
Afrenzo terus memperhatikan Risda yang tengah memakan soto ayam itu, dapat dilihat bahwa gadis itu sangat kelaparan saat ini.
Afrenzo yang hanya memerhatikan saja sudah membuatnya kenyang duluan, dirinya bahkan merasa aneh dengan keluarga Risda yang seakan akan tidak memerhatikan Risda. Ketika makanan itu sudah habis, Risda pun menggeser mangkuk tersebut menjauh darinya, dirinya pun menatap kearah Afrenzo.
"Sudah kenyang?" Tanya Afrenzo.
"Sudah,"
"Lo lupa bawa uang saku?"
"Iya Renzo, tadi perasaan gue udah masukkin kedalam saku gue, eh ternyata gue lupa. Jadi gue lupa ngak bawa uang saku," Ucap Risda dengan jujurnya.
"Lalu kenapa tadi hutang buat bayar amal? Lo boleh kok ngak ikut bayar amal jariyah tadi, kalo memang ngak bawa uang bisa bayar minggu depan juga."
"Ngak enak, Renzo. Gue mau tanya, emang ngak papa kan bayar amal jariyah dengan hutang? Soalnya gue sudah ngelakuin itu,"
...***** Sebagai catatan ya *****...
Sedekah ada yang wajib dan ada yang sunah. Sedekah yang wajib disebut zakat, ini adalah harta yang sudah ditentukan (jenisnya) diambil dengan cara yang ditentukan (dengan masa, ukuran atau bilangan) dan diberikan kepada orang yang sudah ditentukan (ashnaf al-tsamaniyah) QS. Al-Taubat 60.
Sedekah juga ada yang sunah. Sedekah yang sunah ini disebut infak, tidak ada aturan khusus untuk infak seperti dalam zakat.
Semua harta yang bersih (halal) yang dihasilkan dari bekerja atau berkarya (kasab) dan yang dihasilkan dari bumi hendaknya sebagian dari harta tersebut diinfakkan sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Baqarah 267.
Tidak ada larangan sedekah menggunakan harta pinjaman, tentu dengan catatan kelak dapat mengembalikan harta pinjaman tersebut. Orang yang masih menanggung beban pinjaman tidak diharuskan bersedekah karena bisa mendatangkan kerusakan (mafsadah) dengan bertambahnya beban.
...***** Semoga bermanfaat *****...
"Ngak papa, asal lo bisa ngembaliin uang pinjamanan itu ke pemiliknya," Jawab Afrenzo.
Risda pun menganggukkan kepalanya paham. Dirinya pun merasa lega ketika mendengar jawaban dari Afrenzo, karena dirinya tidak tau apakah hal itu boleh dilakukan atau tidaknya.
"Terus bagaimana jika dulu gue punya hutang tapi belom sempat gue bayar terus orangnya sudah pergi jauh? Dan dia lupa soal itu?" Tanya Risda lagi.
"Lo bisa bayar dengan cara menyedekahkannya atas nama orang yang lo pinjam itu kepada orang yang membutuhkan. Kalaupun dia balik dan meminta uangnya kembali, maka lo harus memberikannya karena itu juga adalah hak dia,"
"Gue paham, makasih ya atas penjelasannya."
"Iya Da."
Risda tiba tiba teringat dengan kejadian tadi pagi, sejak tadi dirinya memang tengah menahan tangisannya agar tidak jatuh begitu saja. Sangking kesalnya, hal itu membuatnya menitihkan air matanya, setetes air maya pun muncul dipelipuk matanya itu, terdengar isakkan lirih dari bibir Risda saat ini.
"Maaf gue cengeng," Ucap Risda sambil menghapus air matanya itu, air mata yang sejak tadi ditahannya itu pun meluncur tiba tiba ketika berhadapan dengan Afrenzo.
"Kenapa?" Tanya Afrenzo.
"Gue ngak papa kok," Jawab Risda lirih sambil berusaha untuk menahan air matanya dihadapan Afrenzo.
"Apa soal hutang?" Tanya Afrenzo lagi.
"Bukan, tapi soal tadi pagi ketika dirumah,"
Risda tidak mau terlihat lemah dihadapan siapapun itu, termasuk juga Afrenzo. Dirinya tidak mau orang lain melihat kelemahannya itu, seberapapun dirinya mencoba menahannya akan tetapi dirinya tidak mampu memahan air matanya itu dihadapan Afrenzo.
