Pelatihku

Pelatihku
Episode 167


__ADS_3

Risda merenung sendirian didalam kamarnya, dirinya masih memikirkan tentang percakapan antara Kakaknya dengan teman Kakaknya itu. Percakapan itu begitu menyayat didalam hatinya, dirinya tidak suka jika mereka membicarakan hal buruk tentang teman laki lakinya.


Teman lelakinya sangat baik kepadanya, bahkan mereka selalu ada untuk Risda ketika dia membutuhkan. Apalagi yang membicarakan itu adalah keluarganya sendiri, keluarga yang bahkan sangat asing baginya. Risda lebih dekat dengan orang lain daripada keluarganya sendiri, bahkan dirinya merasa sangat asing di keluarga sendiri daripada keluarga orang lain.


"Rasanya pengen mati aja kalo seperti ini, apa gunanya hidup yang hanya menjadi beban bagi orang lain? Bunda, bolehkah Risda menyerah kali ini? Risda ingin bahagia." Ucap Risda dengan linangan air matanya.


Dirinya begitu lelah untuk saat ini, dan dirinya ingin sekali menyerah begitu saja dalam hidupnya. Akan tetapi, dirinya teringat dengan perkataan Afrenzo yang mengatakan "Apa gunanya lo ikut bela diri, jika akhirnya lo bunuh diri dan nyakitin diri sendiri?" Itulah yang selalu dirinya ingat sampai detik ini.


Tiada gunanya jika dirinya mengikuti bela diri, jika dirinya malah menyakiti diri sendiri seperti itu. Bukankah hal itu akan menjadi sia sia? Orang mengikuti bela diri untuk melindungi diri sendiri, bukan malah menyakiti diri sendiri sepeti itu. Kehidupan dunia hanyalah sebentar, jika mengakhiri hidup sebelum waktunya maka akan berat baginya di akhirat.


Orang orang mengakhiri hidupnya karena beban yang terlalu berat dia hadapi, untuk meringankan beban itu mereka memilih jalur bunuh diri. Akan tetapi mereka lupa bahwa di akhirat tidak bisa diakhiri dengan bunuh diri, lantas bagaimana caranya untuk mengakhiri akhirat? Dan mereka melupakan itu.


Akan tetapi, jangan pernah menyalahkan orang orang yang memilih untuk mengakhiri hidup mereka, karena kalian tidak tau bagaimana mental mereka. Setiap orang memiliki mental yang berbeda beda, dan mental itu tidak bisa untuk disamakan dengan yang lainnya.


Risda pun menangis sesenggukan dibalik bantalnya agar tidak terdengar oleh siapapun, dan tidak diketahui oleh siapapun bahwa dirinya begitu rapuh. Didepan banyak orang, dirinya bisa bersikap bahwa tidak pernah terjadi apapun kepadanya, akan tetapi ketika sendirian, dirinya bahkan lebih rapuh dan mudah sekali menangis tiba tiba.


Karena tangisannya begitu menyesakkan didalam hati, hal itu pun membuatnya tertidur dengan pulas nya. Dirinya tidak bisa tidur sepulas itu jika tidak dalam keadaan menangis, dirinya bisa tidur pulas daripada biasanya ketika setelah menangis dengan kerasnya.


*****


Tok... Tok... Tok...


Terdengar seseorang mengetuk pintu rumah Risda ditengah malam, akan tetapi pulasnya tidurnya membuat Risda tidak bisa terbangun dengan mudahnya. Risda pun tidak mendengar suara ketukkan itu, hingga akhirnya Indah masuk kedalam kamarnya.


Karena kamar Risda tidak memiliki pintu, sehingga siapapun bisa keluar masuk kedalamnya dengan mudah, meskipun tanpa izin dari Risda sendiri. Indah pun membangunkan Risda dengan kasarnya, hingga Risda terbangun dengan keadaan yang masih linglung karena dibangunkan dengan kasar.


"Ini masih malam. Ada apa, Kak?" Tanya Risda sambil memegangi kepalanya yang pusing.


"Dicariin Om Abie didepan, sana temuin."


"Tapi Kak, aku masih mengantuk saat ini. Kenapa nggak Kakak aja yang nemuin? Kan sama saja."


"Udah jangan banyak alasan, atau mau aku aduin ke Bunda kalau kamu tidak mau nemuin dia?"


