Pelatihku

Pelatihku
Episode 113


__ADS_3

Risda terbangun dari tidurnya dengan kedua mata yang sudah membengkak, semalaman dirinya menangis pilu karena uangnya hilang. Dirinya masih terus memikirkan tentang itu, meskipun Afrenzo sudah mengatakan bahwa dirinya boleh menggunakan uang itu terlebih dulu.


"Da, lo kenapa?" Tanya Mira ketika tidak sengaja bertemu dengan Risda diparkiran sekolah.


"Gue ngak papa," Jawab Risda sambil membuang muka dari hadapan Mira.


"Mata lo bengkak banget, Da. Habis disengat lebah?"


"Bukan urusan lo, mending langsung kekelas aja. Gue masih ngantuk dan pengen tidur dikelas,"


"Ya elah, Da. Lo ini sekolah niatnya cari ilmu atau tidur dikelas?"


"Tidur!"


Risda pun langsung melangkah meninggalkan Mira disana. Mira pun langsung bergegas untuk menyusulnya, tanpa sengaja keduanya berpapasan dengan sosok Afrenzo yang berjalan dari arah yang berlawanan.


Afrenzo pun tengah berjalan dengan Pasya, teman sekelasnya itu. Pasya sepertinya sedang membahas sesuatu dengan Afrenzo, keduanya langsung berhenti didepan Risda yang juga berhenti ketika melihat Afrenzo.


"Wajah lo kenapa?" Tanya Afrenzo.


Pasya begitu terkejut melihat cowok itu sepertinya begitu perhatian dengan Risda. Tidak biasanya Afrenzo peduli dengan seorang wanita, apalagi memerhatikan wanita sedetail itu.


"Gue ngak papa," Jawab Risda tidak berani menatap kearah Afrenzo.


"Masih memikirkan soal itu?"


Pasya semakin bingung dibuatnya itu, Mira pun demikian karena dirinya juga tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Afrenzo itu. Mira pun menatap ke arah Risda dengan penuh tanda tanya, masalah apa yang dirinya tidak ketahui tapi Afrenzo mengetahuinya.


"Masalah apa, Da? Kok lo ngak pernah cerita ke gue apapun," Tanya Mira.


"Udah ah, jangan bikin gue badmood pagi ini,"


Risda pun langsung berlalu pergi meninggalkan mereka, sangat malas untuk membahas soal itu dipagi seperti ini. Risda terlihat sangat kesal saat ini, dirinya benar benar merasa pening saat ini dan tidak mau memikirkan apapun tentang uangnya itu.


"Da, tungguin gue napa sih," Teriak Mira sambil mengejarnya.


Afrenzo yang melihat kepergian dari Risda pun terlihat bingung, meskipun wajahnya datar akan tetapi pikirannya terlihat bingung. Apa yang dilakukan dan apa yang dirasakan itu jauh berbeda, wajahnya seolah olah tidak peduli tapi perasaannya sangat peduli.


"Kenapa tuh cewek? Pagi pagi sudah marah marah mulu, lagi PMS mungkin," Guman Pasya tapi mampu didengar oleh Afrenzo.


"Sudahlah lupakan itu ayo segera ke lapangan sekarang," Ajak Afrenzo kepada lelaki itu.


Keduanya langsung bergegas pergi dari tempat itu, kalau Risda sudah badmood maka semuanya akan terlihat salah dimatanya. Nanti saja mengurus soal Risda, yang terpenting saat ini adalah tugasnya sebagai ketua OSIS.


*****


"Nih anak datang datang udah molor aja," Ucap Rania yang mendapati bahwa Risda tengah tertidur didalam kelasnya.


Risda benar benar sekolah hanya tujuannya untuk tidur bukan belajar. Setibanya dirinya dikelasnya, Risda langsung meluruh ke bangkunya dan memejamkan matanya, dirinya masih belum bisa untuk tenang karena terus memikirkan uangnya itu.


Semalaman Risda memang tidak bisa tidur, bahkan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi sekalipun dirinya belum bisa untuk tidur. Oleh karena itu, dirinya saat ini tengah mengantuk berat bahkan sepersekian detik setelah dirinya meletakkan kepalanya dimeja dia sudah tertidur.


"Da, kenapa lo molor aja sih! Padahal ini masih pagi juga," Ucap Rania.


"Gue ngantuk!" Teriak Risda yang tidak terlalu kedengaran karena tertutup dengan kedua tangannya itu.


"Da, kalau lo tidur seperti ini terus nanti lo bisa dihukum. Emang lo mau dihukum?" Tanya Septia.


