
Selesai latihan, Risda dan Anna tidak langsung pulang melainkan duduk duduk diparkiran sambil meminum air putih yang mereka bawa sebelumnya. Hanya tinggal berdua saja yang belum pulang, sementara lainnya sudah menuju kerumah mereka masing masing.
"Da, lo jadi ikut kan?" Tanya Anna.
"Iya iya lah, masak sih gue ngak ikut? Kan sayang sekali, orang acara itu juga gratis untuk siswa baru seperti kita kita," Jawab Risda.
Sekolah mereka akan mengadakan penyambutan peserta didik baru dengan cara studi tour, seluruh siswa baru yang masuk disekolah itu wajib untuk mengikuti acara tersebut. Acara tersebut akan diadakan minggu depan, dan tujuannya ada disebuah museum dan juga pantai sebagai liburan.
Mereka akan berangkat pukul 1 malam, sehingga seluruh siswa diwajibkan untuk menginap disekolahan sampai bus tiba. Hal itulah yang membuat Risda nampak begitu bersemangat, Risda rasanya sudah tidak sabar untuk segera menantikan acara itu tiba.
"Nanti lo duduk sama gue ya," Ucap Anna lagi.
"Tapi An, bukannya tempat duduk itu sudah ditentukan sesuai dengan kelas ya? Lo dan gue kan beda kelas," Tanya Risda sambil memicingkan sebelah matanya.
"Eh iya sih, ya udah gue sama Vina aja dah, lagian juga sekelas sama gue,"
"Nah gitu dong."
"Kalian ngak pulang?" Tanya seseorang tiba tiba kepada keduanya.
Orang itu tidak lain adalah Afrenzo yang telah keluar dari dalam aula beladiri, hal itu langsung membuat keduanya terkejut tiba tiba. Sosok Afrenzo yang tiba tiba muncul langsung membuat keduanya berteriak dengan keterkejutannya itu.
"Aaaa...." Teriak keduanya bersamaan.
Hal itu langsung membuat Afrenzo menatap tajam kepada keduanya, melihat tatapan tajam dari seorang Afrenzo semakin membuat keduanya berteriak dan berpelukan satu sama lain. Melihat itu hanya membuat Afrenzo menghela nafasnya, dan membuang muka dari keduanya.
"Maaf, Renzo. Gue pikir hantu tadi," Ucap Risda yang baru menyadari bahwa itu adalah Afrenzo.
"Pulang sekarang!" Perintah Afrenzo dengan dinginnya kepada keduanya.
"Baik,"
Risda lalu menepuk pundak Anna dengan cepat, dan dirinya langsung bergegas menuju kesepedahnya sendiri. Dengan buru burunya, kedua gadis itu langsung bergegas menjalankan sepedah motornya masih masing untuk menuju kerumah mereka, dan meninggalkan Afrenzo ditempat itu.
*****
"Tumben lo kesini sendirian, Da. Mana Wulan?" Tanya Puspita, sahabatnya yang ada disatu desa yang sama.
"Gue ngak tau," Jawab Risda dengan malasnya.
"Kalian itu kembar, kenapa bisa ngak tau? Kemana mana kan selalu berdua, kalian itu seperti Adik Kakak," Ucap Alvia, yang juga sahabatnya yang ada didesa.
4 Orang itu biasanya selalu keluar kemana mana secara bersama sama, kalaupun ada Alvia pasti ada Puspita. Begitupun juga kalau ada Risda selalu ada Wulan, kalau ada Wulan dan pasti Risda tidak pernah ketinggalan.
Didesa tersebut sudah sangat kenal dengan 4 sahabat itu, sahabat tukang buat ulah didesa. Hal itulah yang membuat semua orang mengetahui tentang eratnya persahabatan mereka, 4 sahabat yang tidak takut akan apapun itu meskipun dengan kegelapan.
Bukan hanya itu, 4 sahabat tersebut terlihat seperti seorang Ratu yang dijaga oleh beberapa lelaki didesa tersebut, memang didesa tersebut tidak banyak anak perempuan sehingga lelaki didesa itu lebih menonjol daripada perempuan.
"Kenapa lo tanya gue? Kenapa ngak tanya sekalian aja ke tuh orang? Apa pantas disebut sebagai kembaran," Ucap Risda yang nampak santai akan tetapi terlalu menyakitkan kalau didengar.