"Jangan Kak, nanti Bunda marah. Ya sudah aku temuin dia,"


"Jangan lupa buatkan kopi untuknya,"


"Iya."


Dengan malas nya, Risda pun bangkit dari tidurnya untuk menuju ke arah dapur, dirinya akan membuatkan minuman seperti apa yang dikatakan oleh Kakaknya tadi. Risda pun merasa kesal dengan Indah, bukannya malah menemui Abie, akan tetapi justru dirinya malah kembali tidur di kamarnya dengan suaminya itu.


Risda hanya bisa menatap nanar kepada nasibnya sendiri, dan sampai kapan dirinya akan seperti ini terus terusan? Dia sudah sangat lelah menghadapi keluarganya, dan ingin sekali dirinya pergi jauh dari sana dan tidak akan pernah kembali lagi ke dunia yang kejam itu.


Risda selesai menyiapkan kopi untuk Abie, dan dirinya membawa kopi tersebut kepada Abie yang tengah duduk di teras rumahnya. Dirinya pun memberikan kopi itu kepadanya, dan langsung dia tuangkan kepada piring kecil yang disiapkan oleh Risda.


"Ada apa Om kesini malam malam seperti ini? Kenapa tidak besok pagi aja?" Tanya Risda dengan malasnya.


"Kata Bunda kamu pengen ganti sepedah motor, ya? Memang mau ganti yang gimana?"


"Yang matic aja. Soal ini kan bisa dibicarakan lewat telpon, Om. Kenapa nggak ngobrol di telpon aja?"


"Kan aku pengen tau yang pasti, kalau di telpon kan kurang jelas nantinya."


"Terserah Om aja lah, baiknya seperti apa." Pungkas Risda yang paling malas ngobrol dengan orang yang ada didepannya itu.


"Iya nanti Om cariin yang matic sesuai keinginanmu, besok sabtu Om antar kemari sama Bunda. Tapi nggak papa kan kalau sepedahmu yang lama itu dijual?"


"Soal itu Om bisa tanya ke Bunda sendiri, kan itu miliknya bukan punyaku."


Cukup lama mereka terdiam, dan Risda sendiri sudah mulai bosan apalagi dirinya yang sejak tadi digigit oleh nyamuk. Ingin sekali Risda mengusir orang itu dari rumahnya, akan tetapi dirinya takut jika nantinya akan dimarahi oleh Bundanya. Sungguh benar benar dirinya berada didalam dilema, dilema yang tidak bisa dengan mudah untuk dipecahkan.


"Sabtu besok kan tanggal merah, ya? Berarti Risda libur sekolah dong," Ucap Abie lagi setelah mereka terdiam cukup lama.


"Iya." Risda menjawabnya dengan singkat karena sudah sangat lelah sekaligus mengantuk.


Ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, Abie baru berpamitan untuk pulang dari rumah Risda. Mendengar itu langsung membuatnya bisa bernafas lega, bahkan hari ini sudah berganti menjadi hari jum'at.


Risda langsung kembali mengunci pintu rumahnya, dan dirinya bergegas untuk masuk kedalam kamarnya melanjutkan tidurnya karena cuaca masih gelap diluar sana. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan baginya selain kembalj tidur untuk melanjutkan mimpinya, ya meskipun ketika terbangun hal yang terjadi berbeda jauh dari mimpinya.

__ADS_1


*****


"Renzo!" Teriak Risda sambil berlarian ketika melihat lelaki itu berjalan di lorong sekolahan.


Mendengar teriakan itu langsung membuat Afrenzo menoleh ke belakang dan mendapati Risda yang sedang berlari kearahnya. Gadis itu sangat suka menganggunya, bahkan tidak kenal tempat dan situasi.


Tak butuh beberapa lama, Risda sudah berdiri didepannya saat ini. Hal itu membuat Afrenzo menerbitkan seutas senyuman kepadanya, dan senyuman itu berhasil membuat Risda begitu terpanah kepadanya.


"Ada apa?" Tanya Afrenzo ketika melihat Risda justru terdiam.


"Kemarin malam, orang yang pernah gue ceritain ke lo itu datang lagi. Lo tau, gue berhasil dapatin fotonya," Ucap Risda.


"Beneran?"