"Ngak ada semangat hidup kali itu, harus dipanggilkan Renzo dulu," Ucap Nanda.


"Iya nih, lemes banget tau ni orang. Mungkin tadi pagi belum ketemu sama si pawang kali," Sahut Rania.


"Kalian bisa diam gak sih? Kepala gue pusing nih, atau mau gue telan satu persatu ha?" Ucap Risda dengan kesalnya sambil mendongakkan kepalanya.


Risda nampak begitu kesal saat ini, karena seakan akan mereka tidak membiarkan dirinya untuk istirahat dengan nyaman. Bukannya tidak membiarkan Risda tidur, akan tetapi saat ini bukan waktunya untuk tidur melainkan untuk sebuah materi.

__ADS_1


"Emang sanggup menelan kami semua?" Tanya Mira.


"Ngak sih, auah bodoamat!"


"Ra, mending lo panggilin Renzo kemari. Biar ni bocah nggak tidur mulu di kelas, kalau ada dia kan dia tidak akan tidur," Rania memberi saran kepada Mira.


"Males, tadi pagi itu dia sudah ketemu sama Renzo, tapi dianya aja yang main pergi ninggalin gue. Entah ada masalah apa'an di antara keduanya itu, percuma juga kalau gue panggil Renzo kemari," Ucap Rania.


"Apa jangan jangan ada pertengkaran keluarga nih, Bapak sama Emak lagi berantem mungkin," Ucap Septia seakan akan tengah menyindir Risda.


Mendengar itu pun langsung membuat Risda mendengus dengan kesalnya, bagaimana tidak kesal? Perkataan dari Septia mengatakan seakan akan Risda dan Afrenzo telah menikah saja, padahal di antara keduanya tidak ada hubungan selain pelatih dan muridnya.


Risda pun kembali menjatuhkan kepalanya di antara sela sela kedua tangannya, dirinya masih terasa sangat mengantuk saat ini. Bahkan kedua matanya saat ini tidak bisa dibuka, seakan akan ada lem yang sangat kuat merekat di kedua matanya itu.


"Risda! Malah molor lagi," Teriak Rania.


"Berisik!" Teriak Risda.


Risda pun kembali terlelap dalam tidurnya, dirinya sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi saat ini. Melihat itu langsung membuat teman temannya merasa sangat kesal, entah mengapa seakan akan gadis itu terasa sangat mengantuk saat ini.


"Enak aja nih tidur jam segini," Ucap Rania.


"Ran, bagaimana kalau kita kerjain aja mumpung dia lagi tidur? Tidak akan ada kesempatan dua kali untuk bisa mengerjai Risda," Saran dari Mira.


"Ide yang bagus Ra, lalu kita kerjain gimana nih bocah?" Ucap Septia yang setuju.


"Tenang, gue bawa bedak bayi sekarang. bagaimana kalau kita make up in dia dengan bedak bayi?" Tanya Nanda.


"Yaelah lo ini sekolah apa mau bedain anak TK? kenapa pakai bawa bedak bayi sekali lagi, nggak sekalian aja tuh sama baju bayi?"


"Masih untung gue bawa bedak bayi, daripada noh si David bawa kok bawa tepung kanji,"


"Apa lo?" Tanya David dengan ngegas.


David seakan akan terlihat tidak bersahabat saat ini, karen Nanda dengan sengaja mengikut ikutkan dirinya dalam hal seperti ini. Melihat David yang terlihat marah, membuat Nanda hanya menyengir.


Risda memang paling anti dengan yang namanya make up, berhubung dirinya yang masih tertidur dan tidak mau bangun hal itu membuat Mira ingin mengerjainya. Nanda pun langsung mengoleskan bedak bayi tersebut secara tebal di wajah Risda, setelahnya Mira pun ikut serta mengolesi sebuah lipstik di bibir Risda.


Wajah Risda saat ini terlihat seperti badut, kulit wajah yang sangat putih karena terkena bedak bayi, dan juga bibir yang sangat merah merona karena lipstik yang diberikannya cukup tebal.


"Woi Renzo!" Teriak Mira.


Teriakan itu seketika langsung membuat Risda mendongakkan kepalanya, ketika nama Afrenzo diucapkan seolah olah dirinya dengan refleks langsung mengangkat kepalanya kembali. Jantungnya seakan akan bertekuk dengan kencangnya, dan rasa mengantuknya itu langsung hilang seketika.


Risda pun menoleh ke arah pintu, akan tetapi tidak mendapati sosok lelaki itu di sana. Dirinya pun menatap datar ke arah teman temannya itu, karena mereka telah membohongi Risda begitu saja.