"Lo ada masalah apaan, Da? Ngak biasanya lo seperti ini, lo kalo ngak suka sama gue, ngomong!" Sentak Alvia yang merasa perkataan Risda tidak enak didengar olehnya.
"Gue ngak ada masalah sama lo, gue ngomong ya biasa aja tuh. Gue ngak ngegas atau kasar, kalo lo ngerasa omongan gue ngak enak, lo nya aja yang pikiran lo buruk," Ucap Risda dengan nada lebih panas daripada sebelumnya.
"Sudah sudah, kenapa kalian malah berantem sih? Kita nanya baik baik loh," Puspita mencoba untuk melerai keduanya.
"Tanya tuh sama temen lo sendiri," Ucap Alvia kepada Puspita.
__ADS_1
Risda hanya membuang muka dari hadapan Alvia, memang Alvia memiliki watak yang mudah tersinggung ataupun mudah marah. Mendengar ucapan Risda yang tidak mengenakkan tersebut langsung membuat emosinya meledak, tak beberapa lama kemudian Wulan pun tiba ditempat itu.
"Kalo lo ngak suka sama gue, ngomong!" Sentak Wulan yang baru saja tiba.
"Gue emang ngak suka sama lo, Lan. Dasar munafik, bangsaattt!" Umpat Risda dihadapan Wulan.
"Kalian sebenarnya ada apa sih? Kita ini sahabat loh, ngak baik kayak gitu, seharusnya kita itu saling tolong menolong. Da, Lan, kalian ada masalah apaan sih?" Tanya Puspita yang menengahi keduanya itu.
"Gue ngak suka orang yang sok baik dihadapan gue, tapi memfitnah dibelakang gue!" Ucap Risda dengan tegasnya kepada Puspita.
"Terus mau lo apaan sekarang ha!" Bentak Alvia.
"Persahabatan kita bubar sampai disini! Pidalanvia telah musnah," Ucap Risda sambil menatap tajam kearah Alvia.
Pidalanvia adalah singkatan dari nama mereka, yakni Puspita, Risda, Wulan, dan Alvia. Persahabatan mereka telah berlangsung sejak mereka berumur 6 tahun akan tetapi bubar begitu saja disaat umur mereka sudah mencapai 16 tahun. Bukan waktu yang singkat untuk memulai persahabatan itu, akan tetapi dengan mudahnya Risda mengatakan itu.
Selama ini, Risda yang telah mempersatukan mereka. Risda bagaikan perekat dalam persahabatan tersebut, akan tetapi jika Risda sudah mengatakan itu maka persahabatan itu tidak akan mampu untuk terus bersama, biar bagaimanapun juga tanpa Risda didalamnya itu adalah hal yang sia sia.
Risda yang berusaha mati matian untuk mempertahankan persahabatan tersebut, akan tetapi dirinya sendiri yang telah menghancurkannya. Sudah 10 tahun mereka bersama seperti keluarga, tapi kini semuanya telah hancur karena fitnah yang diterima oleh Risda saat ini.
"Da! Lo sadar dengan apa yang lo katakan ha? Gue ngak mau kita bubar," Ucap Puspita yang tidak terima dengan ucapan Risda.
"Lo emang gila, Da. Hanya karena keegoisan kalian berdua, lo sampai mengorbankan persahabatan kita?" Tanya Alvia yang terkejut mendengar ucapan Risda.
"Gue emang gila sejak dulu! Gue datang kemari, untuk mengakhiri semuanya sampai disini, gue udah capek dengan kalian semua," Ucap Risda dengan nada tinggi kepada Alvia.
"Lo ngambil keputusan tanpa mikir dulu, Da? Sudah 10 tahun kita bersama, berbagi suka dan duka bersama, Da. Dan hanya karena masalah lo dan Wulan, lo tega ngorbanin persahabatan ini, kita sudah bersahabat sejak SD, Da. Lo ingat itu, sekarang kita sudah SMA, bisa biasanya lo ngorbanin persahabatan kita begitu saja,"
"Gue capek urusan sama lo semua, kalian egois. Jika bukan karena gue yang selalu ngomel tentang kalian, kalian ngak bakalan sadar bahwa semuanya saling membutuhkan. Dan gue bener bener kecewa sama lo, Lan. Tega sekali lo memfitnah gue seperti itu, jangan mentang mentang gue bisa memaklumi sikap lo selama ini, jadi lo bisa seenaknya saja sama gue, Lan. Gue benci sama lo," Ucap Risda sambil menunjuk kearah Wulan.
