
Sepulang sekolah, Risda dan yang lainnya tidak langsung pulang kerumah masing masing. Mereka pun tengah sibuk untuk memikirkan akan dihias seperti apa kelasnya itu, agar mereka bisa memenangkan lomba yang diadakan tersebut.
"Boleh kagak ya kelasnya dilukis?" Tanya Septia.
"Kelasnya dilukis? Apanya?" Risda tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Septia.
"Maksud gue temboknya, Da. Biar memberikan kesan yang baru gitu loh," Septia pun menjelaskan maksudnya tersebut kepada Risda.
"Gue tanya Renzo dulu,"
"Dia udah pulang kali, Da. Emang lo mau datang kerumahnya?"
"Mau. Biar ketemu sama Tante," Ucap Risda dengan semangat.
Melihat Risda yang bersemangat seperti itu, langsung membuat teman temannya menatap datar kearahnya. Giliran seperti ini aja dirinya sangat bersemangat, akan tetapi jika keadaannya beda maka dirinya paling pemalas.
"Tante siapa?" Tanya Rania yang mendengarnya.
"Tante, Nyokapnya Renzo lah,"
"Dih, emang sudah jadi Tante lo? Kayak tau namanya aja,"
"Kagak sih, buahahaha..."
Risda pun langsung tertawa dengan kerasnya, meskipun beberapa kali bertemu Ibunya Afrenzo, akan tetapi dirinya masih belum mengetahui namanya. Mendengar tawa dari Risda langsung membuat teman rmannya menatap malas kearahnya, dan sebagian langsung membuang muka dari hadapan Risda.
Risda pun langsung menghentikan tawanya itu, ketika menyadari bahwa lingkungan sekitarnya sedang tidak bersahabat dengannya. Apalagi ketika melihat tatapan mereka yang seolah olah sangat malas itu, hal itu langsung membuatnya menghela nafas kasar sambil cemberut.
Risda lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang, dirinya pun mengetikkan sesuatu dilayar ponselnya. Nampaknya dirinya pun begitu sangat serius sambil menatap layar ponselnya, entah apa yang tengah dirinya lakukan itu.
"Yaahhh... Kata Renzo kagak boleh," Risda pun terlihat kecewa dengan jawaban dari Afrenzo.
"Sudahlah, ikuti saja peraturannya," Pungkas Rania.
"Terus kita ngapain? Kalo melukis kelas kagak boleh, lalu mau dihias apa lagi?" Tanya Mira.
"Bersihkan saja kelasnya, semua barang ditata dengan rapi. Kalo kelasnya bersih dan rapi, pasti menang kok," Ucap Rania.
Memang diantara mereka, yang paling bijak adalah Rania. Akan tetapi, gadis itu pun sedikit egois karena dirinya akan mengambil keputusan jika itu menyangkut dirinya, dan dirinya juga mudah sekali marah dan ngambek.
"Baiklah. Ra, lo beli alkohol pake uang kas, buat bersihin papan tulis," Ucap Risda.
Papan tulis disekolah itu menggunakan papan putih dan sepidol, sehingga papan tersebut terlihat sedikit gelap karena sering digunakan. Sehingga Risda menyuruh temannya itu untuk membeli alkohol untuk membersihkannya, agar papan itu kembali putih seperti sebelumnya.
"Wokeh, biar gue beli sama Tia yak?"
"Adik Kakak ini selalu saja tidak mau pisah, ya udah kalian beli berdua. Sekalian beli juga tissu atau kapas buat bersihin," Ucap Rania.
"Siap Bu ketua kelas,"
Risda lalu memberikan uang kas kelas untuk membeli alkohol kepada Mira, keduanya pun langsung bergegas untuk pergi dari halaman sekolah itu untuk membeli barang yang dimaksud. Risda dan Rania lalu mengatur suasana kelas itu, dan memeriksa apa saja kekuarangannya seperti penghapus papan, alat pembersih, rak sepatu, dll.
Rania dan Risda lalu membagi tugas kepada teman temannya, untuk membersihkan kelas tersebut agar bersih dan rapi. Mereka pun melakukan tugas tersebut bersama sama, sebagian dari mereka pun ada yang keluar sekolah untuk membeli peralatan yang kurang lengkap disana.
*****
Hari ini latihan beladiri sedang diliburkan, karena adanya acara menghias kelas sehingga Risda tidak ikut latihan. Akhirnya papan kelas tersebut sudah kembali putih, dan memang sangat sulit untuk bisa membersihkannya agar bersih sempurna.