Teman temannya langsung bersorak dan tertawa sangat kerasnya, wajah Risda terlihat begitu sangat lucu. Apalagi perpaduan warna putih dan merah seakan akan begitu cocok, sementara Risda tidak tahu apa yang membuat mereka tertawa.


Risda berpikir bahwa mereka tertawa karena refleknya yang tiba tiba mengangkat kepala, akan tetapi bukan hal itu yang membuat mereka tertawa dengan sangat kerasnya. Mereka tertawa karena melihat wajah Risda ketika membuka matanya, Risda terlihat sangat lucu saat ini hingga membuat mereka tak bisa berhenti untuk terus tertawa.


"Ada yang lucu?" Tanya Risda polos.


"Nggak ada yang lucu kok, Da. hanya saja didalam perutku ini seakan akan ada cacing yang menggeliat, hahaha..." Tawa Mira.


"Kalian nggak macam macam kan sama gue?" Tanya Risda dengan wajah seriusnya.


Teman temannya itu seakan akan tidak berhenti untuk terus tertawa, bahkan mereka rasanya seperti terlalu lelah untuk tertawa. Risda pun langsung mengusapi wajahnya dengan kasar, dirinya takut ada sesuatu di wajahnya sehingga membuat mereka tertawa.


Setelah mengusapi wajahnya, dia begitu terkejut ketika melihat telapak tangannya. Telapak tangannya itu seketika berubah menjadi warna putih, benar saja dugaannya itu bahwa telah terjadi sesuatu dengan wajahnya saat ini.


"Kamu cantik kok dengan itu, Da. Rasanya perutku saat ini agak sakit karena banyak tertawa," Ucap Rania.


"Kalau lo pengen semakin putih lagi gue ada kok bedak bayi, nanti gue tambahin yang banyak. Tenang saja persediaan masih banyak, gue baru beli soalnya," Ucap Nanda.


Wajah Risda terlihat sangat merengut saat ini, dirinya pun langsung mencerucutkan bibirnya itu. Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo dan beberapa anggota OSIS pun masuk kedalam kelas tersebut, melihat itu langsung membuat Risda menutupi wajahnya dengan jilbabnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," Afrenzo pun mengucapkan salam ketika berdiri didepan.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," Jawab mereka serempak.


"Sehubungan dengan acara milad perguruan Kembang Sepasang, yang akan diadakan di SMP Bitoro beberapa hari lagi. Pihak OSIS sudah berdiskusi bahwa seluruh siswa diwajibkan untuk ikut, karena perguruan ini adalah kebanggaan dari sekolah ini dan juga termasuk organisasi di sekolah ini jadi seluruhnya diharuskan ikut untuk meramaikan acara itu," Ucap Afrenzo.


Mendengar itu membuat seluruh siswa merasa sangat senang, mereka bisa menyaksikan acara pentas bela diri yang akan diadakan di sana. Bukan hanya itu saja, melainkan karena itu membuat mereka terbebas dari pelajaran.


Apalagi di dalam acara itu mereka diminta untuk ikut jalan sehat, acara jalan sehat akan diadakan di acara SMP Bitoro dan melewati jalanan yang ada disana. Bukan hanya itu saja, acara itu juga dilaksanakan oleh seluruh sekolahan yang memiliki cabang organisasi beladiri tersebut.


Itu artinya acara tersebut sangatlah ramai, bahkan total sekolah yang mengikutinya itu lebih dari 10 sekolah. Karena sekolah mereka yang bukan negeri melainkan swasta, sehingga acara seperti itu tidak membutuhkan persetujuan dari pihak negeri.


Perbedaan antara sekolah swasta dan negeri adalah sekolah negeri dibiayai oleh pemerintah sementara sekolah swasta dibiayai mandiri, sekolah negeri fasilitasnya tergantung dari pusat sementara sekolah swasta fasilitasnya tergantung uang masuk para siswa.


Oleh karena itu mengapa sekolah swasta lebih mahal daripada sekolah negeri, kebanyakan sekolah yang menerima beasiswa hanyalah sekolah negeri akan tetapi sekolah swasta juga bisa menerimanya.


"Asikkk! Itu artinya kita semua juga bisa mengikutinya?" Tanya Rania.


"Iya," Jawab Afrenzo sambil menganggukkan kepalanya.


Tidak seperti biasanya Risda akan diam, biasanya gadis itu akan terlihat sangat heboh bahkan paling heboh di antara teman temannya. Justru kali ini gadis itu terdiam seribu bahasa, bahkan wajahnya kini ditutupi dengan jilbabnya karena takut Afrenzo melihatnya.


