
Risda terus berlari memutari lapangan yang luas itu, dirinya sama sekali tidak berhenti untuk terus berlari. Hingga diputar ke 25 kepalanya terasa sangat pusingnya, ia pun menghentikan larinya itu, ia tidak mempedulikan teriakan dari guru tersebut.
Risda memegangi kepalanya yang terasa sangat berat, kedua matanya mulai berkunang kunang saat ini. Sepersekian detik kemudian tubuhnya terjatuh tidak sadarkan diri ditempat tersebut, melihat itu langsung membuat guru wanita itu berlati ke lapangan untuk menghampiri tubuh Risda yang terbaring tidak sadarkan diri.
"Risda!" Teriak seseorang.
Wajah Risda terlihat sangat pucat saat ini, seseorang itu langsung mengangkat tubuh Risda dan membawanya pergi menuju ke UKS. Seseorang itu tidak lain adalah Afrenzo yang tidak sengaja melihat kejadian tersebut, ia terlihat sangat panik sambil menggendong tubuh Risda.
Afrenzo dengan perlahan lahan langsung membaringkan tubuh Risda diatas bangkar yang ada diruangan UKS, dirinya pun melepaskan sepatu Risda dan mengendorkan sabuk yang ada dipinggang Risda.
"Ada apa ini, Bu?" Tanya Afrenzo kepada guru wanita yang mengikutinya itu.
Guru wanita tersebut pun menjelaskan semuanya kepada Afrenzo, Afrenzo mengerutkan keningnya mendengar penjelasan dari guru itu. Risda yang memang kelihatan kurang sehat sejak kemarin itu pun diduga kelelahan karena berlari, sehingga membuatnya tidak sadarkan diri.
"Bagaimana anda bisa menghukum seperti itu? Dia memang salah, tapi sebelum menghukum tolong pastikan kondisinya terlebih dulu," Ucap Afrenzo dengan cemasnya.
Afrenzo tidak pernah merasa cemas seperti ini, jika itu bersangkutan dengan Risda maka dirinya tidak bisa tenang melihat gadis itu yang terbaring tidak sadarkan diri. Guru tersebut pun merasa bersalah karena menghukum siswanya seperti itu, dan dirinya pun dipanggil keruangan kepala sekolah.
Diruangan UKS itu sekarang hanya ada Afrenzo dan beberapa anak magang disekolahan itu untuk menyadarkan Risda. Tak beberapa lama kemudian, masuklah keempat sahabat Risda diruangan itu, yakni Rania, Septia, Mira, dan Nanda.
"Da, lo kenapa?" Tanya Mira kepada Risda yang belum sadarkan diri.
"Da, bangun dong!" Rania pun mengoyang goyangkan tubuh Risda untuk menyadarkan gadis itu.
"Da, kenapa lo bisa kayak gini sih?" Septia mengenggam erat jemari tangan Risda.
"Sebaiknya kalian keluar saja dari sini, bikin rusuh aja!" Usir Afrenzo kepada keempatnya.
Afrenzo pun menarik lengan tangan Rania dan Mira, keduanya lalu didorong olehnya untuk keluar dari ruangan tersebut, tak lupa juga Septia dan Nanda yang ikut serta didorong oleh Afrenzo keluar dari ruangan tersebut. Dirinya pun langsung mengunci ruangan itu dari luar, dan dirinya kini tengah berhadapan dengan keempat orang itu.
"Lo apa apa'an sih, kita hanya memastikan kondisi Risda saja kok!" Teriak Rania yang tidak terima diusir begitu saja oleh Afrenzo.
"Iya nih, lagian Risda itu besti kita tau ngak? Beraninya lo ngusir kita dari dalam,"
"Gue mau nemenin Risda, minggir lo dari pintu!"
"Risda temen kami! Kami tidak terima jika diusir seperti ini."
Afrenzo pun menatap tajam kearah keempatnya, sikap dinginnya itu mulai keluar dari dalam tubuhnya. Hanya dengan tatapan saja, hal itu langsung membuat keempat diam tanpa ada kata kata yang keluar, mumgkin karena sangking tajam dan menyeramkannya wajah Afrenzo, sehingga membuat mereka diam begitu saja.
"KEMBALI KE KELAS!" Bentak Afrenzo kepada keempatnya.
