Pelatihku

Pelatihku
Episode 98


__ADS_3

Setelah kepergian dari Fandi, Risda kembali merasa bosan. Dirinya pun turun dari ruangan tersebut dan melihat teman temannya yang sedang berlatih tendangah, melihat kedatangan Risda membuat pandangan teman temannya langsung terarah kepada Risda.


"Sorry, gue ngak ada niat untuk nganggu kok, beneran deh. Gue hanya pengen lihat latihan saja," Ucap Risda ketika melihat tatapan tajam dari Afrenzo.


Mendengar itu langsung membuat perhatian Afrenzo kembali fokus dengan siswanya, dirinya yang sedang memegangi sebuah pechingpet itu pun langsung kembali memasang kuda kudanya.


Mereka pun secara berurutan menyerang kearah sasaran yang sedang dipegangi oleh Afrenzo itu. Mereka melakukan tendangan sesuai dengan perintah dari Afrenzo, dan kini giliran Anna yang melakukannya, karena tubuh Anna yang pendek pun belum mampu mengendang tinggi.


"Lebih tinggi tendanganmu," Ucap Afrenzo dengan dinginnya.


"Keknya lo harus gelantungan diatas pohon waktu gerhana deh, An. Dari sini saja tendangan lo beda dari yang lainnya," Ucap Risda yang ikut ikutan mengomentari.


Anna pun kembali berusaha untuk menendang lebih tinggi, bukan hanya masalah tinggi badannya akan tetapi juga dirinya kurang mengangkat kakinya. Risda melihat hal itu sambil duduk bersandar disebuah pohon, seperti orang yang hilang saat ini.


Melihat Risda yang sok sok an mengomentari temannya itu, membuat para senior merasa jengkel dengannya. Bagaimana tidak? Disaat semuanya berlatih, justru dirinya hanya duduk duduk sambil mengomentari orang lain.


"Apa lo lihat lihat," Ucap Risda dengan sensinya kepada Fandi.


"Mending lo diem, atau pulang saja kalo ngak ikut latihan."


"Apa lo? Iri sama gue?"


"Cihhh... Untuk apa gue iri sama lo yang hanya seorang junior tapi mentang mentang. Ngak ada gunanya gue iri sama lo,"


"Halah ngaku aja lo, gue mah bodo amat dengan lo. Ngak guna juga sih ngomong sama lo,"


"Lo emang sukanya cari gara gara ya, cewek aneh. Gue sleding baru tau rasa lo,"


"Emang rasanya gimana? Apa kayak selai strawberry, selai kacang, selai nanas, selai anggur, atau gimana? Gue belum pernah nyoba soalnya."


"Mau gue banting sekarang?"


"Ngak mau lah, emang gue karung beras, yang asal lo banting banting? Justru yang karung beras itu lo, gendut!"


"Gue ngak gendut!"


"DIAM!!!" Bentak Afrenzo kepada keduanya itu, baru kali ini siswa baru mendengar bentakkan dari Afrenzo, hal itu langsung membuat mereka sangat terkejut.


Keduanya seketika langsung berdiam diri, tanpa ada yang menyahutinya. Risda yang mendengar bentakkan dari Afrenzo pun begitu sangat terkejut bukan main, Afrenzo tidak pernah membentak seseorang seperti itu kecuali jika pikirannya sedang kacau saat ini.


Risda merasakan bahwa sejak tadi Afrenzo sepertinya sedang badmood, sehingga hal itu membuatnya mudah sekali marah. Risda semakin takut untuk menghadapi lelaki seperti Afrenzo, yang saat ini bahkan begitu sangat menyeramkan dari hari hari biasanya.


Risda pun hanya berdiam diri ditempatnya, tanpa berani untuk menatap kearah Afrenzo. Sementara, Fandi langsung dihukum oleh Afrenzo dengan menyuruhnya untuk melakukan push up sebanyak 100 kali saat itu juga.


Afrenzo tidak menghukum Risda saat ini, karena Risda tidak memakai atribut beladiri, sementara Fandi tengah memakainya. Sehingga Fandi harus menjaga nama baik perguruan itu, agar tidak terlihat jelek dimata orang lain.


Dengan sekali bentakkan saja sudah merupakan hukuman bagi Risda, bahkan hukuman itu lebih kejam daripada apa yang dilakukan oleh Fandi saat ini. Entah kenapa hari ini Afrenzo terus bernada tinggi kepadanya, bahkan dirinya seperti tengah tidak memikirkan perasaan Risda.