Dua orang wanita tengah duduk dipojok kelas dengan bersandarkan tembok kelas, keduanya menghisap batang rokok secara bergantian. Disaat yang lainnya tengah sibuk membersihkan papan tulis, justru kedua gadis itu tengah santai.
"Eh anjiirr, ngapain lo jil*t? Itu alkohol bukan es," Ucap Mira dengan hebohnya.
Mendengar suara Mira yang sedikit keras itu, langsung membuat Risda dan yang lainnya menoleh kearahnya. Mira kini tengah berdiri dihadapan Wulan dan juga Kartika, melihat itu langsung membuat Risda mendekat kearah Mira.
"Ada apa, Ra? Kenapa ribut ribut?" Tanya Risda kepada Mira.
"Ini loh, Da. Keduanya tadi menjil*t alkohol loh dan ngerokok lagi,"
__ADS_1
Risda pun sangat terkejut mendengarnya, dirinya pun langsung menatap tidak percaya kearah Wulan. Sejak kapan gadis itu mulai merokok dan minum? Selama dirinya berteman, gadis itu tidak pernah melakukan hal tersebut.
"Lan, apakah itu..." Ucap Risda lirih.
"Jangan ikut campur urusan gue lagi, Da. Gue nggak butuh nasehat dari lo," Jawab ketus Wulan.
Belum sempat Risda berbicara, akan tetapi Wulan langsung menjawabnya dengan ketus. Jawaban itu sangat tidak mengenakkan bagi Risda, akan tetapi hal itu tidak cukup mampu untuk bisa membuatnya sakit hati.
Risda tidak mempercayai apa yang dirinya lihat, pertengkaran keduanya berujung pada Wulan yang berubah. Selama berteman dengan Risda, gadis itu sangat penurut, ramah, baik, dan bahkan selalu bersikap sopan.
Sikapnya itu berbeda jauh dari apa yang Risda kenal, gadis itu seperti tengah masuk kedalam dunia gelap. Wulan kini sering bolos sekolah, ngerokok, dan masuk kedalam pergaulan yang salah.
"Gue nggak nyangka kalo lo kayak gitu, Lan. Baru kali ini gue nyesel kenal orang kayak lo," Ucap Risda dengan kecewanya.
"Bac*t lo, Da. Gue jauh lebih nyesel kenal orang munafik kayak lo, gue benci sama lo, Da. Hidup gue hancur gara gara lo,"
Wulan terus menyalahkan Risda dengan apa yang terjadi kepadanya. Memang sejak keduanya bertengkar, Wulan tidak lagi sama seperti dulu. Risda tidak menyangka bahwa gadis itu berubah total, dan dirinya saja hampir tidak mengenalinya.
"WULAN!" Bentak Risda dengan kerasnya.
Mendengar bentakan itu, hal itu langsung membuat Mira berdiri dihadapan Risda. Dirinya tidak ingin kalau Risda dan Wulan membuat keributan didalam kelas itu, apalagi baru kali ini Risda terlihat begitu marah.
Kedua kalinya Risda terlihat marah seperti itu, pertama karena bekalnya jatuh berantakan dan sekarang karen temannya itu. Mereka tau kalau Risda sudah marah, maka untuk menyetabilkan emosinya kembali akan sangat sulit.
"Sudah. Jangan bertengkar lagi," Ucap Mira sambil memegangi pundak Risda.
Mendengar keributan itu, langsung membuat teman teman Risda berkumpul mengelilinginya. Entah mengapa kali ini Risda terpancing emosi begitu saja, dirinya menatap nyalang kearah Wulan begitupun sebaliknya.
"Da. Tenangin diri lo, nggak semua masalah bisa diselesaikan dengan emosi, kita bisa bicarakan semuanya baik baik. Kalian dulunya juga sahabat, bagaimana bisa sesama sahabat mengambil keputusan dengan emosional?" Sela Septia.
Risda pun memejamkan matanya, tidak seharusnya dirinya emosi seperti ini. Risda mencoba untuk menenangkan amarahnya, karena semuanya tidak akan selesai dengan emosi bahkan akan semakin parah kedepannya.
"Gue bilangin sama lo sekali lagi, Da. Jangan pernah ikut campur urusan gue lagi, gue dan lo sudah nggak ada hubungan apa apa. Hidup gue itu urusan gue, dan lo nggak berhak ikut campur dalam urusan gue. Paham lo!" Ucap Wulan dengan tegasnya.
"Oke fine. Gue nggak akan pernah ikut campur dalam urusan lo lagi, Lan. Gue nggak peduli jika lo menyesali semuanya nanti, penyesalan hanya ada diakhir bukan depan. Lo bakalan tau akibatnya apa," Jawab Risda dengan tegasnya.