Mendengar bentakkan yang belum pernah mereka dengar itu pun langsung membuat mereka melangkahkan kakinya untuk mundur beberapa langkah. Afrenzo memang tidak suka untuk dibantah, bahkan bercanda saja dirinya tidak mampu untuk melakukan itu.
Jadi wajahnya itu selalu nampak begitu serius, dan tidak ada kata bercandaan disetiap hari harinya. Afrenzo sendiri tidak pernah main main dengan ucapannya itu, apalagi dirinya adalah ketua OSIS yang harus tegas kepada siswa lainnya agar tetap disiplin.
"Ran, ayo pergi dari sini, gue merinding banget. Ayo Ran!" Ucap Mira lirih sambil memegangi pergelangan tangan Rania.
"Lalu gimana soal Risda, Ra?" Tanya Septia yang berpegangan pada baju Nanda.
"Nanti aja kalo dia sadar, sekarang pergi yuk!"
Mira langsung menarik tangan Rania untuk bergegas pergi dari tempat itu, dirinya benar benar merasa merinding ketika melihat tatapan tajam dari Afrenzo. Sementara Risda mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara suara bising dari luar ruangan tersebut.
"Mbak sudah sadar?" Suara seseorang yang terasa begitu dekat dengan Risda saat ini.
Perlahan lahan, Risda mulai membuka kedua matanya. Dirinya melihat lingkungan yang ada disekitarnya, dan terlihat beberapa anak PKL yang sedang ada didalam ruangan tersebut.
"Diluar ada apa'an sih? Kenapa rame banget?" Keluh Risda dengan suara pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
__ADS_1
"Biarkan saya menenagkan mereka ya, Mbak?" Tanya anak PKL tersebut.
Risda pun hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil terus memegangi kepalanya yang terasa pusing itu. Tak beberapa lama kemudian, keributan diluar pun nampak begitu sepi, dan datanglah seorang pemuda masuk kedalam UKS dengan dua orang anak PKL.
Melihat Afrenzo yang masuk kedalam ruangan itu, langsung membuat Risda bergegas untuk bangkit dan duduk ditepi bangkar. Afrenzo lalu menyodorkan sebotol air putih kepada Risda, dan langsung diminum oleh Risda.
"Gue antar pulang, ya?" Tanya Afrenzo yang melihat wajah pucat Risda.
"Ngak usah, gue ngak papa kok."
"Gue udah izin untuk membawa lo pulang dari sekolahan,"
"Ngak usah, Renzo. Gue ngak papa, lagian gue juga bukan cewek lemah,"
"Risda..."
"Kenapa lo maksa banget sih? Apa lo ngak tau perasaan gue gimana? Kalo gue pulang, gue ngak mau buat Nyokap gue khawatir nantinya. Jelas dia yang paling heboh ketika tau gue sakit," Potong Risda sebelum Afrenzo melanjutkan perkataannya. Kedua mata Risda pun nampak berkaca kaca saat ini, dirinya tidak suka jika dipaksa paksa seperti itu.
"Demi kebaikan lo, Da. Lo harus istirahat,"
"GUE NGAK PAPA, RENZO!" Bentak Risda dengan kedua mata yang sudah banjir air mata, "Gue masih ingin sekolah, tapi kenapa lo maksa banget untuk nyuruh gue pulang sih? Jika lo maksa maksa begini, gue makin ngak nyaman deket sama lo,"
"Terserah lo, gue antar ke kelas."
Afrenzo pun membantu Risda untuk turun dari atas bangkar, Risda lalu bergegas keluar dari UKS dan dirinya diikuti oleh Afrenzo dibelakangnya. Keduanya pun berjalan sambil bersebelahan untuk menelusuri lorong yang ada disekolahan itu, hal itu langsung membuat perhatian siswa yang dilewati oleh keduanya terarah kepada Risda dan Afrenzo.
"Renzo," Panggil Risda.
"Hem?" Jawabnya hanya dengan berdehem saja.
"Gue tadi ngerasa semuanya gelap, telinga gue rasanya seperti mendengung didalam sebuah lorong yang gelap tanpa cahaya dan tanpa berujung. Gue sama sekali ngak ngerasain apa apa, ada suara yang terus memanggil nama gue. Tapi gue cari ngak ada siapa siapa," Ucap Risda sambil teringat disaat dirinya masih pingsan.