Bhukkk Bhukk Bhukk


Mereka pun kembali melanjutkan latihan disore hari itu, dengan bergantian mereka disuruh untuk melontarkan sebuah pukulan dan tendangan kepada sebuah pechingpet yang dipegang oleh Afrenzo.


Bhukk Bhukk Bhukk


"Lebih keras!" Sentak Afrenzo.


Bhukk Bhukk Bhukk


"Pasang yang bener! Kuda kudanya dibenarkan!"


Bhukk Bhukk Bhukk


Mereka pun terus bergerak untuk melakukan pukulan dan tendangan secara bergantian. Bahkan Afrenzo sama sekali tidak membiarkan mereka untuk berhenti bergerak walaupun hanya sesaat saja. Latihan kali ini benar benar begitu sangat keras, apalagi mengingat akan diadakannya sebuah karnaval budaya.


Afrenzo memegangi pechingpet dengan kuat, bahkan yang menendang ataupun memukul itu sampai terlihat tidak imbang. Bahkan tidak ada tendangan mereka yang mampu membuat Afrenzo termundurkan langkahnya, bahkan bergeser sedikit saja tidak ada yang bisa melakukan itu.


Risda yang melihat itu pun merasa kagum dengan cowok itu, itu artinya cowok tersebut sangatlah kuat. Bahkan dirinya masih tetap diposisi kuda kuda kiri depan, tanpa berpindah tempat ataupun berpindah gerakan.


Selama 1 jam mereka melakukan gerakan tanpa berhenti sedikitpun, hal itu membuat mereka terlihat sangat kelelahan. Bahkan Risda yang hanya melihatnya saja sudah merasa lelah, apalagi mengikut latihan kali ini.


Afrenzo pun menyuruh mereka untuk istirahat beberapa menit, sementara dirinya langsung bergegas menuju keaula beladiri setelah mengatakan hal itu. Risda yang melihat kepergian dari Afrenzo pun langsung bergegas untuk mengejarnya, dan menghampiri lelaki itu yang masih dengan ekspresi wajah yang tidak mengenakkan.

__ADS_1


"Renzo, tungguin!" Teriak Risda sambil mengejar lelaki itu.


Mendengar suara Risda, hal itu langsung membuat lelaki tersebut menghentikan langkahnya. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak menoleh kearah Risda, dirinya berdiri membelakangi tubuh gadis tersebut.


"Lo kenapa?" Tanya Risda yang masih melihat wajah dingin Afrenzo.


"Pulanglah," Ucap Afrenzo singkat dan langsung bergegas meninggalkan Risda.


Risda yang merasa aneh pun langsung kembali bergegas untuk mengejar lelaki itu, dan kini keduanya sudah berada didalam aula dilantai bawah. Risda merasa ada yang tidak beres dengan lelaki itu saat ini, sehingga lelaki itu terlihat emosinya sedang tidak stabil.


"Tadi nyuruh gue tetep disini, sekarang malah nyuruh gue pulang," Ucap Risda dengan cemberutnya.


"Hem," Jawab Afrenzo hanya berdehem.


"Sebenernya gue ngak pengen pulang kerumah, tapi pulang ke pangkuan Tuhan. Lo mau ngak antarin gue untuk pulang?"


Pertanyaan itu langsung membuat Afrenzo menatap tajam kearah Risda, Risda yang melihatnya pun langsung membalikkan badannya. Dirinya pun berjalan menjauh dari Afrenzo, dengan menundukkan kepalanya dalam.


"Gue pergi dulu," Ucap Risda.


"Tunggu!"


Suara itu langsung membuat Risda merasa senang karena Afrenzo mencegah kepergiannya, dirinya pun tersenyum dengan cerahnya meskipun saat ini dirinya sedang membelakangi tubuh Afrenzo. Risda pun lalu membalikkan badannya, dan menatap kearah Afrenzo.


"Lo ngak ngusir gue lagi kan?" Tanya Risda dengan senyuman mengembang.


"Bawa sekalian tas lo yang ada dilantai atas," Ucap Afrenzo.


Risda pikir bahwa Afrenzo akan menyuruhnya untuk tetap diaula beladiri, akan tetapi pikirannya itu salah. Justru, Afrenzo mengingatkan kepadanya agar tidak lupa untuk membawa tas miliknya yang ada dilantai atas.


