
Afrenzo tahu bahwa itu bukanlah luka sembarangan, itu adalah luka yang diperoleh setelah memukul sesuatu yang sangat keras. Sehingga punggung tangan Risda pun terluka, luka tersebut terlihat sudah sedikit kering.
"Kenapa bisa ada luka seperti ini, Da?" Tanya Afrenzo.
"Itu...." Ucap Risda menggantung karena dirinya tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya.
"Jawab!" Sentak Afrenzo.
Mendengar sentakkan tersebut langsung membuat Risda menundukan kepalanya, dirinya bahkan tidak berani untuk menatap ke arah Afrenzo saat ini. Cowok itu terlihat sangat menyeramkan saat ini, bahkan lebih seram daripada biasanya.
"Renzo, gue bisa jelasin,"
"Jelaskan sekarang!"
"Gue memukul tembok yang ada dikamar gue," Jawab Risda ketakutan.
"Kenapa?" Nada bicara Afrenzo masih meninggi.
"Gue... Gue depresi, Renzo. Gue ngak tau lagi apa yang harus gue lakuin untuk ngutarain perasaan emosi gue, jadi gue..."
"Jadi lo mukul tembok?" Tanya Afrenzo dengan menyela perkataan dari Risda.
Risda lalu menganggukkan kepalanya, karena memang benar itulah yang dirinya lakukan sebelumnya. Dia sering melakukan itu ketika perasaannya benar benar tidak tenang, bahkan rasa sakitnya itu tidak mampu menghilangkan rasa sakit di hatinya.
Hal itulah yang membuat Risda mau menyakiti diri dirinya sendiri, dengan cara seperti itu dia akan merasa tenang dan tidak terbebani. Risda benar benar melakukan itu bukan karena ingin menunjukkan dirinya hebat, akan tetapi dia melakukan itu hanya untuk menghilangkan rasa sakit yang ada di hatinya.
Risda tidak bisa untuk menyakiti orang lain hanya demi menghilangkan rasa sakit di hatinya, hal itulah yang membuatnya dengan berani menyakiti dirinya sendiri. Ada sebuah kelegaan tersendiri setelah melakukan hal itu, setelahnya Risda akan merasa sangat lega dan bahkan dirinya bisa melupakan rasa sakit hatinya.
Risda benar benar tidak punya pilihan lain selain menyakiti dirinya sendiri, dia tidak peduli dengan rasa sakit yang ada di tangannya itu asalkan hatinya merasa lega. Gadis ini benar benar melakukannya, bahkan dia tidak memiliki keraguan jika nyawanya akan hilang.
Yang ada di dalam pikirannya hanyalah kematian, dia ingin sekali mengakhiri hidupnya saat ini. Akan tetapi, takdir tidak mengizinkannya untuk pergi secepat itu, berulang ulang kali dirinya dibunuh dan bunuh diri akan tetapi hal itu sia sia terjadi.
"Lo punya masalah apa?" Tanya Afrenzo.
"Gue pengen mati, Renzo. Gue pengen mengakhiri semuanya sekarang, dunia ini begitu kejam dan tidak membiarkan gue untuk bahagia walau hanya sebentar."
"Gue udah bilang, kalo ada masalah itu cerita. Kenapa lo nggak mau jujur sama gue?"
"Maaf."
Risda hanya mampu menentukan kepalanya di hadapan Afrenzo, dirinya tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan saat ini. Afrenzo masih menatap wajahnya dengan lekat, seakan akan cowok itu tengah menunggu jawaban dari Risda.
"Da," Panggil Afrenzo.
"Maafin gue, Renzo."
"Seberapa pun besar masalah lo, jangan pernah lo nyakitin diri lo sendiri, lo itu begitu kejam, Da. Lo hanya peduliin perasaan lo, tanpa mempedulikan raga lo sendiri. Bahkan raga lo sendiri pun bukanlah milik lo, Allah bisa saja mengambilnya dari lo,"
"Kalo perlu diambil sekarang, maka biarkan itu terjadi, Renzo. Gue pengen mengakhiri semuanya," Setetes air mata Risda pun mengalir dari pelupuk matanya itu.
"Setelah lo mengakhiri semuanya, apa lo akan bahagia?"
"Banyak yang menginginkan gue mati, Renzo. Jika itu yang membuat mereka bahagia, kenapa tidak?"
"Maksud lo apa'an, Da?"
