
Risda merenung seorang diri di depan kelasnya, dirinya tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini. Diusir dari kelas membuatnya kebingungan harus melakukan apa, bahkan untuk menengok ke dalam kelas pun dirinya tidak diperbolehkan oleh guru itu.
Jika terus begini otomatis nilai raportnya akan turun begitu saja, apalagi tiada ilmu yang masuk ke dalam pikirannya. Risda hanya bisa berdiam diri tanpa bisa berbuat apa apa, duduk di depan kelas sendirian membuatnya merasa sangat jenuh.
Tidak ada teman yang bisa diajak mengobrol, seluruhnya sedang sibuk dengan pelajaran mereka masing masing sehingga tidak ada yang berkeliaran di depan kelas. Cukup lama dirinya berada di sana hingga seorang guru laki laki datang menghampirinya, karena dirinya melihat seorang siswa yang masih duduk di depan kelas padahal sudah masuk membuatnya menghampirinya.
"Kenapa kamu duduk di depan? Semuanya masuk kelas, kenapa kamu nggak masuk?" Tanya guru lelaki itu kepada Risda.
"Saya sedang dihukum, dan tidak boleh masuk untuk mengikuti pelajaran, Pak. Saya tidak mengerjakan tugas lagi sehingga Bu Rita marah kepada saya," Jawab Risda jujur.
Guru lelaki itu pun langsung meninggalkan Risda dan masuk ke dalam kelas tersebut, entah apa yang ingin dikatakan oleh guru itu kepada guru wanita yang ada di kelas Risda. Risda sekilas mendengar suara gemuruh di dalam kelas itu, tapi dirinya tidak mendengarnya dengan begitu jelas karena suaranya tidak sampai di luar.
Cukup lama guru lelaki itu mengobrol dengan guru wanita itu, akhirnya dia keluar dari dalam kelas tersebut dan disusul oleh guru wanita. Guru wanita itu langsung bergegas untuk menghampiri Risda, melihat itu langsung membuat Risda bangkit dari duduknya.
"Ada apa, Bu? Saya tidak melakukan kesalahan apapun," Tanya Risda dengan kebingungan karena guru itu tiba tiba menghampirinya.
"Kamu boleh masuk ke dalam, tapi duduk di lantai,"
"Apakah anda berubah pikiran?"
"Nggak, kamu masih tetap dihukum tapi tidak diluar kelas. Dihukum didalam kelas,"
"Tapi kenapa, Bu? Saya lebih suka duduk disini daripada didalam,"
Bukannya senang disuruh masuk, akan tetapi justru Risda terus bertanya. Seakan akan dirinya tidak mau masuk, karena tidak punya pilihan lain akhinya Risda masuk kedalam kelas tersebut dan mendengarkan pelajaran sambil duduk dilantai kelas itu.
*****
Pagi ini, Risda berdiri untuk menghadap kepada Bu Rita, guru yang menjadi wali kelas dikelasnya. Seperti biasa karena Risda yang belum mengerjakan tugas sekolahnya, akan tetapi dirinya langsung bergegas untuk berdiri didepan guru itu.
"Bu, saya..."
"Nggak ngerjakan tugas lagi?"
Belum selesai Risda berbicara, guru itu sudah tau apa yang ingin dikatakan oleh Risda. Risda hanya menjawabnya dengan anggukan kepala pelan, bukannya dirinya tidak mau mengerjakan tugasnya akan tetapi tak seorangpun yang mau untuk meminjamkan bukunya.
Sejak kejadian kemarin, Risda tidak pernah lagi meminta bantuan kepada temannya. Dirinya masa bodoh dengan tugas sekolah itu, lagian untuk menjelaskannya saja, gurunya tidak ada yang mempercayainya.
"Auhhh sakit, Bu!" Jerit Risda.
Tanpa disangka, tiba tiba guru wanita itu pun langsung menarik telinga Risda dan menarik rambutnya itu. Risda pun menitihkan air matanya karena rasa sakit yang dirasakan itu tiba tiba, mungkin guru tersebut terlalu geram dengannya.
Bisa dikatakan bahwa guru itu melakukan kekerasan dengan siswanya, tapi Risda adalah muridnya sehingga Risda hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh gurunya itu.
Mungkin jaman sekarang, orang tua akan melaporkan kepada pihak berwajib atas tindakan guru seperti itu. Akan tetapi mereka lupa, bahwa mendidik seorang anak itu tidaklah mudah apalagi bukan hanya satu atau dua anak saja melainkan puluhan anak.