"Katakan!" Perintah Afrenzo dengan tegasnya.
"Huaa... Lebih sabar dikit napa sama cewek, udah tau lagi nangis malah ngomong dengan nada seperti itu lagi, emang kagak punya perasaan. Kenapa gue harus nangis didepan dia sih!" Batin Risda menjerit akan tetapi mulutnya terbungkam dengan rapatnya.
Afrenzo seakan akan mendengar jeritan batinnya itu, sehingga Afrenzo pun menghela nafasnya dengan panjang. Setiap kali menangis, hidung Risda akan mengeluarkan air hingga kadang kala dirinya merasa seperti tengah tenggelam jika sedang menangis, hal itu langsung membuatnya mengusapinya dengan jilbabnya.
"Kotor Risda!" Sentak Afrenzo.
Risda pun terdiam ketika mendengar sentakkan dari Afrenzo, dirinya yang berpikir bahwa lelaki itu paham dengan jeritan batinnya, akhinya pun pupus. Afrenzo pun langsung mengambilkan sebuah tissu yang berada tidak jauh dari tempat keduanya duduk.
"Jangan diusapi pake jilbab, najis buat sholat nanti," Ucap Afrenzo sambil menyerahkan tissu itu kepada Risda.
Risda pun langsung menerima tissu tersebut, dirinya pun langsung mengeluarkan ingusnya begitu saja menggunakan tissu tersebut. Untung saja kantin itu sudah sepi saat ini, karena mereka yang beli makanan itu telah dilayani sehingga hanya tersisa Risda, Afrenzo, dan beberapa siswa lainnya.
"Kenapa nangis?" Tanya Afrenzo dengan nada lebih pelan dan lembutnya.
__ADS_1
Risda justru terkejut ketika mendengarnya, ternyata sosok seperti Afrenzo yang dingin itu mampu berkata dengan lembutnya. Bukannya menjawab pertanyaan itu, justru Risda malah menatap kearah Afrenzo dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
"Da?" Panggil Afrenzo kepada Risda yang justru malah bengong dihadapan Afrenzo.
Panggilan itu langsung membuat Risda tersadar akan dunianya itu, dirinya pun langsung mengusapi wajahnya dengan kasar menggunakan tissu yang dibawa oleh Afrenzo sebelumnya itu.
"Lo ngak papa?" Tanya Afrenzo.
"Gue ngak papa kok," Jawab Risda pelan sambil menahan isakkan tangisnya itu.
"Kenapa nangis?"
"Gue ngak papa, dari tadi gue pengen nangis tapi baru bisanya sekarang,"
"Lanjutin,"
"Huaaa.... Srottttt...." Risda pun mengeluarkan ingusnya dengan kerasnya.
Melihat itu hanya membuat Afrenzo membuang mukanya, emang ngak ada akhlak sama sekali, bukan apa apa sih cuma ini ditempat umum, bahkan tempat orang jual makanan. Setelah melakukan itu, Risda pun merasa lebih tenang daripada sebelumnya.
"Maafin lagi," Ucap Risda sambil mengedipkan matanya berkali kali.
"Terus diulang lagi?" Tanya Afrenzo sambil memincingkan sebelah alisnya.
"Iya," Jawab Risda dan hanya dibalas dengusan kesal oleh Afrenzo.
Risda pun menyengir kearah Afrenzo, hingga menampakkan giginya yang gingsul. Risda seakan akan tidak memiliki salah, sehingga dirinya tersenyum tanpa memikirkan dosa yang dirinya miliki.
Risda pun terlihat seperti bahagia kembali, setelah menangis dihadapan Afrenzo, dirinya pun mampu untuk menampakkan senyuamnnya kembali. Saat ini moodnya pun kembali stabil seperti sebelumnya, sehingga dirinya menampakkan senyumannya kembali.
"Renzo, lo itu dingin tapi juga baik. Makasih ya?"
"Buat?"
"Karena lo sudah beliin makanan untuk gue hari ini, dan makasih juga sudah mengembalikan moodku saat ini. Lo bener bener baik,"
"Hem.."
"Ngak kok,"
"Makasih lagi,"
"Iya."