"Gue ngak memfitnah lo, Da! Gue ngak tau apa apa soal lo, dan gue ngak tau apa yang lo katakan itu. Gue bilang kalo gue nebeng sama lo, tapi nyatanya lo ninggalin gue gitu aja,"
"Gue ngak ngomong apa apa, Da. Fitnah apa yang lo katakan? Gue ngak tau sama sekali,"
"Jangan sok bego lo! Lo kan yang ngomong ke semua orang kalo gue tukang bolos. Karena ucapan lo itu gue bertengkar dengan Nyokap gue, Lan! Lo ngak nyadar apa ha?"
"Bukan gue yang nyebarin itu, Da. Itu semua ucapan Tante gue, dan lo percaya gitu aja?"
"Ngak bakalan ada asap kalo ngak ada api, Lan. Ngak bakalan ada ucapan seperti itu tanpa lo yang ngomong terlebih dulu,"
"Terus mau lo gimana sekarang, Da?"
"Mending kita bubar sampai disini, biar ngak ada saling fitnah. Gue bosan dengernya, gue menyatakan kalo persahabatan ini sampai disini!" Ucap Risda dengan tegasnya.
"Lo penengah kami, Da. Tanpa lo bagaimana bisa kami bersama selama ini, diantara kami semua, hanya lo yang paling bijak, Da. Kalo lo pergi, persahabatan ini akan hancur," Puspita tidak menyangka dengan ucapan dari Risda.
"Bener, Da. Kalo tanpa lo, bagaimana persahabatan ini akan berlangsung?" Tambah Alvia yang memang takut akan kehilangan teman temannya itu.
"Gue ngak peduli soal itu, Pidalanvia udah ngak ada,"
Risda pun langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu setelah mengatakan hal tersebut, tak beberapa lama kemudian langsung ada pesan masuk di ponsel mereka masing masing. Bahwa, mereka telah dikeluarkan dari grub persahabatan itu oleh Risda yang selaku Admin grub.
"Risda benar benar mengeluarkan kita semua," Guman Puspita.
"Tanpa Risda, gue yakin bahwa kita bisa mempertahankan persahabatan ini," Ucap Wulan dengan yakinnya.
"Ngak bakalan bisa, selama ini kita selalu dengerin nasehatnya. Hanya Risda yang selalu merangkul persahabatan ini dengan benar, tanpa dia disini, gue juga ingin mengundurkan diri," Putus Puspita.
__ADS_1
"Gue ngak salah denger kan, Ta?" Tanya Alvia terkejut.
"Ngak, gue mau nyusul Risda saja. Lagian kalian berdua juga tidak punya perasaan, kalo bukan karena Risda, gue udah lama keluar dari persahabatan ini,"
"Pergi lo dari sini!" Usir Wulan kepada Puspita.
"Tanpa lo suruh, gue sendiri juga udah muak ditempat ini,"
Puspita langsung bergegas pergi dari tempat itu, kini hanya tinggal kedua orang itu saja. Kepergian Risda dan Puspita membuat terciptanya keheningan diantara mereka, sikap hangat Risda selama ini yang mampu untuk membuat mereka merasa nyaman.
Kepergian Risda dari persahabatan itu, membuat keheningan ditempat tersebut. Malam itu benar benar menjadi malam terputusnya persahabatan diantara mereka berempat, biasanya mereka masih bercanda gurau disebuah gubuk kecil yang telah mereka buat. Akan tetapi kali ini, hanya ada kekosongan diantara mereka, hal itu membuat Alvia merasa bosan dan memilih untuk pulang.
Bukan hanya karena keegoisan Risda saja, akan tetapi karena perintah dari Ibunya yang menyuruhnya untuk menjauhi teman temannya itu. Ibunya tidak ingin kalo Risda sampai difitnah untuk yang kedua kalinya, ditengah perjalanan air mata Risda berjatuhan.
"Maafin gue, persahabatan kita harus berakhir sampai disini. Tapi gue janji, bakalan ngelindungin kalian semua semampu gue, raga gue memang pergi, tapi gue akan berusaha untuk melindungi kalian," Guman Risda pelan.
Risda memang tidak pernah memiliki rasa dendam dengan siapapun itu, meskipun dirinya akan terlihat marah tetapi dihatinya ia masih memiliki perasaan untuk saling melindungi. Kejadian kali ini tidak akan pernah dilupakan oleh Risda, dan selamanya akan selalu membekas dihatinya.
