Pelatihku

Pelatihku
Episode 87


__ADS_3

Waktu pun menunjukkan waktunya untuk pulang. Seperti biasa, Risda dan teman teman itu kini tengah mengantri untuk membeli sari kedelai kesukaan mereka. Yang beli disana cukup ramai, sehingga antriannya sangat banyak karena hanya dia satu satunya yang jualan es sari kedelai.


"Da!" Teriak seseorang dari kejauhan.


Risda pun yang mendengar namanya dipanggil itu pun langsung menoleh kearahnya, terlihat sosok Vina yang berlari dengan tergesa gesa. Entah apa yang terjadi dengan Vina saat ini, hal itu langsung membuat Risda menjauh dari antrian.


"Lo kenapa?" Tanya Risda ketika Vina sudah mendekat dengan dirinya.


"Ga-wat Da!" Nafas Vina pun masih memburu setelah berlari, dirinya benar benar gelisah dan panik.


"Gawat apanya? Emang ada apa? Ngomong yang jelas!" Tanya Risda semakin bingung karena Vina yang berbicara dengan terbata bata itu.


"Renzo! Renzo, Da!" Teriak Vina dengan keringat yang membasahi tubuhnya.


"Kenapa dengan Renzo!? Renzo kenapa?" Risda pun semakin panik ketika Vina mengatakan nama Afrenzo.


"Renzo..."


Tanpa mendengarkan penjelasan dari Vina, Risda pun langsung bergegas untuk berlari untuk menemui Afrenzo. Dirinya takut kalau Afrenzo kenapa kenapa, tanpa mempedulikan Vina yang berteriak itu, Risda segera pergi dari sana.


"Apa yang lo lakukan kepada Risda! Pelet apa yang lo pake!"


"Bukan urusan lo!"


Terlihat dari kejauhan dua orang tengah berkelahi dilapangan sekolahan itu, karena bel masuk sudah sedari tadi sehingga sekolahan itu terlihat sepi. Kedua orang itu seperti terlihat saling pukul memukul bahkan dengan emosinya.


"Renzo!" Teriak Risda dari kejauhan ketika melihat Satria dan Afrenzo berkelahi.


Keduanya yang hebat dalam beladiri itu pun, terlihat sangat menakutkan jika berkelahi seperti itu, bahkan kekuatan keduanya pun terlihat seimbang karena Afrenzo tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya dan hanya mengimbangi serangan dari Satria.


Teriakan Risda seakan akan tidak dipedulikan oleh keduanya itu, Risda pun bingung harus bagaimana untuk memisahkan keduanya, sementara disana tidak ada Bapak atau Ibu guru yang masih berada disekolahan. Dirinya pun bingung harus melakukan apa saat ini, melihat keduanya berkelahi membuat Risda menitihkan air matanya.


"Mau kalian apa sih! Bisa ngak sih ngak susah berantem!" Teriak Risda kepada keduanya.


"Da, gimana nih?" Tanya Vina yang baru tiba didekat Risda.


"Kenapa mereka harus berantem?" Tanya Risda sambil menatap kearah Vina dengan linangan air mata.


"Lo tanya saja ke mereka nanti, mending kita cari cara untuk memisahkan keduanya itu, Da. Kalo terus terusan berkelahi, keduanya bisa terluka,"


"Terus gue harus gimana, Vin? Gue ngak bisa apa apa untuk memisahkan mereka!" Sentak Risda kepada Vina.


"Da..."


"Gue harus lakukan sesuatu!"


"Lo mau apa, Da?"


Risda pun langsung mendekat kearah keduanya yang tengah bertarung itu, dirinya mencoba untuk menangkap tangan Afrenzo. Risda berusaha untuk memisahkan keduanya, disaat Afrenzo menyadari bahwa adanya Risda disana, dirinya pun begitu sangat terkejut.


Ia melihat bahwa Satria akan melontarkan pukulan kepadanya akan tetapi Risda mencoba menghadang hal itu. Hal itu langsung membuat Afrenzo menarik tubuh Risda dan langsung menjadi tameng pelindung untuk Risda.


Bhukkkk...


Sebuah pukulan pun mendarat dipunggung Afrenzo, sementara Afrenzo mendekap tubuh Risda agar tidak terkena pukulan dari Satria. Risda pun mendengar pekikkan dari Afrenzo lirih, dan mendengar sebuah bunyi pukulan yang sangat keras.


