Pelatihku

Pelatihku
Episode 168


__ADS_3

"Din!! Woi bayar kas dulu, Anjiiirrr!" Teriak Risda yang menggema dari dalam kelasnya.


"Gue ngutang dulu, Da. Besok gue bayar lunas deh," Ucap Udin, teman sekelas Risda yang memang menunda nunda untuk membayar kas kelas.


"Asem lo! Udah dua minggu lo belum bayar juga, masih mau ngutang aja, lo? Emang mau numpuk sampe berapa baru lo bayar?" Tanya Risda dengan kesalnya karena hanya diberi janji manis tanpa bukti.


"Ya elah, Da. Emang bayar berapa sih? Gue ini kaya."


"Kaya monyet iya! Kaya kok ngutang, kagak malu apa? Ini totalnya semua jadi 10 ribu. Kalo lo ngutang lagi, besok bayar 12 ribu."


"Itu mah kecil. Nanti gue bayar lunas kok."


"Kecal kecil mulu, awas aja kalo kagak bayar lagi. Gue tagih ke rumah lo ntar pulang sekolah."


"Emang lo tau rumah gue?"


"Tau lah, jaringan gue itu luas. Nanti gue bawain pasukan ke rumah lo!"


"Pasukan apa'an? Pasukan semut?"


"Iya. Semut hitamnya kembang sepasang!"


Krik... Krik... Krik...


Udin menatap datar kearah Risda, bukan terkejut mendengar ucapannya justru dirinya nampak begitu biasa. Risda yang awalnya bangga menyebutnya pun langsung merubah ekspresi wajahnya ketika melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Udin, dan akhirnya dirinya pun menyengir.


"Kagak nyambung kali, Da. Emang masalah gue apa'an sama perguruan beladiri lo? Asal lo tau ya, gue juga ikut perguruan kembang sepasang, tapi beda cabang."


Kini giliran Risda yang terkejut mendengarnya, bukan main reaksi yang ditunjukkan oleh Risda saat ini. Dirinya baru tau bahwa Udin ikut juga dalam latihan bela diri, akan tetapi dirinya berbeda cabang karena mengikuti sekolahnya dahulu.


"Iya kah? Gue kagak percaya!" Seru Risda yang tidak mau mempercayai ucapan dari Udin.


"Kalau kagak percaya, lo tanya aja sama Renzo. Dia yang ngelantik gue waktu itu,"


Ngelantik juga disebut sebagai pelantikan atau sebagai pengesahan siswa bela diri atas didapatnya sebuah tingkatan, bisa juga sabuk atau kedudukan. Bisanya hal itu akan dilakukan ketika ada siswa yang akan naik tingkat karena berhasil mendapatkan sabuk yang lebih tinggi, dan yang melantiknya adalah seorang pelatih.


Kebetulan waktu itu, ketika Udin dilantik, pelantiknya adalah Afrenzo sendiri. Pada saat itu Afrenzo pun dilantik sebagai pelatih termuda, dan dirinya disuruh untuk melantik siswa baru yang akan naik tingkat pertama dalam beladiri tersebut. Karena postur tubuhnya yang tinggi sekaligus berotot, membuatnya terlihat dewasa daripada usianya yang saat itu masih 15 tahun, lebih tepatnya diwaktu ia duduk dibangku kelas 2 SMP.


Diusia seperti itu, Afrenzo sudah diberatkan oleh tanggung jawab yang besar. Bahkan sebelum itu, dirinya sudah memegang kunci aula beladiri, dan hal itu cukup berbahaya. Afrenzo pernah hampir kehilangan nyawanya karena berlatih beladiri, akan tetap beruntunglah bahwa luka yang didapatnya masih mampu untuk disembuhkan.


"Lo sudah lama kenal sama dia?" Tanya Risda yang berubah ekspresi menjadi serius.


"Iya. Tapi tidak begitu akrab, tidak seperti Fandi itu sih, cuma sekedar kenal waktu kenaikan tingkat doang."


"Yah nggak asik lo, Din. Kenapa kagak lo akrab in sama dia aja?"


"Nggak asik orangnya, pendiem dan sombong kalo diajak ngomong. Lebih males lagi waktu setelah pelantikan dulu,"


"Emang apa yang terjadi?"


