Pelatihku

Pelatihku
Episode 124


__ADS_3

Mereka semua telah sampai disebuah lapangan, Afrenzo dan diikuti oleh yang lainnya pun langsung memarkirkan sepeda motornya disana. Risda langsung bergegas untuk memarkirkan motornya didekat Afrenzo, dan langsung bergegas untuk berdiri disampingnya.


"Renzo tempatnya kok sepi banget? Cuma banyak sepeda motor doang yang parkir. Apa mungkin kita telat?" Tanya Risda sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Di sini cuma dibuat untuk parkir bukan start, sekitar setengah meter dari sini nanti akan ada sekolah, nah di sanalah tempat kita berkumpul."


"Jadi ini harus jalan lagi? Kenapa nggak parkir di tempat lokasi saja daripada di sini?"


"Di sana macet nggak mungkin bisa digunakan untuk parkir," Jelas Afrenzo.


"Banyak nanya banget sih lo, tinggal ikutin apa yang diperintah aja susah. Cerewet!" Sela Fandi yang mendengar pertanyaan dari Risda.


"Dih, gue aja ngak nanya sama lo," Jawab Risda sensi.


"Gue kasih tau,"


"Gue ngak butuh tahu, gue masih kenyang. Jadi buat lo aja,"


"Sudah! Kita jalan sekarang," Ucap Afrenzo dengan nada sedikit tinggi.


Dua orang itu selalu saja berantem ketika bertemu, seakan akan tiada hari untuk berhenti bertengkar. Mendengar keduanya yang ribut membuat Afrenzo merasa pusing, apalagi dalam situasi seperti ini hingga membuatnya harus menahan amarah.


Risda dan Fandi hanya bisa menundukkan kepalanya, mendengar suara Afrenzo yang seperti itu membuat keduanya merasa ngeri. Seluruhnya yang sibuk dengan urusan mereka masing masing langsung terkejut mendengarnya, hingga membuat perhatian seluruhnya terarah kepada ketiganya.


"Dia buat masalah apalagi sih? Sehari saja tanpa buat keributan emang kagak bisa ya?" Tanya seseorang kepada temannya yang ada disebelahnya.


"Lah iya, bosen tau dengernya," Jawab temannya itu.


"Gue bisa denger!" Sentak Risda yang mendengar ucapan itu.


Keduanya langsung berdiam diri karena mendengar ucapan dari Risda itu, bisa dibilang Risda adalah orang yang penting bagi Afrenzo. Sehingga mereka tidak mau membuat keributan dengan Risda, yang berakibat Afrenzo sendiri yang akan turun tangan.


Selama ini mereka tidak melihat Afrenzo yang turun tangan sendiri, akan tetapi mereka hanya menebaknya saja. Karena gadis itu selalu saja ada disamping Afrenzo, dan bahkan ketika dikantin pun mereka duduk saling berhadapan untuk mengisi perut masing masing.


"Ngomong kok dibelakang orangnya, cemen banget jadi orang. Kalo berani itu ngomong didepan," Gerutu Risda sambil terus berjalan.


Bhukk..


Risda yang terus mengomel itu pun tidak menyadari bahwa Afrenzo berhenti melangkah, sehingga dirinya pun menabrak punggung Afrenzo dengan kerasnya. Risda langsung memegangi jidadnya, entah mengapa punggung Afrenzo begitu keras hingga membuatnya merasa nyeri.


"Auhh... Jidat gue, nyeri banget," Keluh Risda sambil mengusap usap jidatnya itu.


Afrenzo merasa terkejut ketika tubuhnya tiba tiba ditabrak oleh seseorang dari bekalang, akan tetapi setelah mendengar suara siapa yang menabraknya itu pun hanya membuat Afrenzo menghela nafasnya kasar.


"Pelan pelan napa sih, Renzo. Tubuh lo keras banget lagi, itu tubuh atau besi sih sebenarnya? Bisa benjol dong jidat gue," Omel Risda kepada Afrenzo sambil terus mengusap kepalanya.


"Perhatikan tutur katamu," Ucap Afrenzo memperingatkan kepada Risda.


"Kena..."


"Banyak pendekar hebat di sini,"


Belum selesai Risda bertanya kepada Afrenzo, Afrenzo langsung memotong pembicaraannya itu. Afrenzo menjelaskan seakan akan di sana begitu banyak pendekar yang hebat, memang seluruh organisasi perguruan Kembang Sepasang sedang berkumpul di tempat itu saat ini.

__ADS_1


Ini adalah acara milad dari perguruan tersebut, sehingga banyak orang orang penting di sana yang ikut serta meramaikan acara tersebut. Apalagi di perguruan itu Afrenzo adalah seorang pelatih, dan seharusnya dipanggil sebagai pelatih bukan nama.


jika di cabang lain seorang pelatih dipanggil nama maka siapa yang memanggilnya akan dikenakan hukuman, meskipun usia pelatih tersebut dibawa siswa yang dilatihnya. Afrenzo langsung berjalan untuk bersalaman dengan pelatih pelatih yang lainnya, melihat itu membuat seluruh siswa yang dilatihnya ikut serta bersalaman.