"Renzo," Ucap Risda lirih.


"Lo ngak papa kan, Da?" Tanya Afrenzo cemas.


Risda pun menganggukkan kepalanya pelan sambil menjawab, "Gue ngak papa kok,"


Mengetahui bahwa pukulannya mengenai punggung Afrenzo, membuat Satria menghentikan aksinya itu. Ia tidak mengetahui bahwa Risda sudah berdiri dihadapan Afrenzo yang sedang membelakanginya itu, melihat adanya Risda hal itu membuat Satria mengepalkan tangannya dengan erat sampai memutih.


Wajah kedua lelaki itu terlihat babak belur, bahkan disana Satria lah yang lebih banyak mengalami luka daripada Afrenzo. Afrenzo hanya terluka dibagian ujung bibirnya dan beberapa anggota tubuh lainnya, sementara Satria wajahnya penuh dengan memar dan juga anggota tubuh lainnya.

__ADS_1


Risda lalu berdiri ditengah tengah kedua cowok itu, dirinya pun menatap satu persatu kearah keduanya dengan linangan air mata. Meskipun dirinya tidak terluka akibat perkelahian itu, akan tetapi dirinya lah yang menangis diantara kedua lelaki itu.


"PUAS KALIAN BERANTEM SEPERTI INI! APA YANG KALIAN DAPATKAN SETELAHNYA HA?" Bentak Risda kepada keduanya dengan air mata terus merembes keluar.


"Da, jangan nangis," Ucap Afrenzo yang melihat Risda menitihkan air matanya.


"Diem lo! Jangan ngomong lagi!" Sentak Risda kesal kepada Afrenzo.


Mendengar itu langsung membuat Afrenzo berdiam diri, dirinya pun menundukkan kepalanya dihadapan Risda. Kini Risda menatap tidak suka kearah Satria dan membelakangi tubuh Afrenzo.


"MAU LO APA HA!" Bentak Risda kepada Satria.


"Da..." Ucap Satria menggantung.


"EMANG LO SIAPA GUE!? Hidup hidup gue, lo ngak berhak ngatur hidup gue, Sat! Gue deket dengan siapapun itu hak gue, lo sama sekali ngak berhak ngelarang gue!" Sentak Risda sambil menuding kearah Satria.


"Dia bukan laki laki yang baik, Da. Gue ngak mau lo disakiti sama dia," Ucap Satria.


"Emang lo sendiri sebaik apa, ha? Dengan cara seperti ini, apa lo sudah bisa dianggap baik?"


Risda benar benar sangat marah saat ini kepada kedua lelaki itu, sementara Afrenzo hanya berdiam diri karena perintah dari Risda. Suara Risda terdengar seperti tengah menyimpan sebuah kekecewaan yang teramat sangat mendalam, dan suara itu terlihat begitu menyayat hati.


Satria tidak bisa menjawab ucapan dari Risda, dirinya merasa sangat benci dengan Afrenzo jika Risda seperti seakan akan tengah membelanya itu. Vina yang berada dikejauhan pun terlihat hanya bisa berdiam diri, dirinya takut untuk mendekat kearah Risda saat ini.


"Gue muak sama lo, Sat. Gue kecewa sama lo, dengan beraninya lo jadiin gue taruhan. Hidup gue, lo ngak berhak ngaturnya, mending lo urusin urusan lo sendiri dan jangan pernah ikut campur dalam urusan gue," Ucap Risda dengan suara pelan akan tetapi dapat terasa sebuah kekecewaan yang teramat sangat mendalam.


"Da, gue ngak bermaksud seperti itu,"


"Gue ngak butuh penjelasan lo, Sat. Mending lo jauhin gue, dan jangan pernah dekatin gue lagi,"


"Da..."


"Ayo pergi dari sini, Renzo." Risda pun meraih tangan Afrenzo dan mengajak Afrenzo untuk pergi dari tempat tersebut tanpa mempedulikan Satria.


Afrenzo hanya menurut kepada Risda, dan bergegas pergi dari tempat itu bersama dengan Risda. Sementara Satria terlihat sangat kesal, dirinya pun menendang sembarangan karena kesalnya itu.


