... Tapi kenapa tuh mata kok bengkak? Habis nangis?"


"Hampir tabrakan sama orang tadi pas mau berangkat, tapi untung saja ada Renzo, Pak."


"Tabrakan? Nggak ada yang luka kan?"


"Nggak kok, Pak. Alhamdulillah nggak ada yang luka sama sekali,"


"Bagus bagus... Tunggu sebentar lagi nasinya matang, Bapak kedalam dulu, mau buat gorengan."


"Iya Pak."


Hajirohman pun bergegas masuk kedalam kantin itu, sementara Risda hanya duduk termenung sendirian sambil menunggu pesanannya dibuat oleh penjualnya. Karena gabut, dirinya pun langsung membuka buku yang dia bawa, dan dirinya membacanya untuk menghilangkan rasa bosannya itu.

__ADS_1


__ADS_2