"Buat lo aja, lagian ngak guna lagi buat gue," Jawab Risda dengan kesalnya sambil membalikkan badannya untuk pergi dari sana.


"Tunggu!"


"Apa lagi sih!"


"Kalo sudah sampe diakhirat, jangan lupa vidio call."


Entah kenapa Risda sangat kesal dengan Afrenzo saat ini, justru kekesalan itu membuat Risda terlihat sangat menggemaskan. Ternyata cewek seperti Risda pun mampu terlihat kesal seperti itu, Afrenzo pun langsung meraih tangan Risda yang berjalan pergi itu.


"Ngapain lo pegang pegang tangan gue?" Tanya Risda sambil melepaskan pegangan tangan Afrenzo.


"Kalo pulang hati hati, jalanan lagi rame sekarang," Ucap Afrenzo.


"Gue ngak peduli, pertama lo sentak gue, kedua lo tarik tarik tangan gue sampe sakit, ketiga lo marahin gue, keempat lo tinggalin gue begitu saja, kelima lo bentak gue lagi, dan keenam lo usir gue. Apa menurut lo gue ini sampah dihadapan lo? Ternyata semua orang sama saja, rasanya gue pengen mati saja, Renzo. Gue ngak pengen hidup lagi," Setetes air mata pun mengalir diujung pelupuk mata Risda.


"Apa gue terlalu kelewatan saat ini? Maafin gue, Da. Beban pikiran gue terlalu banyak," Batin Afrenzo.


Risda yang sejak tadi menahan tangisannya, karena dibentak oleh Afrenzo sebelumnya itu pun langsung menitihkan air matanya begitu saja. Begitu sakit rasanya ketika dibentak oleh orang yang sangat berarti, apalagi Ayahnya sering melakukan itu kepadanya.


Risda terlihat sangat kesal karena dirinya berusaha untuk menahan air matanya, agar air mata itu tidak jatuh begitu saja dihadapan orang banyak. Ketika dirinya berdua dengan Afrenzo, dirinya seakan akan tidak bisa menahannya.


"Da," Panggil Afrenzo.


"Cukup Renzo! Kalo lo emang ngak suka gue ada didekat lo, mending lo bilang sekarang. Siapapun yang ingin kehilangan gue, akan gue bantu dengan pergi. Gue hanya beban bagi siapapun yang ada didekat gue selama ini, maka biarkan beban ini lenyap untuk selamanya,"


"Ngak, lo bukan beban, Da. Gue ngak pernah bilang lo itu beban,"


"Tapi sikap lo sudah mengatakan semuanya dengan jelas, Renzo. Orang sepertiku memang ngak pantas untuk hidup lebih lama,"


"Da, kalo lo merasa ngak pantas untuk hidup, lalu kenapa Allah menciptakan lo didunia ini?"


"Kelahiran gue hanya kesalahan, Renzo. Gue anak yang ngak diharapkan kelahirannya didunia ini. Kalo ini bukan kesalahan, mereka tidak akan menyia nyiakan gue seperti ini,"


"Maafin gue, Da. Gue ngak bermaksud untuk menyakiti hati lo, banyak pikiran yang harus gue pikirkan dan selesaikan. Gue capek!" Afrenzo pun duduk disebuah kursi disebelahnya sambil mengacak acak rambutnya.


Cowok itu terlihat sangat frustasi hingga mengacak acak rambutnya sendiri, bahkan dirinya juga memukuli kepalanya sendiri. Risda yang melihat itu langsung menangkap tangan Afrenzo, agar dirinya berhenti untuk memukuli dirinya sendiri.


"Apa yang lo lakuin sih!" Teriak Risda sambil menghapus air matanya dengan kasar.


"Gue capek, gue juga manusia yang memiliki rasa lelah, Da. Jangan buat gue semakin merasa bersalah,"

__ADS_1


"Gue kan sudah bilang sama lo, kalo ada masalah lo bisa cerita ke gue! Tapi lo sama sekali ngak mau berbagi masalah lo,"


"Gue aja ngak bisa nyelesaiin masalah gue sendiri, bagaimana orang lain bisa melakukan itu? Gue yakin, lo sndiri juga punya masalah pribadi, Da. Gue ngak mau merepotkan lo,"


"Renzo, kita adalah sahabat, sahabat seharusnya saling membantu dan mendukung. Lo saja ngak mau cerita ke gue, bagaimana gue bisa membantu lo?"