"Gue udah bilang sama lo, jangan pernah ladenin Satria. Tapi kenapa lo masih saja ngeladenin dia?" Tanya Risda kepada Afrenzo yang tengah tertunduk itu.


"Maafin gue, Da. Gue ...." Ucap Afrenzo menggantung. Afrenzo pun menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Gue sudah coba ngehindari dia, tapi dia terus maksa gue untuk fight,"


"Emang gue butuh penjelasan lo? Gue ngak butuh itu, Renzo. Lo udah janji ke gue untuk ngehindari Satria, tapi nyatanya apa?"


"Da ...."


"Gue emang bukan siapa siapa lo, gue juga ngak berhak ngelarang lo untuk setiap hal yang lo lakuin, Renzo. Tapi jangan bertarung hanya karena gue, gue jadi ngerasa bersalah kalo seperti ini,"


"Gue ...."


"Diem lo, jangan banyak alasan lagi. Gue ngak mau dengar itu,"


Risda sendiri yang telah membuatnya banyak berbicara, akan tetapi kali ini justru dia sendiri yang menyuruh Afrenzo untuk diam. Aneh memang, itulah Risda, jika tidak aneh maka dia bukanlah seorang Risda.


Risda lalu mengambil sebuah kotak p3k yang telah tersedia disana, melihat luka memar diujung bibir Afrenzo membuatnya tidak tega melihatnya. Dirinya berniat untuk mengobati luka tersebut, Afrenzo pun menatapnya dengan lekat lekat.


Risda lalu menuangkan obat disebuah kapas yang ada ditangannya saat ini itu, dia pun perlahan lahan menempelkan obat itu diluka Afrenzo. Padahal obat itu sangat perih jika tersentuh dengan luka, akan tetapi wajah Afrenzo sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya merasa perih akibat obat tersebut.


Jarak wajah keduanya pun terlihat sangat dekat, fokus kedua mata Afrenzo tertuju kepada mata Risda, sementara kedua mata Risda tetap fokus dengan luka yang ada diujung bibir Afrenzo itu.


"Kenapa lo harus seperti ini sih, Renzo. Jika kebanyakan luka ditempat yang sama takutnya malah jadi infeksi nantinya," Guman Risda, karena memang ujung bibir Afrenzo itu sering sekali terluka hingga mengeluarkan darah segar.


Afrenzo hanya diam saja tanpa menyahuti ucapan dari Risda itu, Risda terus mengobati lukanya tersebut hingga luka itu selesai diobati olehnya. Risda lalu menyimpan kembali kotak p3k yang sebelumnya dirinya ambil itu, dan menaruhnya ditempat sebelumnya dengan rapi.


"Gue tau, lo itu pelatih beladiri dan kebal dengan rasa sakit, Renzo. Tapi bukan berarti lo bisa terus terusan menahannya, lo juga manusia."


"Kenapa jadi lo yang panik, Da?" Tanya Afrenzo sambil memincingkan sebelah matanya.

__ADS_1


Pertanyaan itu langsung membuat Risda terdiam, entah sejak kapan dirinya sepeduli ini dengan orang lain? Biasanya dia sama sekali tidak peduli dengan yang lainnya, akan tetapi Afrenzo berbeda dengan yang lainnya bagi dirinya.


"Lo berantem karena gue, gue ngak mau jadi alasannya yang telah membuat kalian berantem. Nanti gue juga ikut diseret lagi masuk kedalam urusan kalian," Ucap Risda beralasan dengan wajah yang tersipu malu ketika mengatakan hal seperti itu kepada Afrenzo.


"Lo ngak akan terlibat dalam hal ini,"


"Bagaimana bisa lo seyakin itu? Padahal gue tau sendiri kenapa kalian berantem tadi, lo ngak bisa bohongi gue, Renzo. Gue penyebabnya,"


"Kenapa wajah lo merah?"


Mendengar pertanyaan itu langsung membuat Risda menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dirinya benar benar malu dibuat oleh Afrenzo, meskipun kini dirinya hanya berdua disana. Risda pun langsung bangkit dari duduknya, dirinya hendak pergi dari ruangan tersebut.


"Kemana?" Tanya Afrenzo.


"Menghilang dari bumi dan merebus batu hingga lunak," Jawab Risda dengan kesalnya karena pertanyaannya dari Afrenzo.


