Pelatihku

Pelatihku
Episode 51


__ADS_3

Jam istirahat pun telah tiba, seperti biasa Risda akan pergi kekantin dengan berlarian dengan teman temannya itu. Ia tidak mau sampai kehabisan makanan yang ada dikantin itu, karena biasanya dirinya tidak kebagian gorengan yang ia sukai.


Oleh karena itu, dirinya dan yang lainnya berlarian untuk menuju kekantin sekolahan tersebut. Sesampainya disana, Risda lalu mengantri untuk membelinya, sementara Mira dan yang lainnya mengantri untuk membeli es karena mereka yang kehausan.


"Pak, somay 5000!" Teriak Risda kepada penjualnya.


"Gue duluan yang datang!" Teriak seseorang disamping Risda.


"Bodoamat! Pokoknya gue duluan," Bantah Risda.


Meskipun mereka berdebat akan tetapi penjual tersebut memilih untuk meladeni yang lainnya dan membiarkan keduanya terus beradu mulut. Alhasil, Risda kebagian yang terakhir sendiri, dan pesanannya tidak sesuai dengan yang ia beli karena kehabisan.


"Kenapa muka lo kayak panci?" Tanya Mira karena wajah datar Risda yang tidak kebagian makanan kesukaannya.


"Asem lo! Panci apa'an? Gue manusia!" Umpat Risda yang tidak terima dibilang panci.


"Habis kagak ada gelombang gelombangnya sama sekali,"


"Emang wajah gue mirip pantai apa woi? Gelombang gelombangnya, noh jalanan depan sekolah. Udah kayak naik rollercoaster, geladuk geladuk,"


"Apa hubungannya dengan jalanan depan sekolah? Mending lo keramik aja, Da. Kan enak kalo lewat, jadi mulus banget,"


"Sekali dilewati mobil tronton trailer, langsung lonsor anjiiirr! Kena hentakkan kaki yang kuat aja langsung pecah, apalagi dilewati mobil segede itu,"


"Lo bener juga sih, Da. Ngapain ya gue tiba tiba bahas jalanan depan itu? Udah kagak ada kebijakan dari pemerintah lagi, kan kalo ada jalanan yang berlubang kayak gitu kan jadi membahayakan siswa sini juga, apalagi pengendara jauh. Apa pemerintah mau ganti rugi kalo ada yang kecelakaan?"


"Idih, ngapain lo tanya gue? Ya jelas lah kagak ada yang mau ganti rugi, lagian nih ya kita juga yang rugi. Lo kira gali makam itu gratis? Tanah sepetak itu pun aja bayar kok,"


"Lo tau bener soal pemakaman, Da. Emang lo sudah beli sepetak tanah untuk makam lo?"


"Anjiing lo, Ra! Lo nyumpahin gue mati?"


"Bukan bukan begitu maksud gue, Da. Gue hanya penasaran aja kenapa lo bisa bilang gitu, lo kan belum pernah beli tanah pemakaman."


"Emang lo kira gue ngak punya saudara? Dulu saudara gue meninggal dan beli tanah buat pemakaman, jadi gue tau soal itu,"


"Lo punya saudara juga ternyata, gue kira lo anak hilang, Da. Ngak punya saudara,"


Risda pun mengeratkan gigi giginya itu dihadapan Mira, melihat itu langsung membuat Mira berlari untuk menghindari Risda. Jika seperti itu, biasanya Risda akan melontarkan sebuah pukulan kepada Mira karena gemasnya, dan Mira tidak mau jika harus dipukul oleh Risda sehingga dirinya memilih untuk kabur.


"Mira! Kok gue ditinggalin sih!" Teriak Risda sambil melihat Mira berlari menjauh darinya.


Risda pun dengan sebalnya terus melangkah untuk menyusul Mira yang balik kekelasnya. Ketika hendak masuk kedalam kelasnya, ia melihat Afrenzo yang membawa begitu banyak buku buku untuk masuk kedalam kelasnya.


Risda teringat akan luka yang dimiliki oleh Afrenzo itu, dan dirinya pun langsung menghampiri cowok itu. Risda pun mengambil beberapa buku yang ada ditangannya bagian atas begitu saja, Afrenzo yang terkejut langsung melontarkan sebuah tatapan tajam kearah Risda.


"Ngapain lo?" Tanya Afrenzo dengan dinginnya.


"Tangan lo sakit, biar gue bantu angkatin buku buku ini,"


"Ngak perlu."


"Renzo...."


"Balikin!"


"Ngak, gue mau bantu lo."


"Balikin, Da!"


"Okey, gue balikin didalam kelas lo ya?"


