
Risda dan ketiganya pun masih merayap di parit parit itu, Risda mampu merasakan tanah lumpur yang dirinya pegangi itu terasa sangat lumer akan tetapi masih ada kasar kasarnya sedikit. Dirinya pun menjerit ketika merasakan ada yang bergerak ditangannya itu, dan langsung bergegas keluar dari sana.
"Ada apa?" Tanya senior itu kepada Risda.
"Ada yang gerak gerak didalam, Senior. Kayak ular," Ucap Risda dan langsung membuat kedua temannya juga melompar keluar dari sana.
Senior tersebut langsung merogoh sebuah senter yang ada didalam bajunya itu, dirinya pun langsung menyalagkannya untuk melihat apa yang ada disana. Terlihat ada seekor ikan yang bertengger ditepi air itu, dan hal itu langsung membuat senior tersebut melompat dan menangkap ikan tersebut.
"Jangan sembarangan nangkap ikan," Ucap seseorang dan langsung membuat keempatnya menoleh kearah yang sama.
Sosok seorang Afrenzo sudah berdiri disana sambil melipat kedua tangannya, hal itu langsung membuat keempatnya begitu terkejut, senior tersebut pun langsung melemparkan ikan itu kembali ke air yang mengalir itu.
"Ada apa pelatih?" Tanya Senior tersebut.
"Itu adalah ikan jadi jadian, ikan yang asli kalau ditangkap akan memberontak," Jelas Afrenzo.
"Benar juga sih, ikan itu sama sekali tidak memberontak ketika ditangkap,"
Menurut kepercayaan orang jaman dahulu, ada sebuah mahluk halus atau jin yang menyamar menjadi hewan, dan hewan itu disebut sebagai hewan jadi jadian.
Jin merupakan mahluk Allah SWT yang tidak memiliki jiwa dan atas kekuatan-Nya jin mampu menjelma menyerupai manusia dan hewan. Tidak jarang jin mengubah wujud dan menjelma menjadi hewan buas seperti ular dan anjing.
Akan tetapi jin ternyata juga seringkali merubah wujud dan menjelma menjadi hewan yang sering kali ada disekitar manusia, seperti kucing hitam, anjing, ular, dan bahkan hewan yang lainnya.
"Lain kali jangan nangkap apapun sembarangan, disini dekat pemakaman umum," Ucap Afrenzo dan langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu.
Mendengar itu langsung membuat Risda dan teman temannya hanya berdiam diri, Afrenzo jauh lebih menyeramkan daripada mahluk gaib sekaligus itu, yang bahkan bisa datang tiba tiba dan menghilang pun tiba tiba.
"Kembali ke air!" Perintah Senior tersebut kepada ketiganya.
__ADS_1
"Bagaimana kalo hewan itu nangkap kita? Hewan itu kan masih di dalam air, serem banget," Ucap Vina sambil merinding ketakutan.
"Lo yang jadi tumbal pertamanya, Vin. Biarlah lo yang ditangkap," Sela Affan.
"Ngak mungkin, secara kan lo kan lelaki yang turun disini, jelas hewan itu bakalan milih lo," Ucap Vina yang tidak terima.
"Bukan gue, kali aja Risda. Kan dia yang pertama kali menyentuh ikan itu,"
"Ikan itu juga bakalan takut sama gue," Pungkas Risda dan langsung kembali turun di air itu.
Entah apa yang dirinya pikirkan saat ini, disaat kedua temannya ketakutan justru dirinya terlihat sangat santai. Hal itu langsung membuat keduanya ikut serta untuk kembali turun, mereka melakukan itu karena perintah dari senior tersebut
"Da, gue beneran merinding nih," Bisik Vina kepada Risda.
"Cemen banget jadi orang," Ucap Risda dengan ketusnya.
"Iya ya gue tau, sekarang besti lo adalah pelatih, jadi lo sama sama menakutkannya jadi tidak mungkin takut dengan hal beginian. Secarakan dia lebih menyeramkan daripada hantu menurut lo,"
"Ngerilah, kan ada lo, Da. Mana mungkin kita bisa dihukum,"
"Kalo ada pemilihan regu lagi, gue akan protes jika satu regu sama lo,"
Risda pun menghela nafas kesal, bukannya dirinya yang tidak memiliki rasa takut, akan tetapi dia harus bisa melawan rasa takutnya sendiri sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Afrenzo kepadanya sebelum acara latihan malam dimulai.
Semakin kita takut dengan mereka ( mahluk gaib ) maka mereka akan semakin menakut nakuti kita sebagai manusia biasa. Derajat seorang manusia Dengan jin atau setan jauh lebih tinggi manusia, jika kita takit mereka akan semakin mengejar, begitupun dengan sebaliknya jika kita berani justru mereka yang akan takut melihat kita.