__ADS_1
"Sebenarnya gue udah tiga kali berusaha dibunuh oleh orang lain, tapi kenapa Allah masih saja menyelamatkan gue? Seandainya itu terjadi, gue mungkin udah tenang dialam sana, Renzo. Gue bisa bahagia dialam keabadian milik-Nya, tapi apa yang terjadi? Gue tetap aja masih hidup," Tangis Risda langsung pecah begitu saja setelah mengatakannya.
"Siapa yang berusaha ngebunuh lo? Katakan, Da."
"Itu hanya masa lalu, Renzo. Hal itu dilakukan oleh tiga orang yang berbeda, yang pertama adalah teman dari bosnya Bunda, yang kedua anak-anak dari bosnya Bunda, dan yang terakhir adalah orang yang menginginkan Bunda."
"Bagaimana bisa itu, Da?"
"Ceritanya panjang,"
Pandangan Risda pun seakan akan menerawang jauh kedepan, dirinya membayangkan hal hal yang pernah terjadi kepadanya sebelumnya. Sementara Afrenzo, dirinya setia menanti untuk Risda menceritakan semuanya kepadanya saat ini.
"Awalnya...."
*Flash back on*
Suatu hari, didalam rumah yang teramat mewah. Sosok Risda pun tengah berdiri dibalkon lantai dua rumah tersebut, rumah itu adalah rumah milik dari Bosnya Ibunya. Risda menetap ke arah langit, dirinya melihat bahwa langit itu begitu sangat luas hingga tidak tahu ujungnya.
Sudah satu bulan dirinya tinggal di rumah tersebut seusai diusir dari rumah oleh Ayahnya. Dahulu kala Risda pernah diusir dari rumah, ketika dirinya masih duduk dibangku SD kelas 4.
Risda diusir oleh Ayahnya karena dia tidak mau memberitahu dimana Ibunya berada dan bekerja saat ini, karena disaat itu Risda juga telah diancam oleh Bibinya bahwa dia akan membawa Ibunya pergi jauh jika sampai Risda memberitahukan hal tersebut kepada Ayahnya.
Hal itulah yang membuat Risda tidak bisa mengatakannya kepada Ayahnya, dirinya terpaksa harus angkat kaki dari rumah tersebut karena ucapan dari Ayahnya tersebut. Sudah banyak hal yang dirinya lalui selama ini, mentalnya begitu hancur bahkan tidak ada lagi yang tersisa.
Risda menatap ke arah langit dengan tatapan nanar, dirinya berharap semuanya akan berakhir sampai saat. Siapa sangka teman dari bosnya Ibunya itu menyukai Ibunya, akan tetapi Risda tidak setuju soal itu, karena sikap orang tersebut sangat kasar dan galak.
Risda tidak mau bawa nantinya dia akan tinggal bersama dengan orang seperti itu, apalagi orang tersebut sepertinya belum dewasa sepenuhnya. Panggil saja namanya sebagai Bambang, seorang pemuda yang berusia masih sekitar 30 tahunan karena belum menikah jadi dia masihlah perjaka.
Bambang menyukai Dewi sejak Dewi mulai bekerja di tempat itu, Dewi hanya mengikuti ucapan Risda karena dia tidak ingin anaknya itu marah kepadanya. Risda tidak setuju jika Ibunya begitu dekat dengan Bambang, apalagi Bambang yang suka marah tiba tiba.
Oleh karena itu, Bambang ingin sekali menyingkirkan Risda dari sana. Di siang hari yang cerah itu, karena lelah sepulang sekolah Risda pun tidur. Risda baru pindah dari sekolah lama menuju ke sekolah yang baru, yang berada tidak jauh dari rumah majikan Ibunya.
Di sanalah kepribadiannya berupa total, gadis yang biasanya mudah berbaur dengan teman-temannya kini menjadi gadis yang anti sosial. Bahkan dia sama sekali tidak mengenal teman sekelasnya itu, padahal dia sudah 1 bulan berada di sekolah tersebut.
Hari harinya selalu dipenuhi dengan kesendirian, bahkan Risda menampakan senyuman palsu hanya di depan ibunya selain itu dia tidak pernah tersenyum bahkan wajahnya selalu datar. bahkan wajah Afrenzo saat ini pun kalah datar dengan wajahnya, karena dirinya yang tidak pernah berekspresi.
Di saat waktu dia sekolah dasar, bahkan dirinya sempat hampir dikeluarkan dari sekolah tersebut karena tidak pernah mengerjakan tugas sekolah. Orang tuanya sudah 4 kali dipanggil ke sekolahan, dan bahkan dirinya pun pernah ditampar gurunya itu.