Teman temannya sama sekali tidak memiliki akhlak, bahkan mereka tega meriasi wajah seperti badut. Dirinya benar benar merasa sangat malu saat ini, apalagi ketika mengingat tawa dari teman temannya itu yang membuatnya merasa sangat kesal.


"Da, lo dengar itu kan?" Tanya Mira sambil mencoba menarik jilbab Risda yang menutupi wajahnya itu.


"Brengs*k lo, Ra!" Umpat Risda dengan kesalnya sambil memegangi terus jilbabnya itu.


Mira sama sekali tidak merasa takut, justru dirinya terkekeh pelan sambil menahan suara tawanya agar tidak terdengar berisik. Hal itu langsung membuat Risda segera bangkit dari duduknya dan berniat untuk berlari keluar dari kelas, ketika dirinya melewati Afrenzo tiba tiba kakinya tersandung oleh kakinya sendiri.


Hal itu langsung membuat Risda sangat terkejut dan dirinya hampir saja terjatuh, untung saja tangan Afrenzo langsung segera menangkapnya agar tidak jatuh. Risda sama sekali tidak mau membuka jilbab yang menutupi wajahnya itu, dirinya benar benar merasa malu saat ini.


"Lo ngak papa kan?" Tanya Afrenzo.


"Jangan natap gue seperti itu, Renzo. Gue bisa lihat itu," Ucap Risda karena jilbabnya agak terawang sehingga bisa melihat wajah Afrenzo yang tengah menatapnya.


"Lo kenapa?" Tanya Afrenzo lagi.


"Ngak papa, gue mau kekamar mandi,"


Risda langsung melepaskan pegangan tangan dari Afrenzo, dirinya pun langsung berlari untuk menjauh dari laki laki itu. melihat itu langsung membuat Afrenzo langsung bergegas untuk berlari mengejarnya, dia tidak tahu mengapa Risda seperti itu.


"Ketua! Mau kemana?" Teriak wakilnya.


"Tolong urusi sebentar," Jawab Afrenzo.


Tanpa mendengarkan lagi perkataan dari lelaki yang memanggilnya itu, Afrenzo langsung bergegas untuk menyusul Risda. Risda pun langsung bergegas menuju ke arah wastafel yang berada di dalam kamar mandi, sementara Afrenzo tidak masuk ke dalam kamar mandi itu karena kamar mandi itu adalah kamar mandi perempuan.


"Sialan emang mereka, dasar teman kagak ada akhlak!" Teriak Risda ketika melihat wajahnya yang sudah seperti badut itu.


Risda langsung melepas jilbabnya tersebut, dirinya pun langsung membasuh wajahnya dengan kasar. Beberapa kali basuhan akhirnya bedak bayi tersebut hilang dari wajahnya, akan tetapi warna lipstik yang ada di bibirnya masih sedikit terlihat.


Risda menatap dirinya di depan cermin itu, wajahnya terlihat sangat segar apalagi dengan warna bibir yang sesuai. Rasa mengantuk yang sekian lama menyerangnya itu mendadak sirna, seakan dirinya sekarang tidak lagi merasa mengantuk.


Risda lalu kembali membenarkan jilbabnya itu, dirinya pun langsung bergegas keluar dari kamar mandi. Risda begitu sangat terkejut ketika mendapati sosok Afrenzo sudah berdiri di depan kamar mandi, entah sejak kapan lelaki itu berdiri di sana.


Afrenzo terlihat terpanah dengan wajah Risda, dirinya belum pernah melihat Risda memakai sebuah lipstik. melihat tatapan dari Afrenzo terarah kepadanya membuat Risda langsung menundukkan kepalanya, entah mengapa lelaki itu menatapnya seperti itu.


"Kenapa lo lihat wajah gue seperti itu? Dan juga ngapain lo ada di sini?" Tanya Risda.


"Lo kenapa lari dari kelas? Lo nggak papa kan?" Tanya Afrenzo.


"Gue nggak papa kok, gue tadi hanya ngantuk dan pengen palsu buka aja biar ngantuknya ilang."


"Yaudah kalo gitu."

__ADS_1


Afrenzo pun langsung bergegas pergi dari tempat itu, dirinya langsung meninggalkan Risda begitu saja. Risda hanya mengangkat kedua pundaknya, setelahnya dia langsung kembali menuju kelasnya.


Untung saja Afrenzo tidak melihat wajahnya saat tadi, kalau dirinya sampai melihat mungkin Risda akan sangat malu di hadapannya. Bahkan mungkin dirinya akan teramat sangat malu, apalagi tadi begitu banyak orang di dalam kelasnya.


__ADS_2