"Tapi gue denger dengan jelas, dan akhinya gue denger keributan diluar UKS. Rasanya suara itu seperti gemuruh dari kejauhan,"
"Itu hanya pingsan, belum mati. Anggap saja itu sebuah peringatan dari Allah, agar lo bisa ngehargain hidup lo sendiri, tanpa adanya mengeluh dalam menjalani hidup. Terputusnya saluran oksigen ke otak beberapa saat itu, membuat kesadaran lo hilang."
"Apa seperti itu rasanya mati?"
"Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut seperti menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh, sehingga bagi orang yang sedang sekarat merasakan bahwa dirinya ditarik tarik dan dicabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dan dari setiap akar rambut serta kulit kepala hingga kaki. Bahkan Nabi Muhammad saja sampai menangis dan memohon kepada Allah, meminta agar umatnya tidak merasakan sakitnya ketika nyawa dicabut."
"Apa itu benar?"
Pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh Afrenzo, Afrenzo langsung mengusap kepala Risda dengan pelannya. Risda masih tercengang dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo itu, Afrenzo lalu menerbitkan sebuah senyuman kepada Risda.
"Hidup itu jangan menginginkan mati, hidup itu jangan mencari mati, hidup itu jangan takut mati, tapi hiduplah untuk mati. Apalagi dengan bunuh diri, memang raga kita telah mati akan tetapi tidak dengan jiwa kita, karena apa? Karena belum takdirnya untuk mati. Arwah seperti itu biasanya tidak akan merasa tenang,"
"Maafin gue sebelumnya ya?"
"Iya."
Cowok itu benar benar mengantarkan dirinya sampai dikelasnya, bahkan sampai Risda sampai dibangkunya sendiri. Risda pun melihat teman temannya yang sedang mengobrol didalam kelas itu, entah apa yang tengah mereka obrolkan sehingga nampak begitu serius.
"Risda! Lo ngak papa kan?" Tanya Mira ketika melihat kedatangan Risda diruang kelas itu.
Mira pun langsung memeluk tubuh Risda dengan kencangnya, dirinya merasa sangat senang ketika melihat Risda sudah sadarkan diri. Risda pun mengusap pelan punggung Mira yang tengah memeluknya itu, ia pun tersenyum tipis saat ini.
"Gue ngak papa kok, gue tadi hanya kecape'an saja, dan sekarang gue udah baik baik saja, kalian tadi yang bikin keributan didepan UKS ya?" Tanya Risda.
"Iya Da, lo tau ngak? Si Rinso itu loh yang ngusir kita dari sana, pake ngebentak segala lagi. Bikin jantung ngak tenang," Gerutu Septia.
__ADS_1
"Kalian dibentak?" Tanya Risda yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Septia, dan sambil melepaskan diri dari pelukan Mira.
"Beneran, sayang sekali ngak ada yang ngerekam tadi, Da. Seandainya ada, mungkin lo pasti langsung percaya dengan kita,"
"He,em!" Deheman dari seseorang dan langsung membuat ketiganya menoleh kearah sosok pemuda yang tengah menyandarkan tubuhnya dipintu ruang kelas tersebut.
Melihat adanya Afrenzo disana langsung membuat ketiganya menutup mulut mereka masing masing dengan kedua tangannya, sosok tersebut terlihat sangat menyeramkan dengan wajah datarnya tanpa ekspresi itu.
Risda merasa bingung dengan ketiga temannya itu, mereka seakan akan tengah melihat hantu saja. Risda lalu menoleh kearah dimana mereka menatap, ia pun merasa biasa saja ketika Afrenzo menatap kearah mereka dengan tatapan dingin.
"Lo masih disini?" Tanya Risda sambil memincingkan sebelah alisnya.
"Duduk!" Perintah Afrenzo.
Risda pun langsung duduk dibangkunya dan diikuti oleh teman teman yang lainnya. Melihat itu langsung membuat Afrenzo membalikkan badannya untuk menuju kekelasnya kembali. Risda menatap kepergian dari Afrenzo dengan senyuman tipis, ia sama sekali tidak paham jalan pikiran orang itu.
"Da?" Tanya Mira sambil melambai lambaikan tangannya didepan wajah Riada, karena gadis itu seperti tengah melamun.
"Nganggu gue aja, lo!" Teriak Risda sambil menyingkirkan tangan Mira dari hadapannya.