"Terserah, gue nggak peduli."
Setelah mengucapkan itu, Risda langsung pergi dari tempat itu sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Dirinya sama sekali tidak menyangka jika Wulan akan hancur seperti itu, bahkan dirinya dengan beraninya menghisap rokok dihalaman sekolahan itu.
Karena sudah pulang sekolah, sehingga tidak ada guru disekolahan itu. Perasaan penyesalan didalam hati Risda pun muncul, dirinya menyesali apa yang telah ia lakukan sehingga Wulan berubah seperti itu.
Seandainya dirinya tidak mendengarkan Ibunya untuk menjauhi Wulan sebelumnya, mungkin Wulan tidak akan salah jalan seperti ini. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur, dan penyesalan itu memang selalu ada dibelakang bukan didepan.
"Lo mau kemana, Da?" Tanya Mira yang mengejarnya.
"Pulang."
Risda berpikir bahwa pulang adalah jalan terbaik untuk saat ini, daripada tetap berada dikelas itu dan berdebat dengan Wulan. Teman temannya paham dengan suasana hati Risda saat ini, sehingga mereka membiarkan Risda untuk pulang lebih awal daripada yang lainnya.
"Maafin gue, Lan. Tidak seharusnya gue ninggalin lo waktu itu, seharusnya kita berjalan bersama sama untuk saling mengingatkan kebaikan bukan jalan sendiri sendiri seperti ini. Gue menyesal, sangat menyeslinya, Lan. Jika gue telah menghancurkan kehidupan lo, gue memang layak untuk tidak mendapatkan kebahagiaan. Bukankah ini adil, Lan? Gue tidak pantas bahagia, karena gue telah menghancurkan kehidupan lo,"
Risda berjalan seorang diri di lorong sekolahan itu, air matanya beberapa kali terjatuh hingga membuatnya langsung mengusapnya menggunakan tangannya. Dirinya masih tidak percaya bahwa Wulan akan berbuat hal seperti itu, apalagi dia adalah seorang wanita.
*****
Risda menatap wajahnya disebuah cermin yang ada didalam kamarnya, kedua matanya terlihat sembab karena habis menangis. Selesai mandi dan membersihkan tubuhnya, dirinya langsung masuk kedalam kamarnya.
"Halo, Mbak..." Ucap Risda sambil mengangkat ponselnya.
"...."
"Hanya Mbak harapan terakhirku, tolong jaga Wulan ya?"
"...."
"Bukannya begitu, Mbak. Tolong awasi pergaulannya, aku hanya takut dia sampai salah pergaulan. Mbak tau sendiri kan hubunganku dengan Wulan gimana? Aku akan kasih info terus kepada Mbak, tapi jangan beritahu Wulan kalo aku yang ngasih tau."
__ADS_1
"....."
"Terima kasih, Mbak."
Risda lalu mematikan ponselnya, dirinya pun meletakkannya didepannya. Setelah mengobrol dengan seseorang disebrang sana, dirinya merasa sangat sangat lega daripada sebelumnya.
Risda pun bangkit dari duduknya, dirinya ingin mengisi perutnya karena merasa lapar. Risda langsung bergegas untuk menuju kerumah neneknya yang ada disebelah rumahnya itu. Akan tetapi, sampainya disana, dia tidak melihat adanya lauk sama sekali.
"Gue laper banget lagi, uang gue tinggal dikit juga. Kalo gue beli nasi, terus besok gue nggak jajan dong? Kalo besok kagak masak lagi, lah gue harus makan apa?" Gumannya lirih.
Tantenya sendiri juga jarang masak, bahkan kalau masak hanya ketika moodnya baik saja. Sementara Neneknya biasanya hanya menggoreng tempe sebagai lauk, kadang kala hanya berlaukkan kerupuk saja.
Tante dan juga Om nya, keduanya sama sama bekerja dan menghasilkan uang. Akan tetapi, keduanya pelit bahkan dengan orang tua sendiri, Nenek dan Kakeknya yang tidak bisa bekerja itu terpaksa harus menggantungkan nasibnya dengan anak perempuan yang keduanya ikuti itu.
Risda hanya dijatah uang mingguan sebanyak seratus ribu, cukup tidak cukupnya untuk hari harinya hanya Risda sendiri yang menanggung. Bahkan Ibunya tidak memberinya uang lebih, jika uangnya habis sebelum diberi lagi maka dirinya akan kena omelan yang panjang dan lebar.
Jika Risda meminta uang lebih, maka Ibunya sendiri yang heran mengapa uang milik Risda cepat habisnya. Bukannya dikasih, justru Risda akan diomeli karena memboroskan uang yang diberi olehnya itu.
