
Diperjalanan Risda terus kepikiran dengan Afrenzo, dia takut kalo Afrenzo kenapa kenapa dirumahnya, apalagi Papanya yang telah menghajar dirinya itu. Pikirannya semakin tidak tenang saat ini, ia merasa pengen pergi kerumah Afrenzo dan memastikan keadaan lelaki itu.
"Apa gue kerumahnya saja ya? Kok gue ngerasa ngak tenang," Guman Risda sambil menjalankan motornya itu.
Ketika melihat sebuah pertigaan jalan yang menuju kearah rumah Afrenzo, Risda pun langsung membelokkannya. Dirinya pun menghentikan sepedah motornya agak jauh dari rumah besar dan berpagar hitam itu.
Rumah itu terlihat sangat sepi daripada sebelumnya, Risda memandang kearah rumah itu cukup lama, akan tetapi terlihat seperti tidak ada aktivitas sama sekali. Risda lalu memberanikan diri untuk masuk kedalam halaman rumah tersebut, ia dengan pelan membuka pintu gerbang yang ada didalam rumah tersebut.
"Kok sepi? Renzo kemana?" Tanya Risda entah kepada siapa.
Karena dirinya merasa bahwa rumah itu tengah sepi saat ini, dia pun mencoba untuk melihat kearah sebuah cendela yang dirinya duga adalah kamar milik Afrenzo. Cendela itu sedikit tinggi hingga membuat Risda harus jinjit untuk bisa melihat kedalam, kamar itu terlihat sangat rapi dan bersih.
"Ngak ada juga, apa mungkin ini bukan kamarnya?"
Risda mencoba untuk memandangi kearah sekelilingnya itu, begitu banyak lukisan yang indah didalamnya. Pandangannya berhenti disebuah foto yang terpajang didinding kamar itu, foto dua orang lelaki yang saling berpose berbeda.
"Apa itu foto Renzo? Terus yang disampingnya pasti Kakaknya itu," Guman Risda sambil melihat foto tersebut dari kejauhan.
Risda belum pernah melihat kamar seluas itu, sehingga dirinya tidak mau melewatkan pemandangan indah baginya itu. Meskipun terlihat tidak sopan karena melihat lihat kamar orang tanpa izin terlebih dulu, akan tetapi memang seperti itulah Risda.
"Eh ada orang tidur, tapi kok dilantai sih?" Pandangan Risda pun tertuju kepada lantai kamar tersebut, dan dirinya tidak sengaja melihat seseorang seperti tengah tertidur di lantai.
Dirinya pun mencoba untuk melihatnya dengan jelas, siapa yang tengah tertidur dilantai itu, akan tetapi dirinya baru menyadari bahwa pakaian yang dipakai oleh orang tersebut adalah pakaian yang dipakai oleh Afrenzo sebelumnya.
"Renzo!" Teriak Risda.
Melihat itu langsung membuat Risda bergegas menuju ke teras rumahnya untuk mengetuk pintu rumah besar tersebut. Beberapa kali dia mengetuk pintu tersebut akan tetapi tidak ada yang membukakan pintu itu untuknya.
Tok tok tok
"Tan! Om! Buka pintunya!" Teriak Risda dengan paniknya.
Tok tok tok
Risda semakin panik ketika tidak ada seseorang yang membukakan pintu tersebut, tak beberapa lama kemudian keluarlah seorang wanita yang berusia sekitar 45 tahunan dari dalam rumah itu.
"Maaf Mbak, cari siapa ya?" Tanya wanita itu setelah membukakan pintu rumah itu.
"Mamanya Renzo dimana?" Tanya Risda gelisah.
"Dia ada didalam, Mbak. Mau saya panggilkan?"
"Iya,"
"Mari masuk dulu, Mbak. Mau saya buatkan minuman?"
"Ngak perlu, tolong panggilkan Mamanya Renzo ya,"
"Iya Mbak,"
Memerhatikan cara wanita itu berbicara dengannya, membuat Risda yakin bahwa dia adalah pembantu yang ada didalam rumah tersebut. Tak beberapa lama kemudian, datanglah seorang wanita yang tengah dicari oleh Risda.
"Ada apa ya?" Tanya Rahma ketika melihat kedatangan Risda.
Risda langsung bangkit dari duduknya untuk menghampiri sosok wanita tersebut. Melihat Risda yang terlihat seperti sedang panik itu pun langsung membuat Rahma mengerutkan keningnya.