Akibatnya, para guru menjadi ragu untuk menegur siswanya karena siswanya mudah malaporkannya kepada orang tuanya. Hal itu berakibat hilangnya rasa hormat kepada guru, dan tidak ada yang ditakuti sehingga mereka bisa berbuat atas kemauan mereka, karena mereka merasa dilindungi.
"Telingamu buntu? Berapa kali Ibu bilang, kenapa tidak pernah kamu dengarkan? Tugas sekolah tidak pernah dikerjakan, tugas rumah dilupakan. Emang mau jadi apa kamu nanti?"
"Maaf Bu," Ucap Risda pelan sambil menitihkan air matanya karena sakit.
"Besok panggilan orang tua! Sekarang kerjakan tugasnya dikantor guru. Kalau diulangi lagi, kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini,"
__ADS_1
Guru wanita itu lalu mendorong tubuh Risda untuk menjauh darinya, Risda hanya berdiam diri ditempatnya sambil memegangi telinganya. Dirinya yang tidak mengenakkan jilbab itu, membuat rambutnya menjadi acak acakan seketika.
*Flash back off*
Risda pun menangis sesenggukan dihadapan Afrenzo ketika mengingat kejadian yang pernah dirinya lalui itu. Guru wanita itu begitu jahat kepadanya, bahkan dirinya juga pernah diancam untuk dikeluarkan dari sekolah itu.
Afrenzo yang mendengarnya pun merasakan kesedihan yang pernah Risda rasakan, hidup gadis itu benar benar lebih menyeramkan daripada hidupnya. Dimana waktu itu adalah waktu hancur hancurnya bagi dirinya, dan tak ada seorang pun yang mau mendengarkannya.
Risda dipaksa untuk berpura pura bahagia, padahal dibalik sikapnya itu dirinya menyembunyikan sebuah luka yang teramat mendalam. Semua orang hanya mampu melihatnya baik baik saja, tapi mereka tidak mampu untuk melihat derita yang dilaluinya.
Risda tidak mampu untuk menahan air matanya, mengingat kejadian di masa lampau membuatnya merasa sangat sedih. Apalagi Afrenzo yang terus memaksanya untuk bercerita, karena dirinya merasa penasaran dengan kehidupan gadis tersebut.
Jika dirinya bertanya kepada orang lain mengenai Risda, mungkin apa yang diketahuinya berbeda jauh dengan apa yang terjadi. Risda pandai menyembunyikan sesuatu, hingga orang lain tidak mengetahuinya dengan pasti.
Dibalik sikapnya yang ceria terdapat sebuah luka cara yang teramat dalam di dalamnya, sikap cerianya hanyalah sebuah topeng untuknya menutupi sebuah luka. Risda tidak pernah menampakan wajah aslinya di depan banyak orang, karena dirinya sangat cengeng sehingga tidak mampu menahan air matanya.
Bahkan ketika dirinya bercerita dengan apa yang terjadi kepada kehidupannya, rasa sesak di dadanya langsung menyeruak begitu saja. Tidak jarang ketika Risda menceritakan kehidupannya air matanya tidak ikut serta menetes, air matanya itu seakan akan telah melekat di dalam hidupnya.
Afrenzo yang melihat gadis itu menangis pun mengusap pelan puncak kepalanya, luka lama yang selama ini dipendamnya pun terasa lebih ringan ketika sudah bercerita. Segala apapun yang dipendam seorang diri, tidak akan mencapai sebuah kelegaan.
Bertahun tahun Risda menyembunyikan hal itu seorang diri, tak seorang pun yang bisa melihat kehidupannya secara langsung. Apa yang semua orang lihat belum tentu apa yang terjadi sebenarnya, mereka mungkin bisa menilai apa yang terjadi akan tetapi mereka belum tentu bisa untuk bersikap seperti Risda.
Semua orang melihat Risda bahagia dan mampu menampakan sebuah senyuman yang cerah, akan tetapi ketika sendirian air matanya pun akan menetes. Risda tidak mampu untuk menahan air matanya, apapun yang terjadi padanya air matanya itu rasanya ingin sekali menetes.
Mungkin di depan semua orang dirinya akan terlihat baik baik saja, akan tetapi ketika dirinya sendiri dirinya akan merasa sangat hancur. Tidak ada seorangpun yang mampu untuk mendengarkan keluh kesahnya, bahkan kedua orang tuanya pun hanya mampu melihat dirinya baik baik saja.
Bahkan Ibunya sendiri pun tidak dapat mengenali Risda dengan pasti, ibunya hanya mampu menetap karena firasat batin seorang anak dan ibu. Akan tetapi dirinya tidak dapat mengetahui hal apa saja yang dilalui oleh Risda selama ini, karena Riska tidak pernah bercerita apapun kepada ibunya mengenai sakit hati yang dirinya rasakan.