"He,em..." Tiba tiba terdengar suara deheman orang disebelah keduanya.


Risda dan Udin langsung menoleh kearah sumber suara, dan mereka begitu terkejut melihat sosok yang berdiri di antara kedua. Sosok ketua kelas yang sangat cerewet dan bawel tengah berdiri diantara keduanya, yakni Rania dengan ekspresi tegasnya.


"Jangan ngobrol mulu kalian! Da, cepat selesaikan tugas lo sebelum pelajaran pertama dimulai!" Perintah Rania kepada Risda.


"Salah Udin sih, Ran. Di pajek malah kagak mau bayar, katanya mau ngutang dulu. Emang gue itu bank titil apa dimintai utangan?" Tanya Risda dengan ketusnya kepada Udin.


"Gue tandain lo, Din. Bayar sekarang!" Ucap Rania.


"Gue kagak punya uang, Ran. Besok aja,"

__ADS_1


"Anjiiirrr lo, Din! Lo kata orang kaya, kok kagak punya uang? Bangkrut lo?" Risda pun mengumpat.


"Diem lo bacootttt! Udah kayak toak nganggur mulut lo itu," Udin pun menutup kedua telinganya karena berdengung lantaran ucapan Risda yang keras didekat gendang telinganya.


"Gamau tau, pokoknya harus bayar sekarang!"


Risda pun mengacungkan jari tengahnya kepada Udin dengan mulut yang mengerucut seraya menantang. Udin sendiri pun langsung menghela nafasnya dengan kasar, dan memberikan uang koin 500 an kepada Risda.


"Apa'an nih? Beli permen aja cuma dapat sebiji."


"Masih untung lah, daripada kagak dapat apa apa."


"Mending lo out aja deh dari kelas ini, cape ngomong sama lo, Din. Kagak ada habisnya,"


"Okey, bye bye."


Udin melambaikan tangannya kepada Risda sebagai salam perpisahan, dan hal itu juga membuat Risda melambaikan tangannya dengan anggunly. Udin mengerutkan keningnya ketika melihat senyuman dari Risda, akan tetapi kakinya masih tetap melangkah dengan mundur. Tiba tiba...


Bhukkkkk....


Kepalanya menabrak sebuah dada bidang milik guru olah raganya, yakni Pak Ali. Dia adalah lelaki yang tinggi sekaligus tubuhnya berisi dengan dada bidang bak roti sobek, dan hal itu dapat dilihat dari pakaian yang selalu dia pakai dan press body. Banyak sekali siswi yang terpesona melihatnya, akan tetapi guru tersebut sudah memiliki istri dan anak laki laki yang masih berusia sekitar 7 tahunan.


Karena perguruan kembang sepasang begitu terkenal akan prestasinya, Pak Ali memasukkan juga anaknya kedalam perguruan itu, meskipun anaknya masih kecil. Oleh karena itu, anaknya termasuk juga murid dari Afrenzo akan tetapi beda cabang dari cabang yang diikuti oleh Risda.


Afrenzo biasanya melatih 5 cabang sekaligus, dan benar benar menguras tenaganya di setiap hari yang dirinya lakukan. Bagaimana tidak? Disore hari kadang kala melatih ditempat Risda berlatih, setelahnya sehabis magrib lanjut ke cabang yang lain, nanti malamnya pukul 8 sudah pindah cabang lagi.


Oleh karena itu, Afrenzo terkadang sampai kelelahan dalam melatih, dan membuat tubuhnya terkadang kurang sehat. Papanya sangat membenci sistem pelatihan seperti itu, akan tetapi Afrenzo tetap kekeh untuk bisa melatih mereka karena tanggung jawab yang dirinya emban.


"Mau kemana kamu?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Pak Ali membuat lamunan Udin pun buyar seketika.


"Ah anu, Pak. Mau ke kamar mandi," Jawab Udin dengan terbata bata.


"Bohong Pak! Dia mau kabur dari kelas karena nggak mau bayar kas!" Teriakan itu keluar dari mulut Risda.


"Bisa diem nggak sih? Ucapan lo kagak bermanfaat." Balas Risda sambil menatap tajam kepada Dimas dan langsung merampas uangnya.