"Tan, Renzo pingsan," Ucap Risda.
"Pingsan?" Bengong Rahma mendengarnya.
"Tan, ayo cek kekamarnya. Dia pingsan dilantai,"
"Tunggu tunggu, kenapa dia bisa pingsan? Lalu kamu tau darimana kalo dia pingsan?"
"Itu soal nanti, Tan. Sekarang ayo selamatkan Renzo dulu," Risda pun memegangi tangan Rahma dan sedikit menarik nariknya.
"Baiklah, kita ke kamarnya."
Kedua wanita itu pun langsung bergegas menuju kearah kamar Afrenzo, keduanya kini tengah berdiri didepan pintu kamar Afrenzo. Beberapa kali Rahma mengetuk dan memanggilnya akan tetapi Afrenzo sama sekali tidak menyahutinya, bahkan kamar itu dikunci dari dalam.
"Terus gimana dong, Tan?" Tanya Risda dengan kedua mata berkaca kaca karena paniknya.
__ADS_1
"Kayaknya Tante punya kunci cadangan deh, bentar Tante ambilkan dulu," Ucap Rahma.
"Cepetan, Tah!"
Rahma juga terlihat begitu panik saat ini, ia pun segera bergegas menuju kekamarnya untuk mengambil kunci cadangan yang dia maksud itu, sementara Risda masih setia berdiri didepan pintu, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini.
Tak beberapa lama kemudian, Rahma datang kembali sambil membawa sebuah kunci, dirinya pun langsung bergegas memasukkan kunci itu ke lubangnya. Akhinya pintu kamar itu pun terbuka dengan lebarnya, keduanya sangat terkejut ketika melihat Afrenzo yang sudah terbaring dilantai dengan tidak sadarkan diri.
"Renzo!" Teriak Rahma.
Keduanya langsung bergegas untuk menghampiri Afrenzo itu, Afrenzo sama sekali tidak bergerak bahkan merespon keduanya. Suhu tubuhnya kini terasa begitu panas dan bahkan wajahnya terlihat sangat pucat saat ini.
"Bantu Tante angkat dia ke kasur," Ucap Rahma.
"Iya, Tan." Jawab Risda sambil menganggukkan kepalanya.
Risda pun mengalungkan tangannya kiri Afrenzo dilehernya, begitupun dengan Rahma yang mengalungkan tangan kanan Afrenzo dilehernya juga. Keduanya berusaha untuk bisa membawa Afrenzo untuk ditidurkan diatas kasurnya.
Keduanya merasa keberatan karena beban tubuh Afrenzo yang terasa berat itu, ditambah lagi dengan kondisi lemasnya dan tidak sadarkan diri itu. Setelah cukup lama berusaha akhinya keduanya mampu membaringkan tubuh Afrenzo diatas kasurnya.
"Kamu tunggu disini, biar Tante ambil kompresan dulu," Ucap Rahma.
"Iya Tan," Jawab Risda.
Rahma segera bergegas keluar dari dalam kamar Afrenzo, sementara Risda langsung duduk disampingnya dengan memegangi tangan Afrenzo yang terasa sangat panas itu.
"Renzo, lo kenapa? Kenapa bisa seperti ini sih? Bangun Renzo!"
Melihat Afrenzo yang sama sekali tidak meresponnya itu membuat Risda semakin panik, apalagi dengan suhu tubuhnya yang terasa sangat panas itu. Risda pun langsung menggenggam erat tangannya itu, ia berharap bahwa Afrenzo segera membuka kedua matanya saat ini.
Rahma pun datang sambil membawa sebuah baskom yang berisikan air dingin, dan dirinya langsung mengompres Afrenzo untuk menurunkan suhu tubuhnya itu. Sudah cukup lama dirinya dikompres akan tetapi suhu tubuhnya masih tetap belum turun, dan bahkan dirinya belum juga membuka kedua matanya.
"Sebentar lagi adzan magrib berkumandang, kamu pulang saja nanti dicariin orang tuamu," Ucap Rahma dengan nada pelan takut Risda salah paham dengan ucapannya itu.
"Tapi Renzo belum sadar juga, Tan. Aku takut dia kenapa kenapa," Ucap Risda.
"Biar Tante yang urus dia, kamu anak gadis, ngak baik pulang malam malam."
"Iya, sekarang kamu pulang dulu."