Afrenzo pun menyodorkan sebotol air putih kepada Risda, dan minuman tersebut langsung diminum oleh Risda karena sebelumnya dirinya belum minum untuk melunturkan nasinya yang masuk kedalam perutnya itu. Meskipun minuman itu rasanya tidak dingin, akan tetapi Risda terus meminumnya hingga tersisa setengah.
"Renzo, gue ngak pernah lihat lo makan. Emang lo ngak lapar apa?" Tanya Risda keheranan, karena setiap hari bertemu dikantin Afrenzo hanya menikmati minumannya tanpa membeli makanan.
"Apa perlu gue teriak teriak kalau mau makan?" Tanya Afrenzo balik dengan menatap lekat lekat wajah Risda.
Ditatap seorang Afrenzo seperti itu pun langsung membuat Risda nampak gerogi, dirinya pun menjadi salah tingkah dihadapan Afrenzo. Dirinya pun reflek mengarahkan tangannya untuk membuat Afrenzo menoleh kearah lainnya, Afrenzo hanya tersenyum sangat tipisnya bahkan seperti hampir tidak kelihatan.
"Bisa ngak sih, kalau lihat jangan seperti itu. Bikin gue takut aja," Ucap Risda dengan kesalnya.
"Ngak bisa."
"Kalo begitu tutup mata lo saja, biar ngak ngelihatin gue kayak gitu,"
"Ngak mau."
"Terus mau lo apa?"
"Balik kekelas,"
Afrenzo pun langsung bangkit dari duduknya, melihat itu langsung membuat Risda ikut serta berdiri dari tempat duduknya itu. Risda pun langsung berdiri dihadapan Afrenzo, untuk menghalangi cowok itu melangkah pergi dari tempat itu.
"Renzo, kok lo main pergi aja sih?" Tanya Risda.
"Sebentar lagi bel masuk, balik kekelas sekarang,"
__ADS_1
Tanpa menunggu balasan dari Risda, Afrenzo pun langsung memegangi pergelangan tangan kanan milik Risda. Dirinya pun langsung menarik tubuh Risda untuk pergi dari tempat itu, keduanya pun langsung bergegas menuju kekelas mereka masing masing.
"Masuk sekarang," Ucap Afrenzo kepada Risda ketika keduanya sudah berdiri dihadapan pintu kelas yang Risda tempati saat ini.
"Renzo..." Panggil Risda ketika melihat Afrenzo ingin melangkah pergi. Hal itu langsung membuat Afrenzo menghentikan langkah kakinya.
"Sekali lagi makasih ya, dan maaf sudah ngerepotin lo selama ini.
Afrenzo pun mengangguk kearah Risda sebagai jawaban dari ucapan Risda itu, setelahnya Afrenzo pun kembali melangkah untuk menuju kekelasnya yang memang berhadapan dengan kelas milik Risda. Hal itu membuat keduanya lebih gampang untuk mengetahui satu sama lain jika terjadi sesuatu.
Melihat kepergian dari Afrenzo, Risda pun langsung bergegas untuk masuk kedalam kelasnya. Tiba tiba seseorang pun langsung mengenggam pergelangan tangannya dengan sangat erat.
"Lepasin!" Sentak Risda sambil mengibaskan tangannya agar orang itu melepaskan pegangan tangannya itu.
"Lo dari mana saja, Da? Lo ngak diapa apain kan sama Renzo?"
"Bukan urusan lo, Sat. Lo punya masalah apa sih sama Renzo? Renzo sama sekali tidak pernah ikut campur dalam urusan lo, tapi kenapa lo sangat benci sama dia?" Tanya Risda dengan mengebu gebu.
"Lo belum tau soal Renzo sepenuhnya, Da. Gue sebenarnya emang ngak suka sama dia sejak lama, tapi gue tetep ikut perguruan itu agar gue bisa mengalahkan dia suatu saat ini,"
"Setelah lo hebat, lo mau nyelakain Renzo gitu? Ilmu lo itu ngak berguna, Sat. Dia yang mengajarkan lo untuk bisa beladiri, tapi lo justru ingin menghancurkan dia dengan beladiri yang lo miliki."
"Bukan seperti itu, Da. Gue hanya ngak suka dia sok hebat didepan semuanya,"
"Tapi apa pernah Renzo mengatakan bahwa dirinya hebat didepan banyak orang? Ngak pernah,"
"Dia memang ngak mengatakannya, Da. Tapi dengan diamnya itu, semua orang juga sudah tau,"
"Oh jadi karena diamnya lo benci sama Renzo? Justru dengan diam dirinya tidak mau bertengkar dengan siapapun, Sat. Dia juga tidak suka memperpanjang masalah, dan memilih untuk tetap diam."