"Ini semua para siswa mu?" Tanya salah satu pelatih yang bersalaman dengan Afrenzo.


"Iya. Mereka semua ikut serta dalam acara ini," Jawab Afrenzo.


"Bagus. Ternyata banyak juga ya yang kamu latih, aku tunggu mereka di gelanggang nanti,"


"Pak Amanu bisa saja, lagian mereka juga masih baru. Kalau sudah waktunya turun, kita lihat siapa yang akan menang nanti,"


Amanu pun tertawa mendengar suara Afrenzo yang begitu yakin soal itu, para siswa yang dipimpin oleh Amanu jarang mendapatkan juara dan tidak seperti para siswa yang dipimpin oleh Afrenzo. Afrenzo sendiri saja sudah latihan sejak dirinya masih kecil dan di bawah bimbingan Ayahnya sendiri, oleh karena itu dirinya tidak meragukan pencapaian yang akan dicapai oleh Afrenzo.


Kedua orang tua Afrenzo adalah seorang pesilat yang hebat, bahkan keduanya pun pernah meraih juara ketika masih usia remaja. Sehingga mereka sendirilah yang melatih Afenzo sejak kecil, hingga membuat lelaki itu sangat hebat di usia yang masih remaja.


Banyak diantaranya yang mencapai usia 40 tahun baru diangkat sebagai pelatih, dan beberapa yang lainnya baru menginjak usia 30 tahun baru diangkat sebagai pelatih. Sementara Afrenzo, yang masih berusia belasan tahun pun sudah diangkat menjadi pelatih bela diri.


Bukankah itu sebuah prestasi yang luar biasa? Tidak semua orang bisa melakukan itu tanpa memiliki niat yang sangat kuat. Afrenzo sendiri juga sudah menyukai beladiri ketika masih berusia anak anak, karena kesukaannya itu membuatnya ingin terus berlatih dan berlatih hingga dirinya mampu mencapai posisi pelatih di usia belasan tahun.


"Oh iya, para pelatih lainnya sudah sampai dan ada di ruang kelas yang ada di ujung sana," Ucap Amanu lagi sambil menunjuk kearah kelas yang cukup jauh dari sana.


"Pak Gik juga sudah datang?" Tanya Afrenzo.


"Iya, semuanya sudah datang tinggal dirimu saja yang belum berkumpul. Oh ya di ruangan sebelah sini untuk para siswa yang ikut, perintahkan muridmu untuk masuk ke sana dan bergabung dengan para siswa dari cabang lainnya juga sebelum memulai acara."


Afrenzo pun menganggukkan kepala pelan kepada sosok lelaki yang baru saja ditemuinya itu. Afrenzo pun berjalan menuju ke ruangan yang dimaksud tempat di mana para siswa berkumpul, untuk membimbing para siswanya itu.


"Fan, awasi gadis ini. Jangan sampai bikin keributan," Ucap Afrenzo kepada Fandi sambil menunjuk kearah Risda.


"Baik pelatih," Jawab Fandi.


"Kalau sampai dia berbuat macam macam segera laporkan kepada ku, biar aku beri hukuman yang berat nantinya. Jangan sampai lengah,"


"Kenapa harus lelaki ini sih? Emang nggak ada yang lain apa? Gue eneg banget sama cowok ini, bisa diganti nggak?" Tanya Risda yang tidak terima jika Fandi yang disuruh Afrenzo untuk mengawasinya.


"Nggak bisa," Jawab Afrenzo singkat.


"Iya iya gue janji nggak akan buat keributan, asalkan bukan laki laki ini yang mengawasi gue. Gue nggak suka diawasi sama dia,"


"Gue ngak suka dibantah!" Ucap Afrenzo dingin sambil bergegas untuk meninggalkan tempat itu.


"Dih macan ngamuk," Ucap Risda kesal sambil melihat kepergian dari Afrenzo.


Mendengar ucapan Risda, sontak membuat Anna dan Vina ingin sekali tertawa terbahak bahak, akan tetapi keduanya hanya bisa menahan tawanya dengan menutup mulutnya rapat rapat. Sekilas Risda mendengarnya dan langsung menatap tajam kearah kedua gadis itu.


"Ngapain lo tertawa? Mau menertawakan gue ha?" Tanya Risda dengan kesalnya kepada Vina dan Anna.


"Bukan menertawakan lo kok, Da. Ucapan lo aja yang bikin kita kagak bisa berhenti tertawa, buahaha..." Ucap Vina yang langsung tertawa dengan kerasnya.


"Sama aja keles,"


"Jangan bikin keributan," Ucap Fandi memperingatkan kepada Risda.

__ADS_1


Risda ingin sekali berteriak saat ini, dirinya merasa jengkel karena diawasi oleu Fandi. Hal itu membuatnya tidak bisa berbuat semaunya lagi, apalagi ancaman Afrenzo sebelumnya yang langsung membuat nyalinya menciut begitu saja.