"Ya udah Tan, aku pulang dulu ya,"
"Eh kamu pulang sama siapa? Biar keponakan Tante yang anter ya?"
"Tadi aku bawa sepeda motor kok, Tan. Aku bisa pulang sendiri,"
"Sepeda motor? Kamu taruh dimana? Kok didepan ngak ada sepeda motor?" Tanya Rahma ke heranan karena didalam halaman rumahnya tidak ada sepeda motor.
"Sebenarnya aku taruh agak jauhan, Tan. Takut,"
"Yaudah, Tante anter kedepan ya?"
"Makasih Tan,"
Rahma pun mengantarkan Risda sampai didepan rumahnya, Risda sebenarnya tidak ingin pulang dan dirinya masih ingin berada didekat Afrenzo sampai dia sadarkan diri, akan tetapi dia juga takut jika Kakaknya akan marah lagi kepadanya.
Risda pun berpamitan untuk pulang kepada Rahma, setelah itu dirinya pun tancap gas untuk pergi dari rumah tersebut untuk menuju kerumahnya. Didalam hatinya, dirinya terus berdoa semoga Afrebzo baik baik saja.
*****
Keesokan paginya, Risda berangkat lebih awal untuk memastikan bahwa Afrenzo masuk sekolah dengan keadaan baik baik saja. Ternyata Afrenzo berangkat lebih awal daripada Risda, dirinya pun langsung bergegas menuju ke kelas Afrenzo untuk mencarinya.
"Renzo!" Panggil Risda dan langsung membuat Afrenzo menoleh kearahnya.
"Hem?" Jawab Afrenzo sambil berdehem.
"Lo ngak papa kan? Lo sudah mendingan kan? Apa dada lo masih sakit? Atau apa ada yang masih sakit lainnya?" Tanya Risda dengan beruntun kepada Afrenzo.
"Gue ngak papa," Jawab Afrenzo singkat.
Akan tetapi, bukan Risda namanya jika langsung percaya begitu saja. Risda pun langsung menempelkan punggung tangannya dikening Afrenzo untuk memeriksa suhu tubuh dari lelaki itu, Afrenzo pun begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Risda.
__ADS_1
"Agak sedikit panas, kenapa lo masuk sekolah kalo masih sakit?" Tanya Risda.
"Bukannya lo yang nyuruh kemaren?" Tanya Afrenzo balik.
"Seharusnya lo ngak usah masuk, Renzo. Istirahat dirumah yang banyak. Kemaren lo sampai ngak sadarkan diri tau,"
"Thanks ya, kata Nyokap gue, lo kemaren dateng kerumah gue buat ngasih tau kalo gue pingsan. Kalo ngak, paling gue udah ngak tertolong karena sangking panasnya suhu tubuh gue."
Kemarin malam tepat dijam pukul 9 malam, Afrenzo perlahan lahan mulai membuka kedua mataya. Ia merasakan benda yang sedikit basah tengah berada dikeningnya, kepalanya masin terasa pusing saat ini sehingga dirinya memeganginya.
Melihat Afrenzo yang mulai menggerakkan tangannya itu, membuat Rahma yang tengah berada dikejauhan itu pun langsung mendekat kearahnya untuk memeriksa suhu tubuh dari anaknya.
Ia merasa senang ketika akhinya Afrenzo tengah sadarkan diri, ia pun menceritakan kepada Afrenzo tentang kedatangan dari Risda kerumah itu dan memberitahukan bahwa Afrenzo tengah tidak sadarkan diri itu.
"Lo ngak boleh kenapa kenapa, Renzo. Gue ngak mau lo sakit,"
"Da, lo tau kan kalau sakit itu bisa ngurangin dosa? Itu artinya dosa gue banyak, jadi perlu sakit untuk menguranginya,"
Sesungguhnya, sakit ialah cara Allah untuk mengurangi dosa yang dilakukan oleh manusia. Allah mengambil 3 hal dari kita ketika kita sakit, yakni dosa, nafsu makan, dan keceriaan diwajah kita. Akan tetapi jika sembuh, Allah hanya mengembalikan 2 hal saja yakni nafsu makan dan keceriaan diwajah manusia.
"Tapi gue ngak suka lihat lo sakit, bisa ngak sih jangan sakit sakitan," Jawab Risda dengan ketusnya.
"Mana bisa negoisasi dengan Tuhan? Jika orang bisa menolak sakit yang diberikan, lantas kenapa harus diciptakan rasa sakit?"