"Iya bener, Renzo. Bentar gue tunjukkin ke lo,"


Risda langsung merogoh saku bajunya, dirinya mencari ponselnya disana. Risda lantas mengeluarkannya ketika sudah mendapatkan ponsel tersebut, ia pun menekan sesuatu yang ada dilayar ponsel miliknya dan menunjukkannya kepada Afrenzo.


"Lo kenal orang ini?" Tanya Risda ketika melihat Afrenzo begitu serius dalam memperhatikannya.


"Sepertinya wajahnya tidak begitu asing bagi gue, Da. Gue pernah lihat dia, tapi gue lupa dimana," Jelas Afrenzo.


"Menurut lo dia orang baik nggak?"


"Mana ada orang baik baik yang bertamu hanya dimalam hari, apalagi sampai larut malam begitu, Da. Lo pikir aja, apa dia orang baik atau nggaknya."


"Gue juga berpikiran seperti itu sejak awal bertemu, Renzo. Tapi gue nggak enak jika harus ngomong seperti itu sama Bunda gue,"


"Gue boleh minta fotonya, nggak?"


"Buat apa?"


"Gue mau tanya sama pelatih pelatih lainnya, mungkin saja mereka kenal nantinya. Soalnya bagi gue, wajahnya sama sekali tidak asing,"


"Baiklah. Gue kirim lewat whatsapp nanti,"


"Soal jawabannya lo tunggu besok atau lusa, gue mau selidiki orang ini."


Risda pun tersenyum dengan menyengir ke arah Afrenzo, wajahnya yang menggemaskan membuat Afrenzo ingin sekali mencubitnya sekarang. Akan tetapi banyaknya siswa yang lalu lalang ditempat itu, membuatnya tidak ingin menarik perhatian yang lainnya.


Kedekatan Risda dengan Afrenzo sudah tidak asing lagi disekolahan itu, meskipun semua orang tau bahwa hubungan keduanya hanya sebatas pelatih dan siswanya. Siapa sangka bahwa keduanya bisa lebih dari itu, dan bahkan keduanya mulai nyaman dengan satu sama lainnya.


"Ya sudah, lo masuk ke kelas lo dulu. Habis ini jam masuk berbunyi," Pungkas Afrenzo.


"Gue mau ke kantin dulu, Renzo. Gue laper,"


"Lo belum sarapan? Kenapa?"


"Seperti biasanya, orang rumah belum masak, Renzo. Jadi gue sarapan dikantin aja,"


"Gue temenin."


"Nggak usah. Nanti lo malah kena masalah gara gara gue,"


"Gue ada perlu sama Pak Hajirohman. Mau bahas soal pentas itu,"


"Kalo lo terlambat masuk kelas, gimana? Nanti lo malah dimarahi sama guru guru, secara kan lo juga ketua OSIS sekaligus guru bela diri disekolah ini."


"Gue bisa izin, lagian ini juga urusan penting."


"Baiklah."


Risda dan Afrenzo pun berjalan menuju kearah kantin sekolahan itu, keduanya berjalan dengan bersebelahan membuat keduanya menjadi perhatian seluruh siswa yang mereka lalui. Banyak yang merasa iri dengan Risda, karena hanya Risda yang bisa begitu dekat dengan Afrenzo sementara gadis gadis lainnya hanya dicuekin olehnya.


"Lo sudah sembuh kan, Renzo?" Tanya Risda sambil berjalan beriringan dengan Afrenzo.


"Menurut lo gue masih sakit?" Tanya Afrenzo balik.


"Nggak sih. Tapi gue kurang yakin aja sama lo, soalnya kan lo nekat pulang dari rumah sakit sebelum waktunya."

__ADS_1


"Hanya sakit ringan, kagak perlu lama lama di rumah sakit."


"Kalo jadi berat gimana? Kan gue nggak mau itu."


"Kalo nggak mau ya jangan berucap yang buruk, ucapan adalah doa."


"Na'udzubillah."


Keduanya yang sedang mengobrol akrab itu membuat para gadis iri, bahkan Afrenzo tidak pernah bersikap seperti itu selain kepada Risda. Mereka tidak tau saja bagaimana perjuangan Risda untuk bisa mengobrol dengan lelaki itu, bahkan sampai bisa bercanda gurau ya meskipun Afrenzo masih terlalu dingin.


"Lan, lihat tuh si Risda saingan lo. Akrab betul dia dengan Renzo." Kompor Novita yang memang ada bersebelahan dengan Wulan.