"Cantik sih, tapi liar kayak binatang buas," Guman Dimas lirih sambil menatap wajah Risda yang sedang menulis di buku kas.


"Lo muji gue?" Tanya Risda yang sedikit mendengar gumanan dari Dimas.


"Pede!"


"Emang gue cantik." Risda pun membanggakan dirinya sendiri, dan terlihat sombong.


"Najis!"


Pak Ali pun menatap tajam kearah Udin, dan tatapan itu berhasil membuatnya gemetaran lantaran guru itu paling ditakuti disekolahan tersebut. Udin hingga memundurkan diri agar bisa sedikit menjauh dari Pak Ali, wajah Pak Ali seketika langsung membuatnya tidak bisa bergerak.


"Tolong jangan rame ya, kelas lain masih ada pelajaran. Suara kalian bisa menganggu konsentrasi mereka!" Ucap Pak Ali dengan tegasnya.


Sekali guru itu berbicara, seluruhnya langsung terdiam seketika dan bergegas kembali menuju ke bangku mereka masing masing dengan cepat. Mendadak kelas yang tadinya sangat ramai tiba tiba berubah menjadi sunyi, Risda tidak takut dengan guru itu tapi setiap Pak Ali bersikap tegas dan langsung membuatnya seketika diam.


"Bu Ani tidak bisa masuk ke kelas untuk mengisi jam pelajaran. Jadi kalian diberi tugas untuk mengerjakan soal di buku paket halaman 132,"


"Tugas yang lain dari Bu Ani belom dikerjakan, masak ditambah lagi sih!" Seru Risda dengan berkeluh.


"Lah kalian dari tadi ngapain aja? Bel sudah berbunyi bukannya mengerjakan malah ramai aja."


Risda pun terdiam, dia bahkan tidak mendengar bahwa bel sekolah sudah berbunyi. Mungkin karena dirinya begitu sibuk berantem dengan Udin, ataukah memang kelasnya yang sangat ramai membuat pendengarannya terbatas.


"Emang sudah bunyi, ya?" Bisik Risda kepada Mira yang memang duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Nggak tau juga, coba lihat jam di hp lo," Saran Mira.


Risda pun mengendap endap mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya, dirinya pun menaruhnya di loker meja dan menekan tombol power di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, artinya sudah satu jam yang lalu bel sekolah berbunyi.


Dengan itu dirinya begitu terkejut melihatnya, Risda langsung buru buru mengeluarkan buku tugasnya dari dalam tas miliknya dan langsung menaruhnya diatas meja yang ada didepannya. Hal itu pun juga dilakukan oleh siswa yang lainnya, karena mereka merasa takut kepada Pak Ali yang terus menatap kearah satu persatu siswanya.


*****


Afrenzo berjalan diantara para siswanya yang tengah berbaris, dirinya masih melatih mereka untuk bisa bela diri sepertinya. Seluruhnya sama sekali tidak ada yang berani mengeluarkan suara selain "Ha!" Ketika melakukan serangan pukulan maupun tendangan.


Mereka terlihat takut kepada Afrenzo, bahkan meskipun tubuh mereka sakit akan tetapi tidak ada keluhan yang keluar dari mulut mereka. Entah mengapa disaat latihan saja mereka bisa menahan diri untuk tidak mengeluh, akan tetap diluar jam latihan mereka sering kali mengeluh lantaran capek yang mereka rasakan.


Seakan akan ketakutan mereka membuat mereka kehilangan rasa lelah, ketegasan Afrenzo membuat seluruhnya berpikir bahwa lelaki itu sangat kejam dan jahat. Tapi dibalik sikapnya yang seperti itu, dirinya mampu untuk memanusiakan manusia, pengertian walaupun dengan diamnya.


"Pasangmu yang bener, sekali tendang bisa terlempar dirimu," Protes Afrenzo sambil membenarkan sikap pasang seorang anak laki laki.


"Akhh..." Pekik anak tersebut ketika kakinya tiba tiba dijregal oleh Afrenzo.


Anak tersebut pun terjatuh begitu saja hingga tubuhnya hampir tengkurap ditanah, dengan cepatnya dirinya langsung bangkit kembali sambil kembali pasang seperti semula. Afrenzo terus saja memperhatikan lelaki itu dengan seksama, dari mulai bangkit hingga melakukan pasang lagi seperti semula.