"Kalau seandainya takdir gue sampai diwaktu itu, mungkin gue sudah ada diakhirat, Renzo. Nggak ada orang yang menghargai gue disana, gue hanya dianggap sampah yang tidak ada harganya dimata mereka. Waktu itu, Nyokap gue bener bener dipanggil kesekolah,"
"Benar benar dipanggil?"
"Iya, dipanggil dan dimarahi oleh guru. Bahkan waktu itu sampai empat kali panggilan, karena hanya tidak mengerjakan tugas sekali saja sudah dipanggil ke sekolah. Tapi ketika di panggilan keempat kali ya...."
*Flash back on*
Risda yang sudah memakai pakaian lengkap dan hendak berangkat sekolah, kini tengah berdiam diri di depan pintu kamar mandi. Dirinya menunggu ibunya yang ada didalam kamar mandi, untuk memberitahukan bahwa ibunya dipanggil ke sekolahan waktu itu.
Risda sangat ragu untuk mengatakannya kepada ibunya, karena dirinya takut akan dimarahi lagi oleh ibunya. Ini adalah panggilan ke 4 kalinya bagi Risda, di mana ibunya yang harus datang ke sekolah karena kenakalannya yang tidak mengerjakan tugas sekolah.
Sekolah tersebut masuk tepat pada pukul 7 pagi, kurang lebih 15 menit sekolah itu akan masuk. Akan tetapi Risda tak kunjung segera berangkat ke sekolah, karena dirinya menunggu ibunya keluar dari kamar mandi.
"Loh kok belom berangkat?" Ucap ibunya yang terkejut ketika melihat Risda yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Bun. Risda dapat panggilan lagi ke sekolah," Ucap Risda sambil menahan air matanya.
"APA!" Sentak Ibunya terkejut.
Risda sangat takut untuk mengatakannya kepada Dewi, ini adalah panggilan ke 4 kalinya yang dirinya dapatkan dari sekolah. Dewi terlihat sangat marah kepada Risda, karena kenakalannya yang membuatnya dipanggil kesekolah itu.
Risda tidak berani untuk menatap wajah Ibunya yang terlihat marah itu, dirinya hanya bisa mematung didepan pintu kamar mandi sambil memainkan jari jarinya. Melihat Risda yang seperti itu membuat Dewi hanya menghela nafasnya, dia tidak habis pikir dengan anaknya yang mendapatkan 4 kali panggilan kesekolah hanya dalam waktu kurang lebih 3 bulan.
Sementara sebelum sebelumnya dirinya tidak pernah mendapatkan panggilan, akan tetapi di sekolah barunya itu dirinya terus mendapatkan panggilan orang tua. Risda tak kuning berangkat sekolah karena ibunya tidak mau menghadiri panggilan itu, sehingga dirinya hanya mematung di depan pintu tanpa bisa berbuat apa apa.
__ADS_1
"Bunda," Panggil Risda lirih dengan wajah sembabnya.
"Baiklah nanti Bunda akan datang ke sekolahan, lain kali jangan sampai mendapatkan panggilan lagi. Atau kamu pulang saja ke rumah, tinggal bersama Ayahmu,"
"Risda nggak mau, Bunda. Risda maunya tinggal sama Bunda,"
"Makanya itu Risda harus nurut, mulai sekarang Risda harus mengerjakan tugas sekolah dan mengerjakan tugas rumah. Jangan sampai Risda dikeluarkan dari sekolah itu, Bunda kerja untuk menyekolahkan Risda kalau Risda sampai dikeluarkan lalu Risda mau sekolah di mana? Apa Risda mau ketinggalan sama temen temen Risda? Masa teman teman Risda pada sukses Risda hanya tertinggal,"
"Iya Bunda. Lain kali Risda akan mengerjakan tugasnya, Risda hanya tidak punya bukunya sehingga Risda tidak bisa mengerjakan tugasnya. Lain kali Risda akan pinjam sama teman Risda untuk mengerjakan tugas,"
"Baiklah cepat berangkat sebelum terlambat,"
"Iya Bunda Risda pergi dulu ya, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam,"
Risda pun lalu menangkap tangan ibunya untuk menciumnya, setelahnya dirinya pun bergegas untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah dirinya langsung bergegas menuju kelasnya, dirinya aku langsung duduk di bangkunya begitu saja tanpa mempedulikan yang lainnya.
Ketika waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi, seperti biasa ketika Ibunya sudah datang maka Risda akan dipanggil ke kantor sekolah. Akan tetapi anehnya kali ini bukan ibunya yang datang, melainkan majikan dari ibunya yang datang menjadi wali Risda.