"Tapi ngak begitu juga kali, Da. Dengan diam dirinya seperti terlihat sombong,"
"Kebencian lo ngak beralasan, Sat. Gue memang baru bertemu dengan dia, tapi gue tau semuanya tentang dia."
Risda pun menatap tajam kearah Satria, mendengar perkataan dari Risda menciptakan sebuah tanda tanya yang teramat besar dipikiran Satria. Apa yang diketahui oleh Risda tentang dirinya? Bukankah Afrenzo tidak pernah bergaul dengan siapapun.
"Maksud lo apa'an, Da?" Tanya Satria yang seakan akan tidak paham dengan ucapan Risda.
"Lo memang kenal dirinya lebih lama daripada gue, Sat. Tapi gue lebih tau tentang dia lebih banyak daripada lo. Stop untuk menjelek jelekkan Afrenzo didepan gue, itu semua ngak berguna bagi gue," Pungkas Risda.
Risda pun kembali mengibaskan tangannya, agar pegangan tangan Satria terlepas dari pergelangan tangannya itu. Karena pegangan tangan itu cukup kuat hingga tidak mudah terlepas, Risda lalu mencubit tangan Satria dengan kerasnya hingga lelaki itu melepaskan pegangannya tangannya itu.
"Bagaimana lo bisa tau?" Tanya Satria sambil mengusap usap lengannya yang telah dicubit oleh Risda dengan kerasnya itu.
"Gue tau darimana itu, itu semua bukan urusan lo, Sat. Jangan dekati gue jika lo hanya ingin menjelek jelekkan Afrenzo dihadapan gue,"
Setelah mengatakan itu, Risda langsung bergegas untuk duduk dibangkunya itu. Sebanarnya kelas itu terlihat ramai sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan dialog yang dilakukan oleh Risda dan Satria itu.
"Sudah kenyang, Da?" Tanya Rania kepada Risda yang baru saja duduk dibangkunya yang memang letaknya dihadapannya itu.
"Emang habis ngapain dia?" Tanya Mira yang kebingungan karena dirinya tau sendiri bahwa Risda lupa untuk membawa uang sakunya.
"Makan dong sama Ayang Renzo," Ucap Rania.
"Matamu!" Umpat Risda dengan sangat kesalnya kepada Rania.
"Salahnya dimana coba? Gue kan ngomong dengan jujur dan apa adanya. Kan emang lo tadi itu makan sama Afrenzo dikantin,"
"Emang sih, tapi dia itu pelatih gue bukan Ayang gue. Secara kan gue ini jomblo fisabilillah, jomblo karena Allah. Bagi gue, pacaran itu kagak ada manfaatnya tau, yang paling rugi siapa? Ya jelas pihak wanita,"
"Emang ruginya kenapa? Kan enak kalo mau apa selalu dibelikan, terus minta apa pun dikasih,"
"Huahahaha.... Bukan kewajiban lelaki memberi uang untuk perempuan yang bukam mahramnya, meskipun ada setatus pacaran akan tetapi dimata Allah kita tidak ada hubungan apapun. Justu akan mendapatkan dosa karena berduaan dengan orang yang bukan mahramnys." Risda justru tertawa dengan kerasnya mendengar pertanyaan dari Rania.
"Tapi pacar gue baik kok, Da. Dia selalu ngingetin gue sholat, ngingetin gue zikir, dan lain lain." Sela Mira ketika mendengar ucapan Risda.
"Ra, ngak ada ceritanya daging bab1 yang direbus dengan air zam zam maka daging itu akan jadi halal, meskipun berkali kali direbus dengan air zam zam sekalipun itu, daging itu akan tetap haram. Jangan mengatakan hubungan pacaran lo baik dibalik sebuah kemaksiatan, udah tau maksiat kenapa mengatakan bahwa hubungan pacaran lo itu baik,"
"Maksudnya apa, Da?"
__ADS_1
"Mangkanya dengerin, pahami, dan resapi. Gue udah mengatakannya dengan jelas, kalo lo kurang jelas, itu artinya pikiran lo yang eror."