Risda pun memaksa untuk membantu Afrenzo, Risda pun langsung masuk kedalam kelas Afrenzo untuk menaruh buku buku yang ada ditangannya dimeja guru yang ada dikelas Afrenzo. Afrenzo pun menaruh buku buku yang ada ditangannya itu diatas meja yang sama.


Karena jam istirahat belum berakhir, sehingga kelas tersebut terlihat sangat sepi. Karena penghuninya semua pergi kekantin dan sebagainya dari mereka ke perpus dan lain lain.


"Makasih," Ucap Afrenzo.


"Ngak tau kenapa, setiap lo ngucapin gitu, gue ngerasa merinding banget deh. Sumpah, gue kagak bohong loh," Ucap Risda sambil menyengir ketakutan kearah Afrenzo.


"Hem?"


"Gimana luka, lo? Jangan ngangkat angkat barang seperti ini, Renzo. Tangan lo masih terluka,"


"Hanya luka kecil."


"Tapi bagaimana kalo infeksi? Nanti tangan lo di amputasi, terus kagak punya tangan bagaimana? Kalo lukanya semakin parah gimana? Terus gimana cara ngajar beladirinya? Gimana caranya beraktivitasnya? Gimana..."


"Pikiran lo kejauhan,"

__ADS_1


Belum sempat Risda melanjutkan pertanyaannya, Afrenzo segera memotong ucapannya itu. Hal itu langsung membuat Risda menghentikan ucapannya itu, kedua matanya membulat dan berketip beberapa kali kearah Afrenzo.


"Gue serius, Renzo. Apa lo ngak bisa lihat keseriusan gue dari mata gue? Apa lo masih kurang yakin soal itu? Gimana cara gue untuk bisa ngeyakinin lo sih?"


Afrenzo pun mendekat kearah Risda, karena tinggi Afremzo lebih tinggi dari pada Risda hingga membuat Risda harus mendongak keatas untuk menatap Afrenzo. Jarak keduanya semakin dekat, dan hal itu langsung membuat Risda mendorong tubuh lelaki itu untuk menjauh darinya.


"Lo mau apa?" Tanya Risda dengan paniknya.


"Lihat mata lo," Jawab Afrenzo dengan senyuman misterius.


"Lo nyeremin tau, kayak harimau yang menemukan mangsanya."


Risda pun termundurkan beberapa langkah kebelakang, disekolahan itu terdapat sebuah lantai yang tinggi 1 keramik daripada yang lainnya agar mempermudah guru dalam menyampaikan ilmu kepada siswanya. Ia tidak melihat belakangnya itu ada sebuah tanjakan turun, dan hal itu langsung membuat Risda hendak terjatuh.


Beruntung sekali Afrenzo menangkap tangannya, dan menggenggam erat pergelangan tangan Risda agar dia tidak jatuh kelantai. Risda langsung membenarkan cara berdiri agar tidak roboh kebelakang, ia pun melepaskan pegangan tangan Afrenzo dari pergelangan tangannya.


"Lain kali hati hati," Ucap Afrenzo dan langsung bergegas untuk duduk dibangkunya.


"Lo nyeremin sih, gue kan jadi takut."


"Kembalilah ke kelas, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi,"


Risda pun langsung bergegas keluar dari kelas tersebut, ia tidak mau teman teman Afrenzo melihat dirinya dan Afrenzo berduaan dikelas. Apalagi itu bukanlah kelasnya, sehingga dirinya akan dicurigai ada hubungan khusus dengan Afrenzo.


*****


"Lo dari mana aja, Da?" Tanya Mira yang sedang menatap kearah Risda yang baru tiba.


"Idih, kepo banget sih jadi orang."


"Dasar songgong!"


Mendengar umpatan tersebut langsung membuat Risda tertawa dengan kerasnya. Dirinya merasakan sebuah kemenangan karena bisa membuat gadis itu merasa jengkel kepadanya, dan rasanya seperti mendapatkan piala dunia.


"Gue minta minum dong, gue lupa ngak beli." Risda pun mengambil botol air mineral yang ada diatas meja itu.


"Totalan belakang yak? Setetes harganya 500 rupiah," Ucap Septia sebelum Risda meminum air tersebut.


"Ya elah, perhitungan banget sih sama teman sendiri. Lagian sebotol ini aja harganya cuma 3000 rupiah, dan dalamnya itu lebih dari 100 tetes. Bisa bisanya lo naikin gitu aja,"


"Itu menurut lo, Da. Beda lagi dengan gue, yang emang ngejual segitu,"


"Kalo ngak mau ya udah, ngak usah diminum. Gue sendiri juga ngak nyuruh lo untuk minum minuman gue, Da."


Risda pun tidak mempedulikan gerutu dari Septia, dirinya pun langsung menenggak minuman tersebut untuk menyegarkan tenggorokannya itu. Septia yang melihat itu pun hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, sambil menyaksikan Risda yang menelan minuman itu.