Meskipun Risda tinggal bersama orang orang terdekatnya, akan tetapi rasanya dirinya seperti tinggal sendirian. Risda tidak pernah menceritakan apapun yang dirinya alami kepada Ibunya, karena dia tau akibatnya jika dirinya bercerita.
Risda tidak ingin membebani orang yang ada disekitarnya, jika dirinya sudah sangat kepepet barulah dirinya meminta kepada Ibunya. Tidak heran mengapa dirinya memiliki penyakit magh karena pola makannya, apalagi dirinya makan nasi hanya sekali dalam sehari, dan itupun kalau sempat saja kalau tidak?
Yang Ibunya tau, Risda makan rutin setiap harinya karena dirinya memercayai apa yang dikatakan oleh orang rumah. Nyatanya? Bahkan dirinya seperti orang kesusahan, hanya untuk makan saja dirinya kesulitan.
Bukannya Risda yang boros, akan tetapi uang yang Risda miliki kadang digunakan untuk beli nasi. Risda jarang sekali jajan, uang yang diberikan oleh Ibunya digunakan untuk membeli bengsin, keperluan sekolah, dan juga kadang membeli makan.
"Yaahh.. Harus puasa sampe besok, fisik tolong kondisikan ya, jangan sampe tumbang lagi," Ucap Risda pada dirinya sendiri.
Risda pun bergegas kembali kerumahnya dan masuk kedalam kamarnya. Malam ini dirinya tidak akan bisa tidur lagi, karena perutnya pasti akan memberontak untuk meminta diisi. Afrenzo pernah mengatakan kepadanya, kalau ada apa apa langsung hubungi dirinya, akan tetapi Risda tidak ingin merepotkannya lagi.
Risda merasa tidak enak jika harus sering sering merepotkan orang lain, apalagi dirinya tidak ingin menjadi beban yang lainnya. Dengan terpaksa, dirinya harus tidur dengan kondisi kelaparan, dan jangan heran dengan postur tubuhnya yang kurus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
......***Teruntuk bunda tercinta......
Maafin diriku yang tidak pernah jujur selama ini, aku hanya tidak ingin membuat kalian semua khawatir tentang diriku. Mungkin melalui kisah ini, kalian akan tau apa yang aku alami.
Bunda...
Bukannya aku tidak bersyukur atas jatah mingguan yang kamu berikan, dan selalu meminta lebih daripada apa yang diberikan. Disatu sisi aku hanya lapar karena tidak ada nasi yang bisa aku makan. Bunda bekerja siang malam tanpa mengetahui apa yang dilalui oleh anakmu, selalu marah ketika uangnya habis dan mengatakan bahwa anaknya boros.
Bunda...
Yang aku lalui dalam hidup ini, Bunda tidak akan pernah tau tentang diriku. Bunda hanya mengontrol diriku melalui ponsel, tapi tidak dengan apa yang aku lalui. Rasanya ingin mati, karena tidak tahan dengan apa yang dirasakan, mereka semua jahat sama diriku dan tidak ada yang benar benar tulus kepadaku.
Bunda...
Mungkin diriku hanya bisa mengabadikan kisah ini disebuah novel, umur seseorang tidak ada yang tau. Jika suatu saat Bunda rindu dengan anakmu, maka bacalah tulisan ini, karena setiap hembusan nafasnya tertulis didalam sini.
Bunda...
Maafkan aku, aku belum bisa menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua. Melalui ketikkan ini aku meminta maaf yang sebesar besarnya, aku ingin kisahku abadi dan banyak orang yang bisa mengambil pelajaran dari ini.
Bunda...
Aku sangat menyayangimu lebih dari nyawaku, begitu banyak rahasia yang aku simpan sendirian agar hatimu tidak terluka. Jika suatu saat aku tiada, ketikkan ini masih akan tetap abadi, jika rindu dengan anakmu maka bacalah kisahnya berulang ulang kali.
Bunda...
Setiap hembusan nafas ini, perlahan lahan semakin berkurang dan mendekat dengan ajal, kita tidak akan tau hidup dan mati seseorang sampai mana. Jika diri ini sudah tidak sanggup menahan semua luka yang ada, maka biarkanlah dia pergi untuk menuju kealam keabadian sang pencipta alam semesta dengan tenang.
Salam sayang, anak tercintamu Riske julia
Hanya bisa bercerita disini, bukan di real live
Aku baik baik saja kok, Bunda. Jangan khawatirkan diriku secara berlebihan***.
__ADS_1