"Tante Ifah," Ucap Risda lirih.
"Biar Tante yang akan jelaskan semuanya kepada gurumu," Ucap Ifah.
Risda hanya mengagukan kepala setelah mendengar ucapan dari Ifah. Sebelumnya Dewi sudah bersiap siap untuk datang ke sekolah Risda, akan tetapi hal itu langsung dicegah oleh majikannya, karena majikannya merasa curiga kenapa Dewi terus dipanggil ke kantor sekolah.
Keduanya pun bercakap cakap panjang dan lebar, Ifah menjelaskan apa yang terjadi kepada Risda selama ini. Dirinya pun mengatakan bahwa Risda adalah korban dari broken home, sehingga hal itu membuatnya tidak stabil dalam mata pelajaran kali ini.
Memang jika dilihat dari nilai raport dirinya sebelumnya sampai saat ini terdapat penurunan yang drastis, bahkan guru itu sama sekali tidak percaya dengan nilai raport yang didapat oleh Risda sebelumnya. Sementara ketika belajar di bawah bimbingannya, Riska sama sekali tidak menyahut dalam ucapannya itu.
Risda sekarang duduk di bangku kelas 5 SD, selama di kelas 2 nilainya terus tinggi akan tetapi semakin naik ke kelas yang lebih tinggi nilainya sangat turun drastis. Pada waktu kelas 2 dirinya hampir mencapai peringkat ke 3 dari seluruh siswa yang ada di kelasnya, pada waktu kelas 3 SD dirinya mencapai peringkat 10 besar, sehingga hal itu membuat guru wanita itu tidak percaya dengan apa yang didapat oleh Risda.
Dirinya terus mengira bahwa rapat tersebut adalah rapot palsu, karena nilainya sama sekali tidak sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah itu. Ketika kelas 5 SD Risda pikirannya terbagi bagi, sehingga dirinya tidak tahu apa yang harus dia pikirkan dan apa yang tidak harus ia pikirkan.
Karena broken home yang dirinya alami, membuatnya tidak mampu untuk memfokuskan diri kepada pikiran tertentu. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah mengenai keluarganya yang berantakan, dan tidak ada kasih sayang yang dia dapatkan selama ini.
Pada waktu itu adalah hancur sehancur hancurnya pikiran dan hati Risda, dirinya bahkan tidak bisa berpikir dengan jelas apa yang akan terjadi di masa depan. Dirinya sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan terjadi, bahkan nafsu makannya pun turun drastis sehingga tubuhnya terlihat sangat kurus hingga tersisa tulang dan kulit saja.
Sejak kejadian waktu itu, Risda tidak lagi memiliki nafsu makan yang banyak. Dirinya hanya akan makan pagi dan sore saja, dirinya juga tidak pernah membeli makanan atau cemilan untuk menyangga perutnya.
Makan pun tidak banyak, bahkan jika dikira makannya itu seperti anak usia 4 tahunan. Bagaimana tidak? Karena porsinya sangat sedikit dan tidak seperti anak anak pada umumnya. Dirinya juga seperti seorang anak yang tidak terawat, sehingga dirinya sama sekali tidak mempedulikan penampilannya.
Risda benar benar sangat kacau saat itu, mungkin jika masa lalu itu kembali lagi dirinya tidak disukai oleh banyak orang. Bahkan untuk memandangnya saja mereka merasa sangat jijik, rambut yang selalu acak acakan, kulit pun hitam keriput, dan bahkan wajahnya sama sekali tidak terlihat segar.
Tidak bisa dibayangkan Risda yang dulu dengan yang sekarang, keduanya adalah dua hal yang berbeda akan tetapi sikap keduanya tidak pernah berubah sampai detik ini. Risda adalah sosok ceria dan periang sejak dirinya kecil, sampai sekarang dirinya pun seperti itu akan tetapi itu hanya kepada orang yang dirinya kenal secara dalam.
Orang yang tidak mengenal Risda dengan pasti akan mengangkat Risda adalah sosok yang pendiam, akan tetapi jika mereka mengenalnya dengan dalam maka mereka akan menemukan sosok Risda yang tidak bisa diam. Risda hanya pendiam kepada orang yang baru dikenalnya ataupun orang yang tidak sefrekuensi dengannya, akan tetapi dirinya akan melihatkan sikap aslinya di hadapan orang orang yang menganggapnya sahabat atau bestie.
"Jadi anda siapanya Risda?" Tanya guru itu kepada Ifah.
"Saya Tantenya, kenapa dipanggil kesekolah? Ada apa ya?" Tanya Ifah.
"Jadi begini...."
__ADS_1