Dengan peluh yang membasahi tubuh nan keningnya, anak kecil itu tak sedikitpun mengeluh karena kerasnya latihan yang dilakukan oleh Afrenzo. Bahkan dengan bibir yang bergetar lirih, lantaran menahan air matanya yang hendak menetes akibat sakit yang tengah dirinya rasakan saat ini.


"Pelatih! Pelatih!" Teriak seorang siswa senior sambil berlari ke arah Afrenzo.


"Ada apa?" Tanya Afrenzo dengan tegas nan seriusnya karena teriakan tersebut.


"Ada yang pingsan di tempat wudhu, tapi sudah dibawa Fandi ke dalam aula," Ucapnya ketika telah sampai dihadapan Afrenzo.


Afrenzo pun melakukan sikap hormat kepada senior itu, sebagai mengambil alih tanggung jawab untuk melatih ditempat itu. Senior itu hanya bisa pasrah ketika Afrenzo melakukan itu, dirinya bahkan tidak bisa menolak ataupun mengelak dari tangung jawab itu. Dan akhirnya, senior tersebut pun mau tidak mau harus melatih sebagai pengganti Afrenzo ditempat itu.


"Siapa yang pinsan sampe dia segitunya," Guman Risda pelan sambil menatap kepergian dari Afrenzo.


"Oke, kembali latihan!" Seru siswa senior kepada seluruhnya yang ada ditempat itu.


Mereka pun kembali melanjutkan latihan mereka, sementara Afrenzo langsung bergegas menuju ke arah aula beladiri. Seorang remaja lelaki tengah terbaring diatas matras dengan Fandi yang ada di sampingnya, Fandi pun mendekatkan aroma minyak kayu putih kepada laki laki yang tidak sadarkan diri itu.


"Ada apa, Fan?" Tanya Afrenzo sambil mendekat.


"Nggak tau tiba tiba sudah ditemukan dalam keadaan pinsan di tempat wudhu, sampe sekarang belom bangun juga." Jawab Fandi sambil terus mencoba untuk membangunkannya.


Afrenzo pun menyentuh denyut nadinya untuk memeriksa, denyutannya terlihat sangat lemah sehingga menyebabkan lelaki itu tak kunjung sadarkan diri dari pingsannya.


"Ambilkan peching, Fan. Untuk menjanggal kakinya, kakinya harus lebih tinggi daripada kepalanya," Ucap Afrenzo.


"Baik."


Fandi segera bergegas pergi dari tempat itu, dirinya pun mengambilkan sebuah alat yang diminta oleh Afrenzo. Dengan cepatnya dirinya pun kembali ketempat itu, dan menaruh benda tersebut dikaki remaja lelaki yang tidak sadarkan diri itu.


"Bangun Le, Ibumu sudah menunggu dirumah," Ucap Afrenzo sambil menepuk pipi lelaki itu pelan.


Cukup lama Afrenzo melakukan itu, alhasil remaja lelaki itu pun mulai membuka kedua matanya. Afrenzo pun langsung membantunya untuk duduk seraya memijat belakang kepalanya, nampak sekali bahwa remaja itu belum bangun sepenuhnya dan masih terlihat linglung setelah membuka kedua matanya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Afrenzo sambil menatap lekat lekat kepada kedua matanya.


"Nggak tau, Pelatih. Tiba tiba seluruhnya langsung gelap begitu saja," Jawabnya sambil mengingat apa yang terjadi.


"Kamu istirahat dulu, nanti biar Fandi antar pulang jika keadaanmu sudah mendingan,"


"Saya bawa motor sendiri, lalu bagaimana dengan motor saya, Pelatih?"


"Biar Kakak Kakak seniormu yang mengantarkan motormu pulang, jangan khawatir soal itu. Kondisimu lebih penting daripada itu,"

__ADS_1


"Baik Pelatih."


Bahkan lelaki itu sangat takut untuk membantah Afrenzo, sehingga dirinya hanya bisa pasrah dengan keputusan dari Afrenzo sendiri. Afrenzo pun mengambilkan air putih dan menyuruhnya untuk segera meminum setelah membaca basmalah.


__ADS_2