"Udah habis," Ucap Risda yang telah menghabiskan minuman Septia begitu saja, ia pun menyerahkan botol minuman yang habis itu ke Septia.


"Sialan lo, Da. Giliran sampahnya aja lo balikin ke gue, minumannya lo habisin sendiri," Omel Septia kepada Risda.


"Buangin lah, tinggal buang aja susah banget deh, lo. Tinggal berdiri dan lempar saja,"


"Ya buang sendiri lah, apa lo ngak punya kaki ha?"


"Disuruh malah nyuruh balik."


"Contohin lah, seperti yang lo ucapkan tadi,"


"Yayaya!"


Risda pun merampas botol tersebut dari tangan Septia, karena bangku mereka yang berada didepan meja guru sehingga bisa melihat sebuah tong sampah yang berada didepan pintu agak jauh itu. Risda pun memberi ancang ancang sebelum melemparkan botol kosong yang ada ditangannya itu.


Risda pun mulai melemparkan botol tersebut dengan sekuat tenaganya, bukannya masuk kedalam tong sampah akan tetapi botol tersebut langsung terkena sebuah kepala seseorang yang hendak masuk kedalam kelas itu.


"Akh... Siapa yang melempar botol ini!" Pekik orang tersebut sambil menatap kearah Risda dan yang lainnya.


"Mampus gue! Bisa dihukum nih." Umpat Risda lirih.


Orang tersebut adalah Guru wanita yang hendak masuk kedalam kelas Risda, akan tetapi justru terkena lemparan botol dari Risda ketika hendak masuk mengajar dikelas tersebut. Melihat itu langsung membuat teman teman Risda bergegas kembali kebangkunya, sementara Risda hanya terpaku ditempatnya tanpa bisa bergerak.


"Siapa yang melempar ini !?" Tanya Guru tersebut dengan nada tingginya kepada para siswa yang ada dikelas itu.


"Risda Bu!" Jawab mereka semua yang ada dikelas tersebut secara bersamaan.


"Sialan lo semua!" Sentak Risda.


"RISDA!" Bentak Guru wanita itu dan langsung membuat Risda berdiri dengan sigapnya.


"Maaf Bu, tadi benar benar ngak sengaja kok. Lagian anda juga sih tiba tiba masuk ke kelas tanpa bilang bilang,"

__ADS_1


"Kamu sudah berani nyalahin guru disini ya? Kamu ngak dengar apa bel masuk kelas sudah berbunyi?"


"Eh, bukan seperti itu maksud saya, Bu. Anda terlalu salah paham dengan saya,"


"Kamu ini sering melakukan kesalahan disekolahan ini, apa kamu mau dikeluarkan dari sekolah?"


"Saya sekolah juga bayar, Bu. Apa anda mau mengembalikan uang spp saya dan pendaftaran siswa baru? Ibu saya sudah habis berjuta juta, Bu. Dan anda tiba tiba ngeluarkan saya begitu saja,"


Bukan Risda namanya jika kalah dalam berdebat, bahkan dengan guru saja dirinya berani untuk membantah apalagi dengan yang lainnya. Guru tersebut hanya menghirup nafas dalam dalam, berdebat dengan Risda sangat membuang buang tenaga dan pikirannya.


"Disekolahan ini juga punya aturan! Ngak bisa seenaknya kamu melanggarnya begitu saja,"


"Saya juga punya perasaan, Bu. Ngak seenaknya anda main mengeluarkan saya dari sekolah ini, ini hanya kesalahan kecil saja, tapi kenapa anda besar besarkan seperti itu?"


"Da, mending lo diam saja deh," Ucap Rania sambil menyaksikan pertengkaran itu.


"Ngak bisa, harga diri gue direndahkan disini," Ucap Risda sambil menoleh kearah Rania.


Baru kali ini ada siswa yang berani membantah ucapannya itu, bahkan mengajaknya untuk berdebat seperti itu. Jika ini diteruskan maka Risda akan mendapatkan surat peringatan dan teguran keras dari kepala sekolah.


"Keluar dari kelas sekarang juga!" Perintah Guru wanita itu kepada Risda.


"Asikk... Gue ngak ikut pelajaran yang menyebalkan ini, terima kasih Ibu guru yang terhormat. Akhinya bisa kembali ke kantin," Seru Risda dengan senangnya.


Mungkin hanya Risda satu satunya siswa yang merasa senang ketika disuruh keluar dari kelas tersebut, sementara kebanyakan siswa lainnya jika disuruh keluar seperti itu oleh guru, mereka akan merasa sedih bahkan sangat merasa bersalah. Risda memang berbeda dari anak anak pada umumnya, dan lebih bersemangat ketika disuruh keluar dari kelasnya.