Mungkin anak zaman sekarang ditampar oleh guru akan melapor kepada orang tuanya, akan tetapi tidak dengan Risda karena dia hanya diam saja ketika ditampar. Risda tahu bahwa ini adalah kesalahannya, karena dirinya yang sama sekali tidak ada semangat untuk belajar, hal itulah yang membuat nilai raportnya semakin lama semakin turun.
"Kenapa nilaimu bisa seperti ini? Apa jangan jangan di sekolah kamu dulu kamu mendapatkan nilai itu karena uang? bisa saja kan kamu menyegok gurumu hanya untuk mendapatkan nilai bagusbisa saja kan kamu menyegok gurumu hanya untuk mendapatkan nilai bagus," Perkataan itulah yang selalu diingat oleh Risda sampai detik ini.
Bahkan di saat tidurnya yang lelap, pikirannya terus berjalan sampai sampai tidak membiarkannya untuk merasa tenang. Beban yang dirinya tanggung seakan akan terus menghantuinya, kemanapun dia pergi, dia akan merasa kesepian tidak memiliki siapapun yang bisa diajak bicara.
Tidak ada yang mau berteman dengannya karena dia hanyalah seorang anak pembantu, apalagi beban yang dia tanggung saat ini begitu sangat besar.
Mulai dari perpisahan keluarga, penderitaan yang dia dapatkan setelah perpisahan keluarga tersebut, dijauhi teman temannya karena dia hanya seorang anak pembantu, apalagi dirinya yang anti sosial dengan lingkungan sekitarnya, kepribadiannya berubah menjadi seorang introvert, dan bahkan pikirannya selalu ramai dengan hal hal yang tidak perlu ia pikirkan.
Di saat tidur seperti ini pun dia sama sekali tidak merasa nyenyak, dia tidur di tempat yang disediakan oleh majikan Ibunya untuk Ibunya dan dia. Ibunya kini sedang masak di dapur sementara Risda sedang tidur, meskipun tidur akan tetapi televisi yang ada di ruangan itu masih menyala.
Tiba tiba seseorang menutupi wajahnya menggunakan sebuah bantal, Risda lalu bangun dari tidurnya dengan sesak nafas yang teramat sangat mendalam. Bagaimana dia bisa bernafas dengan normal? Sementara wajahnya kini ditutupi dengan sebuah bantal.
Risda terus berusaha untuk menyingkirkan batal tersebut dari wajahnya, orang yang melakukan itu pun sama sekali tidak membiarkan Risda bergerak. Bahkan tangan dan kaki Risda dipegangi dengan sangat kuatnya, bukan hanya itu saja akan tetapi bantal tersebut pun ditekan dengan sangat kuat hingga membuat Risda tidak bisa bernafas.
Tubuhnya terasa sangat lemah, karena tidak adanya oksigen yang masuk ke dalam paru parunya. Tubuh yang tadinya memberontak dengan sangat kuat kini mendadak menjadi melemah, bahkan untuk berpegangan pun dia tidak mampu melakukan itu.
__ADS_1
"Mungkinkah aku akan mati saat ini?" Batin Risda menjerit dengan kerasnya.
Dirinya yang sangat lemah itu sudah tidak berdaya lagi, dia berpikir bahwa ini adalah akhir dari hidupnya. Risda berusaha untuk mengambil nafas semampu dan sebisanya, akan tetapi dia tidak bisa melakukan itu karena rasa sakit yang dia rasakan di dadanya saat.
Lama kelamaan, Risda pun tidak bisa bahkan tidak mampu untuk menggerakkan jari jari tangannya. dirinya benar benar pasrah bahwa dia akan berakhir malam ini. Mentalnya yang sangat hancur, hal itu memang membuatnya tidak mau berusaha untuk bisa hidup lagi.
Bhuukkk...
"Aaa.... Kau apakan anakku!"
Tiba tiba terdengar suara seseorang yang tengah berteriak, suara yang sangat keras itu pun terdengar sangat pelan bagi Risda. Saat itu juga terjadilah keributan di tempat itu, akan tetapi kedua mata Risda ingin sekali terpejamkam saat ini.
Setelah terdengar teriakan itu, akhinya Risda bisa bernafas dengan leganya meskipun dia tidak mampu untuk membuka matanya karena masih merasa lemas. Ia pun memejamkan kedua matanya, akan tetapi telinganya terus mendengar suara keributan disana.