"Ngak usah segitunya kali ngelihatin tuh cowok, gue ngerasa cemburu kalo lo lebih dekat dengan cowok itu daripada gue, Da. Lo emang ngak pernah tau perasaan gue itu seperti apa," Keluh Mira.
"Najis! Lo dan gue itu sama sama cewek anjaay! Sadar lo, Ra. Otak lo emang agak konslet atau gimana sih, Ra? Jangan sampai tangan gue melayang gara gara ucapan lo itu,"
"Ya ampun, Da. Lo baperan banget sih jadi orang, maksud gue ngak gitu juga kali, gue juga masih waras dan bisa membedakan mana cowok dan cewek."
"Maksud lo apa'an cemburu sama gue kalo dekat dengan Renzo daripada lo? Kalo lo suka sama Renzo, mending lo dekati dia, bukan ngomong ke gue."
"Kan lo nya salah pahaman mulu deh jadi orang, Da. Maksud gue itu gini, gue merasa ngak enak kalo lo lebih dekat dengan Renzo, daripada dengan teman teman lo yang ada dikelas ini tau. Gue ngerasa lo lebih dekat dengan lelaki itu daripada kita kita,"
"Ngak seperti itu lah, kalian juga berarti bagi gue kok. Kalian adalah besti gue yang paling the best deh pokoknya,"
"Lalu kenapa Renzo lebih tau tentang lo daripada kita? Lo bahkan sangat tertutup dengan perasaan lo sendiri dan tidak membiarkan kita tau. Tapi dengan mudahnya, Afrenzo tau semuanya tentang lo,"
"Gue ngak pernah cerita kepada siapapun bukan berarti gue nganggap siapapun yang ada didekat gue itu ngak ada. Gue tau setiap orang punya masalahnya masing masing, dan gue ngak mau kalian justru terbebani dengan masalah gue. Gue sendiri aja ngak bisa ngehadapi apalagi kalian yang memang punya masalah sendiri,"
"Tapi dengan cerita, siapa tau beban hidup lo akan sedikit berkurang, Da. Dan kami bisa memberikan solusi untuk masalahmu itu,"
"Gue ngak ingin jadi beban untuk kalian, kalian hanya perlu lihat gue tersenyum saja. Untuk soal sedihnya, biar gue yang hadapi sendiri,"
"Da...."
"Ra, hargai privasi orang ya? Ada masalah yang memang tidak perlu kalian ketahui, yang kalian perlu tau adalah masalah itu sudah hilang."
"Iya, Da. Gue paham kok, maafin gue ya? Karena maksa lo untuk cerita kepada gue, gue merasa gue ini ngak berarti bagi lo. Dan lo lebih memilih untuk bercerita dengan Afrenzo daripada gue,"
"Bercerita apa maksud lo, Ra? Gue sama sekali ngak paham dengan ucapan lo,"
"Tadi gue denger suaranya dikantor kepala sekolah. Dan dia bilang bahwa lo memang sakit dari kemaren, sehingga dia tidak terima jika lo dihukum seperti sebelumnya itu, hingga lo ngak sadarkan diri. Gue ngerasa bahwa Renzo lebih tau tentang lo, daripada gue yang sudah lo anggap sebagai sahabat sendiri."
"Ra, wajar lah dia berkata seperti itu. Lo tau sendiri kan bahwa dia adalah pelatih beladiri? Apapun soal kondisi fisik, dirinya tau tentang itu. Dia juga tau seberapa besar kekuatan seorang manusia, dan batas akan kekuatan itu. Sehingga dia bisa melatih siswanya dengan baik,"
"Gue tau, Da. Tapi kalo ada apa apa lo harus ngomong ke gue, jangan ada yang lo rahasiakan dari gue mulai saat ini, Da."
"Insya Allah, mendengar lo beekata seperti itu saja sudah membuat gue ngerasa bahagia, lo memang baik, Ra. Tapi juga bangsaat i, aneh tapi nyata,"
"Da!! Kok lo gitu sih!" Sentak Mira.
Mendengar itu hanya membuat Risda tertawa dengan kerasnya, tak beberapa lama kemudian masuklah seorang guru kedalam kelas itu. Mereka pun akhinya memulai pelajaran yang telah memasuki jam ke 5, Risda lalu mengeluarkan bukunya dan diikuti oleh yang lainnya.
__ADS_1