Risda hanya berdiam diri mendengarkan pertanyaan dari Afrenzo itu, ia pun tidak bisa menjawabnya. Risda sendiri pun beberapa kali juga tengah merasakan sakit, itu artinya dosanya juga sangat banyak sehingga ia diberikan rasa sakit oleh sang pencipta alam semesta.
"Da, kenapa lo bisa tau kalo gue pingsan?" Tanya Afrenzo dengan nada seriusnya.
"Gue ngak tau, Renzo. Tiba tiba gue kepikiran sama lo, ya udah gue datangin rumah lo, eh ngak ada siapapun disana. Gue nengok kearah kamar lo, dan ngak sengaja ngelihat lo tiduran dilantai. Gue langsung mengetuk pintu rumah lo, lama banget akhinya dibuka juga,"
"Aneh,"
"Apanya yang aneh? Gue beneran kemaren, gue hampir aja manjat cendela kamar lo, tapi ngak bisa sih, tinggi soalnya," Risda pun menyengir bagaikan kuda.
Afrenzo pun menggerakkan tangannya untuk mengusap pelan puncak kepala Risda, bagaimana bisa dia tidak tertarik dengan sosok seperti Risda? Dia bahkan merasa gemas ketika melihat Risda.
"Sudah, mending lo kembali ke kelas lo, bentar lagi jam masuk sekolah berbunyi,"
"Baiklah gue masuk ke kelas dulu ya, jangan sakit sakit,"
"Iya,"
Risda pun bergegas keluar dari ruang kelas itu, akan tetapi sebelum dirinya melewati pintu kelas itu, dirinya berpapasan dengan Benni, cowok cupu yang ada dikelas tersebut.
"Oh my beby honey Risda, cintaku, sayangku, darlingku. Mau ketemu sama diriku kan? Pasti rindu dengan diriku mangkanya kamu kesini kan?" Tanya cowok tersebut langsung membuat Risda bergidik ngeri hingga membuat buku kuduknya berdiri.
"Mau ngapain lo?" Tanya Risda sambil memeluk tubuhnya sendiri, suara Risda terlihat seperti dengan sensinya ketika melihat cowok itu membentangkan kedua tangannya.
"Mau peluk dirimu, aku kan sangat merindukan dirimu sayang,"
"Dih amit amit! Jijik banget gue anjiiing!" Umpat Risda.
Risda pun sedikit mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh darinya, Risda pun berusaha untuk pergi dari tempat tersebut karena tidak mau berhadapan lagi dengan orang yang seperti Benni itu.
Risda pun langsung berlari menjauh dari kelas tersebut, sementara Benni langsung bergegas untuk mendatangi Afrenzo saat ini. Afrenzo hanya melihatnya sekilas saja, akan tetapi setelah itu, Afrenzo kembali fokus dengan buku yang ada dimejanya.
"Afrenzo, kenapa Risda ngak mau nerima cintaku sih? Aku kan suka sama dia," Keluh Benni ketika dirinya duduk disebelah Afrenzo saat ini.
"Hem..." Jawab Afrenzo yang hanya dengan berdehem saja.
"Ih kamu ngak asik banget sih Afrenzo. Beri aku solusi gitu biar dia mau jadi pacarku,"
"Tembak saja, kalo berhasil,"
"Tembak? Tapi pistol kan tidak diperjual belikan dengan bebas, tapi bagaimana kalo dia mati nanti? Jadi aku tidak bisa dong menikah dengannya,"
Afrenzo pun menepuk jidatnya sendiri, akan sangat sulit jika tengah berbisik dengan lelaki seperti itu. Bahkan jika Afrenzo mengucapkan A, maka akan ditanggapi olehnya R ataupun yang lainnya.
Sangat sangat tidak nyambung jika tengah berbicara dengan sosok seperti Benni itu, meskipun menjelaskannya sampai mulut berbusa pun tidak akan mampu untuk membuat Benni mengerti dengan apa yang dijelaskan.
Benni memang tidak terlalu pintar untuk memahami, akan tetapi dirinya sangat paham dengan pelajaran yang tengah disampaikan oleh Bapak atau Ibu Guru yang mengajarnya itu. Bukankah itu aneh? Begitulah Benni yang memang adalah orang yang aneh, akan tetapi hatinya begitu baik sehingga tidak akan mampu untuk berbohong.
__ADS_1