"Tetap diam ditempat!" Perintah Guru itu lagi, dan langsung membuat Risda menghentikan langkah kakinya itu.


"Ada apa lagi sih, Bu? Katanya tadi nyuruh saya keluar, sekarang kok malah disuruh diam ditempat," Ucap Risda sambil merasa sebal.


"Siapa suruh pergi ke kantin?" Tanya Guru itu sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Ngak ada, saya pergi sendiri kok."


"Tetap ditempat, angkat satu kaki!"


"Yah..., ngak jadi dikeluarkan dari kelas dong," Risda nampak kecewa karena tidak jadi pergi ke kantin saat ini.


"Mau Ibu tambah lagi hukumannya?"


Risda pun hanya menyengir seakan akan tidak mempunyai dosa, guru tersebut langsung menyuruh Risda untuk berdiri didepan papan tulis dengan kedua tangan yang memegangi masing masing telinganya.


"Jangan deh, Bu. Nanti dia marah lagi, ya udah saya tetap disini saja deh. Silahkan melajutkan pelajarannya, Ibu guru yang terhormat sejagad raya," Dia yang dimaksud adalah Afrenzo.


Berhadapan dengan para guru, dirinya sama sekali tidak takut akan hal itu. Akan tetapi, beda lagi ceritanya jika berhadapan dengan sosok Afrenzo yang mampu membuatnya diam seketika itu, tanpa berani untuk membantahnya sedikitpun itu.


Risda berdiri didepan meja guru sambil mendengarkan guru tersebut menerangkan sesuatu kepada mereka, ia pun menatap kearah teman temannya yang juga tengah fokus kepada guru wanita itu. Kehadiran Risda sama sekali seperti tidak dianggap oleh semuanya, Risda hanya mencerucutkan bibirnya dengan malasnya.


Mending dirinya pergi ke kantin sambil menikmati makanan dan minuman, daripada dirinya yang harus berdiri terus terusan ditempat itu tanpa bisa berbuat apapun. Dirinya begitu malas untuk menjewer telinganya sendiri, sehingga dirinya fokus bermain dengan kuku kukunya itu.


Brakkkkkk


Tiba tiba guru itu memukul mejanya dengan merasnya menggunakan kemoceng yang ada ditempat itu, hal itu langsung membuat Risda terkejut dan langsung siap ditempat. Ia pun mengangkat tangannya untuk hormat kepada guru tersebut layaknya seorang angkatan.


"Hormat kepada pelatih!" Teriak Risda reflek.


Mendengar ucapan dari Risda, langsung membuat teman temannya tertawa terbahak bahak. Reflek yang dimiliki oleh Risda itu terlihat lucu bagi mereka, karena pelakunya bukan Afrenzo melainkan guru yang mengajar mereka saat ini.


Refleknya yang langsung hormat tersebut menandakan bahwa Afrenzo sering membuatnya terkejut, sehingga bahkan reflek saja pun langsung membuatnya hormat seperti itu.


"Da, ini dikelas woi! Bukan ditempat latihan, hahaha..." Tawa Mira menggelegar dikelas itu.


"Anjaaaay! Lo takutnya cuma sama Afrenzo kah? Cielah babu gue udah punya tambatan hati" Ucap Septia.


Septia memanggilnya babu tersebut karena sebelumnya Risda melakukan pekerjaan yang dirinya suruh untuk melemparkan botol tersebut hingga mengenai kepala guru wanita itu. Risda pun menurunkan tangannya dan mengepalkannya dengan erat, karena dirinya tidak terima dipanggil babu oleh Septia.


"Babu matamu!" Umpat Risda.


"RISDA!" Sentak guru tersebut kepada Risda akibat umpatan yang diucapkan oleh Risda. "Saya belum pergi dari sini, kamu justru sudah membuat masalah lagi,"


"Maaf, Bu. Saya kelepasan bicara kasar tadi,"


"Ngak ada maaf maafan lagi, keluar dari kelas ini dan lari memutari lapangan sebanyak 100 kali!"


"APA!? Apakah ngak kurang banyak, Bu? 500 kali pun saya bisa," Bualan dari Risda.


"Jangan banyak bicara, cepat laksanakan!"


Risda pun langsung bergegas untuk menuju kelapangan sekolahan itu. Memang kelasnya bersebelahan dengan lapangan disekolahan itu, sehingga berlari sebentar saja dirinya sudah sampai dihalaman lapangan.

__ADS_1


Dirinya pun diawasi langsung oleh guru wanita itu, sementara siswa yang lainnya diberi tugas merangkum sebuah buku paket. Dirinya benar benar diawasi oleh guru wanita itu, tanpa membiarkan Risda untuk berhenti berlari memutari lapangan.


__ADS_2