"Entah pelet apa yang dia gunakan, Nov. Gue yakin bisa merebut dia dari tangan Risda, lihat saja nanti. Gue pasti bisa deket dengan Renzo seperti dia bahkan lebih." Seru Wulan dengan geramnya.


"Terus cara lo selanjutnya, gimana? Bukannya lo sudah pernah nyoba ya ngomong sama dia? Tapj dia balasnya apa? Hanya cuek saja, kan?"


"Diem lo, Nov. Bukannya awalnya Risda pun juga dicuekin sama Renzo? Mungkin hanya butuh pendekatan saja, siapa tau dengan itu sikap dinginnya bisa luluh nanti."


"Terserah lo saja, Lan. Awas bikin dia lebih dekat nantinya,"


"Nggak akan pernah itu terjadi."


"Kita lihat saja nanti."


"Lo kok malah dukung dia, sih? Sebenarnya lo itu teman dia apa temen gue?"


"Kan gue hanya kompor, biar lo makin semangat ngerebut dia dari Risda, Lan. Anggap saja ucapan gue sebagai penyemangat lo,"


"Terserah mau lo."


*****


Risda menatap Afrenzo yang sedang mengobrol dengan pelatihnya itu dari kejauhan, nampak mereka begitu serius dalam obrolannya. Risda sendiri sedang duduk di bangku kantin sambil menikmati sepiring nasi yang dirinya pesan sebelumnya, dirinya belum sarapan pagi sehingga dirinya terlihat begitu lahap dalam makannya.


"Da, lo kok sendiri disini," Tiba tiba suara gadis pun membuat Risda sangat terkejut dan hampir saja berteriak.


"Lo apa apa'an si, Tia. Ngagetin gue mulu," Keluh Risda.


"Lo yang dari tadi dicariin kemana aja, ha? Mau masuk nih, malah santai santai di kantin."


"Emang kenapa, sih? Gue kan masih menikmati makanan gue, lagian jam pertama kosong, kan? Soalnya Bu Ani sedang ada urusan diluar."


"Kosong si kosong, tapi disuruh ngerjain tugas. Lo juga sih, orang lo jadi bendahara kelas malah ngilang, udah tau sekarang jadwalnya bayar kas."


"Eh iya gue lupa besti. Habis ini gue bakalan palakin mereka semua,"


"Kelamaan makan lo, Da. Buruan gih, lama banget!"


"Iya ya bawel banget sih,"


Risda pun langsung buru buru untuk memakannya, dan ingin segera menghabiskan makanannya itu. Dikejauhan Afrenzo juga tengah memperhatikan kedua gadis tersebut, bahkan meskipun hanya menoleh sekilas dan kembali untuk melanjutkan obrolannya itu.


"Renzo! Gue balik ke kelas dulu ya?" Teriak Risda dari kejauhan.


"Udah habis makannya?" Tanya Afrenzo sambil menoleh kearah nya.


"Udah."


"Iya,"


"Nanti lo yang bayarin, ya? Gue lupa nggak bawa uang," Ucap Risda sambil merogoh saku bajunya akan tetapi tidak menemukan selembar uang pun disana.


"Ya elah, Da. Lo yang makan malah nyuruh orang lain untuk bayar," Ucap Septia sambil menepuk jidatnya mendengar ucapan dari Risda.


"Iya." Balas Afrenzo.


"Lo kok mau aja sih disuruh suruh sama nih bocah? Suruh dia bayar sendiri lah, Renzo. Rugi lo," Ucap Septia dengan sedikit berteriak.


"Berisik lo, Tia. Orang dianya aja kagak protes kok malah lo yang protes," Ucap Risda.

__ADS_1


Afrenzo bahkan tidak menjawab ucapan dari Septia, bahkan dirinya pun kembali mengobrol dengan pelatihnya itu. Hal itu membuat Septia merasa dicuekin oleh Afrenzo, melihat wajah Septia yang cemberut hal itu langsung membuat Risda langsung menarik tangannya untuk pergi dari tempat itu.


Memang Risda kurang ajar hingga meminta dibelikan oleh orang lain, akan tetapi dirinya melakukan itu hanya kepada Afrenzo, selainnya dia tidak pernah meminta minta seperti itu. Karena Afrenzo tidak pernah marah kepadanya, bahkan marahnya hanya sekedar menyayangi Risda dan tidak mau Risda kenapa kenapa.


__ADS_2