"Pikirkan saja masalah lo, Da. Soal masalah pribadi gue, lo ngak perlu tau soal itu,"


"Lo jahat, Renzo."


"Gue akan selalu jadi penjahat, Da. Apa yang dikatakan Satria itu benar, gue bukan orang baik. Gue bahkan lebih jahat dari apa yang dikatakan olehnya,"


"Gue ngak akan percaya itu, Renzo. Meskipun gue akan melihatnya sendiri nanti, yang gue tau lo itu baik."


Risda merasa sangat yakin bahwa Afrenzo adalah orang yang baik, meskipun kadang kala tingkah lakunya itu sangat menyeramkan bagi Risda. Akan tetapi, hatinya terus mengatakan bahwa Afrenzo adalah orang baik.


"Katakan sesuatu, Renzo. Masalah seperti apa yang lo hadapi itu,"


"Sebaiknya lo pulang, Da. Sebentar lagi adzan magrib, nanti lo bisa diomeli sama Kakak lo,"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Renzo. Gue ngak masalah jika nanti gue diomelin oleh Kakak gue, asal gue bisa meringankan beban pikiran lo,"


"Jangan nangis, itu sudah meringankan beban gue,"


"Gue ngak nangis lagi," Ucap Risda sambil menghapus air matanya kasar bahkan kulitnya sampai terasa sakit.


"Pulanglah, besok berangkat lebih awal,"


"Tapi Renzo..."


"Jangan membantah, gue ngak suka itu,"


"Baiklah, besok lo harus cerita semuanya ke gue,"


"Insya Allah."


Risda langsung bergegas menuju kelantai atas untuk mengambil tasnya, dirinya pun langsung bergegas menuju kelantai bawah setelah mengambil tas miliknya tersebut. Akan tetapi, Risda sudah tidak melihat Afrenzo disana, dirinya lalu bergegas keluar dari aula beladiri.


Nampak lapangan latihan beladiri itu sudah sepi, karena seluruh siswa sudah dipulangkan sejak awal oleh siswa senior. Risda lalu melihat Afrenzo yang tengah duduk diatas sepedah motor miliknya sendiri, Risda lalu bergegas untuk menghampirinya.


"Kenapa sudah sepi?" Tanya Risda.


"Karena sudah pulang, lo juga buruan pulang," Jawab Afrenzo.


"Lalu kenapa lo ngak pulang juga?"


"Gue masih ada urusan, Da. Lo pulang duluan aja,"


"Urusan apa? Emang itu begitu penting?"


"Bukan begitu penting, tapi sangat penting. Pulanglah dulu,"


"Lo ngak berantem kan? Sampai sampai urusan itu sangat penting,"


"Ngak Da. Ini ada urusan sama pimpinan daerah perguruan Kembang Sepasang, besok gue akan umumin disaat latihan jika sudah mencapai hasilnya,"


"Baiklah, gue pulang dulu, Renzo."


"Iya hati hati."


Risda lalu naik keatas motornya itu, dirinya pun menyalakan motornya tersebut. Dirinya masih merasa berat untuk meninggalkan Afrenzo ditempat itu sendirian, akan tetapi dirinya tidak punya pilihan lain selain menuruti ucapannya itu.


Risda berusaha tega meninggalkan Afrenzo disana sendirian, dirinya pun langsung bergegas untuk meninggalkan halaman aula beladiri itu. Sementara Afrenzo, dirinya memandangi kearah Risda yang perlahan lahan mulai jauh dari pandangannya itu.


Risda masih bisa melihat bayangan Afrenzo dari kaca spionnya itu, akan tetapi lama kelamaan kacanya terlihat buram karena jaraknya semakin jauh dengan posisi dimana Afrenzo berada.


Dirinya mendadak merasa takut terjadi sesuatu dengan Afrenzo, akan tetapi dirinya tidak tau, apa yang akan terjadi kepada lelaki itu nantinya. Ketika berada ditengah tengah perjalanan, Risda menghentikan laju motornya ditepi jalan.


Dirinya sudah tidak melihat bayangan Afrenzo dibelakangnya, entah apa yang saat ini dirinya pikirkan. Pikirannya terlalu berisik dikepalanya saat ini, bahkan membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernihnya.


"Semoga dia kagak dihajar sama Bokapnya lagi untuk soal ini, awas aja lo tabung gas elpiji,"

__ADS_1


__ADS_2