Dia benar benar telah kehilangan teman masa kecilnya, seorang sahabat yang selalu ada untuknya, dan seorang teman tempatnya untuk meluapkan curhatannya selama ini. Disaat mereka masih menduduki bangku kelas 1 SMA, persahabatan itu pisah dan tidak akan mungkin pernah bisa disatukan kembali.
Teruntuk temanku, maafin gue ya, gue harus akhiri semuanya sampai disini. Dan maafin gue juga yang telah membuat kalian hancur, gue hanya menjalankan perintah dari Nyokap gue. Gue ngak mau jadi anak durhaka nantinya, sampai kapanpun gue akan berusaha untuk melindungi kalian, meskipun apa yang gue lakukan tidak berarti untuk kalian semua. Salam Cinta dari Risda Vanatasya Almaira.
Risda, apa yang lo lakuin kali ini benar benar telah membuat gue hancur. Karena lo, gue mengenal yang namanya minuman keras, rokok, dan bahkan menjadi seorang penikmat minuman. Gue bener bener nyesel, Da. Tapi gue sudah terlanjur kehilangan sahabat seperti lo, kembalilah, Da. Gue butuh lo yang selalu ada disamping gue. Salam Rindu dari seorang Wulan yang tak luput dari dosa.
Malam ini adalah malam berakhirnya persahabatan diantara mereka, hilangnya Risda diantara mereka membuat mereka tidak mampu untuk mempertahankan persahabatan itu. Karena ketidak adanya Risda disana membuat Wulan dan Alvia terperosok kedalam hal yang buruk.
*****
"Guys, gue ada kabar bagus nih," Ucap Rania yang masuk kedalam kelas setelah dirinya berkumpul diaula sebagai perwakilan dari kelas tersebut.
"Kabar apaan?" Tanya Mira.
"Ini tentang rencana pemberangkatan acara studi tour nanti, dan kita akan berangkat hari sabtu kesekolahan. Oh iya, tanpa biaya sedikitpun, kalian hanya tinggal siapkan uang saku buat jajan disana," Ucap Rania.
"Beneran lo, Ran? Awas aja sampai nanti disuruh bayar," Ucap Risda.
"Beneran ini woi, lo ngeraguin ketua kelas lo sendiri apa ha?"
"Santuy dong,"
"Dan kabar baik yang kedua, Bu Rita ngak masuk saat ini karena sakit, jadi kalian disuruh ngerangkum dari bab 2 sampai bab 5 dibuku paket."
"Setaan! Kabar baik macam apa tuh ha? Lo niat mau membuat tangan kita patah apa?" Umpat Risda ketika mendengarnya.
"Gila lo, 4 bab dirangkum sehari ini? Emang lo kira 1 bab hanya ada 2000 kata aja apa gimana? Lo tau sendiri kan, 1 bab itu ada sekitar 20 lembar kalo lo lupa," Ucap Mira yang berusaha menghitung kata.
"Kabar baik gimana woi? Itu kabar buruk tau!" Teriak Adam, siswa cowok yang ada dikelas itu.
"Pokoknya lo yang ngerangkumin punya gue!" Ucap Septia dengan tegasnya.
"Yang bener saja lo? 1 halaman aja gue males nulisnya, apalagi sampai 4 bab penuh, lo emang niat buat tangan gue sakit, Ran."
"Kenapa gue pilih lo dulu sebagai ketua kelas, kenapa ngak lo protes aja sih tuh Guru,"
"Seharusnya lo ngilangin kalo itu kebanyakan, lo pake nurut segala lagi,"
Satu persatu siswa mulai mempersuarakan pendapat mereka, akan tetapi hal itu hanya membuat Rania menghela nafas beratnya. Rania tidak berdaya sehingga dirinya mau tidak mau harus menuruti apa yang gurunya katakan itu.
__ADS_1
"Yang protes gue catet! Besok pagi biar dihukum sama Bu Rita sendiri!" Teriaknya karena kelelahan mendengar suara protes dari teman temannya itu.
Mendengar itu langsung membuat mereka berhenti untuk mengeluh, mereka pun dengan terpaksa harus mengeluarkan buku tulisnya sendiri. Mereka pun lalu mencatat apa yang dicatat oleh Mira dipapan tulis.