Risda benar benar merasa kesal saat ini, apalagi Fandi yang terus memperhatikannya tanpa lengah sedikitpun itu. Risda merasa sangat bosan karana tidak bisa berbuat apa apa saat ini, apalagi dirinya yang berada dalam masa pengawasan dari Fandi.


Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo datang sambil membawa sebuah kertas yang bertuliskan nomor urut mereka. Afrenzo lalu menyuruh mereka untuk berbaris sesuai dengan urusan regunya, dan dirinya juga membawa sebuah celurit dan toya.


"Renzo, itu celurit beneran?" Tanya Risda yang begitu takjub dengan keruncingan celurit itu.


"Mau coba?" Tanya Afrenzo balik.


"Nggak deh, nanti jari gue hilang lagi. Ngeri tau kalo sampe kena,"


Afrenzo pun tidak menjawab ucapan Risda lagi, karena dirinya sibuk dengan persiapannya sendiri. Sementara Risda, dirinya langsung berbaris didepan Afrenzo, dirinya merasa ngeri jika waktu atraksi celurit tersebut justru mengenai dirinya.


"Selanjutnya, kita saksikan kumpulan para pendekar hebat. Calon juara dimasa depan," Ucap dewan juri yang ada di start sebelum mereka jalan.


"Salam perguruan, grak!" Seru Afrenzo dengan kerasnya.


Afrenzo berada didekat mikrofon yang ada dipanggung, sehingga suaranya terdengar sangat keras. Seluruhnya pun bergerak sesuai dengan panduan dari Afrenzo, gerakkan yang kompak hingga terlihat sangat indah.


"Muridmu benar benar hebat Pak Rohman, saya sangat kagum dengannya," Ucap seseorang yang berada tidak jauh dari area panggung sehingga dapat didengar oleh Risda dan yang lainnya.


"Diriku tidak berbuat apa apa, berkat didikan orang tuanya sehingga dia bisa seperti itu. Seharusnya anda memuji siapa yang mendidik," Ucap Hajirohman.


"Tapi, yang semua orang tau bahwa dia adalah muridmu, Pak. Renzo murid dari Pak Rohman,"


"Renzo memang hebat, sikapnya yang tegas memang pantas menjadi seorang pemimpin. Inilah pemimpin dimasa depan,"


"Saya setuju soal itu."


Setelah melakukan gerakan salam perguruan, mereka pun langsung duduk bersila untuk memanjatkan doa sebelum berangkat berjalan. Afrenzo pun memimpin mereka untuk berdoa, dan diikuti oleh seluruhnya secara serempak.


"Berdoa selesai. Berdiri grak!" Ucap Afrenzo lagi lagi untuk memandu mereka.


Setelah berdoa mereka pun melakukan gerakkan jurus yang selama ini dipelajari secara serempak, sementara Afrenzo memainkan kedua senjata yang ada ditangannya itu. Setelahnya mereka langsung bergegas untuk jalan, karena acara karnaval sehingga banyak orang yang menonton ditepi jalan.


Risda yang tidak terbiasa dilihatin banyak orang itu pun seketika membuat tubuhnya gemetaran, dirinya merasa sangat gugup saat ini dan bahkan dirinya sangat takut jika salah dalam melakukan sebuah gerakan karena sangking gemetarannya tubuhnya itu.


Dilihat oleh banyak orang membuat Risda ketakutan, akan tetapi dirinya harus berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan gerakkan yang bagus sesuai dengan apa yang dilatih oleh Afrenzo.


"Renzo, lo kok bisa sih ngak gugup?" Tanya Risda lirih kepada Afrenzo.


"Sudah terbiasa," Jawab Afrenzo datar.


"Pantesan aja lo ngak gugup. Ngelihat mereka yang antusias melihat karnaval membuat gue gemetaran tau,"


"Biasain sebelum masuk ke gelanggang."


"Emang didalam gelanggang juga rasanya seperti ini?"


"Hem,"


Bukannya menjawab, cowok itu justru hanya berdeham saja mendengar pertanyaan dari Risda. Risda pun hanya bisa mendengus dengan kesalnya karena sikap Afrenzo, seakan akan cowok itu terbiasa berdehem saja sehingga tidak pernah terdengar kata katanya.

__ADS_1


Risda dan yang lainnya pun berjalan sesuai dengan rute yang diberikan oleh panitia. Mereka pun menelusuri rute tersebut dan sesekali menampilkan sebuah gerakkan jurus yang selama ini mereka latihan itu.


Hal itu membuat seluruh penduduk yang menyaksikan festival tersebut merasa sangat senang, apalagi menyaksikan sebuah pertunjukan yang dihidangkan oleh sebuah perguruan beladiri. Afrenzo terlihat sangat lincah dalam memainkan sebuah senjata yang ada dikedua tangannya itu.


__ADS_2