Cukup lama di tempat itu sangat ramai, hingga suara keributan itu hilang bergantian dengan seseorang yang mengoyang goyangkan tubuhnya itu. Orang tersebut seakan akan panik karena tidak ada reaksi apapun yang dilakukan oleh Risda.
"Ris! Kamu kenapa, Nak? Buka matamu," Suara tangisan lirih pun terdengar oleh telinga Risda.
"Risda ngak papa kok, Bun." Jawab Risda dengan lemahnya sambil mencoba untuk memegangi tangan dari Dewi meskipun dia masih tetap memejamkan kedua matanya.
Mendengar jawaban dari Risda, membuat Dewi merasa lega bahwa anaknya tersebut masih hidup meskipun dengan kondisi yang sangat lemas. Dewi pun langsung memeluk tubuh Risda yang lemas itu, dirinya pun menangis hingga Risda mendengarkan suara isakkan tangis yang sangat menyayat.
*Flash back off*
Risda yang mengingat kejadian itu pun langsung meneteskan air matanya, mungkinkah disaat dia mati sebelumnya, hal itu akan membuatnya bahagia? Jadi dia tidak perlu merasakan hal hal seperti ini setelah kematiannya waktu itu.
Afrenzo pun mengusap kepalanya pelan untuk menenangkan gadis itu. Ia tidak menyangka dengan apa yang dialami oleh Risda sebelumnya, bawa apa yang dialami oleh Risda begitu sangat berat.
"Seandainya gue waktu itu mati, gue ngak akan pernah merasakan hal yang lebih sakit lagi, Renzo. Gue bisa tenang, dan bisa merasakan bahagia dialam baru gue,"
"Da, gue ngak bermaksud buat lo nangis, maafin gue ya?"
"Lo ngak salah sama sekali, Renzo. Gue cerita karena kemauan gue sendiri hiks.. hiks.. hiks.. Gue rasanya udah ngak mau hidup lagi,"
"Shhuuutttt... Jangan katakan itu, Allah ngak suka kalau hamba-Nya yang paling disayang menyerah begitu saja. Lo tau ngak? Bahkan Nabi Muhammad Saw saja hidupnya penuh dengan cobaan, tapi beliau begitu mulia. Lo diuji oleh Allah karena lo itu mampu melewati semuanya, Allah ingin menguatkan pundak lo dengan caranya sendiri. Buktinya, lo mampu melewati semuanya kan?" Afrenzo masih mengusap kepala Risda dengan halusnya hingga membuat gadis itu merasa nyaman dan jauh lebih tenang.
Risda pun menatap ke arah Afrenzo sambil menghapus air matanya dengan tangannya, ia selalu bisa menangis jika di hadapan Afrenzo. Afrenzo pun menatap ke arah sebuah jam dinding, dan waktunya menunjukkan bahwa sebentar lagi akan adzan magrib.
"Ceritanya dilanjutkan besok saja ya, sekarang kita pulang dulu. Sebentar lagi akan adzan magrib, waktunya untuk pulang," Ucap Afrenzo.
"Lo ngak marah lagi kan ke gue soal tangan gue?" Tanya Risda yang takut bahwa Afrenzo masih marah kepadanya saat ini.
"Lupakan soal itu, jangan diulangi lagi,"
"Tapi itu sudah menjadi candu, kalo gue ngak bisa tenang gimana?"
"Ada gue, lo boleh mukul gue. Jangan tembok yang bisa melukai tangan lo sendiri,"
"Ngak, gue ngak bisa ngelakuin itu. Gue ngak bisa nyakitin orang lain, gue ngak bisa, Renzo. Gue ngak mau," Ucap Risda sambil menggeleng gelengkan kepalanya pelan.
"Lo bisa nyakitin diri lo sendiri, kenapa tidak dengan gue?"
"Gue ngak mau lo kenapa kenapa, gimana gue bisa ngelukain lo?"
"Jangan ragu,"
__ADS_1
Afrenzo pun langsung bangkit dari duduknya, dan langsung diikuti oleh Risda saat ini. Afrenzo mengajaknya untuk pulang, karena waktu sudah menunjukkan bahwa sebentar lagi akan adzan magrib.
Risda hanya menurut saja, karena dirinya juga takut dimarahi lagi ketika dirinya pulang telat. Keduanya langsung bergegas untuk pulang kerumah mereka masing masing, untuk mengistirahatkan tubuh mereka masing masing.