Seperti itulah yang disampaikan oleh Afrenzo kepada Risda sebelum acara latihan malam dimulai, Risda terus mengingat ingat perkataan tersebut. Memang benar jika dirinya takut maka pikiran tentang hal hal yang menyeramkan pun selalu bergentayangan didalam ingatannya.
Dirinya tidak mau bahwa rasa takutnya itu akan membuatnya tertekan karena ketakutannya akan hal hal gaib seperti itu. Dirinya mencoba untuk menguatkan mentalnya terlebih dahulu, dan menganggap semuanya akan baik baik saja nantinya.
__ADS_1
Jika dirinya tetap berada diposisi penuh dengan ketakutan, dirinya merasa bayangan bayangan yang melintas sebelumnya terus bergentayangan didalam ingatannya. Akan tetapi, ketika dirinya mencoba menguatkan mentalnya, justru bayangan bayangan sebelumnya itu pun telah lenyap begitu saja.
*****
Tak beberapa lama kemudian, mereka akhirnya telah sampai didepan sebuah gapura pemakaman yang ada disana, mereka pun langsung diminta oleh senior itu untuk berdiri dihadapan para senior yang berjaga disana.
Setelahnya senior yang mengantarkan mereka tadi langsung bergegas untuk kembali ketempat dirinya berjaga sebelumnya. Risda dan keduanya seakan akan merasa tengah mengigil dimalam itu, udara malam ini semakin bertambah dingin seiring dengan berjalannya waktu.
"Kalian regu berapa?" Tanya salah satu senior lelaki yang berjaga ditempat itu kepada ketiganya.
"Kami dari regu sepuluh, siap diuji!" Jawab ketiganya dengan serempak dan tegasnya.
"Baiklah, ujian kali ini adalah ujian nyali. Kalian harus mendapatkan sebuah bendera masing masing, kami sebagai senior telah menyebar bendera itu didalam area pemakaman. Hanya ada tiga buah bendera yang harus kalian dapat, entah bagaimanapun caranya itu,"
"Area pemakaman? Bukankah itu tempat keramat, Senior? Bagaimana kami bisa masuk kedalamnya? Tanya Risda.
"Ada aturan yang harus kalian ta'ati. satu jangan ramai, dua jangan teriak teriak, tiga jangan mengumpat atau berkata kotor, empat jangan bercanda, lima jangan mengeluh, enam jangan melompati batu nisan, dan terakhir jangan berlarian. Apa diantara kalian berdua ada yang halangan?" Tanya Senior itu sambil menunjuk kearah Risda dan Vina.
Masuk kearea pemakaman disaat halangan ( menstruasi ) itu adalah suatu pantangan yang tidak boleh untuk dilanggar, memang larangan itu tidak tertulis akan tetapi menurut sesepuh hal itu memang dilarang.
Author : Ada kejadian real yang pernah Author alami, ayah Author sudah tiada beberapa bulan yang lalu. kan waktu itu acara pengajian ke 7 harinya ayah Author, waktu itu Author bergegas tuh ke pemakaman umum untuk melihat makam ayah Author. Sesampainya disana, Kakak Author langsung berteriak histeris dan kayak ketakutan banget gitu. lalu author tanya "Ada apa, Kak?" dia jawab katanya kayak ada energi seperti sengatan listrik masuk ke tubuhnya melalui tanah dan naik keatas hingga keseluruh tubuhnya. Paman Author kan bisa melihat hal gaib tuh, dia bilang kalo penduduk yang disana tidak terima kehadiran Kakakku disana, bukan karena niatannya tapi karena dirinya halangan dan maksa untuk ikut. Boleh dijadikan pengalaman ya, nanti dibab bab terakhir akan menjelaskan tentang kejadiannya secara detail.. Heppy reading
Risda dan Vina pun saling berpandangan satu sama lain saat ini, seakan akan tatapan mata mereka penuh dengan pertanyaan entah harus mereka jawab seperti apa. Bagi mereka, pertanyaan itu adalah sebuah privasi bagi seorang wanita apalagi keduanya yang masih gadis.
"Memang ada apa, Senior?" Tanya Risda penasaran.
"Wanita yang sedang halangan, dilarang masuk kearea pemakaman, karena akan berbahaya nantinya. Apa kalian halangan?"
"Kami ngak halangan, tadi kami sholat berjama'ah juga," Jawab Risda jujur.
__ADS_1
Sebenarnya Vina bisa saja menjadikan alasan itu agar mereka tidak masik kedalam area pemakaman, akan tetapi jawaban dari Risda itu pun membuat Vina merasa sangat geram dan bahkan ingin memukul wanita itu.
"Hih kenapa nih bocah pake jawab seperti itu segala lagi, seandainya bilang halangan mah enak kagak bakalan disuruh untuk masuk!" Batin Vina menjerit karena jawaban dari Risda itu