Risda segera berlari dari tempat itu, dirinya merasa gugup saat ini juga. Risda lalu kembali masuk kedalam kelasnya untuk mengambil pakaian beladirinya, kedua pipinya terasa panas hingga membuatnya merasa seperti teramat sangat malu.


Tak beberapa lama kemudian, perutnya pun berbunyi pertanda bahwa cacing cacing yang ada didalam perutnya meminta untuk diisi. Risda pun langsung memegangi perutnya, dirinya lalu berlari menuju kedalam kelas Anna yang memang berada tidak jauh dari kelasnya itu.


"Anna!" Teriak Risda sambil membuka pintu ruang kelas itu.


"Lo kenapa, Da?" Tanya Vina yang kini tengah duduk bersama dengan Anna.


Anna dan Vina adalah teman satu kelas, dan keduanya juga mengikuti latihan beladiri sehingga ketiga orang itu terlihat akrab. Risda lalu bergegas untuk mendatangi kedua teman seperguruannya itu, Risda lalu berdiri dihadapan keduanya.


"Ann, Ayo beli makanan," Ajak Risda sambil memegangi perutnya itu.


"Makanan apa, Da? Lo belum makan kah?" Tanya Anna.


"Terserah deh, gue laper banget tau. Lo ngak kasihan sama gue?" Tanya Risda balik.


"Ngak sih, tapi wajah lo beda dengan Risda yang gue kenal,"


"Auah pokoknya ayo beli makan, gue bener bener laper tau,"


"Sama Vina aja ya?"


"Gue mah ogah, mending gue dikelas daripada harus nemenin Risda makan. Kagak enak tau," Sela Vina.


Risda pun hanya mendengus kesal kepada Vina, dirinya lalu menarik tangan Anna untuk mengajaknya mencari makan. Kalau Risda berangkat sendiri, justru dirinya merasa tidak enak karena tidak ada teman yang bisa diajaknya untuk berbicara sehingga akan merasa canggung nantinya.


Risda begitu sangat memaksa Anna untuk menemaninya membeli makanan, Anna sendiri tidak bisa menolak ajakan dari Risda. Sehingga, Anna hanya pasrah begitu saja ketika diajak oleh Risda pergi dari halaman sekolahan itu.


Halaman sekolah tersebut tidak terlalu jauh dari pasar, hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai dipasar tersebut. Risda dan Anna saling berboncengan sehingga mempermudah mereka untuk bercskap cakap.


Kini keduanya telah melalui gerbang pembatas yang ada diarea pasar itu, keduanya langsung masuk kedalam pasar itu setelah selesai memperkirakan motor milik Risda itu. Keduanya langsung bergegas untuk mencari warung yang ada didalam pasar tersebut.


"Lo mau cari makan apa'an, Da?" Tanya Anna dijalan ketika melihat beberapa warung yang dilalui oleh Risda begitu saja.


"Gue ngak tau, sejak tadi kagak ada yang bikin minat gue bertambah,"


"Sepertinya bukan karena lo lapar deh, soalnya orang yang teramat sangat lapar itu tidak akan pilih pilih soal makanan. Sementara lo? Dari tadi nyari pun kagak ada yang sesuai dengan selera lo,"


"Gue tipe orang yang bisa makan apapun, An. Tapi soal kesehatan itu jauh lebih penting,"


"Tumben lo ngomongin soal kesehatan? Biasanya aja coba, yang ada didalam pikiran lo hanya ada malaikat maut doang, Da. Kesambet apa'an lo kemarin?"


"Kesambet demit noh yang ada dilapangan."


Risda pun mendengus kesal karena pertanyaan dari Anna itu, dirinya pun langsung masuk kedalam sebuah warung yang menjual beberapa makanan yang lezat baginya itu. Hal itu langsung membuat Anna ikut serta untuk menyusulnya.


"Lo juga makan ngak?" Tanya Risda.


"Lo bayarin ya?" Tanya Anna balik.

__ADS_1


"Sialan lo! Duit gue aja cuma receh, yaudah gue aja yang makan, lo kagak usah ikut ikut. Jangan maksn, makan itu berat kamu ngak akan kuat, biar aku saja yang makan. Lo lihat gue makan saja,"


"Brengseeek lo, Da!


__ADS_2